
Seperti yang sudah menjadi pembicaraan dan kesepakatan sebelumnya, setelah melakukan renovasi yang menghabiskan waktu beberapa bulan agar sesuai dengan keinginan Kailani, Kailandra beserta istri dan anak-anaknya kini sudah menempati rumah baru mereka. Rumah itu masih satu kompleks perumahan dengan rumah Kenzo. Bahkan hanya selisih beberapa bangunan saja. Hal itu tentu membuat Keiko dan Kenzi sangat senang. Hanya dengan mengayuh sepeda, keduanya sudah bisa saling mengunjungi kapan pun mereka mau.
"Endong, yayah," rengek bocah kecil berusia satu tahunan yang tidak lain tidak bukan adalah Kanaka.
"Ayah mau kerja. Nanti saja gendongnya, ya," bujuk Kailani sembari mengulurkan tangannya pada Kanaka.
"Endong." Malah Kanaya yang menyambut uluran tangan Kailani.
"nyaek edah." Kanaka menambah permintaannya. Seperti biasa, sebelum berangkat bekerja, Kailandra selalu mengajak anaknya tersebut keliling kompleks menggunakan sepeda motor terlebih dahulu. Sehingga hal tersebut menjadi kebiasaan wajib yang dinanti.
"Kai aku pagi ini ada meeting. Ini saja aku bisa telat kalau jalanan macet." Kailandra menoleh ke arah Kailani. Seakan ingin mendapat bantuan untuk membantunya membujuk Kanaka.
"Kenapa baru ngomong sekarang kalau ada meeting? Tadi kenapa malah min---," Kailani tidak melanjutkan kata-katanya karena ada Katami di sekitar mereka. Kadang dia tidak habis pikir dengan sang suami. Seringkali sudah berpakaian rapi tapi sesaat kemudian rela menanggalkan kembali kerapiannya itu demi meluapkan hasratnya kembali.
"Kamu yang mulai, Bun'ay. Kalau suami sudah waktunya berangkat kerja, tangan harusnya dikondisikan." Kailandra mengingatkan kebiasaan Kailani yang memang suka tiba-tiba mereemas dan memukul bokong sintaal Kailandra ketika mereka berada di ruangan private. Entah mengapa, perempuan itu sangat gemas pada bagian tersebut.
"Sudah ajak keliling sekali sebentar, Yanda. Sebentar Bun'ay hubungi sekretaris biar dia info kalau meetingnya agak terlambat."
"Tidak bisa begitu dong, Bun'ay. Ini investor penting. Orang Jepang pula. Mereka sangat tepat waktu. Kalau sampai dibatalin bagaimana? Nanti project kapal pesiar kita bisa gagal." Meski mulutnya menolak, Kailandra akhirnya menggendong Kanaka juga. Hingga membuat sangat putra yang sifatnya begitu pemaksaan seperti dirinya itu menghentikan tangisnya.
"Kalau gagal berarti bukan rejeki. Kerjakan yang ada, tidak usah terlalu ambisius." Kailani menjawab santai sembari memberikan Kanaya pada Katami.
"Mi, Ibu mau ke tempat penitipan anak dulu. Nanti kalau Kei datang sebelum Ibu pulang, sampaikan kalau Ibu sampai sore, ya?"
__ADS_1
Kailandra tampak tidak senang mendengar Kailani mengatakan kalimat sang istri yang ditujukan untuk Katami barusan. Dengan sinis dia langsung memutuskan untuk memenuhi kanaka keliling komplek. Tidak sampai lima menit, pria tersebut sudah kembali dan memberikan Kanaka yang jelas sekali belum puas pada Kekeyi.
"Nda, aku bawa mobil sendiri, ya. Yanda kan langsung ke hotel tempat meeting. Karena tempatnya nggak searah, jadi biar aku bawa mobil sendiri saja," ucap Kailani yang sudah terlihat membawa kontak mobilnya.
"Hemmm." Kailandra melewati Kailani begitu saja. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa mengecup kening dan bersalaman dulu seperti biasa.
Kailani menarik napas dalam. Bukannya tidak tahu kenapa sang suami bersikap demikian. Hanya saja, dia sudah terlanjur cinta dengan pekerjaan yang membuatnya hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Kalvin. Semua ini, tentu saja tidak terlepas dari kecemburuan Kailandra pada pria yang sampai sekarang masih bertahan menduda tersebut. Bukan tanpa alasan Kailandra menaruh rasa cemburu pada Kalvin. Pasalnya, Kailani pernah salah sebut memanggil dirinya dengan nama pria itu ketika keduanya sedang bersama. Padahal, apa yang terjadi BENAR-BENAR ketidaksengajaan.
