
"Sebentar, Pa. Kei mau memberi salam sama Oppa Kim dulu." Dengan polosnya Keiko mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Kailandra.
"Siapa yang mengajarkan Kei membantah papa? Sekarang, Kei! Tidak ada kata sebentar-sebentar," tegas Kenzo. Nada dan volume suaranya sedikit meninggi.
Keiko seketika memundurkan langkahnya dengan kepala menunduk. Bola mata gadis cilik itu tampak berkaca-kaca. Baru kali ini Kenzo berbicara keras padanya. Tentu saja hal itu membuat Keiko takut sekaligus sedih.
"Kenapa kamu bentak-bentak Keiko? Dia masih kecil," protes Kailandra. Merasa tidak terima.
Kasih tampak bergeming. Bibir terkunci rapat dan tatapan mata masih belum terlepas dari punggung Keiko yang semakin menjauh bahkan kini sudah menghilang dari penglihatannya. Tanya dan prasangka yang menyesakkan dada kini dirasakan perempuan tersebut.
"Apa kepentinganmu ke sini? Jaga jarak dengan Keiko. Jika kamu ingin mendekati Kailani, jangan pernah jadikan anakku umpan." Kenzo langsung masuk ke dalam setelah mengatakannya. Pria itu lalu berteriak memanggil Kasti dan menyuruh asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengannya selama sepuluh tahun lebih itu untuk menutup pintu rapat-rapat.
"Kai ... gadis kecil tadi siapa?" Kasih mencengkeram lengan Kailandra begitu erat.
"Namanya Keiko, Ma. Anak Kailani," jawab Kailandra. Entah mengapa bibirnya merasa berat saat ingin mengucapkan nama Kenzo sebagai papa dari Keiko.
"Kai, apa kamu tidak menyadari betapa dia sangat mirip denganmu sewaktu masih kecil? Tidak hanya mirip, kalian bahkan bisa dikatakan hampir identik. Garis wajah, bola mata, warna rambut dan kulitnya. Kalian benar-benar sama. Berapa umur anak itu, Kai?" selidik Kasih. Rasa penasaran
perempuan tersebut sudah tidak tertahankan lagi. "Katakan sejujurnya sama mama, apa kamu dan Kailani pernah melakukan hal terlarang?" tambahnya.
Kailandra terdiam. Sudah dia duga sebelumnya. Ketika Kasih bertemu Keiko, pastilah apa yang terlintas di pikiran mamanya itu tidak jauh berbeda dengan pikirannya sendiri. Jangankan Kasih yang merawat dan membesarkan Kailandra, dia sendiri saja bisa mengingat jelas bagaimana dirinya ketika seusia dengan Keiko.
__ADS_1
"Tidak usah kamu jawab. Diammu jelas mengatakan iya. Yang harus kamu lakukan sekarang hanya memastikan. Benarkah gadis tadi anak Kailani dengan suaminya dulu, ataukah dia anakmu. Jika dia anakmu, kita tidak boleh tinggal diam, Kai." Kasih mengatakannya dengan tatapan mata tidak terarah seperti orang yang sedang melamun.
"Inilah alasan mengapa Kai mengajak mama datang kesini. Sejak pertama kali bertemu Keiko, ada hal berbeda yang Kai rasakan. Kai merasa ada sebuah ketertarikan dan keterikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata," ucap Kailandra.
Pintu rumah Kailani kembali terbuka. Keiko bersama Kenzi tampak sudah menjunjung tas punggung mereka masing-masing. Tepat berada di belakang mereka adalah Kenzo dan juga Kasri. Seketika Kasih kembali menjatuhkan pandangannya pada sosok Keiko. Begitu pun dengan yang dilakukan oleh Kailandra.
"Ajak mereka masuk ke dalam mobil dulu," perintah Kenzo pada Kasri.
Sebelum beranjak melangkahkan kaki, Keiko memberanikan diri sepintas melirik Kailandra. Sedari di dalam rumah tadi, Kenzo sudah memberikannya sebuah arahan dan sedikit ancaman agar tidak dekat-dekat dengan pria yang menjadi idolanya itu.
"Kenapa kalian masih betah disini? Tidak ada orang di rumah ini," ketus Kenzo begitu melihat Keiko, Kenzi dan Kasri sudah memasuki mobilnya.
