Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Talak untuk Karina


__ADS_3

Kailandra tidak menanggapi perkataan Kailani yang diucapkan dengan penuh penekanan. Pria tersebut sebenarnya mulai meyakini banyak hal terjadi tanpa sepengetahuannya. Namun, Lagi-lagi ego, gengsi beserta sakit hati yang belum berujung pada Kailani---membuat Kailandra memilih untuk mempertahankan kebencian di atas logika dan realita.


"Abang boleh membenciku. Abang juga boleh menganggapku perempuan apa pun semau Abang. Satu hal yang aku minta, biarkan aku memberikan ASI pada anak-anak. Paling tidak, sampai berat badan dan fungsi organ tubuh mereka normal. Anggap saja, ini bonus dariku karena Karina sudah memberikan uang yang sangat besar. Sebesar apa? Abang tentu bisa lihat sendiri dari rekening koran istri Abang." Tatapan Kailani begitu menantang Kailandra.


"Hanya demi anak-anakku, aku ijinkan kamu memberikan ASI pada mereka. Aku akan memberikan jadwal melalui perawat, agar kita tidak sampai bertemu lagi."


Kailani tersenyum tipis. "Semoga kebencian tidak membutakanmu terlalu lama, Bang. Lihatlah setiap perkara dengan pikiran yang terbuka. Jika tidak ingin penyesalan Abang terlalu mendalam, lebih baik diam daripada sekedar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan."


"Jangan menggurui, Kai. Aku tau mana yang terbaik," sahut Kailandra.


"Yang terbaik untuk Abang, belum tentu benar. Yang benar, pasti yang terbaik." Kailani kali ini tidak mau mengalah.


Seorang perawat tiba-tiba masuk dengan raut wajah yang sangat bersemangat. Perawat tersebut adalah perawat baik hati yang selalu mengabarkan perkembangan baby twins pada Kailani.


"Bu Kailani sudah ada stock ASI lagi, mereka sudah bisa minum dengan sangat baik dan lahap sepanjang pagi ini. Bahkan yang dimuntahkan kembali tidak lebih dari satu sendok teh. Ini perkembangan yang sangat baik, Bu."


Seakan lupa dengan keberadaan Kailandra di sana. Kailani pun seketika menampilkan kelegaan yang teramat sangat. Dengan gerakan pelan, Kailani mendudukkan badannya dan berusaha meraih perlengkapan untuk memompa ASI di atas nakas.


"Yang benar saja, Kai. Harus banget, ya, kamu melakukannya saat aku masih di sini? Dasar tidak punya malu," tegur Kailandra begitu melihat tangan Kailani sudah bergerak membuka dua kancing teratas kemeja longgar yang dikenakannya.

__ADS_1


Kailani seketika tersadar jika masih ada Kailandra di sana. Perempuan tersebut langsung buru-buru menutup kembali kancing bajunya.


"Sudah cukup hinaannya, kan? Atau masih ada hinaan atau cacian yang ingin Abang sampaikan?" sindir Kailani.


Kailandra tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung meninggalkan ruangan rawat perempuan yang membuat dadanya selalu berdebar kencang di ujung pertemuan. Inilah alasan kenapa Kailandra tidak bisa melembutkan sikapnya pada Kailani. Bibirnya mungkin sanggup terus menebar kebencian. Namun, tidak demikian dengan hatinya.


Sementara itu, di ruangan baby twins, Karina tampak bersitegang dengan perawat jaga di sana. Karina secara sepihak memaksa untuk memindahkan bayi yang belum genap berusia tujuh hari tersebut ke rumah sakit lain. Menyadari posisinya sedang terancam, Karina tentu paham betul, hanya baby twins lah yang bisa menjadi penolongnya.


"Maaf, Bu, untuk saat ini, Baby twins tidak bisa dipindah kemanapun. Jangankan ke rumah sakit lain, ke ruangan rawat Ibu saja tidak bisa," jelas perawat, meski kesal masih berusaha untuk bersabar.


"Anak-anak ini anak saya, Sus. Mau saya bawa kemana, jelas itu adalah hak saya sepenuhnya," tekan Karina.


"Mana bisa begitu, Kai. Meski bukan aku yang melahirkan, mereka tetap anak-anakku." Karina memberi penekanan dari awal hingga ujung kalimat.


