Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bukan pernikahan biasa


__ADS_3

Mengetahui siapa pemilik suara yang membuat akad nikahnya tertunda, Kailandra langsung berdiri dan menghampiri sosok yang tidak lain adalah Karina. Kailani pun melakukan hal yang sama. Perempuan tersebut berjalan tepat di belakang Kailandra dengan langkah hati-hati karena memakai kain jarik.


"Jangan panik, Kai. Aku datang bukan untuk menghalangi pernikahan yang pastinya sangat kamu harapkan. Aku hanya mau memberikan hadiah kecil untuk Kailani." Karina mengatakannya dengan santai sambil melangkahkan Kaki mendekati Kailani.


"Selamat ya, Kai. Aku harap kesabaranmu tidak berbatas. Kamu tau persis suamimu orang seperti apa." Kailani mengulurkan bungkusan kecil berbentuk pipih kepada calon istri dari mantan suaminya itu.


Kailani tidak langsung menerima kado yang diberikan oleh Karina, matanya malah fokus ke arah pintu. Dengan kehadiran Karina, tentu saja Kailani mengira Kalvin juga ikut datang untuk menyaksikan pernikahannya.


"Kamu mencari siapa? Kalvin tentu tidak ikut. Kamu kira, hati Kalvin terbuat dari apa? Dia tidak setegar kelihatannya. Menerima keputusan terbaik darimu, bukan berarti dia harus mengabaikan lukanya sendiri. Biarkan dia mengambil waktu untuk menikmati rasanya patah hati. Kalvin hanya menitipkan satu pesan untukmu." Karina sengaja mengecilkan volume suaranya. Sadar betul saat ini semua mata sedang tertuju pada mereka bertiga.


"Katakan sekarang atau tunggu nanti setelah acara akad selesai. Maaf, bukannya Aku tidak menghargai kehadiranmu. Aku malah ingin berterimakasih kamu mau ke sini. Tapi mereka sudah menunggu, Kar." Intonasi dan raut wajah tenang Kailandra saat mengucapkan hal tersebut membuat Karina menarik senyuman tipis di kedua ujung bibirnya. Ternyata benar apa yang diceritakan Kalvin---Kailandra memang sudah jauh berubah ke arah yang lebih baik.


"Apa yang akan aku katakan ini tidak aku lebih-lebihkan, juga tidak aku kurangi. Ini sama persis dengan apa yang dikatakan Kalvin." Karina menatap Kailandra dan Kailani secara bergantian.


"Untuk kita yang sama-sama pernah gagal dalam hubungan pernikahan, menikah lagi adalah sebuah keberanian. Karena pernikahan itu bukan permainan. Dimana saat kita gagal, kita bisa mencoba lagi dari awal. Maaf Aku tidak datang, semoga kalian bahagia. Kita bisa menentukan dengan siapa kita menikah, tapi jangan berharap bisa mengatur untuk siapa cinta kita akan diberikan. Cinta adalah pemberian terbaik, cinta juga adalah penghargaan terbesar untuk yang menerima. Berbahagialah kalian yang menikah atas nama cinta."


Kailani menitikkan air mata mendengar pesan yang begitu dalam dari Kalvin yang disampaikan melalui Karina. "Terimakasih, Kar. Sampaikan Terimakasih juga untuk Kalvin," lirihnya.


Kailandra memaknai lain atas reaksi yang ditunjukkan oleh sang calon istri. Mengira air mata itu adalah air mata kesedihan karena cinta yang tidak bisa bersatu. Padahal tidak demikian yang dirasakan Kailani sebenarnya.


Karena tidak enak sudah membiarkan yang lain menunggu lama, Kailandra menggandeng tangan Kailani ke tempat semula. Karina sendiri mengikuti langkah kedua calon mempelai tersebut di belakang.

__ADS_1


Acara akad pun di mulai. Suasana haru begitu terasa saat Kailandra mengikrarkan akad. Cucuran air mata tanpa suara dari Kailani, juga getaran suara Kailandra karena menahan tangis---sukses menyentuh hati semua orang yang berada di sana. Bahkan Keiko tidak kuasa menahan tangisnya ketika melihat Kailandra menangis terisak sepanjang doa setelah akad dilafalkan oleh penghulu. Saat itu, Kasih seakan hadir di sana---tersenyum dan menatap lekat ke arahnya. Entah nyata atau hanya bayangan Kailandra saja.


Melihat Keiko ikut menangis, Kailandra dan Kailani kompak tergerak untuk mendekati putri pertama mereka itu. Bersamaan, keduanya memeluk sang putri. Pernikahan mereka memang tidak biasa, meski bukan pernikahan paksa, suasana sedih berbalut haru sungguh kental terasa.


Tidak terlalu lama, acara sederhana tetapi berlangsung sangat khidmat dan sakral itu usai. Satu per satu tamu yang datang meninggalkan rumah Kailani. Begitu pun dengan Karina dan Kenzo sekeluarga. Suasana rumah Kailani kembali lenggang. Seakan tidak ada peristiwa penting yang baru saja terjadi di sana.


