
Seperti biasa, jika ada orang asing yang belum terlalu dikenal menawarkan sesuatu padanya, Keiko selalu melihat ke arah sang bunda untuk meminta persetujuan. Lama tidak mendapatkan signal jawaban dari Kailani, gadis kecil tersebut menyentuh tangan bundanya.
Menyadari sepenuhnya apa yang sedang dilakukan dan dinanti Keiko, Kailani melirik Kasih sekilas. Entah mengapa, hatinya seperti tidak rela untuk menganggukkan kepala. Rasanya terlalu dini untuk membiarkan Keiko dan Kasih menjalin hubungan dekat. Ditambah lagi, sikap Kasih yang terkesan tidak tulus pada Kailani, membuat perempuan itu memilih berpikir panjang dalam mengambil sebuah keputusan.
"Saya sudah tau jawabanmu. Tidak mengapa. Cepat atau lambat, Keiko pasti akan dekat dengan saya." Kasih mengatakannya dengan santai sambil keluar meninggalkan kamar.
Kailani menarik napas dalam. Mengingat Keiko juga berada di sana, dia tidak ingin ada perdebatan yang tidak penting lagi. Kailani memilih mengajak Keiko mendekati box Kanaya dan Kanaka. Memperkenalkan putri pertamanya itu pada baby twins yang kini sudah terbangun.
"Bunda, apa dedek Kanaya dan Kanaka akan tinggal di sini terus?" tanya Keiko.
"Semoga begitu. Keiko seneng, kan, kalau ada dedek?" Kailani menjawab dengan lembut.
"Tentu saja seneng. Rumah Kei jadi rame." Keiko lalu meminta Kailani dan Kekeyi untuk menggendong baby twins. Tentu saja agar ia lebih leluasa mengusap-usap pipi merah Kanaya maupun Kanaka.
Kailani tersenyum begitu melihat Keiko begitu cerewet mengajak baby Kanaya berbicara. Belum-belum, Keiko sudah berniat mewariskan seluruh mainan dan boneka miliknya untuk bayi mungil yang sebenarnya adalah saudara kandungnya sendiri.
Di tengah suasana hangat, Kasih kembali muncul dengan raut wajah lebih ketus dari sebelumnya. Terbiasa hidup di rumah yang besar dengan beberapa asisten rumah tangga, membuatnya benar-benar seperti tidak bisa bergerak bebas ketika di rumah Kailani. Mau kemana pun kaki melangkah, rasanya hanya ruangan itu-itu saja yang didapati. Ditambah lagi, di sini Kasih harus melakukan semua hal sendiri.
"Kenapa Oma cemberut? Kata bunda, kalau kita suka marah-marah, nanti cepat tua. Kerutannya banyak dan jadi jelek," ucap Keiko, begitu santainya.
__ADS_1
"Oma tidak cemberut. Oma gerah. Kenapa di luar tidak ada ac, sih?" dengus Kasih sambil mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri.
Kailani hanya tersenyum tipis. Andai tidak ada Keiko, mulutnya juga mampu meluncurkan kata-kata yang tidak kalah pedas untuk menimpali ucapan Kasih. Hanya saja, dia masih menjaga suasana agar Keiko tidak merasa di rumahnya sedang ada bara api yang sedang susah payah diredam agar tidak membakar seluruh penghuni rumah.
"Oma di kamar Keiko saja. Di sana dingin. Oppa Kim membuatkan kamar yang bagus untuk Kei." Keiko menggandeng tangan Kasih dan mengajak perempuan lebih paruh baya itu ke kamarnya.
"Kenapa kamu masih memanggil pa---,"
"Kei, tolong lihat siapa yang datang." Kailani sengaja memotong pembicaraan Kasih. Padahal, dia sama sekali tidak mendengar ketukan pintu di luar. Kailani hanya tidak ingin Keiko mendengar hal yang belum saatnya didengar.
Keiko pun dengan semangat melangkahkan kaki meninggalkan kamar. Berharap yang datang adalah seseorang yang tidak muncul dihadapannya sejak tadi pagi.