"Hak-mu sudah tidak ada begitu kamu membohongiku, Kar. Tidak hanya itu, mulai detik ini. Kamu---Karina Soewandhi, sudah bukan lagi menjadi istriku. Sejak saat ini, hak dan kewajiban suami istri di antara kita sudah tidak ada lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya di pengadilan. Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan harta gono gini sesuai dengan perjanjian pra nikah kita. Satu hal yang harus kamu camkan baik-baik, aku menceraikanmu bukan karena kamu tidak bisa memberikanku anak secara langsung. Bukan! Tapi karena kamu sudah mengambil langkah salah karena sudah berani membodohi dan membohongiku selama ini," tegas Kailandra.


Perawat menarik napas panjang. Ingin melerai, tapi bingung harus memulai dari mana. Tiba-tiba menyela, tentu saja merasa tidak enak.


"Kalian ini orangtua macam apa? Kenapa sampai ribut-ribut di depan bayi yang masih merah?" tegur Kasih yang tiba-tiba masuk dan langsung melihat Karina yang tampak tidak terima karena talak yang diucapkan oleh Kailandra.

__ADS_1


Karina seketika terdiam. Mengambil hati Kailandra saja belum berhasil, sekarang ditambah lagi dengan kemunculan Kasih. Saat ini, nasib baik memang sedang tidak berpihak pada Karina.


"Karina sudah membohongi kita, Ma. Dia tidak pernah melahirkan, apalagi hamil. Tidak ada tempat bagi seorang pembohong, bukan? Pembohong dan pengkhianat sama kedudukannya di keluarga kita. Tidak ada satu pun yang bisa membenarkan apa yang sudah dia lakukan. Tempat terbaik untuknya, jelas bukan di sisi Kai lagi." Kailandra mengatakannya dengan ekor mata yang terus tertuju pada Karina, begitu sinis penuh kemarahan.


Kasih seketika memberikan tatapan tajam dan menyelidiki pada Karina. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, tidak luput dari penglihatan perempuan lebih separuh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Ikut aku," Kasih mencengkram pergelangan tangan Karina dan menariknya dengan kasar. Membuat perempuan yang baru saja menerima talak tersebut terpaksa mengikuti langkahnya.


Kailandra berbicara sebentar pada perawat. Memberikan arahan agar penjagaan untuk baby twins diperketat. Tidak ada yang boleh masuk ke sana selain dirinya dan perempuan yang memberi ASI. Tanpa menyebut nama---secara tidak langsung, Kailandra memberikan hak pada Kailani untuk mengunjungi baby twins.


"Berani-beraninya kamu mempermainkan kami. Apa kamu pikir hamil dan melahirkan itu pantas dijadikan bahan becandaan? Perhatian kami selama kamu hamil, kekhawatiran kami saat kamu akan melahirkan prematur, apa semua itu membuatmu puas, Kar?" Kasih menghempaskan tangan Karina yang ada di genggamannya dengan gerakan yang menghentak.


Kasih sengaja mengajak Karina berbicara di dalam ruangan rawat agar luapan kemarahannya tidak mengusik dan menjadi bahan tontonan orang lain.


"Seharusnya kamu bersyukur mendapatkan suami seperti Kailandra," tegas Kasih.


"Bersyukur mama bilang? Apa mama tidak tau anak kesayangan mama ini suami seperti apa? Mana ada perempuan sesabar Karina? Mana ada perempuan bertahan dengan kehidupan pernikahan yang Kailandra tawarkan? Tidak sekamar, tidak boleh bersentuhan kecuali dia yang meminta. Asal mama tahu, mana bisa Karina hamil, jika enam tahun pernikahan kami, Kai hanya meminta Karina memuaskan nya dengan tangan?" Karina mengatakannya dengan lantang. Tidak sepenuhnya salah, tetapi dia sengaja melebihkan sesuatu agar dia tidak terlalu disalahkan soal anak.


"Apa salah kalau Karina melakukan kebohongan ini demi mempertahankan rumah tangga kami? Andai mama tidak mengancam akan menikahkan Kai dengan perempuan lain, tidak akan muncul ide pura-pura hamil. Kalian yang membuat Karina begini."

__ADS_1


"Cukup, Kar! Jangan bentak-bentak mamaku. Sekali salah, tetap salah. Jangan cari pembenaran apa pun lagi!" Kailandra datang langsung mengeluarkan suara bentakan yang langsung memenuhi semua ruangan. "Keluar kamu dari sini! Aku akan memberimu waktu untuk mengambil barang-barangmu di rumah. Saat aku kembali besok, jika masih ada kamu di sana, maka aku tidak akan segan-segan melemparkanmu ke jalan tanpa memberi hakmu sepeser pun," tambah Kailandra dengan intonasi yang cukup mengancam.


__ADS_2