Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Hadiah dari Keiko


__ADS_3

Kalvin mencoba tetap tersenyum. Meski kesedihan yang terpancar dari sorot matanya begitu kentara, tetapi dia tetap berusaha tidak menampakkan rasa itu terlalu banyak di depan Keiko dan juga Kailani.


"Om harus tetap pergi, sayang. Om janji, suatu saat Om pasti akan menemui Keiko lagi. Kei tetap jadi anak yang penurut, pintar dan hebat. Nanti saat kita bertemu, harus ada cerita luar biasa yang Kei ceritakan pada Om." Kalvin mengusap kepala Keiko dengan lembut.


Keiko semakin mengeratkan pelukannya pada Kalvin. Menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu, hati Kailani mendadak menjadi melankolis. Bulir bening perempuan tersebut juga jatuh membasahi pipi mulusnya. Mungkin perkenalannya dengan Kalvin memang bukanlah suatu kenangan yang manis dan diharapkan sebelumnya. Namun, perlahan kedekatan mereka mengalir begitu saja. Jujur, Kailani pun merasakan kenyamanan saat bersama Kalvin. Ketulusan pria tersebut membuatnya tidak segan untuk sedikit membuka diri tentang sebagian cerita hidupnya.


"Sekarang Om mau bicara sama bunda dulu, ya? Boleh?" Perlahan Kalvin merenggangkan pelukan Keiko. Gadis cilik itu pun mengangguk lemah. Lalu dia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu membuat Keiko patah hati, Vin. Jika kamu memang mau pergi, kenapa kamu tidak langsung pergi saja." Kailani buru-buru mengusap air matanya sebelum Kalvin melihat.


"Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada keiko atau pun kamu, Kai. Pertemuan kita memang dengan cara yang salah, tapi bukan berarti hubungan yang kita jalin ini tidak benar. Aku sayang sama Keiko. Aku juga peduli sama kamu," ucap Kalvin sambil berdiri dari posisi jongkoknya tadi. Kemudian duduk di sofa tidak jauh dari Kailani berada.


"Karina kenapa? Apa memang kalian harus pergi jauh? Terus bagaimana dengan pekerjaan yang baru saja kamu mulai?" cecar Kailani.


Kalvin kembali tersenyum. Tatapan matanya begitu teduh. Andai Kailani sedikit peka, harusnya dia tahu, tatapan itu bukanlah sekadar tatapan seorang teman.

__ADS_1


"Aku akan menyerahkan usaha penitipan anak padamu sepenuhnya, Kai. Akan ada pengacara yang menemuimu besok atau lusa, nanti biar dia yang menjelaskan detailnya."


"Memangnya kamu mau kemana, Vin?" Kailani semakin dihinggapi rasa penasaran.


"Aku akan membawa Karina ke suatu tempat. Di mana dia bisa memulai kehidupan dan bertemu dengan orang-orang baru. Karina harus terlepas dari obsesinya pada Kailandra. Dia bukan orang jahat. Hanya saja, keadaan dan takdir baik belum berpihak padanya. Sudah saatnya dia berdamai dengan dirinya sendiri. Mau tidak mau---suka tidak suka, Karina harus bangkit. Sejatinya dia baik, pasti dia akan kembali menjadi orang yang baik seperti sedia kala." Ucapan Kalvin begitu sarat akan harapan.


"Kalau memang itu yang menurutmu terbaik. Aku bisa apa?" lirih Kailani sambil memalingkan wajahnya. Dia sendiri tidak menyangka bisa sesedih ini saat mendapati kenyataan Kalvin akan pergi jauh darinya.


"Katakan kamu ingin Aku tetap di sini, Kai. Maka aku akan bertahan. Aku akan urus Karina sebisaku tanpa harus melibatkan Kailandra," ucap Kalvin. Sayangnya hanya berani di dalam hati saja.


Mendengar ucapan Kailani barusan, Kalvin seketika menggigit bibir bawahnya sendiri. Kini dia paham apa posisi yang ditempatinya di hati Kailani. "Hanya sebagai kakak" Tidak buruk memang. Namun Kalvin mengharapkan lebih dari itu.


"Kai ...," panggil Kalvin sedikit lirih. Tatapannya benar-benar mewakili rasa terdalam yang selama ini dia pendam.


"Jangan katakan itu, Vin. Tolong ... Aku tidak ingin hubungan kita malah renggang karena rasa itu. Aku belum siap. Please, biar seperti ini saja Jangan pergi meninggalkan rasa lain yang malah akan membebani diri kita masing-masing." Kailani buru-buru mengatakan hal tersebut. Menyadari betul apa yang akan diungkapkan Kalvin selanjutnya.

__ADS_1


"Jaga diri baik-baik, Kai. Kamu berhak bahagia. Jangan biarkan siapa pun mengatur hidupmu. Lakukan langkah apa pun yang menurutmu benar dan bisa kamu pertanggungjawabkan di depan anak-anak. Kamu, Keiko, Kanaya dan Kanaka harus bahagia bersama." Kalvin memberanikan diri menggeser duduknya mendekati Kailani. Baru saja dia ingin meraih tangan perempuan tersebut, Keiko kembali muncul sambil membawa sesuatu yang disembunyikan dibalik punggungnya.


"Kei bawa apa?" tanya Kailani.


Gadis kecil itu memberikan jawaban hanya dengan sebuah senyuman. Langkah kakinya dengan pasti mendekati Kalvin. "Kei ada sesuatu untuk Om Kalvin. Janji Om akan menyimpan ini baik-baik, ya. Nanti kalau ketemu Kei lagi, Kei akan menanyakan apa Om masih menyimpannya atau tidak."


Kalvin mengernyitkan keningnya. "Apa itu, Kei?"


Perlahan tangan mungil itu pun mengulurkan salah satu benda yang selama ini terpajang rapi di sisi atas rak meja belajarnya. "Biar Om Kalvin selalu ingat sama Keiko."


Kalvin menerima benda tersebut dengan mata kembali berkaca-kaca. "Terimakasih, Kei. Om tidak akan pernah melupakan Keiko. Oh, ya, apa boleh Om mengambil foto bersama Kei?"


"Tentu saja boleh. Sama bunda juga, yuk!" Dengan semangat Keiko langsung mengambil tempat duduk di antara Kalvin dan Kailani.


Kalvin pun mengeluarkan telepon genggamnya. Dia beberapa kali mengambil foto mereka bertiga dengan berbagai gaya. Sampai-sampai, ketiganya tidak menyadari empat pasang mata terus memperhatikan mereka dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Oppa," pekik Keiko begitu menyadari kehadiran Kailandra.


__ADS_2