
Sedikit mengingat kebaikan-kebaikan yang selama ini sudah Kalvin berikan pada Keiko dan dirinya, Kailandra akhirnya menyetujui permintaan Kalvin. Dia lalu mengajak pria tersebut ke sebuah ruangan kaca di ujung lobby. Keduanya kompak sama-sama memilih untuk berbicara dengan posisi berdiri.
"Langsung saja, Vin. Sampai kamu datang kemari, aku yakin pasti ini urusan Karina," tebak Kailandra.
"Tolong temui Karina sebentar, Kai. Dia mengalami depresi yang cukup berat." Kalvin merendahkan nada dan volume suaranya.
"Apa hubungannya denganku? Proses perceraian kami sedang berjalan. Dan apa yang terjadi pada Karina sekarang jelas bukan tanggung jawabku lagi. Setiap tindakan yang dilakukan Karina, harus dihadapi sendiri konsekuensinya," tegas Kailandra.
"Aku paham, Kai. Aku memintamu datang menemui Karina bukan karena aku sedang menuntut tanggung jawabmu. Dengan kerendahan hati, aku memintamu menemuinya demi rasa kemanusiaan. Bagaimana pun, Karina pernah menjadi pendamping hidupmu. Bantu dia keluar dari tekanan batinnya. Aku tidak minta lebih." Kalvin kembali memohon.
Kailandra tidak langsung menjawab. Pria tersebut terlihat sedang berpikir. Dia harus berpikir dengan masak-masak dan penuh pertimbangan saat berhadapan dengan Karina. Kailandra jelas tidak ingin masuk ke dalam jebakan atau pikiran licik perempuan itu.
"Baiklah, aku akan menemui Karina. Tapi aku ada satu syarat untukmu," putus Kailandra.
"Apa itu?" tanya Kalvin. Mendadak pikirannya tidak enak. Dari raut wajah Kailandra, tersirat senyuman yang semakin membuat Kalvin yakin jika pria di depannya itu pasti mempunyai permintaan yang tidak biasa.
"Tenang, Vin. Tidak susah, kok. Sederhana saja." Kailandra menepuk-nepuk lengan Kalvin.
"Katakan," ucap Kalvin. Semakin menaruh curiga pada Kailandra.
__ADS_1
"Setelah aku bertemu Karina, menjauhlah dari kehidupan Kailani dan jangan pernah menghubungi dia lagi."
Kata-kata yang diucapkan dengan begitu santai tanpa beban. Nyatanya berhasil membuat Kalvin menarik napas berat. Syarat yang diberikan Kailandra tidaklah sederhana. Dan lagi, antara Kalvin dan Kailani, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kailandra. Dengan siapa pun mereka dekat, tidak seharusnya ada yang ikut campur.
"Hubunganku dengan Kailani sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan Karina, Kai. Jelas ini adalah dua hal yang berbeda. Sangat tidak sepadan," sanggah Kalvin.
"Tentu saja sepadan. Kamu ingin Karina baik-baik saja, bukan? Aku tidak hanya menemuinya sebentar. Aku akan membantumu memulihkan Karina. Bisa jadi Aku menemuinya dua atau tiga kali. Aku sama sekali tidak keberatan. Asal satu hal tadi kamu penuhi." Kailandra menarik garis senyuman tipis di kedua ujung bibirnya.
Kalvin pun tidak langsung menimpali Kailandra. Dia pun mengambil waktu sejenak untuk berpikir. Tidak semudah itu tiba-tiba menghilang dan memutuskan hubungan yang sudah terjalin baik dengan Kailani. Bagi Kalvin, keterikatan itu sebenarnya tidak hanya sekadar teman. Tujuan dirinya adalah hubungan yang lebih serius. Di samping itu, dia sendiri juga sudah terlanjur dekat dengan Keiko.
"Aku ada urusan pekerjaan dengan Kailani, Kai. Ini penting bagi Kailani. Kami masih baru mau melangkah. Setelah apa yang terjadi dalam hidupnya semenjak mengandung dan melahirkan anakmu, dia pantas mendapatkan kehidupan yang normal. Kailani berhak melanjutkan mimpinya. Dengan statusnya sekarang, pekerjaan ini sangat penting untuk membuat ekonominya terjamin."
"Bukankah kamu dan Kailani pernah menjalin hubungan yang istimewa? Apa menurutmu Kailani adalah tipe perempuan yang bisa menerima pemberian orang lain begitu saja?" Kalvin menggeleng-gelengkan kepala. Dia sama sekali tidak bisa memahami pemikiran Kailandra yang baginya sangat egois.
