
"Maaf, Bu. Jika yang dibicarakan memang banyak, mungkin bisa lain waktu saja. Anak-anak sudah boleh pulang. Sebaiknya mereka yang menjadi prioritas. Lagi pula, tidak ada hal mendesak yang mengharuskan kita bicara saat ini juga," tolak Kailani. Meski tegas---tidak mengurangi rasa hormatnya sedikit pun.
"Kalau begitu, kamu ikut saja ke rumah. Sekalian mengantar anak-anakmu, bukan?" tanya Kasih dengan entengnya.
Kailandra menarik napas dalam. Sekali pun dia menginginkan kembali dekat dengan Kailani, tapi tidak dengan cara seperti ini. Bahkan dia tidak berharap Kasih melibatkan diri dalam urusannya. Dia tidak mau, campur tangan sang mama malah akan membuat keadaan menjadi runyam. Sikap Kasih yang cenderung suka memaksakan kehendak, membuat Kailandra takut Kailani semakin menjauh.
"Maaf, saya tidak bisa, Bu." Lagi-lagi Kailani menolak.
"Kenapa tidak bisa? Tentang anak-anak, harus kita bicarakan di depan. Saya tidak mau, terjadi masalah di belakang. Apalagi, sebentar lagi Kailandra akan resmi bercerai dengan Karina. Dia tidak mungkin sendirian terus. Pasti akan ada perempuan lain yang akan mendampingi Kailandra menjaga anak-anak."
Perkataan Kasih sungguh membuat Kailandra yang tadinya menahan diri untuk bersabar, kini sudah tidak bisa lagi. Dengan kekesalan dan juga kemarahan yang nyata, pria tersebut berkata, "Jangan pernah mendahului keputusan Kailandra, Ma. Ini hidup Kai, biar Kai yang menentukan sendiri. Jika mama nekat, jangan salahkan kalau Kai membawa anak-anak menjauh."
Kasih membalas tatapan tajam Kailandra dengan tidak kalah tajam. "Mama sudah cukup membiarkan kamu melakukan hal-hal di luar kendali mama. Kali ini mama tidak akan membiarkan kamu seenaknya sendiri. Apa yang kamu dapat dari kehidupan bebas mu selama ini? Sudah nurut saja apa kata mama," tegasnya.
"Cukup, Ma. Setiap dari kita menjalani sebuah proses. Jangan menempatkan diri seakan mama selalu benar. Tolong jangan paksa Kai untuk menyebut kembali satu demi satu kesalahan mama," sanggah Kailandra.
"Maaf, saya permisi dulu. Lanjutkan perdebatan kalian. Tapi sebaiknya perdebatan itu tidak dilakukan di sini." Kailani memberikan baby girl Kanaya pada perawat. Tidak sempat memberikan ciuman dan pelukan kepada kedua buah hatinya, Kailani langsung meninggalkan ruangan. Menyisakan Kailandra yang tentu saja semakin kesal pada Kasih.
Tidak lama dari kejadian itu, Kailandra dan Kasih akhirnya membawa baby twins pulang ke rumah Kasih. Sepanjang perjalanan, Ibu dan anak itu kompak saling menutup mulut. Dua orang babysitter yang disiapkan Kasih melalui seorang perempuan bernama Kinanti juga sudah bergabung bersama mereka. Masing-masing kini menggendong baby boy dan baby girl.
__ADS_1
"Mama akan mengadakan acara aqiqah untuk cucu-cucu mama. Sekalian tasyakuran pemberian nama. Mama sudah menyiapkan nama yang cocok untuk mereka." Tiba-tiba Kasih memecah keheningan.
"Kailandra sudah memberikan nama pada mereka. Biar Kailandra yang mengadakan acara Aqiqah untuk mereka. Kai ayahnya, mereka tanggung jawab Kai---bukan tanggung jawab mama. Kai mungkin gagal sebagai seorang laki-laki dalam berperan menjadi suami, tapi Kai tidak ingin gagal menjadi seorang ayah. Jangan membuat Kai semakin berani menentang mama karena perlakuan mama sendiri." Kailandra menyudahi perdebatan nya dengan sang mama. Keduanya kembali terdiam sampai tiba di rumah Kasih.
Kedatangan mereka disambut oleh dua perempuan yang tidak asing bagi Kasih. Satu sosok kehadirannya memang diharapkan, sementara yang satu lagi sebenarnya sudah tidak ingin lagi dilihatnya di muka bumi ini.
