Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Reaksi Kasih


__ADS_3

"Dari mana mama tahu?" selidik Kailandra. Bukannya menjawab pertanyaan Kasih, pria tersebut malah balik memberikan pertanyaan pada sang mama.


"Jadi benar apa yang dikatakan perempuan pengkhianat itu? Jadi dia memang Ibu dari baby twins?" Kasih melakukan hal yang sama dengan Kailandra. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.


"Ma, jangan sebut Kailani pengkhianat. Dia tidak seperti itu. Kita yang salah menilai selama ini." Untuk pertama kalinya Kailandra mengucapkan hal tersebut di depan Kasih.


"Benar dugaan mama, kamu pasti sudah terbuai dengan rayuannya. Kamu memang selalu diperbudak dengan cinta yang berlebihan. Masih banyak perempuan yang lebih pantas untuk kamu, Kai. Kenapa ujung-ujungnya kamu tidak pernah bisa melupakan perempuan itu," Kasih menatap Kailandra sorot mata yang menyiratkan kekecewaan.


Kailandra berusaha menenangkan diri sejenak dengan mengatur napasnya berkali-kali. Dari pagi hingga menjelang siang ini, emosi Kailandra sukses teraduk dengan sempurna. Rencana ingin mendekatkan diri kembali dengan Kailani melalui Keiko---jauh dari angan. Mungkin memang sudah saatnya Kailandra memanen sikap angkuh yang selama ini dituai dengan penuh kesadaran.


"Ma, Kailani bukan hanya Ibu dari baby twins. Dialah orang yang menyelamatkan keluarga kita dari keterpurukan. Kailani meninggalkan Kai sama sekali bukan karena dia mengejar harta Kenzo. Dia...." Kailandra menceritakan kenyataan yang sebenarnya pada Kasih. Membuka kembali kilasan masa lalu di mana dia dan sang mama begitu terpuruk karena berbagai permasalahan ekonomi dan hukum yang menimpa.


Sesekali, Kailandra menjeda apa yang diceritakannya. Sekedar ingin melihat reaksi Kasih. Sejauh ini, perempuan yang sudah melahirkan dirinya tiga puluh enam tahun yang lalu tersebut tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Bibir Kasih terkunci rapat dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan dengan kata-kata.


"Kailani yang membuat mama bisa menghirup bebas dalam waktu yang begitu cepat. Kailani yang membuat kita hidup nyaman sampai sekarang. Tidak sepantasnya orang yang sudah berkorban begitu banyak pada kita, malah kita anggap pengkhianat." Kailandra menyudahi penjelasannya.


Kasih bergeming. Satu tangannya mereemas kain atasan yang dikenakannya tepat pada bagian dada. Kakinya mendadak lunglai seperti tidak bertulang. Lemas sekujur tubuh Kasih setelah mendengar kenyataan yang sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya. Jalan kemudahan yang dulu dianggapnya adalah pertolongan Tuhan karena usaha Kailandra, ternyata semua berasal dari sebuah pengorbanan besar seorang Kailani.

__ADS_1


Perempuan tersebut membenturkan punggungnya ke tembok dengan gerakan perlahan. Mendadak bumi serasa berputar lebih cepat, ribuan bintang seperti mengelilingi kepala Kasih yang terasa membesar dan juga kebas. Suhu tubuh perempuan lebih dari paruh baya itu mendadak dingin. Aliran darahnya seperti terhenti. Buku-buku jemari memucat. Raut wajah yang tadinya merona merah kini semakin memucat.


"Ma ... Mama ...." Menyadari ada yang tidak beres dengan sang mama, Kailandra sedikit memberikan guncangan pada bahu sang mama.


Dan tubuh Kasih pun limbung. Untung saja Kailandra dengan sigap menahan tubuh sang mama hingga tidak sampai terbentur atau menyentuh lantai. Kailandra berteriak minta tolong sembari terus berjalan menggendong tubuh Kasih menghampiri perawat jaga yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berbicara tadi.


Perawat dengan sigap mengarahkan Kailandra untuk membawa Kasih ke ruang UGD. Sempat ditawarkan untuk diambilkan brankar dorong terlebih dahulu, tetapi Kailandra menolak dengan alasan membuang waktu jika harus menunggu.


