
"Kok bisa mimisan lagi, Nak? Kei, pusing? Badannya gak enak ya?" Kailani segera menghampiri Keiko. "Nunduk, sayang, jangan tengadah," tambah Kailani seraya mengambil alih tisu yang tadinya dipegang sendiri oleh Keiko.
"Kita bawa kedokter saja, Kai. Kayaknya sudah terlalu sering Keiko mimisan." Kenzo membelai lembut rambut Keiko. Berusaha setenang mungkin agar tidak membuat putrinya panik atau takut.
"Iya, Ken. Kei ganti baju, yuk! Kita ke dokter, minta obat biar gak dikit-dikit mimisan," ajak Kailani.
"Tapi Kei nggak pusing, Bunda. Kei nggak sakit. Tadi Kei cuman pencet-pencet hidung. Niruin di Tik Tok yang lobang hidungnya bisa ilang beberapa detik itu, terus tiba-tiba mimisan," jelas Keiko dengan sangat tenang.
"Papa nggak peduli. Pokoknya kita ke dokter. Biar pun nggak dipencet, Kei memang sering mimisan akhir-akhir ini. Sudah, Kei ganti baju sana," tegas Kenzo.
Kailani membuang tisu yang sudah penuh dengan darah. Dilihatnya dengan teliti hidung Keiko yang sudah tidak mengeluarkan darah. Lalu perempuan tersebut merangkul putri pertamanya itu ke dalam kamar untuk berganti baju.
Tidak membutuhkan waktu lama, mantan sepasang suami istri tersebut pun berangkat menuju rumah sakit bersama Keiko. Seperti biasa, Kailani duduk di bangku tengah, sedangkan Keiko berada di jok depan di samping jok pengemudi.
"Kai, Bi Kamti biar bantu-bantu di rumahmu, ya? Biar kamu nggak terlalu capek. Aku lihat kamu kok rasanya nggak ada istirahatnya. Sayangi dirimu sendiri, Kai." Sekilas Kenzo melirik Kailani dari spion tengah mobilnya.
"Enggak usah, Ken. Beberapa bulan ini, Aku nggak mau nambah pengeluaran dulu," tolak Kailani.
__ADS_1
"Astagah, Kai. Kalau Aku yang ngomong, ya Aku yang tanggung jawab," sahut Kenzo.
"Jangan, Ken. Aku nggak terlalu butuh asisten di rumah. Keiko sudah mandiri. Dia bisa melakukan hampir semua hal sendiri."
Kenzo melirik Keiko yang sudah tertidur pulas. Rasa bersalahnya selalu timbul luar biasa saat melihat wajah polos tanpa dosa gadis cantik nan menggemaskan itu. Sampai saat ini, andai seluruh hartanya mampu mengembalikan waktu, ingin sekali dia menukar sengsara dan derita yang pernah diberikannya pada Kailani dan Keiko dengan keutuhan sebuah keluarga.
"Kai, setelah fisikmu pulih, sebaiknya kamu kerja di kantorku saja. Kamu bisa jadi asisten atau apa pun posisi yang kamu mau," tawar Kenzo.
Kailani menggeleng tanpa ragu. " Tidak, Ken. Antara kita pernah terjadi hubungan suami istri. Sebaik apa pun hubungan kita saat ini, semua tentu karena Keiko. Tapi jangan lupa, kita harus tetap menjaga perasaan Keira. Tanggung jawabmu hanya sebatas pada Keiko. Kita masih manusia, tidak bisa mendahului perasaan kita. Yang bisa kita lakukan hanya membatasi diri pada kemungkinan terburuk. Jangan sampai, yang awalnya sekedar perhatian, lama-lama bisa menjadi perasaan yang terlarang."
Kenzo menarik napas panjang. Kailani tidak pernah tahu, perasaan terlarang itu sebenarnya sudah ada, bahkan sejak dulu perasaan itu tidak pernah berubah. Sejak tes DNA yang dilakukannya demi meyakinkan diri bahwa Keiko adalah buah hatinya, saat itu rasa cinta Kenzo semakin mengikat. Sikap Kailani yang begitu bersahaja menerima kehadiran Keira yang sejatinya pantas dimaki karena hadir sebagai orang ketiga disaat usia pernikahan yang bahkan masih menghitung hari, membuat Kenzo tersadar. Siapa dia yang menuntut kesetiaan dan kesempurnaan, sementara dia sendiri malah menghabiskan satu malam sebelum malam pertamanya justru bersama Keira. Perempuan yang memang sudah berkali-kali bertukar peluh dan bersahytan lenguh dengannya. Itulah mengapa, usia Kenzi dan Keiko tidak jauh berbeda.