"Hai, sayang. Terimakasih sudah datang." Kasih langsung memeluk perempuan berkulit putih bersih, rambut curly sepunggung dengan pakaian dan pembawaan yang sangat berkelas. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Kailani.
"Kai, masih ingat Kinanti, tidak? Ini anaknya Tante Kinar." Kasih melepas pelukannya dan mengalihkan perhatiannya pada Kailandra. Mengabaikan sosok lain yang tidak lain tidak bukan adalah Karina yang juga berdiri di depan pintu tidak jauh dari keberadaan mereka semua.
"Kita bawa anak-anak masuk, Sus," perintah Kailandra tanpa mengindahkan pertanyaan Kasih dan juga keberadaan Karina. Pria tersebut masuk ke dalam rumah terlebih dahulu bersama dengan babysitter beserta baby twins tentunya.
Perempuan tersebut mendekati Karina yang tampak begitu tenang. Tidak seperti biasanya, bahkan dia tidak berusaha mengejar Kailandra yang sudah mengabaikannya.
"Ada apa kamu kemari? Tidak tau malu. Sudah berbohong, masih saja berani menginjakkan kaki di sini," ketus Kasih.
"Kenapa tidak berani? Secara hukum, saya masih istri sah dari Kailandra. Tapi rupanya, ada yang sudah tidak tahan ingin mempunyai menantu baru. Asal mama tau, selama anak mama yang bermasalah---siapa pun perempuannya, pasti akan melakukan hal yang sama seperti saya." Karina mengatakannya dengan santai.
"Jangan mengkambing hitamkan Kailandra untuk kebohonganmu. Sekali bohong, tetap saja bohong. Sekarang, cepat katakan, apa tujuanmu datang kemari?" desak Kasih. Tidak ingin berlama-lama menatap Karina.
__ADS_1
"Saya hanya ingin memberikan ini, mama mertua. Tolong sampaikan pada Kailandra. Sebenernya, saya ingin memberikan langsung, tapi sepertinya kehadiran saya sedang tidak dinantikan di sini. Ya sudahlah, saya yakin, setelah membuka surat tersebut, Kailandra atau bahkan mama yang akan mencari saya." Karina mengulurkan amplop coklat berkop institusi kepolisian Republik ini.
Kasih menyahut begitu saja amplop tersebut. Lalu perempuan tersebut segera masuk dan mengunci pintu rumahnya itu rapat-rapat. Meninggalkan Karina yang tersenyum licik penuh kemenangan.
Di sisi lain, tepatnya di kediaman Kailani. Kenzo yang datang ingin memberikan oleh-oleh pada Keiko, mengajak Kailani yang terlihat sedih untuk berbicara berdua di ruang tamu.
"Kenapa kamu tidak berusaha mengambil hak asuh anak-anakmu saja, Kai?" tanya Kenzo. Dia yakin betul, penyebab murungnya wajah Kailani tidak jauh-jauh dari dua bayi hasil bayi tabung yang benar-benar menyalahi norma sosial yang ada di Indonesia.
"Aku bingung, Ken. Benar-benar bingung. Sepertinya aku memang harus bicara dengan Bu Kasih dan Bang Kai," lirih Kailani.
"Andai masalah ini tidak cacat hukum. Aku pasti akan menyuruhmu mengajukan perkara ini ke pengadilan, Kai. Masalah kali ini rumit. Kalian hanya bisa selesaikan dengan bicara baik-baik," sesal Kenzo.
"Mungkin memang aku harus melepaskan mereka, Ken. Seperti perjanjian awalku dengan Karina. Tega tidak tega, kejam atau tidak, sudah kesepakatannya begitu. Aku memang Ibu yang tidak baik," lirih Kailani.
"Siapa bilang? Kamu Ibu yang sangat baik, Kai. Tuhan pasti akan kasih jalan. Manfaatkan Kailandra untuk mendapatkan anak-anakmu," saran Kenzo.
Kailani menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tidak, Ken. Aku tidak mau."
"Pada kenyataannya, dia ayah dari anak-anakmu, Kai. Kamu ibunya, kalian sama-sama berhak atas mereka. Jangan abaikan fakta itu," tutur Kenzo
__ADS_1
Kailani ingin menjawab perkataan Kenzo, namun perempuan tersebut mengurungkan niatnya karena Keiko muncul sambil memegangi hidung yang sedang mengeluarkan darah segar.