
"Keseluruhan data yang tertuang di sana saya pastikan benar adanya, Pak. Tidak ada yang saya lebihkan atau saya kurangi." Khalid memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya. "Dengan ini, sudah tidak ada lagi kebohongan yang saya tutup-tutupi. Untuk itu, saya mohon tidak ada tuntutan apa pun yang Bapak berikan. Saya juga meminta dengan kerendahan hati saya, agar Bapak bisa mengendalikan amarah istri Bapak. Mengetahui saya memberikan data ini pada Bapak, tentu Bu Karina tidak akan tinggal diam" tambah pria tersebut, sedikit ragu-ragu.
Kailandra melemparkan tatapan sinis pada Khalid. Dengan kemarahan yang tertahan, pria itu berkata, "Sikap Karina terhadapmu, sama sekali bukan tanggung jawabku." Pria tersebut segera berlalu meninggakan ruangan Dokter Khalid yang tampak sangat ketakutan.
Langkah kaki Kailandra terayun pelan---tidak selebar dan semantap biasanya. Bagaikan tersambar petir di tengah cuaca yang teramat cerah, kenyataan yang baru saja didapatinya sungguh diluar dugaan. Gugur sudah satu prasangka buruknya pada Kailani. Uang memang bukanlah alasan perempuan tersebut bekerjasama dengan Karina.
Kailandra kini sudah berada di dalam ruang perawatan baby twins. Hati, pikiran dan raut wajahnya kompak menunjukkan perasaan yang carut marut. Entah dia harus bahagia ataukah semakin merutuki jalan hidupnya. Setelah membangun impian keluarga bahagia bersama Kailani terhempas beberapa tahun yang lalu---tanpa direncanakan dan diduga sebelumnya, di depan matanya saat ini hadirlah baby twins yang ternyata adalah anak biologis dari dirinya dan juga Kailani.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus menemui Kailani? Atau aku bersikap pura-pura tidak tahu saja? Bisa besar kepala kalau aku menemuinya secepat ini. Mungkin dia sedang ingin menebus kesalahannya padaku." Kailandra mencoba meredam riuh perasaannya sendiri. Lagi dan lagi, ia mengedepankan ego dan gengsi di atas hati nuraninya.
"Tidak, bagaimanapun pasti Kai juga tidak mengharapkan berada pada kondisi seperti ini. Pengorbanan Kai untuk melahirkan baby twins tidak main-main. Aku harus bicara padanya." Sisi baik Kailandra juga mulai menentang pikiran negatifnya sendiri.
Disaat bersamaan, asisten kepercayaan Kailandra menghubungi pria tersebut melalui sambungan telepon. Sang asisten memberikan laporan secara terperinci atas informasi yang selama ini sedang dicari oleh Kailandra. Begitu lama, bahkan lebih dari tiga puluh menit mereka berbicara. Sampai-sampai suara tangis baby twins pun tidak kunjung menyudahi pembicaraan Kailandra dengan asistennya.
Perawat menghampiri box di mana baby twins berada. Baby girl sudah kembali tenang. Tidak demikian dengan baby boy yang terus mengeluarkan suara tangisan melengking memekakkan telinga. Berbagai usaha sudah dilakukan perawat untuk meredam tangisan itu, tetapi tak kunjung berhasil membuat si baby boy tenang. Rupanya, bayi tampan itu ikut merasakan ribuan cambuk sesal yang sedang menghantam ayahandanya.
__ADS_1
"Hukuman macam apa ini, Tuhan? Kenapa kebenaran datang begitu terlambat?" Kailandra mengembalikan telepon selular nya ke kantong samping celananya. Pria tersebut lalu meraup wajahnya dengan kasar.
Suara lengkingan baby boy benar-benar tidak mampu mengusik kekacauan pikiran Kailandra. Pria tersebut meluruhkan badannya hingga bokongnya merasakan dinginnya lantai keramik rumah sakit. Satu tangannya memukul-mukul kepalanya sendiri bertubi-tubi. Merutuki kebodohan demi kebodohan yang begitu terlambat disadari.
