
"Pak, bagaimana ini? Bu Kailani harus diberi tau, agar beliau bisa segera memberikan ASI-nya." Perawat kembali mengingatkan Kailandra. Membuat pria tersebut semakin bingung harus mendahulukan yang mana. Sementara ponsel di genggaman tangan Kailandra terus bergetar.
Tanpa kata, akhirnya Kailandra bergegas meninggalkan baby twins yang salah satunya masih terus menangis. Seperti sedang berkejaran dengan waktu, Kailandra memutuskan untuk berlari ke arah parkiran mobilnya. Sejenak dia mengabaikan telepon selularnya yang masih bergetar dengan nomor penelepon yang masih sama. Baru setelah dia sudah duduk di belakang kemudian, pria tersebut menerima panggilan telepon itu sambil menyelipkan earphone bluetooth di telinganya.
Suara sapaan dari si penelepon terdengar bersamaan dengan pergerakan roda mobilnya yang bergerak menjauhi area parkir rumah sakit. Kailandra tidak langsung menyahuti, karena dia masih fokus untuk padat jalan di depan rumah sakit yang sangat ramai.
"Iya, bagaimana sus?" tanyanya setelah berhasil membuat posisi mobilnya berada di jalur yang benar menuju kediaman Kailani.
"Begini, Pak. Bu Kasih sudah sadarkan diri. Hanya saja, beliau tampaknya sedang menghadapi tekanan psikologis yang tidak biasa. Pandangan mata beliau kosong dan enggan menjawab pertanyaan kami. Untuk jantung kondisi sudah stabil. Meskipun tekanan darah masih lumayan tinggi. Sebaiknya, Bapak segera menemui dokter untuk membicarakan kondisi Bu Kasih lebih jelas lagi," ucap suara perempuan di ujung speaker telepon dengan sangat jelas.
"Baiklah, saya akan datang kurang lebih satu jam lagi." Kailandra memutuskan sambungan telepon.
Kailandra kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan yang dilalui. Pedal gas mulai ditekan lebih dalam, pertanda sang pengemudi ingin memperpendek waktu tempuh perjalanan nya. Namun, kesabaran pria tersebut memang benar-benar sedang diuji. Menjelang pertigaan terakhir yang dilalui, jalanan begitu padat, bahkan bisa dikatakan macet. Sebentar bergerak, berhentinya lebih lama tiga kali lipatnya.
Sementara itu, Kailani tengah duduk termenung di tepian tempat tidurnya. Bulir bening sesekali menetes dari pelupuk mata Kailani saat perempuan tersebut melakukan gerakan berkedip. Bohong kalau Kailani mengatakan dia baik-baik saja. Perempuan mana yang ikhlas melepaskan anaknya untuk orang lain. Apalagi setelah drama melahirkan yang luar biasa, ingin rasanya Kailani selalu berdekatan dengan baby twins.
"Ya Allah, aku percayakan penjagaan anak-anak kepadaMu. Senantiasa ulurkan tanganMu untuk mendekap dan melindungi mereka saat tanganku tidak bisa menjangkau mereka. Engkaulah sejatinya Sang Pemilik dan pengendali. Tolong kuatkan aku ya Allah. Sebagaimana Engkau menciptakan kebahagiaan, maka bersamanya pasti juga Kau sertakan kesedihan." Kailani mengusap pipinya yang basah. Lalu dia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1
Perempuan tersebut seketika mengernyitkan kening dengan sempurna. Tiga belas panggilan masuk tertangkap indera penglihatannya begitu Kailani membuka screen lock pada layar ponsel. Tidak berlama-lama membiarkan dirinya bertanya-tanya, Kailani langsung menghubungi kembali nomor tersebut.
Suara sapa yang lembut dan ramah langsung terdengar di gendang telinga Kailani begitu nada hubung ketiga berakhir. "Ada apa, Sus? Baby twins kenapa?" tanyanya.
Perawat langsung menjelaskan kondisi baby boy. Tidak dilebihkan dan tidak dikurangi. Sama persis penjelasannya dengan yang diberikan pada Kailandra tadi. Setelah itu, perawat langsung menyudahi sambungan telepon dari Kailani. Karena tangisan baby boy yang sempat mereda sesaat, Tiba-tiba kembali terdengar melengking---sampai terdengar oleh Kailani.
