Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Akhirnya


__ADS_3

Kailandra tersenyum sembari berkata, "Seorang Istri juga berhak atas tubuhnya sendiri. Aku tidak akan meminta hakku sebelum kamu bisa menerima pernikahan ini seutuhnya. Ketidaksanggupan kita menahan napsu, secara tidak langsung sudah mengantar kita pada situasi sekarang. Kesalahan itu tidak cukup hanya dengan disesali. Kita harus perbaiki bersama, Kai."


Keduanya kembali terdiam dan hanya saling bertukar pandang. Perlahan tangan Kailandra beralih membelai rambut Kailani. Lagi-lagi, tidak ada penolakan dari ibu ketiga anaknya itu.


Pada akhirnya Sejauh apa pun pergi, bersama siapa pun raga dan rasa sesaat disinggahkan---dua insan yang ditakdirkan bersama pasti akan menemukan jalan untuk kembali. Mereka bisa saja mengambil beberapa jalan memutar, tetapi mereka tidak pernah tersesat. Cinta tahu kemana rasanya harus berlabuh. Dia mungkin tidak bisa memilih pada siapa rasa itu akan dihabiskan, tetapi Cinta tahu benar dia tidak bisa sembunyi sekali pun kebencian yang terus ditampakkan.


Dalam posisi yang masih saling berhadapan, Kailandra dan Kailani akhirnya tertidur dengan sendirinya. Lamunan dan angan keduanyalah yang mengantar mereka ke alam mimpi. Namun, baru sebentar rasanya terlelap, suara pintu kamar diketuk membuat Kailandra terjaga. Sementara Kailani malah sama sekali tidak terusik.


Begitu daun pintu dibuka oleh Kailandra. Seorang gadis cilik memeluk boneka dengan rambut acak-acakan berdiri sambil satu tangannya mengusap-usap perutnya.


"Kei," ucap Kailandra dengan nada heran.


"Keiko laper, Yah. Mau makan," rengek Keiko.


Kailandra menoleh ke belakang. Selain untuk melihat jam dinding, dia juga ingin memastikan jika Kailani tidak ikut terbangun karena Keiko.


"Jam dua pagi, Kei mau makan?" Kailandra masih tidak percaya dengan permintaan Keiko.


"Kalau lapar, Kei tidak bisa tidur lagi."


Kailandra mengajak Keiko ke dapur. Pria itu berniat membuka lemari pendingin untuk mencari sesuatu yang bisa diberikan pada Keiko. Tetapi melihat buah-buahan di atas meja makan, pilihan Kailandra jatuh ke sana. Diambilnya buah apel merah di dalam keranjang. Dikupasnya buah tersebut lalu dipotong-potong kecil. Setelah dicuci sebentar, Kailandra langsung memberikannya pada Keiko.


"Apa Kei sering lapar dijam segini?" tanya Kailandra.


"Tidak sering, Ayah. Lima kali saja dalam seminggu," jawab Keiko setelah mulutnya selesai mengunyah.


Kailandra menepuk keningnya sendiri. Keiko benar-benar mirip dengannya. Lumayan banyak bicara, doyan makan, becandanya tidak terduga, dan juga lumayan senang memaksa.


Setelah memastikan Keiko kembali tidur setelah menghabiskan apelnya, Kailandra memutuskan untuk melakukan ibadah sunah sholat malam. Hal yang sebelumnya jarang bahkan hampir tidak pernah dia lakukan. Namun, malam ini hatinya tergerak untuk menggelar sajadah---bersujud dan bersimpuh pasrah memanjatkan doa pada Sang Khalik.

__ADS_1


Tubuh Kailani mengeliat, matanya terbuka perlahan dan sedikit memicing melihat sosok yang sedang memanjat doa tidak jauh dari ranjang tempatnya tidur. Bibir perempuan itu hampir saja berteriak karena keberadaan sosok pria di kamarnya itu. Untung saja dia langsung teringat jika Kailandra sudah resmi menjadi suaminya.


"Sudah subuh, ya?" Kailani buru-buru bertanya begitu Kailandra beranjak berdiri dan menoleh kearahnya.


"Belum, masih satu jam lagi. Kamu tidur lagi saja. Maaf kalau aku membuatmu terbangun," ucap Kailandra.


Kailani tersenyum tipis. Akhir-akhir ini, begitu sering kata maaf diucapkan oleh Kailandra. Padahal, pria itu bukanlah tipe orang yang mudah mengucapkan kata maaf. Jangankan untuk meminta maaf, sekadar mengakui saja---begitu sulit.


Suasana yang masih diselimuti kecanggungan antara suami istri itu berlangsung cukup lama. Hampir dua bulan terhitung dari waktu Kailandra mengucapkan akad nikah, malam pertama belum juga dilakukan. Padahal, pemilihan tetap tinggal di rumah Kailani jelas bukan tanpa alasan. Keduanya sepakat tinggal di rumah yang tidak terlalu luas akan membantu mereka untuk lebih dekat satu sama lain. Sampai nasib baik mungkin mulai berpihak pada Kailandra. Sepulang acara kajian yang diikuti Kailani di masjid perumahan, istrinya itu tampak menunjukkan gelagat yang berbeda.


"Bang," panggil Kailani sembari berjalan ragu mendekati Kailandra yang sedang memainkan ponsel dengan posisi duduk bersandar di atas ranjang.


"Iya, Kai." Kailandra langsung meletakkan ponselnya di atas nakas di samping ranjang.