"Kei, Oppa kan sekarang sudah menikah sama bunda, masak Kei manggilnya Oppa terus?" Kailandra bertanya pada Keiko yang sedang fokus melahap cake di atas meja ruang tengah. Kailandra sendiri sedang merebahkan badannya di sofa panjang dengan kemeja yang masih melekat rapi di badannya.


"Tentu saja tidak, Ayah. Kata bunda, Kei manggilnya ayah saja," sahut Keiko tanpa ragu. Mulutnya kembali sibuk mengunyah. Padahal waktu makan siang sudah lewat, bocah cilik itu seperti enggak menyudahi makannya. Begitulah Keiko. Tidak heran badannya lebih bongsor dibanding dengan anak seusianya.


"Abang tidak ganti baju dulu?" Kailani yang sudah mengganti kebayanya dengan dress rumahan. Muncul dengan wajah yang begitu segar. Rambutnya basah terurai.


"Ehm ... a---," Kailandra tidak melanjutkan ucapannya. Tentu saja dia ingin mengganti baju. Satu koper pakaian sudah dibawanya di mobil, tetapi Kailandra belum menurunkannya. Karena dia tidak yakin Kailani masih memiliki kamar untuk ditempatinya.


Kailandra seketika beringsut dari posisinya, tidak menduga Kailani malah mengijinkan dirinya untuk masuk ke dalam kamar pribadi perempuan tersebut. Tanpa membuang waktu, Kailandra segera mengambil koper di mobilnya.


****


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, anak-anak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing. Sepanjang hari ini Kanaka dan Kanaya memang anteng bersama babysitternya. Tinggallah Kailandra dan Kailani yang masih terjaga. Namun demikian, sejak makan malam tadi, Kailandra masih berada di ruang tengah. Pria tersebut benar-benar tidak tahu harus tidur di mana. Dia tidak berani berekspektasi terlalu tinggi. Bisa jadi, Kailani tadi hanya meminjamkan kamar untuknya berganti baju saja.


Seperti biasanya, sebelum tidur, Kailani memeriksa pintu dan jendela rumahnya. Sekadar memastikan jika kedua benda tersebut sudah tertutup dengan benar. Melewati ruang tamu, dilihatnya Kailandra sedang pura-pura tertidur. Awalnya, dia ingin membiarkan saja pria itu berada di sana. Namun, setelah berpikir sedikit rasional dan juga panjang, Kailani memutuskan untuk mendekati Kailandra.

__ADS_1


"Bang ... Abang yakin mau tidur di sini?" tanya Kailani dengan suara sedikit berbisik.


"Kamarmu hanya tiga, Kai. Aku nggak masalah kok tidur di sini. Kalau boleh, aku pinjam bantal sama selimut saja." Kailandra mengatakannya dengan ekspresi wajah yang dibuat sesantai mungkin.


"Bukankah kita suami istri, Bang? Apa pantas kita tidur terpisah? Akad baru siang tadi Abang ikrarkan. Apa Abang lupa?"


Kailandra menelan ludahnya sendiri dengan susah payah sambil berjalan di belakang Kailani untuk masuk ke kamar. Bukannya lupa, tetapi dia harus menahan diri untuk tidak melampaui batasan-batasan yang muncul dari pikirannya sendiri. Jelas Kailandra senantiasa menyadari---Kailani menerima dirinya hanya sebatas sebagai ayah dari anak-anak mereka.


Di dalam kamar, di atas ranjang yang sama, Dua orang yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri itu sama-sama menahan kegelisahan yang dirasakan. Keduanya pura-pura memejamkan mata dengan posisi saling memunggungi. Malam pertama yang tidak biasa, mungkin akan tercatat sepanjang sejarah kehidupan keduanya.


"Kai, kalau kamu tidak nyaman. Aku bisa tidur di bawah, kok," ucap Kailandra dengan hati-hati dan volume suara yang cukup pelan.


"Aku harus membiasakan diri dengan keadaan ini." Kailani menjawab masih dengan mata terpejam.


"Kai ... Jangan berbalik badan. Aku hanya ingin menatap punggungmu. Tidak lebih." Kailandra membalikkan posisi badannya hingga membuat pria tersebut berhadapan dengan punggung Kailani. Jarak keduanya lebih dari dua jengkal.


"Ingatkan Aku jika aku salah. Tegur aku jika sikapku membuatmu tidak nyaman."


Di luar dugaan Kailandra, Kailani malah ikut berbalik badan. Membuat sepasang suami istri itu saling beradu pandang. Tidak ada kata yang terucap. Dengan tatap---cukup membuat batin keduanya berani mengharap---akan masa depan pernikahan mereka agar menjadi sakinah mawaddah warahmah.


"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya," doa Kailani dengan sepenuh hati. Meski lirih, Kailandra masih mendengar doa tersebut.

__ADS_1


Kailandra memberanikan diri mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi putih mulus sang istri. Tidak mendapatkan penolakan dari Kailani, pria itu pun menggeser maju badannya hingga jarak keduanya hanya sejengkal tangan baby twins saja. Bahkan tangan Kailani juga mulai tergerak menyentuh dada Kailandra.


"Seorang suami berhak atas tubuh istrinya, Bang."


__ADS_2