Mengabaikan fisiknya yang jauh dari kata pulih dan masih menggunakan pakaian yang sama dengan tadi pagi. Kailani bergegas memesan ojek online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Mendengar suara tangis baby boy, perasaan Kailani menjadi semakin tidak tenang. Jika dia menggunakan taksi online pada jam-jam mendekati makan siang seperti sekarang, jelas dia bisa sampai di rumah sakit dua atau tiga jam lagi karena kemacetan.
"Pak, tolong jangan terlalu kenceng ya bawa motornya," pinta Kailani sambil menerima helm yang diberikan pengemudi ojek online yang datang tidak sampai sepuluh menit dari waktu Kailani memesan jasanya.
"Baik ... Ke rumah sakit bunda ya, Bu. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak lewatkan jalur utama karena jam segini biasanya macet," jawab si bapak ojek online, ramah dan sopan.
Ketika Kailani sudah bergerak cepat menuju rumah sakit, Kailandra masih terjebak di dalam kemacetan. Berkali-kali pria tersebut mengumpat sambil memukul kemudi mobilnya. Sungguh kenyataan memang sedang ingin bermain-main dengan emosinya.
Kailandra lalu menghubungi asisten pribadinya sehubungan dengan pekerjaan penting yang terpaksa ditinggalkan karena berbagai kejadian yang menimpanya sedari pagi. Lagi-lagi, bukan informasi yang membuat pikirannya sedikit tenang yang didengar, melainkan beban itu malah semakin bertambah seusai pembicaraannya dengan sang asisten.
"Kenapa mengurus hal seperti ini saja tidak bisa. Apa gunanya asisten, kalau kerjasama sesederhana itu saja harus aku sendiri yang maju," umpat Kailandra sambil mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Sementara itu, Kailani yang hampir sampai di tempat yang dituju, tampak terus meringis merasakan nyeri luar biasa di bagian perutnya. Guncangan yang kerap terjadi sepanjang perjalanan, membuat rasa sakit itu tidak lagi teredam. Keringat bercucuran membasahi beberapa bagian tubuh Kailani. Selain karena terik panas matahari, juga karena kondisi fisiknya yang sesungguhnya sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan menggunakan motor.
"Terimakasih, Pak." Kailani turun dari motor dengan gerakan perlahan. Rasanya telapak kakinya sudah tidak lagi menapak pada tanah. Tubuhnya seakan melayang. Saat ingin melepaskan helm, tangan Kailani bahkan seperti tidak menjangkau kepalanya sendiri.
"Aku harus kuat, sudah sampai di sini. Jangan sampai aku pingsan." Sebelum melangkah, Kailani berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Merasa sudah lebih baik, Kailani melangkah perlahan dengan posisi badan sedikit membungkuk dan kedua tangan mendekap bagian perutnya. Keringat dingin semakin deras bercucuran. Belum sampai di dalam lobby, akhirnya Kailani memilih menyerah. Perempuan tersebut meminta tolong pada satpam untuk dipanggilkan tenaga medis untuk membawakan kursi roda dan mendorongnya sampai ke ruang rawat baby twins.
"Ibu pucat sekali. Sebaiknya saya antar ibu ke UGD, kita lihat dulu kondisi ibu," usul perawat yang membantu mendorong Kailani saat mereka berada di dalam lift.
"Nanti saja, Sus. Anak saya dulu," tolak Kailani. Suaranya pelan hampir tidak terdengar.
Perawat terpaksa menuruti permintaan Kailani. Kekuatan seorang ibu yang mencintai anaknya, memang sulit dinalar dengan logika. Sebesar apa pun rintangan dan sakit yang dirasakan, tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekhawatiran pada kondisi sang buah hati.
"Alhamdulillah, akhirnya Bu Kailani datang juga." Begitu Kailani memasuki ruangan, perawat yang menghubunginya tadi langsung membawa baby boy yang berada dalam gendongannya---menghampiri Kailani.
"Sini, Sus. Kasihan sekali, suaranya sampai serak begini," Kailani mengulurkan tangannya untuk menggendong baby boy.
__ADS_1
Diwaktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, Karina tersenyum puas sambil memegang surat tanda bukti pelaporan atas tindakan KDRT yang baru saja dialaminya.
"Aku tidak akan membuat perpisahan kita semudah dan secepat maumu, Kai," gumam Karina, diikuti senyuman licik dipenghujung kalimatnya.