Di sisi lain, Kailandra baru menyandarkan punggungnya di sandaran sofa ruang keluarga. Setelah keluar dari rumah sakit, baru sekarang dia meninggalkan baby twins yang sangat tenang bersama babysitter masing-masing. Bahkan Kasih sampai kesal karena kehadiran Kinanti yang diharapkan bisa menarik perhatian Kailandra, tidak diindahkan sama sekali.
"Kai, mama mau ada acara sebentar sama teman mama. Tolong kamu temani Kinanti, ya. Hari ini dia nginep sini." Kasih sepertinya masih pantang menyerah mencari celah agar Kailandra bisa sedikit membuka diri pada perempuan pilihannya.
"Kenapa harus ditemani? Orang menunggu sendirian sekarang ini sudah biasa. Ada ponsel yang bisa dijadikan teman," tolak Kailandra dengan ketus.
__ADS_1
Kasih tidak menjawab, perempuan itu berdiri dengan cepat. Lupa jika ada amplop pemberian Karina yang sengaja tidak diberikannya pada Kailandra. Amplop tersebut akhirnya terjatuh dan tertangkap mata Kailandra.
"Apa itu, Ma?" tanya Kailandra dengan tatapan yang lekat pada benda yang terjatuh di lantai tersebut. Dengan jelas dia bisa melihat namanya di sana.
"Bukan apa-apa." Kasih hendak mengambil amplop yang jatuh tersebut. Namun, dengan sigap Kailandra memungutnya terlebih dahulu.
Tanpa membuang waktu, pria tersebut membuka amplop tersebut. Dibacanya kata demi kata yang tertulis di sana dengan seksama. Pria tersebut membaca hingga dua kali. Bukannya kesal atau panik seperti yang diharapkan oleh Karina, Kailandra malah menarik garis senyum layaknya orang yang sedang meremehkan sesuatu.
"Berani sekali kamu main-main denganku, Kar. Kita lihat siapa yang berkuasa di sini." kailandra langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Kasih mengirimkan isyarat pada Kinanti agar tetap bertahan di sana. Sementara dia sendiri ingin pergi ke suatu tempat. Pantang bagi Kasih menunda urusan. Semakin cepat, akan semakin baik. Tidak peduli pendapat orang lain, yang terpenting apa yang menjadi keyakinannya.
Malang bagi Kinanti, mengetahui sengaja ditinggalkan berdua saja dengan perempuan yang asing baginya, Kailandra memilih langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Tidak ada senyum basa basi yang dilemparkannya untuk Kinanti. Kasih mungkin lupa, Kailandra tidak pernah tertarik dengan perempuan yang terlalu bersikap agresif padanya.
Sementara itu, pemeriksaan dokter pada Keiko telah usia. Sampel darah, ingus, dan juga liur diambil lengkap untuk mengetahui secara jelas apa yang menyebabkan Keiko begitu sering mimisan tanpa sebab. Mereka akan mendapatkan hasil pemeriksaan itu dalam kurun waktu dua hari lagi.
Kailani, Kenzo dan Keiko langsung kembali ke rumah. Seperti biasa, mereka hanya mampir sebentar ke kedai kue untuk membelikan camilan untuk Keiko yang tidak kuat menahan lapar.
__ADS_1
Memasuki halaman rumah Kailani, ketiganya dibuat heran dengan keberadaan mobil sedan civic hitam yang sepertinya juga baru memasuki halaman rumah Kailani. Saat Kailani membukakan pintu untuk Keiko, bersamaan pintu belakang mobil tadi juga terbuka. Menampilkan sosok yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya oleh Kailani. Apalagi pada situasi seperti sekarang.
"Ken, ajak Keiko ke kamarnya," pinta Kailani pada Kenzo.