Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Memilih melupakan isi percakapan


__ADS_3

"Bunda lama sekali." Suara teguran Keiko menyadarkan Kalvin dan Kailandra akan kehadiran sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Kailani. Pintu yang tadinya hanya terbuka sedikit itu pun kini terbuka lebih lebar.


"Kai," ucap Kailandra dan Kalvin secara bersamaan.


"Om Kalvin," pekik Keiko begitu bersemangat begitu melihat keberadaan Kalvin. Gadis cilik itu setengah berlari langsung mendekati pria yang dipanggil namanya tersebut. Tanpa ragu, Keiko membentangkan kedua tangan seperti layaknya anak-anak yang sedang ingin meminta gendong.


Bagai gayung bersambut, Kalvin yang paham betul maksud Keiko, langsung menggendong Keiko. Pria itu tanpa ragu mendekap tubuh gembul menggemaskan bocah yang sangat dirindukannya itu dengan gemas.


"Om Kalvin kangen sekali. Tapi kenapa kamu semakin berat, Kei? Makannya tambah banyak, ya?" canda Kalvin.


"Tentu saja iya." Keiko menjawab dengan santai.


Kailani yang sebenarnya sangat salah tingkah karena ketahuan mencuri dengar tampak bingung harus bersikap bagaimana. Entah dia harus menyapa Kalvin terlebih dahulu, ataukah menyapa Kailandra yang juga mengalami hal yang sama dengannya. Ya, pria itu jelas juga salah tingkah karena isi percakapannya dengan Kalvin bisa jadi membuat Kailani semakin kehilangan respect padanya. Dimana kini perempuan yang dicintainya tersebut pasti sudah tahu---dirinyalah penyebab Kalvin menjauh.


"Om Kalvin kita ketemu dedek Kanaya sama dedek Kanaka, yuk! Om Kalvin kangen, kan, sama dedeknya Kei? Ayo, kita ke sana dulu!" Keiko seakan tidak melihat kehadiran Kailandra. Entah terlalu senang atau memang karena posisi Kailandra yang reflek mundur dan bersandar ke tembok begitu menyadari keberadaan Kailani.


"Tapi Keiko jalan sendiri, ya? Sumpah, Kei membuat tangan Om patah-patah." Kalvin membuat Keiko memanyunkan bibirnya sambil mengangguk malas.


Kalvin kemudian menuntun tangan Keiko berjalan menuju pintu. Begitu melewati Kailani, pria tersebut sejenak berhenti dan melemparkan senyuman penuh arti yang membuat pipi Kailani mendadak terasa panas dan bersemu merah.

__ADS_1


"Aku menyapamu nanti saja," ucap Kalvin disertai satu kedipan mata menggoda. Kemudian pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya bersama Keiko meninggalkan ruangan.


Tinggallah Kailandra dan Kailani yang berada di dalam sana. Keduanya sama-sama tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Akhirnya, Kailani pun memutuskan untuk mengambil kabel data yang menjadi tujuan awalnya datang ke ruangan tersebut. Begitu sudah mendapatkan benda itu, Kailani pun bergegas untuk meninggalkan ruangan. Namun, dua langkah sebelum dia sampai di ambang pintu, Kailandra memanggil namanya.


"Maafkan aku, Kai. Maaf kalau aku lancang menghalangi kedekatanmu dengan Kalvin. Maaf karena aku membuat kalian terpisah. Aku memang pantas kamu benci," sesal Kailandra, terdengar sangat tulus.


Kailani kembali membalikkan badannya dan menatap Kailandra dengan ekspresi wajah yang sulit untuk ditebak. Tidak ada senyuman, sedih, kecewa atau pun marah di sana. Benar-benar datar.


"Anggap saja aku tidak pernah mendengar pembicaraan kalian. Cukup jadikan hal tadi sebagai rahasia dan urusan antara Abang dan Kalvin saja," jawab Kailani. Entah darimana datangnya pikiran tersebut, sederetan kata-kata yang sama sekali tidak terduga, enteng keluar dari bibir Kailani.


"Aku serius, Kai. Aku tidak ingin memaksamu apalagi membebanimu dengan perasaanku. Kalau pun tiap hari aku ingin bertemu dengan anak-anak, percayalah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan usahaku untuk mendapatkan maaf dan juga cintamu kembali. Aku tau diri, Aku belum cukup pantas untuk mendapatkan hal itu. Tapi tolong beri Aku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita," pinta Kailandra sambil melangkah perlahan mendekati Kailani.