"Urusanku tentu tidak hanya dengan Kailani. Ingat, Ken. Keiko sudah berteman denganku. Tidak ada salahnya aku datang untuk melihat temanku yang baru saja sakit," jawab Kailandra dengan santainya.
"Keiko anak yang sangat bersahabat dan ramah. Kenapa kamu seperti menjauhkan Keiko dariku, Ken? Apa karena ada sesuatu yang kamu takuti? Kamu takut Keiko akan lebih dekat dengan Aku atau---?" Kailandra sengaja tidak meneruskan kata-katanya. Karena dia melihat raut wajah Kenzo sudah merona merah menahan amarah.
Tanpa menjawab pertanyaan Kailandra, Kenzo memilih segera berlalu meninggalkan pria tersebut. Kewaspadaannya kini harus meningkat berlipat-lipat dari sebelumnya. Dia akan memanfaatkan keberadaan Kailani yang tengah fokus dengan kesehatan Kanaka, untuk membuat Keiko semakin dekat dan menurut dengannya.
"Mama yakin gadis cantik tadi adalah anakmu, Kai. Tidak ada kebetulan yang sempurna seperti ini," lirih Kasih. Kembali dengan ekspresi melamun.
"Demikian juga dengan Kai, Ma. Ini hanya masalah waktu. Sebelum kita mengetahui pasti semuanya, bisakah mama bersikap lebih baik pada Kailani? Jika Keiko benar anak Kai, maka dia sudah memberikan tiga cucu untuk mama. Apa itu artinya Kailani memang jodoh Kailandra?"
__ADS_1
Kasih menggelengkan kepalanya dengan lembut. Perempuan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya bisa menerima apa yang terjadi. Bukan hal yang sulit untuk membuat Kasih menerima Kailani, karena sedari dulu memang dia sangat menyukai sosok dan pembawaan mantan calon menantunya itu. Hanya karena kesalahpahamanlah yang menuntun sikapnya pada Kailani menjadi seangkuh ini.
Di sisi lain, Kalvin yang benar-benar tidak bisa bertemu dengan Karina, memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di mana Kailani berada. Untuk urusan Karina, pria tersebut sudah sepenuhnya menyerahkan pada pengacara. Kalvin secara khusus membawakan bubur berprotein tinggi agar kondisi Kailani yang sebenarnya masih dalam masa pemulihan pasca operasi sesar terjaga dan bisa cepat pulih.
"Keiko di rumah sama Bi Kasri saja, Kai?" tanya Kalvin sengaja memulai pembicaraan. Setelah keduanya duduk di sofa ruang tamu ruang rawat inap Kanaka.
Kailani tidak langsung menjawab. Tarikan napasnya terlihat sedikit berat dengan tatapan lurus ke arah box Kanaka. Masih terngiang jelas kata-kata Kenzo yang memperingatkan dirinya untuk bersikap adil pada Keiko. Sebuah kalimat yang membuat Kailani seakan menjadi seorang ibu yang mengabaikan anaknya selama ini.
"Kai." Kalvin melambaikan tangannya di depan mata Kailani.
"Keiko sudah bersama Kenzo, Vin. Untuk sementara. Keiko tinggal bersama papanya dulu." Kailani segera menjawab begitu menyadari sudah mengabaikan pertanyaan Kalvin beberapa saat.
"Oh, tadinya aku ingin mampir ke rumahmu untuk melihat Keiko. Karena dia di rumah papanya, tidak jadi deh."
Keduanya terus berbincang akrab. Sampai pintu ruangan tersebut sedikit terbuka. Berhasil membuat obrolan Kailani dan Kalvin terhenti seketika. Ditambah lagi sosok yang muncul tersebut seharusnya sudah tidak muncul lagi di depan Kailani untuk saat ini.
"Kan sudah aku bilang, selama aku di sini, kamu jangan pernah kemari," kesal Kailani sembari melemparkan pandangannya ke sisi lain.
"Aku datang kemari bukan ingin menemuimu. Aku mau mengantar baju ganti buat Kanaka, karena mereka tadi belum membawa baju," kilah Kailandra sembari mengirimkan isyarat mata pada babysitter Kanaka yang tampak bingung mendengar ucapannya.
"Ya sudah, taruh saja terus keluar dari sini," ketus Kailani.
__ADS_1
Kailandra tidak mengindahkan ucapan Kailani. Pria tersebut memberikan tas pada Kekeyi, kemudian ikut duduk santai di samping Kalvin. "Aku mau bicara tentang Keiko," ucapnya.