"Pak, maaf, lebih baik Bapak menunggu di luar ruangan. Kami akan memeriksa kondisi dede ganteng dulu. Sedari tadi menangis tidak berhenti. Sepertinya ada yang dikeluhkan." Perawat dengan suara tegas namun tetap menjaga kesopanannya memberanikan diri menegur Kailandra. Tanpa bertanya lebih lanjut, pria tersebut langsung meninggalkan ruangan sesuai permintaan perawat.
Tidak menunggu di luar ruang perawatan, Kailandra malah terus berjalan ke arah luar bangunan rumah sakit. Pria tersebut menghampiri taksi offline yang berjejer di sisi samping kanan gerbang rumah sakit. Setelah memasuki taksi yang berada di deretan paling depan, Kailandra menyebutkan sebuah alamat pada driver taksi yang ditumpanginya itu dengan jelas.
Disepanjang perjalanan, tidak ada hal lain yang dilakukan Kailandra selain menundukkan wajahnya dalam-dalam sembari mengusap bulir bening yang membasahi matanya tanpa permisi. Setelah sekian lama dia mengira air mata kesedihannya sudah habis ketika menyaksikan Kailani menikah dengan Kenzo, ternyata kini air mata itu masih melimpah dan keluar karena orang yang sama---tetapi dengan alasan yang berbeda.
"Sudah sampai, Pak." Suara driver menyadarkan Kailandra bahwa dirinya kini sudah berada di depan sebuah bangunan rumah yang menyimpan beribu kenangan untuknya.
Belum sampai Kailandra mengetuk daun pintu di depannya, benda tersebut sudah terbuka lebar diikuti kemunculan sosok yang sangat familiar di mata Kailandra.
"Kai," sapa sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Kenzo. Pria tersebut baru saja berniat pulang setelah mengantar Keiko kembali bersama Kailani.
__ADS_1
Tidak menjawab sapaan Kenzo, tatapan Kailandra malah jatuh pada sosok Keiko yang bergelayut manja pada tangan Kailani. Pria tersebut seakan sedang merangkai puzzle cerita yang diterimanya dari Kenzo dan juga Kalifa. Mencoba mencari kesinambungan kisah antara dirinya, perceraian Kailani dan Kenzo, serta sosok gadis cantik menggemaskan di hadapannya saat ini.
"Kei, masuk ke kamar. Siapkan buku pelajaran buat besok. Biar nanti Bunda tinggal cek kalau ada yang kurang." Menyadari apa yang dilakukan Kailandra, Kenzo segera mengambil inisiatif agar Keiko tidak dilibatkan pada apa pun yang akan terjadi nantinya.
Seperti biasa, tanpa bantahan, Keiko langsung masuk ke dalam kamarnya. Tinggallah Kailandra, Kailani dan juga Kenzo yang masing-masing masih berdiri di ambang pintu.
"Ada perlu apa kamu datang kemari, Kai?" selidik Kenzo.
"Aku ingin bicara dengan Kailani. Berdua saja," jawab Kailandra. Tatapannya nanar dengan nada yang begitu rendah. Jauh dari kesan angkuh yang selama ini dia tunjukkan.
Kenzo semakin menatap curiga pada sosok yang berdiri selangkah di depannya tersebut. Bola mata memerah dan sedikit sembab, menggambarkan dengan jelas bahwa sang empunya baru saja menumpahkan air mata. Bisa dipastikan, apa yang akan dibicarakan Kailandra dengan mantan istrinya---bukanlah hal yang biasa.
"Pulanglah, Ken. Terimakasih sudah mengantar Keiko." Kailani menganggukkan kepala dengan sedikit melemparkan senyuman manis pada mantan suaminya itu. Seolah mengerti apa yang menjadi kekhawatiran Kenzo saat ini.
"Ya sudah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku," pamit Kenzo dengan lirikan begitu sinis dan mengintimidasi pada Kailandra.
__ADS_1
Selepas kepergian Kenzo. Tinggallah Kailani dan Kailandra berdua. Sejenak tidak ada yang memulai pembicaraan. Berbeda dengan Kailandra yang tampak gugup, gelisah dan resah. Kailani 180 derajat tampak sangat tenang tanpa beban.
"Hinaan apa yang membuat Abang nekat menginjakkan kaki di rumah ini lagi?" sinis Kailani.