
Setelah mendengar ucapan Kailani, Kailandra pun memutuskan untuk meninggalkan tanah pemakaman. Sepanjang perjalanan, pria tersebut masih tetap bertahan dalam diam. Wajahnya terus menengadah dengan mata terpejam. Kailani lagi-lagi memilih untuk mengabaikan. Tidak ada lagi keinginan untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata sebagai penyemangat atau pelipur lara bagi Kailandra.
Begitu mobil memasuki halaman rumah, Kailandra membuka bola matanya. "Ajak anak-anak pulang ke rumahmu saja, Kai. Kasihan mereka kalau di sini tidak bisa tenang. Kamu juga pasti capek."
Kailani hanya mengangguk pelan. Meski dalam hati dia tidak tega meninggalkan Kailandra sendirian, tetapi kembali ke rumahnya sendiri memang lebih baik. Keberadaan dirinya dan anak-anak di tengah kesedihan Kailandra, mungkin membuat pria itu tidak leluasa meluapkan emosinya. Kailani bisa memahami, sangat tidak mungkin bagi Kailandra untuk menangis dan berteriak lepas jika ada anak-anak terutama Keiko.
"Abang jangan putus berdoa, ya. Hanya doa yang diharapkan Bu Kasih sekarang," ucap Kailani sesaat setelah keduanya turun dari mobil yang dikendarai oleh driver Kailandra.
"Aku percayakan anak-anak padamu, Kai. Jadikan mereka anak-anak yang patuh dan berbakti kepadamu. Jangan sampai mereka tumbuh besar seperti aku.p" Kailandra mempercepat langkahnya setelah mengatakan hal tersebut. Jauh meninggalkan Kailani yang masih tertegun dengan ucapan Kailandra yang tidak biasa.
Suasana rumah masih begitu ramai. Petaziah datang silih berganti ingin mengucapkan bela sungkawa secara langsung pada Kailandra, mulai dari relasi hingga karyawan. Meski wajahnya jelas sekali menampilkan lelah, kesedihan dan keengganan berbicara, Kailandra tetap berusaha menyapa mereka yang datang.
Menunggu celah yang tepat untuk berpamitan, Kailani pun meminta babysitter bersiap-siap lebih dulu. Keiko sendiri dari tadi masih duduk tenang di samping Kenzo memperhatikan kesibukan yang tidak biasa baginya.
"Kei, pamit ke Oppa, yuk! Kita pulang!" ajak Kailani sambil mengulurkan tangan untuk menuntun Keiko.
"Kenapa kita tidak menginap di sini, Bun? Kan Oma Kasih meninggal, Oppa pasti sedih. Tadi saja Oppa menangis." Keiko dengan gerakan malas menyambut uluran tangan Kailani. Meski masih belum genap berusia delapan tahun, Keiko cukup pintar dan peka dalam memahami situasi.
__ADS_1
Kailani menghentikan langkahnya. Perempuan itu sedikit membungkukkan badannya untuk menyamakan posisi wajahnya dengan wajah Keiko. Senyuman dan tatapan yang sama lembutnya ditujukannya pada sang putri.
"Oppa memang sedang bersedih, Kei. Kita pulang bukan berarti kita tidak peduli sama Oppa. Ada saatnya orang yang sedih itu butuh waktu untuk sendirian. Kita berdoa saja supaya Oppa bisa melewati kesedihannya."
Keiko membalas tatapan Kailani dengan bola mata kecoklatannya yang berkaca-kaca, kesedihan Kailandra rupanya menular pada Keiko. Gadis cilik itu tiba-tiba memeluk Kailani begitu erat. "Bunda jangan pernah pergi meninggalkan Keiko. Bunda tidak boleh meninggalkan Keiko seperti Oma Kasih meninggalkan Oppa."
Kailani membalas pelukan Keiko lebih erat. Tanpa terasa, bulir bening juga membasahi pipinya. Terlalu dini jikalau harus menjelaskan perkara kematian secara detail pada Keiko. Kailani memilih untuk tidak menjawab dengan kata. Perempuan itu mengecup kening putri sulungnya itu sambil mengucap doa dan harapan dalam hati untuk kebahagiaan Keiko di masa depan.
