
"Ma ... Buat apa mama tinggal di sini? Kailani bisa mengatasi anak-anak sendirian. Lagi pula ada Kekeyi juga disini." Kailandra mencoba membuat sang mama berubah pikiran.
"Tentu mama percaya hal itu sepenuhnya. Tapi sebagai perempuan yang tidak mempunyai pasangan, jelas dia juga harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Kalau dia bekerja atau ada kesibukan, tidak mungkin anak-anak di rumah hanya bersama Kekeyi." Kasih dengan nada suara yang masih terkesan angkuh menyampaikan pendapatnya.
Kailani memaksakan sedikit senyumnya. Tidak ingin memperpanjang perdebatan yang sedang berlangsung, dia memilih ikut masuk bersama Kekeyi menidurkan Kanaka yang masih pulas digendongan babysitter-nya itu. Kasih pun mengikuti langkah kaki Kailani di belakangnya.
"Meski kecil, di sini nyaman. Saya masih bisa menerima keadaan ini," ucap Kasih. Masih saja berusaha mendapatkan tanggapan dari Kailani.
"Jika Ibu memang menginginkan tinggal di sini, silahkan saja. Saya sama sekali tidak keberatan. Tapi saya tidak mau ada peraturan baru. Tentang si kembar, selama ada di rumah ini, semua biar ikut aturan saya," tegas Kailani.
"Terserah kamu saja." Kasih menidurkan Kanaya di box bayi dengan hati-hati.
Kailandra menarik napas panjang. Sudah paham benar sifat Kasih, membuatnya malah semakin tidak tenang. Bukannya apa-apa, perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya tersebut termasuk sosok yang kerap sekali memaksakan keinginan pada orang lain. Sungguh Kailandra semakin khawatir hubungannya dengan Kailani malah akan memburuk selepas ini.
"Terus ngapain kamu di sini? Tidak kerja?" tanya Kasih begitu melihat Kailandra melamun sambil bersandar di kusen pintu kamar baby twins dan Kailani.
Kailandra sepertinya tidak mendengar pertanyaan Kasih. Pria tersebut masih terhanyut dalam pemikirannya sendiri. Hingga Kasih menghampiri dan menepuk lengannya, Kailandra baru menyadari ada yang sedang mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Mama mau diantar pulang?" tanya Kailandra tampak sedikit tergagap saat mengatakannya.
"Enak saja pulang. Mama mau menginap di sini. Kamu yang harus pulang sana. Ini waktunya kerja. Kanaka dan Kanaya sudah aman bersama kami. Jangan cari-cari alasan untuk terus berada di sini," usir Kasih.
Kailani hanya menggeleng lirih sambil menarik napas sedikit berat. Ketenangan rupanya masih jauh untuk diraih. Liku perjalanan masih harus dilalui entah dengan setengah berlari atau berjalan pelan. Lagi-lagi, semua bukan hanya tentang dirinya. Bukan pula sekedar tentang Keiko. Kini ada Kanaka dan Kanaya juga yang menyertai.
"Kai, aku bisa bicara denganmu sebentar?" Kailandra memberanikan diri mengatakan hal tersebut di depan Kasih.
"Bicara tinggal bicara saja, kenapa harus meminta ijin," ketus Kasih.
"Hanya berdua saja, Ma," ucap Kailandra. Suara dan raut wajahnya sama-sama menunjukkan kekesalan yang cukup nyata pada sang mama.
Kailani dan Kailandra pun keluar dari kamar tersebut. Seperti yang dikatakan Kasih, keduanya memutuskan berbicara di beranda rumah dengan posisi duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup lebar. Kailani tampak begitu tenang. Tatapannya datar ke arah Kailandra yang justru terkesan salah tingkah ditatap seperti itu.
"Apa kita masih akan membahas tentang Keiko?" Kailani memilih segera memulai pembicaraan.
"Tidak, Kai. Masalah Keiko, kita tutup buku sampai nanti Kei sudah waktunya mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan ketimbang kita membahas masa lalu. Kita besarkan Keiko sama-sama. Anak-anak sudah seharusnya mendapat yang terbaik."