"Ma, bangun, Ma ...." Sambil menggendong dan terus berjalan, Kailandra berkali-kali mengatakan hal tersebut. Kekhawatiran dan ketakutan jelas tergambar dari raut wajahnya. Berat beban tubuh Kasih seakan tidak menghambat sedikit pun langkah lebar Kailandra. Memasuki lift lalu kembali berjalan menyusuri koridor menuju tempat dengan ditemani seorang perawat menuju tempat pertolongan darurat untuk pasien.


Tanpa sebuah anggukan apalagi jawaban dari mulutnya, Kailandra melangkah gontai meninggalkan ruangan tersebut. Pria tersebut memilih duduk di bangku besuk berwarna hitam yang berada di sisi kanan bangunan UGD.


Hampir lima belas menit berlalu. Namun, belum ada perawat satu pun yang keluar untuk memberikan informasi pada Kailandra. Dalam hati, pria tersebut terus melantunkan doa dan menyelipkan harapan agar kondisi sang mama baik-baik saja.


Tidak berapa lama, perawat datang menghampiri Kailandra dengan membawa berkas di tangannya. "Permisi, Pak. Keadaan Ibu Bapak masih sama. Hingga saat ini, beliau belum sadarkan diri. Dokter spesialis jantung sedang memeriksa lebih lanjut kondisi pasien. Sambil menunggu, mohon Bapak bantu kami mengisi data pasien berikut riwayat kesehatannya." Perawat mengulurkan map yang dibawanya pada Kailandra.


Pria tersebut menerima sambil menarik napas sedikit berat. Kasih memang memiliki riwayat penyakit jantung dan darah tinggi. Kenyataan yang baru saja didengar, mungkin memicu perempuan tersebut untuk berpikir terlalu keras.

__ADS_1


Perawat mengajak Kailandra ke ruangan bagian UGD untuk pendataan pasien. Di sana beberapa pertanyaan dilontarkan oleh perawat untuk mempermudah dokter dan tim medis dalam melakukan upaya pemulihan kesadaran Kasih.


Setelah pengisian data lengkap. Kailandra kembali menunggu di tempat sebelumnya. Penuh sudah beban pikiran pria tersebut kali ini. Satu per satu masalah datang dalam rentang waktu berdekatan.


Waktu terus bergulir. Kailandra masih bertahan di sekitar kursi besi hitam yang menjadi tempatnya duduk jika sudah bosan mondar mandir sepanjang menunggu perkembangan terbaru dari kondisi mamanya. Hampir dua jam berlalu, kepastian tentang kondisi Kasih belum juga didapatkan. Dari sekilas informasi yang didapat, perempuan tersebut sudah dipindahkan ke ruangan ICU dan ditubuhnya juga sudah terpasang beberapa alat medis.


Gaduh di pikiran Kailandra terjeda sesaat karena getaran terus menerus dari benda pipih bertekhnologi tinggi yang tersimpan di kantong samping celananya. Pria tersebut segera menerima panggilan yang rupanya dari rumah sakit di mana dia berada. Pikiran pria tersebut seketika teralihkan pada baby twins. Tanpa menerima panggilan tadi, Kailandra setengah berlari menuju ruangan isolasi baby twins.


Dengan napas yang terengah-engah, Kailandra segera masuk ke dalam ruangan baby twins. Tangisan melengking yang keluar dari baby boy seketika menyambut kedatangannya.


"Syukurlah bapak cepat datang. Sepertinya dedek tampan alergi susu formula, Pak. Setelah kami berikan susu formula, dedek langsung muntah-muntah dan muncul bercak-bercak merah di sekujur badannya. Untuk mengatasi hal tersebut, kami sudah melakukan tindakan cepat. Namun, dedek tampan terus menangis karena memang haus. ASI pemberian Bu Kailani sudah dibuang, sama Bu Kasih, " jelas perawat, langsung menghampiri Kailandra.


"Suster sudah menghubungi Bu Kailani?" tanya Kailandra sembari meraup wajahnya dengan kasar. Ingin rasanya dia benar-benar berteriak lepas saat ini juga. Suara tangisan baby boy, sungguh membuat benang kusut di pikirannya semakin bertambah kusut.


"Nomor telepon Bu Kailani tidak aktif. Sebaiknya Bapak datangi saja Bu Kailani. Jika dibiarkan terlalu lama menangis seperti ini, dedek bisa dehidrasi," tutur si perawat.


Getaran ponsel kembali memecah fokus Kailandra. Lagi-lagi dari nomer rumah sakit di mana dia berada. "Apa mama sudah siuman? ya Allah andai aku bisa membelah diri," keluhannya.

__ADS_1


__ADS_2