Kailandra menatap punggung Kailani yang semakin menjauh dari pandangannya. Pria tersebut lalu menarik napas dalam sambil meraup kasar wajahnya. "Namamu akan selalu menjadi nama yang kusebut dalam doaku setelah mama dan anak-anak kita, Kai. Semoga suatu saat, kamu juga menyadari, betapa perasaanku sebenarnya tidak pernah berubah. Jika pernah ada benci dihatiku, itu karena kecewa dan egoku yang buta. Temukan kebahagiaanmu, Kai," batinnya sambil melangkahkan kaki menyusul Kailani.


Katami dan Kekeyi seketika langsung merapatkan barisan, keduanya kompak saling berbisik. Setelah kedatangan Kalvin yang tidak disangka-sangka, kini hadir pula sosok idola mereka. Siapa lagi kalau bukan Kailandra.


"Apa kita harus menjadi janda dulu baru nanti bisa direbutkan laki-laki tampan dan mapan?" tanya Kekeyi dengan suara lirih tepat di samping daun telinga Katami.


"Kita masih perawan saja nggak ada yang ngelirik, apalagi nanti kalau janda," timpal Katami.

__ADS_1


"Buktinya Bu Kailani yang ndeketin bening-bening gitu. Padahal anaknya sudah tiga," sahut Kekeyi.


"Bangun, Mi. Ini masih sore, jangan ngimpi mulu. Mau janda atau perawan, kalau modelnya kayak Bu Kai, ya pasti banyak yang mau. Badannya padet semelohay, wajahnya ayu, orangnya baik pula. Tinggal nunjuk, lengser status jandanya. Lah kita? Dilirik Pak Kimin saja sudah Alhamdulillah. Jangan ngarep Pak Kailandra, Pak Kalvin apalagi Pak Kenzo ngelirik kita. CEO nguber pembantu itu cuman ada di novel." Katami menimpuk kening Kekeyi untuk menyadarkan temannya itu dari angannya yang terlampau tinggi.


Setelah melewati acara puncak tasyakuran, yaitu pembagian santunan pada anak yatim, Kailani pun mengajak anak-anaknya untuk pulang. Keiko yang sedari tadi terus menempel pada Kalvin, meminta diantar oleh pria tersebut. Kailandra pun tidak menunjukkan keberatannya. Dia hanya mengajak Keiko ke mobilnya sebentar untuk mengambil makanan favorite putri kesayangannya itu. Tidak ada bujukan atau bisikan licik yang dilontarkan pada Keiko untuk membuat sang princess berubah pikiran seperti sebelum-sebelumnya.


Kailandra melambaikan tangan untuk melepas keberangkatan mobil Kalvin yang ditumpangi oleh orang-orang terkasihnya itu. Senyuman tetap tersungging dari bibirnya. Semua demi Keiko yang masih membuka separuh dari kaca pintu depan agar bisa berteriak, "Bye, Oppa ... Kei pulang dulu, Oppa nanti temani Kei bikin PR, ya? Jangan lupa."


Kata-kata tersebut setidaknya menjadi penghiburan tersendiri bagi Kailandra. Bersama siapa pun, Keiko tidak pernah melupakan dirinya. Memang begitulah yang diajarkan Kailani pada Keiko. Entah bersama Kenzo, Kailandra atau pun Kalvin, Keiko seakan bisa menempatkan ketiganya tepat pada porsinya.


"Kai, aku mau jelaskan sesuatu," ucap Kalvin begitu sudah tidak ada orang lain yang berada di ruang tengah selain dirinya dan Kailani.


"Anggap aku tidak pernah mendengar hal tadi, Vin. Biarlah itu menjadi urusan dan kesepaktanmu dengan Bang Kai," sahut Kailani dengan cepat.


"Tapi, Kai ...."


"Please, Vin. Buat Aku yang terpenting kamu pergi bukan karena aku. Dan aku tau pasti, kamu memang orang yang baik." Kailani mengatakannya sambil memberikan tatapan yang begitu teduh pada Kalvin.


"Kai, a---,"

__ADS_1


__ADS_2