
Kailani menjawab dengan sebuah anggukan kepala sembari mendudukkan bokongnya di bangku anyaman tepat di seberang posisi Kalvin duduk. Perempuan tersebut tampak mengusap keringat yang membasahi dahinya akibat menahan nyeri dan panas pada bekas luka sayatan SC yang mulai timbul tenggelam seiring efek pain killer yang diminumnya perlahan sudah menghilang.
"Kai, maaf aku tidak bisa berbuat banyak untuk menghalangi keinginan Karina tadi pagi. Aku berharap ke depannya, tidak akan pernah terulang lagi hal seperti itu. Apalagi saat ada Keiko." Kalvin memulai pembicaraannya dengan hati-hati namun pasti.
"Buat apa kamu minta maaf, Vin? Bukan salah kamu. Aku sudah sangat berterimakasih kamu bisa membuat Keiko tidak mengetahui kejadian tadi." Kailani tersenyum tipis. Lalu sesaat kemudian perempuan tersebut menundukkan pandangannya.
"Aku memang belum mempunyai anak Kai, Tapi seusia Keiko, adalah masa-masa di mana semua kenangan dan nilai hidup justru terpatri kuat dalam dirinya. Aku dan Karina mengalami masa-masa yang luar biasa sulit saat usia kami tidak jauh berbeda dengan Keiko. Pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antara orang tua kami, belum lagi pertengkaran mereka dengan orang-orang yang silih berganti mendatangi rumah kami, memaksa Aku dan Karina berpikir berlipat-lipat lebih dewasa dari usia kami."
Kailani memberanikan diri membalas sorot mata Kalvin yang begitu sayu saat mengatakan sederetan kalimat tadi. Perempuan tersebut tidak mau terburu-buru menanggapi. Dia memilih untuk menanti kelanjutan cerita dari Kalvin hingga selesai.
"Usiaku dan Karina hanya selisih satu tahun. Masa kecil kami, bisa dikatakan masa terberat kami. Papaku menikahi mamanya Karina. Bukan pernikahan yang ideal, karena bisa dikatakan mereka sama-sama meninggalkan pasangan sebelumnya demi melegalkan hubungan terlarang yang sudah lama mereka jalani dibelakang pasangan masing-masing. Mamaku meninggal saat proses perceraian, begitu pun dengan papanya Karina." Kalvin menarik napas begitu berat. Dari hembusan napas tersebut, begitu kentara jika trauma masa kecil sepertinya masih membekas pada diri pria tersebut.
__ADS_1
"Apa yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan yang tidak dimulai dengan benar? Tidak akan ada kebahagiaan abadi bagi mereka yang sudah merampas kebahagiaan orang lain dengan sengaja. Begitulah yang dialami papaku dan mamanya Karina. Singkat cerita, papaku meninggal saat usiaku sepuluh tahunan. Tidak ada keluarga yang Aku punya, mau tidak mau, Aku hidup dirawat mamanya Karina." Lagi-lagi Kalvin menjeda ceritanya hanya sekedar untuk mengatur napasnya agar tidak terlalu membawa emosi kesedihan terlalu dalam.
"Sikap Karina sekarang, tidak terlepas dari kerasnya kehidupan yang dijalaninya di masa kecil. Mama Karina beberapa kali menikah lagi setelah papaku meninggal. Tidak semua anak bisa menerima kondisi orangtua tidak ideal dengan baik. Ditambah lagi, kami diperhatikan hanya jika kami berbuat kesalahan. Perhatian itu tentu saja dengan teriakan, kemarahan dan kerap kali disertai cambukan."
Kailani mencerna dengan baik sedikit kisah masa lalu dari Kalvin dan Karina. Kini dia mulai memahami arah pembicaraan Kalvin. Pria itu pasti sedang memberikan pemahaman kenapa sikap Karina bisa seperti sekarang. Seseorang yang sangat tertekan di masa lalu, lalu disaat dia sudah merasa berada di zona nyaman---tiba-tiba menyadari sebuah ancaman---kebanyakan akan bertindak agresif tanpa logika untuk mempertahankan kondisi yang dianggapnya sudah ideal.
