Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Kasih bertemu Keiko


__ADS_3

Kekeyi menundukkan wajahnya sembari menarik napas dalam. Sejenak perempuan itu mengumpulkan keberanian dalam dirinya. Kekeyi sudah bertekad untuk menyampaikan cerita yang sebenarnya pada Kasih, Kailandra maupun Kailani.


"Tadi Bu Kinanti menambah sedikit susu formula ke dalam ASI Kanaka, Bu, Pak. Kata Bu Kinanti, kalau langsung susu formula, jelas saja tidak mau. Jadi pelan-pelan nanti biar Kanaka terbiasa," tutur Kekeyi dengan hati-hati.


Kasih langsung melemparkan tatapan tajam pada Kinanti. "Benar begitu? Jangan Coba-Coba berbohong! Karena ada CCTV di kamar anak-anak," tegasnya.


Kinanti ingin sekali berkelit. Tapi tatapan Kasih dan Kailandra yang begitu mengintimidasi membuat nyalinya menciut. Ditambah lagi dengan adanya bukti CCTV, berbohong bagaimana pun pasti akan percuma. Kinanti pun akhirnya mengangguk dan menunduk malu.


"Keterlaluan kamu, Kinan. Salah apa Kanaka sama kamu? Belum apa-apa saja, kamu berani memperlakukan Kanaka seperti ini. Bagaimana nanti kalau kamu sudah benar-benar hidup bersama Kailandra. Maaf Kinan, saya tidak bisa menerima tindakan bodohmu ini. Perjodohanmu dan Kailandra, saya batalkan," ucap Kasih, tegas dan sangat jelas.


Kailandra tersenyum sinis. "Keluar dari sini! Dan jangan pernah kembali lagi di hadapan kami. Atau Aku akan membawa masalah ini pada pihak berwajib."


Kasih menggelengkan kepala sambil memegang lengan Kailandra. Seakan meminta agar putranya itu sedikit menahan emosi. Setidaknya, kini dia tahu selicik apa Kinanti. Sampai-sampai bayi mungil yang tidak berdosa pun ikut dilibatkan demi tujuan Kinanti yang ingin menjauhkan Kailani dari baby twins.


"Silahkan pergi, Kinan. Kembali pada mama papamu. Cukup sudah kesempatan yang saya berikan untukmu mengambil hati Kailandra. Urusan kita selesai!" Kasih berjalan mendekati pintu dan membuka benda tersebut lebar-lebar.


Dengan mata yang berkaca-kaca dan langkah kaki yang sedikit menghentak, Kinanti meninggalkan ruangan tersebut tanpa kata-kata. Karena kecerobohannya, mimpi menjadi Nyonya Kailandra pupus sudah. Belum lagi, orangtuanya pasti akan memarahi dan menyalahkannya habis-habisan. Menikahi Kailandra, jelas adalah jalan pintas untuk membuat perusahaan keluarga Kinanti yang hampir bangkrut bisa tertolong.


Kasih kembali menutup pintu ruang rawat Kanaka rapat-rapat. Perempuan tersebut berjalan menghampiri Kailani dan Kailandra yang sepertinya tidak sadar bahwa keduanya sedang berdiri berdekatan tanpa jarak di depan box di mana Kanaka masih tertidur pulas. Bayi mungil nan tampan itu sama sekali tidak peduli dengan keributan yang sempat terjadi.


"Selama Kanaka sakit, sebaiknya kamu tetap berada didekatnya. Biar kamu ditemani Kekeyi," ucap Kasih pada Kailani. Meski ada rasa khawatir dibenaknya, namun kesehatan Kanaka jauh lebih penting di atas gengsi yang selama ini dia pertahankan.

__ADS_1


Kailani tidak mengiyakan atau menolak. Tentu saja permintaan Kasih itu menjadi dilema tersendiri baginya. Di satu sisi dia merasakan senang diberikan kesempatan merawat Kanaka secara langsung. Namun di sisi lain, keadaan Keiko yang juga sedang membutuhkan perhatian Kailani, jelas membuatnya bimbang.


"Kamu pasti mengkhawatirkan kondisi Keiko. Aku yang akan menjaganya." Kailandra seakan tahu kekhawatiran Kailani mencoba menawarkan diri untuk menawarkan sedikit bantuan.


Kailani menggeleng kuat. "Tidak usah. Keiko ada papanya. Biar Aku hubungi papanya dulu. Tapi aku ada syarat. Selama Aku yang menjaga Kanaka, Ibu dan Bang Kai jangan ada yang di sini. Biar Aku bersama Kekeyi saja," pinta Kailani.


Kasih langsung mengangguk setuju. Senyuman lebar menyungging di bibirnya. "Kailani memang selalu tau diri," batinnya.


