
Mengetahui siapa yang menawarkan bantuan, Kailani sebenarnya ragu. Namun, mengingat kondisi yang sedang darurat, akhirnya dia tetap menerima tawaran dari Kailandra. Perempuan tersebut membuka pintu belakang mobil, lalu duduk di bangku tengah tepat di belakang jok pengemudi.
"Aku mau ke rumah sakit ...." Kailani menyebut nama sebuah rumah sakit tempat Kalvin membawa Keiko.
Kailandra pun langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa kali pria tersebut mencuri-curi pandang pada Kailani yang tampak begitu cemas dan tidak tenang. Jemari perempuan itu begitu lincah bertukar kabar dengan Kalvin dan juga Kenzo.
"Bang, bisa lebih cepat sedikit tidak?" tanya Kailani seakan lupa kalau pria yang mengemudi di depannya bukanlah driver online.
Meski tidak tahu pasti, Kailandra kini mulai berani menduga jika sesuatu yang buruk tengah terjadi. Tanpa ingin bertanya, Kailandra menuruti kemauan Kailani yang menginginkan dia menambah kecepatannya dalam berkendara.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di UGD sebuah rumah sakit. Begitu roda kendaraan berhenti, Kailani langsung keluar dari mobil tersebut tanpa mengucap sepatah kata pun pada Kailandra. Karena tidak ingin kehilangan jejak Kailani, dengan sedikit menggunakan kekuatan uangnya, Kailandra meminta tolong pada satpam UGD untuk memarkirkan kendaraannya.
Di ruang tunggu area khusus untuk pasien yang datang dalam keadaan darurat tersebut tampak sudah ada Kalvin dan juga Kenzo. Kailani segera menghampiri kedua pria tersebut dengan tergopoh-gopoh. Seakan lupa bekas sayatan operasinya masih nyeri jika dibuat bergerak terlalu cepat. Bahkan perempuan tersebut tidak sadar jika Kailandra sudah berada dua langkah di belakangnya.
"Bagaimana keadaan Keiko? Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan?" Kailani tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.
"Tadi Kei memilih beberapa buku. Dia sudah membaca sebagian. Tiba-tiba Kei bilang tulisannya kenapa jadi kayak kumpul jadi satu. Kei berdiri mau nunjukin bukunya ke aku, baru selangkah berjalan, dia limbung. Untung tidak sampai jatuh karena aku menangkapnya. Kei tidak sadarkan diri, makanya aku langsung membawa dia ke rumah sakit ini," jelas Kalvin.
"Aku sudah minta pemeriksaan darah kemarin bisa dipercepat hasilnya, Kai. Apa pun hasilnya ini nanti, saat Kei siuman, kita akan memindahkan Kei ke rumah sakit Siloam saja. Biar Dokter Kendharta yang menangani langsung," timpal Kenzo, berusaha bersikap setenang mungkin.
Kailandra hanya bisa menjadi pendengar. Sadar diri dia yang paling bukan siapa-siapa di sana. Namun mengetahui yang sedang sakit adalah Keiko, membuatnya enggan beranjak kemana-mana. Sejak pertama kali dia melihat Keiko---Kailandra merasa ada yang berbeda. Keiko benar-benar seperti potret dirinya diusia yang sama dengan gadis cilik itu.
__ADS_1
Baik Kalvin mau pun Kenzo tidak ada yang berniat menyapa Kailandra. Meski keduanya menyadari kehadiran pria tersebut, mereka begitu kompak mengabaikan kehadiran Kailandra.
Kailani mendudukkan bokongnya di samping Kalvin. Perempuan tersebut langsung menyatukan kedua telapak tangannya seperti layaknya sikap orang yang sedang berdoa dengan khusyu. Diletakkan kedua tangan itu di depan hidungnya sembari menundukkan kepala. Hantaman ujian apa pun dia selalu berusaha untuk kuat. Namun, tidak jika dihadapkan dengan segala hal yang berhubungan dengan Keiko.
Kailandra, Kenzo dan Kalvin kompak terdiam dengan posisi berdiri yang sebenarnya tidak terlalu berjauhan. Ketiganya sibuk dengan angan dan pikiran masing-masing. Tentu, kekhawatiran paling besar adalah milik Kenzo. Begitu banyak kekhawatiran yang kini menghinggapi pikirannya.
"Keluarga Ananda Keiko," panggil seorang perawat dengan suara yang cukup jelas.
