Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter Last 4 (End ya????!)


__ADS_3

Merasa mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya, Kailani yang masih bertahan dengan posisi sebelumnya perlahan membuka kedua bola matanya dengan malas. Perempuan tersebut tidak berani menggerakkan badannya. Mengira suara yang terdengar barusan sebatas halusinasi semata atau lebih menyeramkan lagi dia mengira suara panggilan itu adalah suara makhluk halus penghuni kamar hotel.


Kailani pun bergeming. Dia semakin mendekap erat guling yang baru saja dibelinya. Dalam hati perempuan tersebut membaca ayat kursi dengan cepat.


"Bun ...."


Suara tadi kembali terdengar. Lebih lembut, namun serasa semakin dekat. Ditambah lagi, Kailani kini merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ketakutan itu pun menjadi bertambah. Dalam kesempitan, Kailani pun memaksa keberaniannya untuk muncul ke permukaan. Meski masih disertai ketidakyakinan, Kailani memutuskan untuk berbalik badan dengan disertai gerakan tendangan kaki yang sangat kuat dan cukup tinggi. Kailani merasakan kakinya itu menyentuh kulit seseorang.


Kailani tertegun. Perempuan tersebut terkesiap melihat sosok Kailandra yang meringis kesakitan sembari memegangi dagunya yang terkena tendangan brutal darinya.


"Kenapa kamu jadi kasar begini, Bun? Baru saja aku datang. Berharap kamu menyambutku dengan hangat. Memeluk atau setidaknya memberikanku tatapan kerinduan. Bukan malah menendangku begini," umpat Kailandra, lirih sambil menahan nyeri pada giginya yang ikut terkena imbas dari tendangan Kailani.


"Siapa suruh datang tiba-tiba dan mengganggu orang yang sedang enak-enaknya tidur. Yang barusan aku lakukan adalah reaksi wajar perlindungan diri dari bahaya yang mengancam. Mana aku tau kalau ternyata Yanda yang ada di belakangku," kilah Kailani sambil mengambil posisi duduk.


Meski hati kecilnya merasa bersalah, tetapi karena masih teringat Kailandra sudah berani mematikan ponsel dan mengabaikannya, Kailani memutuskan untuk mengambil sikap tega. Perempuan itu lalu beringsut turun dari tempat tidur sambil menggulung rambut lurus sebahunya. Memperlihatkan leher jenjang yang mulus. Gerakan yang sengaja dilakukan dengan lambat, membuat isi kepala Kailandra kembali liar.


"Kenapa kesini? meetingnya bagaimana?" tanya Kailani sembari menundukkan badan mengambil satu botol air mineral di atas lemari pendingin mini yang ada di dalam ruangan tersebut, kemudian meneguk isinya hingga tandas.


"Sudah selesai, Bun. Tiga hari kami pulang pagi untuk menyelesaikan semua lebih cepat. Aku mematikan ponsel biar lebih fokus. Ternyata malah sebaliknya. Bukan niat mengabaikan bun'ay." Kailandra mengernyitkan keningnya. Pandangan matanya jatuh pada guling yang tadi dipeluk Kailani.

__ADS_1


Menyadari apa yang sedang menarik perhatian suaminya. Kailani tersenyum penuh kemenangan dalam hati. "Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya, masih berusaha mempertahankan sikap ketus dan sinisnya.


Kailandra menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak, Bun, tidak ada yang salah. Bun'ay selalu benar. Aku tempatnya salah. Tapi dari mana Bun'ay dapat topeng seperti itu? Aku mau pesan juga."


Kalimat yang dipaksakan keluar dari bibir---tidak tulus dari dalam hati, jelas tertangkap Kailani dari ucapan Kailandra barusan. Wajar, siapa yang tidak kesal jika wajah seseorang dijadikan topeng namun diedit sedemikian rupa sehingga wajah yang seharusnya tampan itu berubah menjadi sangat cantik. Bibir yang terlalu merah dan alis mata terbentuk seperti branded sepatu terkenal itulah yang membuat Kailandra kesal. Kegagahannya mendadak dipertanyakan kalau melihat topeng yang di tempel di guling tersebut.