Mood berantakan Kailandra masih berlanjut dan semakin bertambah manakala klien yang di temuinya tidak datang sendirian. Kliennya itu datang bersama seorang perempuan yang diperkenalkan oleh pria bernama Kintaro itu sebagai istri. Pembicaraan yang seharusnya berkenaan dengan pekerjaan dan bisnis mereka ke depan, malah didominasi dengan cerita tentang kehidupan pernikahan kliennya itu.
"Pak Kailandra sudah berkeluarga?" tanya Kalista---istri Kintaro yang berkebangsaan asli Indonesia.
"Sudah," jawab Kailandra, singkat dan jelas.
"Tiga." Lagi-lagi Kailandra menjawab singkat. Berharap lawan bicaranya menyadari kalau dia tidak nyaman dengan topik pembicaraan mereka.
"Masih tiga. Ini kehamilan anak ketujuh. Kami ingin rumah kami nantinya ramai. Satu anak pergi, masih ada anak yang lain." Kintaro mengatakannya sambil mengusap lembut perut Kalista.
Kailandra semakin tidak nyaman. Akhir-akhir ini, dia begitu sensitif ketika melihat perempuan hamil. Apalagi jika mood sudah terlanjur tidak baik, akan semakin menjadilah perasaan kesalnya. Hanya saja, Kailandra masih bisa menekan perasaan tersebut di depan klien.
Meeting yang tidak menyenangkan sekaligus membosankan bagi Kailandra pun akhirnya usai dengan kata sepakat. Pria itu langsung menuju ke kantornya untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan sebagai pendukung proyek bersama Kintaro.
"Kim, tolong panggil Kiano," perintah Kailandra melalui sambungan telepon internal pada sekretarisnya.
__ADS_1
"Pak Kiano hari ini cuti, pak. Istrinya mengalami mual kehamilan yang luar biasa sampai harus dirawat di rumah sakit," jelas Kimi.
Kailandra langsung meletakkan gagang telepon dengan kasar tanpa ucapan salam atau apa pun. Pria tersebut meraup wajahnya dengan gerakan cepat. Setahu Kailandra, Kiano yang berkedudukan sebagai direktur teknik di perusahaannya baru saja menikah dua bulan yang lalu. Tetapi istri bawahannya itu sekarang malah sudah hamil. Melampaui Kailani dan dirinya yang sudah lebih dulu menikah.
"Makan siang, yuk, Kai. Aku yang traktir." Sosok yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Kailandra tersebut membuat Kailandra menghentikan gerakan tangannya di atas papan keyboard.
"Aku lagi males, Ken. Kamu duluan aja," jawab Kailandra pada sosok Kenzo yang akhir-akhir ini memang sudah biasa keluar masuk ke dalam ruangannya. Kedua pria tersebut memang sekarang satu gedung perkantoran. Kenzo memutuskan pindah kantor setelah masa sewa di gedung yang lama mendekati usai.
"Tumben males. Masalah kerjaan nggak mungkin, kan? Kenapa Kailani? Mulai kewalahan atau kamu mengalami hamil simpatik kayak aku?" tanya Kenzo yang tentunya membuat Kailandra seketika menatapnya tajam.
"Apa hamil simpatik? Memangnya laki-laki bisa hamil? Kalau memang bisa, aku mau juga dihamili Kailani."
Kenzo seketika tidak bisa menahan tawanya. Bukan hanya pertanyaan Kailandra, ekspresi suami dari mantan istrinya itu juga tidak kalah lucu. Dia sampai menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. "Kai-Kai, sejak kapan kamu jadi konyol begini?"
Kailandra mengernyitkan keningnya merasa heran dengan sikap Kenzo dan tentu saja merasa tidak ada yang salah pada dirinya. "Laki-laki hamil memang seaneh ini ya?"
Tawa Kenzo semakin lepas. Rupanya Kailandra memang benar-benar tidak paham tentang kehamilan simpatik. Di saat tawanya sudah bisa dikendalikan, akhirnya Kenzo pun memberikan penjelasan pada pria yang sekarang sudah menjadi sahabat karibnya itu.
"Astaga, dulu pas Kai hamil Naka dan Naya, berarti aku mual-mual itu karena hamil simpatik itu, ya?" Kailandra mengingat kembali ketika dia begitu tersiksa di awal kehamilan palsu Karina. "Eh, berarti Keira sekarang hamil? Kok cepet? Anakmu kan hampir seumuran baby twins? Terus aku dan Kai kapan? Kok Kai belum hamil lagi?" cecar Kailandra begitu menyadari Kenzo pun juga mendahului dirinya.
"Jangan asal makanya. Waktu, gaya dan durasi harus tepat," sahut Kenzo dengan sedikit terkekeh.
"Apa karena aku masih terlalu cepat, ya? Enggak juga, deh. Sekarang kan sudah lumayan lama. Ya meski belum sampai sejam juga sih," gumam Kailandra, lirih tidak terdengar oleh Kenzo.
__ADS_1