"Jangan buang waktuku, Vin. Kamu mau dibantu atau tidak? Aku pastikan! Jika kamu bersedia, Karina akan terbebas dari tuntutan Si Ibu pejabat. Dia akan mendapatkan rehabilitasi di tempat yang bisa kamu tentukan dan dia tetap akan mendapatkan harta gono gini yang pantas setelah dia resmi menandatangani perceraian kami. Bagaimana?"
Kalvin meraup wajahnya dengan kasar. Baru saja dia ingin menata hidupnya, tetapi ada saja yang menghambat. Menolak, berarti dia harus Terima dan berjuang sendiri menangani kondisi Karina. Tetapi jika menerima, tentu perasaannyalah yang dikorbankan.
Kailandra membisikkan sederetan kalimat pada Kalvin. Lalu menepuk lengan pria tersebut dan meninggalkan ruangan lebih dulu ketimbang tamunya. Sungguh pilihan yang teramat sulit bagi Kalvin. Disaat bersamaan, telepon genggamnya berdering. Di layar benda pipih bertekhnologi tinggi tersebut tertera nama Kailani. Tanpa berpikir panjang, Kalvin pun menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit di mana Keira berada, setelah perjuangan panjang dan penuh drama, akhirnya bayi mungil berjenis kelamin laki-laki terlahir dengan selamat.
"Keiko masih princess satu-satunya," lirih Keira.
"Dia memang akan menjadi satu-satunya princessku, Kei. Ini yang terakhir kamu melahirkan," ucap Kenzo sambil duduk di sisi brankar kosong di mana Keira berbaring.
Kalimat yang sebenarnya sama sekali tidak dimaksudkan untuk melukai apalagi menyinggung hati Keira tersebut, ternyata bermakna sebaliknya bagi sang istri. Perempuan yang akhir-akhir ini memang sedang kehilangan rasa percaya diri tersebut, semakin merasa tidak berguna. Keira memaknai ucapan Kenzo tadi terlalu jauh. Hingga membuat air matanya kembali turun membasahi pipi.
"Maafkan aku ya, Ken. Belum bisa menjadi perempuan seperti Kailani. Setelah hari ini, aku ikhlas jika kamu menikah lagi sama Kailani. Dia memang perempuan hebat. Dia lebih pantas melahirkan anak-anakmu," ucap Keira di tengah-tengah isak tangisnya.
Kenzo mengusap air mata Keira dengan lembut. "Tidak, Kei. Aku sudah melihat kamu mempertaruhkan hidupmu untuk melahirkan anakku hari ini. Aku tidak ingin punya anak lagi bukan karena kamu bukan perempuan yang tepat. Bukan... sama sekali bukan. Aku tidak ingin lagi melihat kamu merasakan sakit seperti tadi. Dua anak saja sudah cukup bagi kita. Ada Keiko yang memang akan selalu menjadi princess kita."
Mendengar kata-kata Kalvin. Keira seakan tidak percaya. Baru kali ini, Kata-kata suaminya itu begitu meneduhkan. Seakan Keira memang satu-satunya perempuan yang dicintai dan didambakan.
"Aku tidak ingin berbohong, Kei. Aku memang masih mencintai Kailani. Tapi mulai hari ini aku janji, perlahan Aku akan menepis perasaan itu. Aku akan fokus pada keluarga kecil kita."
Tangis Keira semakin pecah. Kali ini bukan karena lara hati atau pun kesedihan. Dia sungguh terharu. Tidak menduga sama sekali jika kelahiran putra kedua mereka sanggup membalikkan keadaan 180 derajat. Keira mencium punggung tangan Kenzo berkali-kali sembari terisak dan mengucapkan terimakasih.
Sementara itu, Keiko yang baru saja pulang sekolah, tampak bersemangat saat menemui Kanaka dan Kanaya. Ditambah lagi dengan keberadaan Kasih yang sepertinya memang ingin sekali mengambil hati bocah kecil menggemaskan itu.
__ADS_1
"Keiko sayang, besok kan sekolah libur. Besok ikut ke rumah Oma sebentar, ya. Nanti Oma tunjukkan kamar yang sudah Oma siapkan buat Keiko," ucap Kasih. Begitu tiba-tiba dan tentu saja membuat Kailani seketika menampilkan raut wajah kesal.