Kailandra memilih untuk diam. Meski sangat keberatan dengan keputusan Kailani, tetapi dia tidak ingin memaksa. Pria itu langsung mengajak Kasih keluar ruangan. Meninggalkan Kailani yang tengah berusaha menghubungi Kenzo melalui telepon selularnya.


Tidak berselang lama. Panggilan Kailani pun diterima oleh Kenzo. Keduanya sempat terlibat adu pendapat yang cukup lama. Pasalnya, Kenzo merasa Kailani akhir-akhir ini sering mengabaikan Keiko. Pria tersebut malah mulai berani mengancam akan mengambil hak asuh Keiko seutuhnya. Sungguh permintaan yang membuat Kailani langsung meluapkan emosinya.


"Ingat saat kamu tidak mengakui Keiko, Ken. Ingat bagaimana aku berjuang agar Keiko bisa bertahan hidup. Setahun pertama kehidupan Keiko, kamu kemana saja? Jangan kira dengan apa yang sudah kamu lakukan sekarang, bisa membuatmu seakan menjadi ayah yang sempurna bagi Keiko." Kailani langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


"Kai, mau kemana sih? Ini deket rumah Kailani, kan?" tanya Kasih.


"Memang iya, Ma. Sudah mama ngikut saja. Kita lihat saja nanti." Kailandra menjawab santai.


"Tapi mama mau makan dulu sebentar," pinta Kasih.


Kailandra melirik jam di pergelangan tangannya. Sedikit menghitung waktu, akhirnya dia menyetujui permintaan Kasih. Dalam perhitungannya, saat dia datang nanti, Keiko pun pasti juga sudah pulang dari sekolah.

__ADS_1


Diwaktu yang sama, di tempat yang berbeda, tepatnya di kantor kepolisian di mana Kalvin datang untuk menemui Karina. Pria tersebut belum juga dipertemukan dengan sosok yang ingin ditemuinya. Sudah setengah jam waktu berjalan, polisi masih memeriksa Karina dengan beberapa pertanyaan sekaligus melakukan tes urine.


"Mohon maaf, Pak. Kami masih akan melanjutkan pemeriksaan. Hasil tes Urine Bu Karina positif mengandung amfetamin. Selain pengacara, tidak boleh ada orang lain yang mendampingi beliau." Seorang polisi mendatangi dan menyampaikan informasi yang sangat mengejutkan pada Kalvin.


"Amfetamin? Bagaimana mungkin?" Kalvin bertanya dengan lirih. Sejauh yang dia tahu, Karina memang gemar meneguk minuman keras jika sedang banyak pikiran. Namun, tidak sampai pada obat-obatan terlarang.


"Kami masih mendalami lebih lanjut, Pak. Apa akan ada pengacara untuk Bu Karina?" tanya sosok polisi tadi.


"Ya, Bu Karina akan menggunakan pengacara," putus Kalvin.


Setelah petugas tadi kembali meninggalkan dirinya, Kalvin langsung menghubungi salah seorang temannya yang berprofesi sebagai pengacara. Sedikit bercerita tentang kasus yang dihadapi Karina, lalu menarik napas lega begitu si teman menyetujui untuk melakukan pendampingan selama proses hukum saudari tirinya berlangsung.


Beberapa waktu berlalu setelah menemani Kasih makan, Kailandra mengajak mamanya untuk melanjutkan perjalanan. Tidak sampai tiga puluh menit, keduanya sampai di tempat yang dituju. Pintu rumah Kailani tampak terbuka. Suara candaan bersahutan terdengar sampai luar. Rupanya Keiko dan Kenzo sedang bermain peran bersama Kasri yang mendampingi mereka. Ketiganya bermain di ruang tengah yang bersebelahan persis dengan ruang tamu.


"Ngapain sih kita kesini?" Meski terlihat terpaksa, Kasih tetap mengikuti langkah Kailandra yang sudah semakin mendekati pintu utama.


Kailandra mengetuk daun pintu yang sebenarnya sudah terbuka sembari mengucap salam. Keiko yang mendengar langsung menjawab dengan semangat. Wajahnya sumringah begitu mengetahui siapa yang datang.


"Oppa Kim Tae Hyung," teriak gadis cilik itu sambil berlari kecil menghampiri Kailandra.


Bola mata Kasih seketika membulat. Garis wajah, bentuk fisik dan gaya rambut Keiko sungguh mengingatkan dirinya pada Kailandra kecil. Perempuan lebih paruh baya itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

__ADS_1


"Kei, minta Bu Kasri siapkan baju. Kita pulang ke rumah papa." Suara tegas Kenzo yang tiba-tiba muncul menghentikan niat Keiko yang baru saja ingin mengulurkan tangannya pada Kailandra.


__ADS_2