Kailani tidak menjawab pertanyaan Kailandra. Sebelum tawanya terlepas tanpa kontrol, perempuan tersebut buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower dengan maksimal agar jika nanti tawanya benar-benar sudah tidak tertahan, maka Kailandra tidak akan mendengarnya.


Kailandra mengambil guling yang tidak seberapa besar dan panjang itu. Lalu menempelkan bagian atas yang dipakaikan topeng dirinya itu tepat di samping wajahnya. Sedangkan satu tangannya mengambil telepon genggam dan membuka fitur kamera untuk memastikan jika dirinya tidak seperti yang digambarkan di guling tersebut.


Tidak lama, Kailani kembali muncul dengan wajah yang sudah segar. Lagi-lagi dia harus menahan tawanya ketika dia melihat Kailandra masih saja terkesima memandang topengnya sendiri.


"Siapa bilang kangen. Tau ini buat apa?" Kailani mengambil paksa guling dari tangan Kailandra.


"Buat nutupin tangan Bun'ay yang suka di tengah kalau lagi kangen sama ayahnya Keiko." Kailandra menjawab sambil beranjak mendekati Kailani. Berharap kekesalan sang istri sudah mereda. Sudah waktunya mereka melupakan sikap kekanak-kanakan kemarin, dan mulai melepaskan kerinduan yang sudah tidak bisa ditahannya.


"Enak saja. Kalau gemes sama Yanda, enak sudah ada yang ditimpuk." Kailani memukul-mukul bagian guling yang dipakaikan topeng dengan gemas. Membuat Kailandra memegangi pipinya seakan merasakan nyeri.


"KDRT itu, Bun. Tidak baik. Kalau Keiko tau bagaimana? Tidak baik memberi contoh buruk." Kailandra memberanikan diri menarik pinggul Kailani mendekati tubuhnya. Perlahan dia mengambil guling di tangan sang istri dan melemparkannya ke ranjang.

__ADS_1


"Kesel-kesel terus nanti cepet berkerut wajahnya. Lebih baik, kencangkan saja sesuatu yang butuh dikencangkan." Kailandra menuntun tangan Kailani menuju bagian tersensitif dalam tubuhnya. Di mana hanya dengan sentuhan jemari Kailani, bagian tersebut langsung bertambah secara panjang dan diameternya.


"Malesin ... Dasar ngeselin."


Mulut masih bisa mengucap kata-kata dengan ketus, tetapi tangan Kailani tidak menolak. Bahkan dengan sadar dan keikhlasan hati menambah ketegangan Kailandra dengan sengaja menempelkan dadanya pada lengan sang suami. Gerakan tangannya pun semakin lincah bergerak naik turun.


Kailandra tidak tinggal diam, dia mulai mencumbu leher jenjang Kailani. Paham benar, bagian tersebut adalah salah satu bagian yang bisa membuat istrinya itu melepaskan dessah manjanya.


Keduanya sibuk dengan aksi masing-masing. Melupakan perang dingin yang terjadi selama tiga hari belakangan. Bercinta kali ini bukan hanya tentang cinta berbalut napsu, tetapi juga ada rindu yang menggebu, yang ingin segera beradu ketika sudah bertemu.


"Aku lihat anak-anak dulu, Ay. Takutnya Kei bangun. Ini hampir subuh. Biasanya dia terbangun." Suara Kailani yang sudah begitu jelas bercampur birahii menghentikan gerakan tangan Kailandra yang baru ingin melepas pengait braa sang istri.


"Nanggung, Bun. Pasti ini hanya sebentar." Kailandra menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tatapan mata sendu tetapi penuh napsu disertai desiran tertahan yang membuat otot perutnya kaku---akibat tangan Kailani masih bergerak cepat mengurut sesuatu yang mengeras di antara dua pahanya.


Kailani membebaskan tangannya dari milik Kailandra. Lalu dia melepaskan daster yang dikenakannya dengan gerakan cepat. Begitupun dengan Kailandra yang juga menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya.


"Bunda, buka pintu bunda...."


"Unda, Unda...."

__ADS_1


__ADS_2