Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Keadaan mulai berubah


__ADS_3

"Kenapa kesayangan Oppa sedih begitu?" Kailandra yang tadinya berada di ambang pintu langsung melangkahkan kaki masuk mendekati ketiga orang yang kini kompak memandangnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Om Kalvin mau pergi," jawab Keiko. Suara dan raut wajahnya sama-sama menampilkan kesedihan.


"Kei tidak boleh sedih begitu, dong. Kan ada Oppa di sini. Oppa janji tidak akan meninggalkan Keiko." Kailandra berdiri dengan lututnya sambil merentangkan kedua tangan menyambut Keiko yang mendekatinya.


Kailani mengajak Kalvin keluar. Menyadari kedatangan Kailandra bisa merusak mood dan membuat keadaan menjadi tidak kondusif. Menghindari perdebatan, lebih baik keduanya menyingkir sebelum pria itu ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka.


Namun, Kalvin yang tidak ingin berlama-lama melihat Kailandra memilih untuk langsung berpamitan meninggalkan rumah Kailani. Membawa begitu banyak kesedihan di hatinya. Setelah hari ini, entah kapan lagi dia akan kembali bertemu dengan Keiko dan juga Kailani. Begitu berat, tetapi keputusan sudah terlanjur diambil. Hanya harapan sederhana yang mampu di selipkan Kalvin dalam langkahnya ke depan. Suatu saat nanti, kiranya Tuhan berkenan memberikannya kesempatan untuk bisa kembali lagi.


Kailani kembali ke dalam. Kailandra dan Keiko tampaknya sudah berada di kamar bersama baby twins. Di ruang tengah, Kailani hanya menemui Kasih dan juga Kekeyi yang sedang memijat-mijat kaki perempuan paruh baya yang kerap membuat emosinya naik.


"Sudahlah, Kai. Sepertinya kamu memang ditakdirkan untuk fokus pada anak-anak mu saja. Baru bersama sebentar, sudah pergi saja itu laki," ucap Kasih saat Kailani hendak menuju dapur.


"Sus, bisa saya bicara berdua saja dengan Ibu?" Kailani seketika menghentikan langkahnya. Perempuan tersebut bertanya tanpa menatap ke arah orang yang diajaknya berbicara.


"Bisa, Bu." Kekeyi pun langsung meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan Kailani dan Kasih berdua saja di ruangan tersebut.

__ADS_1


Kailani mengambil duduk di sofa tidak jauh dari tempat Kasih. Kemudian dia memberikan tatapan yang intens pada perempuan itu. Cukup sudah kesabaran yang selama ini ditunjukkan.


"Selama ini saya diam, semata-mata karena saya masih menghargai Ibu sebagai orang yang lebih tua dari saya. Tetapi dengan diamnya saya, ucapan dan sikap Ibu semakin lama seakan semakin merendahkan saya. Saya merasa Ibu juga terlalu dalam masuk ke dalam kehidupan saya. Padahal di sini jelas tidak ada hubungan apa-apa di antara kita. Saya bukan menantu apalagi anak Ibu." Kailani memulai pembicaraan dengan begitu lugas dan tegas.


Mulut Kasih sudah sedikit terbuka. Pertanda perempuan itu sudah siap membalas ucapan Kailani. Namun, kali ini lawan bicaranya sedang tidak ingin memberi kesempatan pada mulut tajamnya untuk berperang kata.


"Di antara saya dan anak Ibu memang ada anak-anak yang merupakan cucu Ibu. Tapi bukan berarti Ibu bisa mengambil peranan secara dominan atas kami. Dengan kerendahan hati saya, biarkan saya mengurus anak-anak dengan cara saya sendiri. Masalah pribadi saya di luar anak-anak, tolong jangan sesekali Ibu mengeluarkan pendapat." Kailani semakin berani menatap Kasih. Dia tidak peduli lagi perempuan di depannya itu sepertinya juga sudah tidak tahan untuk membalas ucapannya.


"Saya akan bicara dengan Bang Kailandra. Jika memang Kanaya dan Kanaka harus bersama saya di sini. Meski untuk sementara waktu, saya harap tidak ada Ibu di antara kami. Kita harus membuat semua nyaman buat semua pihak. Tentu yang utama demi kepentingan anak-anak, terutama Keiko yang sedikit banyak sudah bisa memahami keadaan."


"Jika Ibu memang mengartikan demikian, saya tidak keberatan," sahut Kailani.


