
Kenzo menarik napas panjang. Ternyata, menghadapi Kailandra jauh lebih membutuhkan kesabaran dibanding menghadapi rengekan Keiko atau pun Kenzi. Masih saja pemikiran pria tersebut tertutupi dengan cinta yang bergeser jadi benci secara membabi buta.
"Apa pedulimu pada Kailani? Kenapa sampai perlu kamu bertanya padaku? Mengingat kepintaranmu berbisnis dan bernegosiasi dengan klien, tidak bisakah dipakai sedikit saja untuk melihat permasalahanmu dengan lebih jernih? Bukankah sudah aku jelaskan dari awal alasan apa yang membuat dia menikah denganku? Apa perlu aku mengulanginya?"
"Aku sudah mencari tau masalah itu, pemegang saham tidak ada yang berubah. Jelas perusahaanku tertolong bukan karena kalian apalagi karena Kailani," sahut Kailandra.
Kenzo tersenyum sinis. "Dan kamu tidak berpikir kenapa mereka yang sudah menarik dan melepas diri dari pemegang saham, tiba-tiba kembali datang dengan membawa modal yang lebih besar? Pendek sekali cara berpikirmu, Kai?"
Kailandra terdiam. Menyadari keteledorannya yang tidak menggali informasi sejauh itu. Sedikit kebencian saja tidak baik, apalagi kebencian yang berlebihan seperti ini. Segala akal jernih menjadi tertutup. Segala yang nampak pada diri Kailani, tidak lebih dari sekadar kepalsuan dan keburukan di mata Kailandra.
"Asal kamu tahu, Kai. Apa yang dilakukan Kailani untuk kebahagiaanmu sudah cukup. Jika kamu berpikir dia mengandung anakmu karena uang, kamu benar-benar picik, Kai. Kailani melakukannya karena dia mempunyai hutang budi yang teramat besar pada istrimu. Andai dia tau akan mengandung anakmu, jelas dia akan menolak. Tapi bagi Kailani, janji dan hutang budi, jauh lebih penting di atas segalanya." Kenzo menjeda ucapannya. Menarik napas panjang untuk meredam emosinya yang perlahan mulai naik.
"Istrimu pernah menjadi dewi penolong bagi Kailani. Disaat aku menghancurkan hidupnya karena kecemburuanku terhadap kamu. Asal kamu tahu, dua bulan kami menikah, aku menceraikannya tanpa memberinya apa pun. Bahkan setiap kali dia bekerja di tempat yang aku tau, aku sengaja menyuruh pemiliknya untuk memecat Kailani. Kamu tau kenapa? Karena usia kehamilannya terhitung terlalu cepat untuk pernikahan kami. Terlebih lagi, Kailani bukan lagi perawan saat malam pertama kami."
Kailandra menundukkan wajahnya. Kata-kata Kenzo di ujung kalimat sungguh membuatnya menjadi teringat kembali dosa yang tidak pernah dia sesali hingga saat ini.
"Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang, Kai. Apalagi bagi Kailani. Bercerai denganku, dia tidak menuntut dan mendapatkan apa-apa. Sampai sekarang, dia masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dan masalah Kalvin, dia juga bagian dari rencana istrimu. Kalvin hadir di samping Kailani karena istrimu jelas tidak ingin kamu berdekatan dengan mantan calon istrimu lagi. Terserah kamu percaya atau tidak. Urusan kita selesai." Kenzo bergegas meninggalkan Kailandra, karena ponselnya sedari tadi sudah terus bergetar. Pertanda Keira sudah tidak sabar menunggunya.
__ADS_1
Meski jawaban Kenzo tidak sedikit pun menjawab keresahannya, Kailandra mulai tergerak untuk membuktikan satu hal lebih cepat. Dia tidak ingin menunda dan membatasi lagi pergerakannya. Melalui sambungan telepon selular, Kailandra menghubungi seseorang dan meminta sosok yang diajaknya bicara itu untuk segera menemuinya di kantor.
Dua jam berlalu setelah menunggu dengan harap-harap cemas, akhirnya sosok yang ditunggu Kailandra sampai juga di ruangannya.
"Ini rekening koran atas nama bapak yang digunakan oleh Bu Karina. Dan yang ini adalah rekening koran atas nama Bu Karina sendiri." Seorang perempuan bernama Komala menyodorkan dua map berbeda warna pada Kailandra. Perempuan tersebut adalah pegawai bank yang khusus menangani transaksi perbankan Kailandra. Hal tersebut sangat wajar mengingat Kailandra adalah salah satu nasabah prioritas pada bank tempatnya bekerja.