"Jangan lama-lama prosesnya, Kai. Tidak enak rasanya mendengar Keiko terus memanggil papanya dengan sebutan Oppa. Semua ini salah kamu. Jadi memang sudah seharusnya kamu yang meluruskan. Jangan kira karena sudah menolong saya keluar dari penjara dan mengembalikan perusahaan kami, itu kamu anggap sepadan dengan menghilangkan hak Kailandra sebagai ayah dari Keiko."
Kailani ingin menanggapi perkataan Kasih. Namun, perempuan tersebut mengurungkan niatnya karena melihat Keiko kembali muncul di depannya.
"Bund, Om Kalvin datang. Om Kalvin mau bicara sama bunda." Keiko menyampaikan pesan Kalvin dengan baik.
"Keiko semakin dewasa. Sekarang sudah ada dua anak yang lain juga. Kalau memang di antara kalian ada sesuatu, kenapa tidak menikah secara resmi saja. Jangan memberi contoh yang buruk pada anak-anak. Sangat tidak baik seorang janda sering menerima tamu laki-laki." Lagi-lagi Kasih melontarkan kalimat yang menguji kesabaran Kailani.
__ADS_1
Untung saja kata-kata itu diucapkan setelah Keiko kembali menemui Kalvin. Sehingga bocah sekecil itu tidak perlu mendengar hal tersebut. Dalam hati, Kailani bertekad akan lebih tegas pada Kasih. Dia tidak bisa terus berdiam diri dengan sikap mantan calon mertuanya yang seenaknya sendiri. Berbicara sesuka hati, seakan hanya Kasihlah yang memiliki perasaan.
Tanpa sepatah kata pun, setelah menidurkan kembali Kanaya di dalam box, Kailani memutuskan untuk segera menemui Kalvin. Tidak peduli Kasih masih menggerutu dan terlihat tidak senang akan kedatangan Kalvin.
"Vin, maaf aku terpaksa menghubungi kamu tadi." Kailani mengulang rasa tidak enaknya karena tadi memang dia sengaja menelepon Kalvin terlebih dahulu dan meminta pria itu datang ke rumahnya.
"Tidak mengapa, Kai. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan juga." Kalvin tersenyum pada Kailani. Lalu dia berjongkok mendekati Keiko yang tengah membuka mainan lego princes yang baru saja dia berikan.
"Kei, Om mau ngomong sama Keiko, boleh tidak?" Kalvin bertanya dengan suara yang lembut. Gadis cilik itu pun menganggukkan kepala tanda setuju sambil meletakkan legonya di atas meja.
"Om mau minta ijin tidak bisa datang bermain bersama Keiko untuk beberapa waktu. Om tidak tau sampai kapan. Karena Om harus menemani saudara Om berobat. Doakan saja, adeknya Om cepet sembuh, ya. Biar Om bisa bertemu dengan Keiko lagi." Mata Kalvin tampak berkaca-kaca saat mengatakannya. Dia sendiri tidak menduga, ada rasa sedih yang begitu dalam saat dia berpamitan pada Keiko.
"Kenapa Om harus pergi? Apa di sini tidak ada dokter? Adeknya Om bisa dibawa ke dokternya Kei. Nanti Keiko kenalin. Dokternya baik, kok," jawab Keiko. Kesedihan jelas tersirat dari nada suara dan raut wajahnya.
Kalvin menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Boleh Om peluk, Kei?"
Tanpa menoleh seperti biasanya pada sang bunda, Keiko langsung berhambur ke dalam pelukan Kalvin. Gadis cilik itu menangis pilu. Kailani tidak pernah melihat Keiko sesedih ini sebelumnya. Dengan segala kebaikan serta ketulusan yang ditunjukkan Kalvin selama ini, tentu Keiko bisa merasakannya. Kailani sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya membuat Kalvin berpamitan. Dia sendiri juga bingung. Semua begitu tiba-tiba, bahkan saat tadi dia menghubungi Kalvin. Pria tersebut menerima sejenak lalu menutup pembicaraan mereka dengan buru-buru.
"Om jangan pergi," pinta Keiko.
__ADS_1