Kasih langsung berteriak memanggil nama Kailandra. Kemudian meminta putra tunggalnya tersebut untuk mengantarnya pulang. Kailani memilih pura-pura tuli. Meski umpatan Kasih terdengar jelas ditelinganya, dia memilih untuk tidak menimpali. Bagi Kailani, yang terpenting dia bisa fokus bersama anak-anak.


Meski bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Kailandra tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan mamanya yang tampak sangat kesal. Lagipula, kalau dipikir-pikir, keberadaan Kasih di rumah Kailani malah akan mempersulit dirinya untuk mendekati mantan calon istrinya itu.


"Bunda, dedeknya mama Keira sudah lahir. Papa barusan kirim fotonya dedek ke Keiko. Kapan kita lihat dedeknya mama Keira?" Keiko menghampiri Kailani yang masih berdiri untuk memastikan mobil yang di tumpangi Kailandra dan Kasih benar-benar meninggalkan halaman rumahnya.

__ADS_1


"Besok ya, Kei. Nanti bunda telepon papa biar Pak Kimin besok jemput Keiko. Tapi nggak sama bunda dulu, ya? Kan bunda ada dedek Kanaka sama dedek Kanaya." Kailani memberikan pengertian pada Keiko.


"Iya, bunda. Oppa Kim kemana? Kok cuma sebentar? Apa Oppa Kim juga akan pergi meninggalkan Keiko?" Raut wajahnya Keiko kembali terlihat sedih. Rupanya kepergian Kalvin berhasil memberikan duka yang dalam pada gadis cilik itu.


Kailani membungkukkan badannya sampai wajahnya menjadi sejajar dengan wajah Keiko. Lalu dengan lembut dia berkata, "Oppa tidak akan meninggalkan Kei. Om Kalvin juga tidak meninggalkan Keiko. Om Kalvin harus mengurus saudaranya yang sakit. Suatu saat kita akan ketemu lagi sama Om Kalvin. Keiko harus rajin berdoa, supaya saudara Om Kalvin cepat sembuh."


Keiko mengangguk pelan. Pasti sulit bagi gadis itu untuk memahami dan menerima sepenuhnya apa yang terjadi saat ini. Kailani menyadari hal itu, harus ada banyak waktu yang diluangkannya untuk mengajak Keiko berbicara.Berharap---seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia Keiko---keadaan perlahan akan membaik.


Sejak hari itu, ada yang berubah dalam kehidupan Kailani dan Keiko. Keduanya tidak lagi mengetahui kabar Kalvin. Pria tersebut benar-benar hilang bak ditelan bumi. Meski demikian, kehidupan Kailani terasa lebih tenang. Kasih tidak pernah lagi datang ke rumahnya sejak perdebatan kala itu. Hanya Kailandra yang memang masih rutin datang untuk menemui anak-anak. Dan hal itu tidak terlalu mengganggu Kailani. Karena dia sudah memasang tembok yang cukup tinggi di hatinya. Hingga Kailandra pun masih harus berpikir dan berusaha lebih keras lagi untuk bisa menggapai kembali hati Kailani.


Kenzo juga tidak sesering dulu ke rumah mantan istrinya tersebut. Dia hanya datang setiap akhir pekan untuk menjemput Keiko. Janji yang diucapkan pada Keira setelah melahirkan anak keduanya, sungguh-sungguh ditepati. Meski Kenzo sendiri sebenarnya juga belum bisa membohongi hati kecilnya sendiri. Rasa rindu ingin sekedar melihat Kailani kerap kali mengganggunya.


"Kai, Keiko kan bulan depan liburan semester. Kebetulan aku ada undangan pernikahan relasi di puncak. Aku boleh ajak dia gak? Sekalian liburan," pinta Kailandra sesaat sebelum dia pamit pulang. "Aku selama ini sudah banyak mengalah dengan aturanmu, Kai. Aku ini ayah kandungnya. Kenapa Kenzo rasanya lebih seenaknya menentukan hidup Keiko ketimbang aku?" tambahnya.


Kailani berpikir sejenak. Dia tidak mungkin membiarkan Keiko pergi berdua saja bersama Kailandra. Namun dia juga tidak mau dikatakan egois karena terus membatasi Kailandra atas anaknya sendiri. Dia takut, Kailandra malah akan berbuat nekat.


"Kalau kamu takut aku tidak bisa mengurus Keiko, kamu ikut saja. Besok kan teman Kekeyi datang. Membawa baby twins sekalian juga tidak akan repot," tawar Kailandra.

__ADS_1


__ADS_2