Kailani buru-buru bangkit berdiri dan menghampiri sumber suara yang menyebut nama Keiko. "Bagaimana keadaan anak saya, Sus?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Anak ibu sudah siuman. Tapi sebelumnya, dokter ingin bicara menyampaikan sesuatu mengenai anak ibu." Kailani melemparkan pandang ke arah Kenzo. Lalu keduanya kompak mengangguk.
"Kalian temui dokter dulu, biar aku yang melihat dan menemani Keiko," ucap Kalvin, segera mengambil inisiatif.
"Bolehkah aku ikut masuk menjenguk Keiko?" tanya Kailandra dengan hati-hati. Sesaat sebelum Kailani dan Kenzo mengikuti langkah perawat menuju ruangan dokter yang sudah menunggu mereka.
Kailani tidak menjawab. Melihat Kailandra sekilas, lalu terus melanjutkan langkahnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kenzo. Tentu saja reaksi kedua orang tersebut membuat Kailandra bingung. Diamnya mereka, bisa saja diartikan boleh sekaligus juga bisa berarti tidak.
Melihat Kalvin melenggang masuk, Kailandra pun memutuskan ikut melihat keadaan Keiko. Hati kecilnya begitu terdorong keinginan yang sangat kuat untuk melihat keadaan Keiko secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Keiko, Dok?" tanya Kailani begitu sudah berhadapan dengan Dokter yang tadi memeriksa Keiko.
__ADS_1
"Sepertinya, Keiko membutuhkan beberapa pemeriksaan, seperti tes darah , CT scan atau bahkan MRI jika perlu. Untuk memastikan apa yang terjadi dengan metabolisme tubuhnya. Karena saat siuman tadi, menurut Keiko, tidak ada sakit yang dikeluhkan," tutur si dokter.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan lengkap itu, Dok. Karena itu kami meminta untuk bisa memindahkan Keiko ke rumah sakit Siloam, karena general check up Keiko dilakukan di sana. Dan saya sudah meminta hasilnya dipercepat. Harusnya masih besok, tapi sepertinya nanti malam sudah bisa kami ketahui," jelas Kenzo.
Dokter pun mengijinkan Keiko di pindah ke rumah sakit yang dimaksud oleh Kenzo. Karena kondisi Keiko yang sudah seperti layaknya orang yang sedang tidak sakit, proses pemindahan pasien tidak menggunakan ambulance.
"Kei, digendong papa, ya. Biar tidak capek." Kenzo menawarkan diri seusai dia mengurus semua administrasi kepindahan Keiko.
"Atau mau digendong Om Kalvin juga boleh," timpal Kalvin.
Keiko yang duduk di atas brankar sambil bersandar manja di bahu Kailani menatap satu per satu orang yang menawarkan diri untuk menggendongnya. Dari tiga pria dewasa yang Ada di sana, hanya Kailandra yang tidak menawarkan diri. Padahal tadi saat bertiga saja dengannya dan juga Kalvin, pria itu terlihat sangat lepas. Begitu Kailani dan Kenzo masuk, pria tersebut seperti sedang menahan diri.
"Kei digendong sama Oppa Kim Tae Hyung saja," putus Keiko dengan nada suara yang sangat bersemangat.
"Kim Tae Hyung?" Kailani mengernyitkan keningnya sembari mengedarkan pandang ke seisi ruangan. Lalu perempuan tersebut meraba kening putri pertamanya itu. Dia khawatir demam bisa menyebabkan halusinasi. Hanya Ada Kalvin, Kenzo dan Kailandra.
"Astaga." Kailani menepuk keningnya. Menyadari apa yang ada dipikiran Keiko saat ini. Jelas Keiko sedang demam, bukan demam biasa, tetapi demam BTS seperti kebanyakan anak-anak jaman sekarang. Dan Kim Tae Hyung?
"Boleh, kan, Oppa?" Keiko menatap penuh harap pada Kailandra yang juga baru menyadari kalau dirinyalah orang yang dimaksud.
Tentu saja Kailandra tidak langsung mengiyakan. Bukan karena ia tidak mau. Tentu saja dia menunggu persetujuan dari Kailani. Dengan berat hati, perempuan itu pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar. Entah mengapa, ia lebih rela melihat kedekatan Keiko dengan Kalvin ketimbang dengan Kailandra. Ada kekhawatiran yang luar biasa dalam benaknya.
"Apa aku harus membuka hasil DNA Keiko," batin Kenzo.