"Assalamu'alaikum, Bang." Kailani mengulurkan tangan kanannya seperti layaknya orang yang ingin berjabatan tangan.


"Waalaikumsalam. Kamu mau kemana lagi? Ini sudah malam." Kailandra menyambut uluran tangan Kailani sambil melihat jam di dinding sisi kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul 22. Dia semakin bertambah heran begitu Kailani untuk pertama kali setelah acara sesudah akad, mencium punggung tangannya.


"Oh..." Hanya kata-kata itu yang terucap dari Kailandra. Dia benar-benar bingung harus berkata apa untuk menanggapi perubahan Kailani.


"Abang sudah makan malam, kan? Mau dibuatkan minum?"


Pertanyaan Kailani semakin menambah rasa heran pada diri Kailandra. Seandainya bersenda gurau sudah menjadi hal yang biasa bagi keduanya, tentu Kailandra akan buru-buru memeriksa kening sang istri. Biasanya suhu tubuh yang terlalu tinggi memang mendorong seseorang untuk berhalusinasi atau bertindak di luar kebiasaan.


"Sudah... Makasih tawarannya, Kai. Tapi nggak usah. Ini aku sudah bawa air putih," tolak Kailandra, halus dan cenderung hati-hati.


Kailani lalu mengambil sehelai baju di lemari pakaian dan membawanya ke kamar mandi. Setelah hampir dua puluh menit di dalam sana, perempuan itu pun kembali muncul di depan sang suami.


Kailandra menelan ludahnya dengan susah payah. Meski sebenarnya sudah halal untuk melihat apa yang ada di depan mata, Kailandra buru-buru menundukkan pandangannya. Sungguh dia takut tidak bisa lagi mengendalikan diri. Selama ini, Kailandra bertahan karena Kailani juga sangat menjaga diri dan sikapnya. Tetapi sekarang? Daster yang dikenakan istrinya itu terlalu pendek dan terbuka.

__ADS_1


"Abang mau dipijat tidak?" Kailani bertanya dengan suara yang semakin membuat Kailandra semakin galau. Menolak---sangat munafik. Menerima---bagaimana jika naluri lelakinya tidak bisa dikendalikan.


"Kai, kamu juga capek. Bagaimana kalau aku saja yang pijitin kamu?" Kailandra menepuk keningnya sendiri. Padahal bukan kalimat itu yang seharusnya keluar dari bibirnya.


"Boleh." Kailani menarik laci di samping ranjang. Mengambil sesuatu di dalam sana dan memberikannya pada Kailandra. "Pakai ini saja. Ini kado dari Karina. Aku suka wanginya. Pasti enak kalau dibuat urut," tambahnya seraya memberikan botol olive oil.


Kailandra menerima botol tersebut dengan bibir manyun. Ingin rasanya dia mengumpat pada Karina. "Dia pikir Aku akan membiarkan Kailani bekerja keras sendiri. Tentu saja tidak," batinnya.


"Bismillah ... ya Allah tebalkan urat maluku. Demi mencium wangi surga dan mencari pahala berlipat-lipat. Aku lillah billah menjadi penggoda di atas ranjangku dan untuk laki-laki halalku sendiri," doa Kailani dalam hati.


Perempuan tersebut lalu merebahkan badannya di atas kasur dengan posisi siap untuk dipijat. Kailandra pun dengan mata terpejam mulai melakukan aksinya untuk memberikan pijatan pada bagian punggung Kailani.


Maksud hati memejamkan mata untuk menghindari godaan di depan mata, tetapi apa daya, gerakan mengeliat dan suara rintih manja Kailani saat mengatakan agar Kailandra memijat bagian agak ke bawah, malah menghadirkan imajinasi liar pada pria tersebut.


"Kai, sudah, ya?" Kailandra menghentikan gerakan tangannya. Suaranya parau karena sedang menahan hasrat yang luar biasa.


"Aku siap menjalankan kewajibanku karena Allah, Bang. Insya Allah aku ikhlas," bisik Kailani. Sebenarnya dia geli mendengar suaranya sendiri. Apa daya, hasrat Kailani juga sudah terpancing dengan pijatan Kailandra.


"Kamu sungguhan, Kai?"


Tidak menjawab dengan kata-kata. Kailani membalik posisi tubuhnya hingga membuat dirinya telentang. Ditariknya tangan Kailandra hingga pria tersebut terjerembab tepat menindih tubuhnya.


"Aku matikan lampunya ya, Kai."


Gelap, tidak ada yang terlihat di dalam kamar Kailani. Tidak ada cahaya dari luar yang menerobos masuk ke sana. Benar-benar gelap gulita. Hanya suara desah dengan volume tertahan saling bersahutan dari bibir Kailani dan Kailandra. Tentu saja karena mereka tidak ingin seluruh penghuni rumah terbangun.


Malam itu menjadi bukti sekaligus saksi, bahwa cinta sejati bukan sebatas pada raga yang terus menyatu dan tidak terpisahkan. Melainkan tentang rasa yang masih nyata menyala, meski guyuran ujian bersikeras untuk memadamkannya.


Tidak ada perjalanan hidup yang sempurna. Kebaikan sendiri, belum tentu tampak jika tidak ada Keburukan yang menyertai. Sejatinya semua perkara di dunia ini tidak bisa berdiri sendiri. Akan selalu ada konsekuensi dan tanggung jawab yang menyertai.

__ADS_1


***** END *****


__ADS_2