__ADS_1
Kailandra membalas tatapan tajam Kailani. Sorot mata pria tersebut menyiratkan sebuah harapan. Cukup sudah mereka terjebak pada masa lalu yang pahit. Sudah saatnya menata masa depan dan menanggalkan segala ego yang ada demi kebaikan bersama. Tidak perlu lagi mundur ke belakang untuk mencari siapa yang salah dan benar. Keadaan tidak akan berbalik hanya karena semua orang yang terlibat di dalamnya kompak meratapi masa lalu.
"Kai, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Karina. Setelah itu, mari kita hidup bersama-sama lagi. Ini bukan semata demi anak-anak, Kai. Tanpa kehadiran mereka sekali pun, seberapa besar cintaku, kamu pasti tau," pinta Kailandra.
Kailani menarik ujung bibirnya begitu sinis. Setelah kejadian demi kejadian yang sudah terlewati. Rasanya ucapan Kailandra terdengar terlalu sederhana. Seakan semua memang bisa dibangun dan diperbaiki kembali dengan mudahnya.
"Kita mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak, Kai. Kita bisa menghadirkan keluarga yang utuh untuk mereka. Semua tergantung kamu," desak Kailandra.
Lagi-lagi Kailani hanya membalas dengan senyuman sinis. Setelah apa yang dilaluinya, jelas memiliki pasangan hidup bukan lagi menjadi prioritas bagi perempuan tersebut. Banyak hal yang harus dia tata terlebih dahulu. Masalah hati dan kehidupannya yang lagi-lagi porak poranda karena kehadiran anak.
"Kai, please... kita perbaiki keadaan sama-sama. Aku dan kamu sama-sama mempunyai andil dalam kesalahan ini. Tidak akan ada peristiwa hari ini, jika kita menempatkan kata andai begini dan andai begitu di masa lalu. Jika mencintaiku lagi memang sangat sulit, setidaknya terima kenyataan kalau aku ini adalah ayah dari tiga anak yang kamu lahirkan. Aku tidak memaksamu menjawab sekarang. Pikirkan saja dulu." Kailandra beranjak berdiri. Menyadari Kailani mungkin memang tidak siap dengan permintaannya untuk kembali yang terlalu cepat.
"Aku sadar, Kai. Sebagai seorang pria aku memang tidak pantas untuk bersanding denganmu. Aku sudah menggoreskan luka yang teramat dalam di hatimu. Tapi aku janji. Aku tidak akan pernah gagal menjadi seorang ayah untuk anak-anak kita. Aku akan pastikan itu. Jika bersamaku bagimu adalah sebuah ketidakmungkinan, Aku terima." Kailandra meninggalkan Kailani sendirian. Dia berjalan mendekati mobilnya untuk berangkat ke kantor.
Kasih yang sedari tadi mencuri dengar di balik tembok di samping pintu utama segera menampakkan diri di depan Kailani yang belum juga beranjak dari duduknya. Perempuan lebih dari paruh baya itu duduk di samping Kailani persis tanpa jarak.
"Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah mengejar kesenangan sendiri tanpa memikirkan apa dampaknya nanti untuk Kailandra. Semua hal saya lakukan sesuka hati. Rasa sakit hati dan kecewa pada papanya Kailandra, saya lampiaskan dengan cara-cara gila. Saat itu saya tidak peduli. Sampai pada akhirnya saya kehilangan Kailandra bertahun-tahun. Barulah saya menyadari, sebagai seorang Ibu, harusnya setiap langkah dipikirkan baik buruknya. Tapi semua terlambat. Kailandra sudah terlanjur hancur."
__ADS_1
Kailani menatap mata Kasih yang terlihat berkaca-kaca. Entah kemana perginya keangkuhan yang selama ini selalu ditampilkannya di depan Kailani.
"Inilah yang saya takutkan. Dengan segala luka yang sudah kami sumbangkan selama ini, bisakah kamu menerima Kailandra kembali? Tidak akan, bukan?" tanya Kasih. Suara dan tatapannya sama-sama menyiratkan ketidakberdayaan.