"Kalian mau pulang?" tanya Kailandra dengan suara yang benar-benar parau karena semalaman pria tersebut tidak tidur.
Kailandra tersenyum tipis mendengar ucapan Kailani yang begitu panjang. "Terimakasih, Kai. Jaga anak-anak."
Kenzo yang sedari tadi juga berada di sana merasakan keharuan yang luar biasa. Meski selama ini hubungannya dengan Kailandra bisa dikatakan tidak terjalin baik, tetapi dia bisa ikut merasakan betapa hancurnya hati pria tersebut sekarang. Dari sorot mata Kailandra saja, Kenzo bisa menangkap pesan sesal dan kesedihan yang tersirat di sana.
Selepas kepulangan Kailani, Kenzo dan anak-anaknya. Kailandra meninggalkan tamu-tamunya. Dia berdiam diri di dalam kamar sang mama. Wajahnya tertunduk menatap bingkai yang sedang dipegangnya. Bingkai yang berisi foto dirinya dimasa kecil bersama sang mama.
"Kenapa mama pergi dengan cara yang seperti ini? Masih banyak yang harus kita bicarakan, ma. Mama ingin Kai mempunyai keluarga yang utuh, bukan? Kai masih sedang mengusahakan. Kenapa mama malah pergi sebelum Kai bisa mewujudkannya? Kai tau sebenarnya mama hanya takut Kai kecewa lagi karena ditolak Kailani. Mama salah... Kai sudah menyiapkan hati Kai untuk itu. Kai tau diri, ma." Pria tersebut terus menumpahkan keluh kesahnya.
__ADS_1
Duka yang dirasakan Kailandra tampaknya terlalu dalam. Detik demi detik dilaluinya dengan sisa ketegaran yang ada. Cukup sulit bagi Kailandra untuk bangkit. Walau jelas dia juga tidak menyerah sepenuhnya. Satu bulan sejak kematian Kasih, Kailandra menjadi pribadi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Setiap kali datang ke rumah Kailani untuk menemui Keiko dan baby twins, dia seakan menghindar untuk berbicara atau pun sekadar menatap Kailani.
Kailandra sudah sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Kailani. Namun, tetap saja pertemuan itu kerap kali tidak bisa dielakkan. Padahal, Kailandra sudah berkunjung pada waktu di mana Kailani diperkirakan masih berada di tempat penitipan anak sekaligus sekolah pendidikan anak usia dini yang kini sudah aktif berjalan. Nyatanya, Kailandra dan Kailani masih bisa dipertemukan dengan berbagai kebetulan.
Seperti kali ini, Kailandra yang sudah berada di depan pintu rumah Kailani harus dibuat kecewa. Pasalnya, hanya Katami yang menemuinya. Babysitter Kanaya itu mengatakan semua penghuni sedang berada di tempat penitipan anak karena ada acara tasyakuran. Sudah terlanjur membelikan makanan favorite Keiko, Kailandra pun memutuskan untuk menyusul ke tempat tersebut.
"Vin?" sapa sekaligus tanya Kailandra pada sosok yang sedang berdiri di samping pintu ruangan diadakannya tasyakuran dengan posisi seperti orang yang sedang mengintai sesuatu.
"Eh, Kai," jawab sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Kalvin itu. Dengan suara tergagap dan ekspresi wajah salah tingkah.
"Kenapa kamu tidak masuk, Vin? Apakah kamu masih memegang janjimu untuk tidak menemui Kailani?" selidik Kailandra dengan nada suara yang rendah.
"Tentu saja aku masih memegang janjiku, Kai." Kalvin menjawab sambil melangkah menjauhi daun pintu. Dia tidak mau kehadirannya malah diketahui oleh Kailani.
"Bisa kita bicara sebentar, Vin?" tanya Kailandra.
"Tidak di sini, Kai. Di sana saja." Kalvin mengiyakan dengan menunjuk sebuah ruangan yang diketahuinya sebagai ruang meeting.
__ADS_1