"Karina saudaraku, Kai. Pasti Aku akan jadi orang terdepan yang melindunginya. Salah sekali pun, kadang Aku terpaksa menutup mata untuk mengikuti kemauannya. Tapi bukan berarti aku tidak berbuat apa-apa. Aku mencari jalan lain untuk meluruskannya kembali."
Kailani menganggukkan kepala saat Kalvin menatapnya dalam---seolah pria itu sedang meminta sebuah tanggapan dari lawan bicaranya.
Kailani tentu tidak langsung menjawab. Perempuan tersebut sengaja memberi jeda pada dirinya sendiri untuk berpikir sejenak. Menimbang baik buruknya jika dia menerima atau pun menolak permintaan Kalvin yang kedengarannya saja sederhana.
__ADS_1
"Rasanya tidak pantas jika Aku menolak sebuah ajakan pertemanan. Karena sejatinya kita hidup untuk memperbanyak teman, bukan malah menambah musuh. Layaknya sebuah hubungan yang baik, aku tidak mau ada keterpaksaan di sini. Kamu memintaku berteman dengan Karina, sama sekali aku tidak keberatan. Namun, jika dia yang menolak, tolong jangan dipaksakan. Berdamai dengan seseorang yang sudah terlanjur kita benci itu tidak mudah. Bukan hanya kebesaran hati yang dibutuhkan, tetapi juga bagaimana kesanggupan kita menurunkan gengsi."
Jawaban Kailani yang begitu panjang, lugas dan tegas, membuat Kalvin menarik napas lega. Sampai di sini, dia merasa tidak salah menilai Kailani. Perempuan itu jelas memiliki hati seluas samudera. Dengan luka yang sudah sukses digoreskan Karina, Kailani masih bersedia membuka hubungan pertemanan untuk perempuan tersebut.
Bukan tanpa alasan Kailani menerima permintaan Kalvin. Selain karena keyakinan tentang kebaikan Karina yang masih sama, Kailani juga mempunyai tujuan lain dari pertemanan ini. Masalah Karina akan menerima atau tidak, sudah diperhitungkan sendiri oleh Kailani.
Sementara itu, Kailandra yang baru saja tiba di rumah sakit untuk memastikan kondisi baby twins, dikejutkan dengan sikap sang mama yang melarang dirinya bertemu dengan baby twins melalui perawat jaga di depan ruangan. Perdebatan panjang pun terjadi antara perawat dan Kailandra. Jelas pria tersebut tidak Terima diperlakukan demikian. Tidak ada orang lain yang berhak atas baby twins selain dirinya. Dengan ancaman yang sangat beralasan, akhirnya sangat perawat menyerah juga. Dia tidak lagi bisa menghalangi Kailandra untuk masuk ke dalam ruang rawat khusus baby twins.
"Apa maksud mama melarang Kai bertemu dengan anak-anak Kai sendiri?" tanya Kailandra seperti biasa langsung pada pokok permasalahan.
"Kecilkan suaramu. Ini ruangan bayi. Ada dua anak yang harus dijaga telinganya agar tidak terbiasa mendengar suara-suara dari orang yang tidak pantas," ketus Kasih.
__ADS_1
"Ma, apa maksud mama? Tidak pantas kata mama? Mereka anak-anak Kai. Ucapan dan sikap Mama yang lebih tepat dikatakan tidak pantas," bantah Kailandra.
Kasih menarik tangan Kailandra dan mengajak putra satu-satunya itu berbicara di luar ruangan. "Kenapa kamu tidak jujur sama mama kalau Ibu dari baby twins adalah Kailani? Lupa kamu dengan apa yang sudah dilakukan perempuan itu? Apa kamu sudah mulai terlena dengan rayuan dia?" cecarnya.