Kailandra meneliti setiap detail laporan yang ada di depannya. Sesekali dia meminta pegawai bank itu untuk melakukan penyempitan pencarian dengan melakukan filter khusus melalui aplikasi office.
"Tidak ada dana keluar yang dikeluarkan sebesar itu, Pak. Transaksi terbesar dan dilakukan beberapa kali, ditujukan untuk pemilik rekening atas nama Khalid Abdullah."
Jawaban Komala jelas membuat pikiran Kailandra langsung tertuju pada dokter yang menangani program bayi tabungnya selama ini.
Tanpa memedulikan Komala si banker nasabah prioritas, Kailandra langsung meminta driver bersiap menunggunya di lobby. Tidak ingin membuang waktu, pria tersebut ingin segera menuntaskan urusannya dengan Dokter Khalid.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Kailandra sampai juga di depan tempat yang ditujunya. Butuh sedikit gertakan untuk membuat Dokter Khalid mau menemui Kailandra.
"Jika kamu ingin ijin praktekmu tidak dicabut dan kariermu tidak hancur, jelaskan semua dengan detail padaku. Sertakan bukti-bukti yang nyata. Dari awal sampai akhir proses bayi tabung Karina dan juga Kailani," tekan Kailandra. Seperti biasa, tanpa basa basi terlebih dahulu.
__ADS_1
Khalid tentu saja langsung terkesiap. Meski Karina sudah menghubunginya perihal terbongkarnya kebohongan kehamilan Karina. Namun, Khalid sama sekali tidak menduga jika Kailandra bergerak secepat ini.
"Pikirkan baik-baik jawabanmu. Berani berbohong lagi, saya jamin karier kedokteranmu akan berakhir detik ini juga," ancam Kailandra sebelum Khalid sempat mengucapkan sepatah kata apa pun.
Khalid menarik napas panjang. Kini dokter tersebut mulai mengalami dilema. Baik Kailandra dan Karina, tentunya mempunyai ancaman masing-masing yang bisa saja menghancurkan kariernya. Kini pria tersebut harus berpikir lebih cepat dan cerdas. Keberpihakannya pada salah satu di antara Kailandra dan Karina, jelas menentukan arah hidupnya ke depan.
"Cukup berpikirnya, Dokter. Waktu anda sudah habis. Tiga puluh detik dari sekarang Anda tidak mengeluarkan penjelasan apa pun. Jangankan gelar dokter, menyandang nama Khalid saja Anda tidak akan sanggup." Lagi-lagi Kailandra memberikan ancaman yang tidak main-main.
"Saya tidak akan jelaskan apa pun. Saya hanya akan memberikan data Ibu Kailani dan Ibu Karina pada Bapak." Khalid membuka laci di bawah mejanya yang terkunci rapat. Diambilnya dua file dengan warna map yang sama namun tertulis jelas nama yang berbeda di bagian depan sampul map tersebut.
"Jangan mencoba main-main dengan saya, Dok," ucap Kailandra, dingin dan terdengar sangat mengintimidasi.
Dalam hitungan detik, map tadi sudah berpindah tangan pada Kailandra. Beberapa istilah kedokteran yang tidak dipahami, membuat pria tersebut kembali mencecar Khalid dengan berbagai pertanyaan. Tidak ada yang membuat Kailandra terkejut saat membaca laporan awal Karina. Namun, semakin menuju halaman akhir, tidak bisa dipungkiri detak jantung Kailandra mulai berdebar lebih cepat dari biasanya.
Laporan laboratorium yang menyatakan sel telur Karina bermasalah dan tidak bisa dibuahi. Seketika membuat Kailandra gemetaran. Beralih pada file milik Kailani. Perasaan Kailandra semakin tak menentu.
"Tidak, bagaimana jika Kailani bukan sekedar surrogate mother? Bagaimana kalau ternyata dia juga ibu biologis dari anak-anakku?" gumam Kailandra dalam hati sembari membuka lembar demi lembar rekam medis Kailani selama menjalani proses bayi tabung.
__ADS_1
Map di tangan Kailandra tiba-tiba terlepas dari genggamannya. Luruh hingga jatuh menyentuh lantai. Tangan pria tersebut tampak gemetaran. "Kai, takdir apa lagi yang mempermainkan kita? " lirihnya sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.