
Saat kendaraan Kailandra memasukin halaman rumah Kailani, disaat bersamaan mobil Kalvin yang menjemput Keiko dari sekolah juga berniat memasuki area tersebut. Kailandra memilih mengalah. Membiarkan mobil Kalvin masuk terlebih dahulu ke sana.
Mengetahui siapa yang keluar dari mobil di depannya, Kailandra tidak gentar. Meski dalam hati dia mulai menduga-duga, di antara Kailani dan Kalvin pastilah memang ada hubungan khusus. Jika tidak, tentu Keiko tidak akan sedekat itu dengan pria yang masih dianggapnya pengkhianat.
"Kei masuk dulu, Om mau menyapa Om itu sebentar," pinta Kalvin dengan lembut.
Keiko menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arah Kailandra. Membuat pria yang juga sedang melihat ke arah gadis gembul menggemaskan itu semakin jatuh cinta pada sosok yang masih meninggalkan rasa penasaran dibenaknya.
Mengabaikan Kalvin yang menghampirinya, Kailandra yang teringat akan tujuannya datang ke rumah Kailani, segera melangkah lebar mendekati pintu utama rumah. Terlintas dibenaknya wajah pucat dan tangisan lemah baby boy yang kehausan.
"Tunggu Kai!" Kalvin berteriak kesal karena Kailandra melewatinya begitu saja.
Mengacuhkan ucapan Kalvin, Kailandra kini sudah berada di depan pintu bersama Keiko. Tangan gadis cilik itu tampak bergerak menekan gagang pintu. Dalam sekejap, benda persegi panjang itu pun terbuka.
"Assalammualaikum, Bunda. Kei datang!" Keiko berkata dengan lantang dan riang sambil memasuki rumah. Sedangkan Kailandra yang sama sekali belum disapa Keiko, masih berdiri menunggu di ambang pintu.
"Bunda, Kei datang!" teriak Keiko sekali lagi.
Tidak ada sahutan sama sekali, Keiko langsung masuk ke dalam kamar sang bunda. Mengira perempuan yang sudah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkannya itu berada di dalam sana.
"Tidak ada, bunda kemana, ya?" gumam Keiko seraya meninggalkan kamar sang bunda. Kemudian dia terus melangkahkan kaki ke ruangan lain. Ditelusurinya semua bagian rumah, tetapi tidak juga didapatinya sosok Kailani.
Sementara itu, Kalvin yang ingin masuk ke dalam rumah untuk berpamitan. Ganti mengabaikan Kailandra yang tentu saja tidak berani langsung masuk ke rumah tersebut.
"Katakan pada Kailani, ada hal penting yang ingin Aku sampaikan. Ini masalah anak-anak," ucap Kailandra.
__ADS_1
Kalvin menghentikan ayunan kakinya. Pria tersebut berbalik badan sembari melemparkan senyuman sinis pada Kailandra dan berkata, "Anak pun kau jadikan alat untuk mendekati Kailani. Nikmati hasil dari kebodohanmu, Kai! Menjilat ludah sendiri itu sangat tidak enak."
Kailandra jelas ingin membalas ucapan Kalvin. Namun, kemunculan Keiko dengan wajah masam dan bibir manyun, mengurungkan niatnya untuk beradu argumen dengan Kalvin.
"Bunda tidak ada, Om." Mata Keiko tampak sudah berkaca-kaca.
"Keiko taruh tas, lepas sepatu, cuci tangan dan kaki lalu ganti baju dulu. Biar Om telepon Bunda." Kalvin seketika mengambil benda pipih bertekhnologi tinggi di saku celananya. Pria tersebut langsung menghubungi Kailani sambil mengedarkan pandang ke seisi ruangan.
Kailandra masih bergeming di ambang pintu. Matanya tertuju pada sofa di ruang tengah yang terlihat sisi belakangnya dari tempat di mana dia berdiri sekarang. Meski waktu sudah berjalan delapan tahun, ternyata tidak ada perubahan sedikit pun di dalam rumah Kailani. Semua masih sama dan jelas hal itu membangkitkan kenangan masa lalu bagi Kailandra.
Pria tersebut buru-buru mengalihkan perhatiannya ke sisi lain. Kailandra tidak ingin masuk lebih jauh pada peristiwa tidak terlupakan di atas sofa yang dipandanginya tadi. Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk mengingat bagaimana peristiwa yang mengikatnya begitu erat pada sebuah kenikmatan yang tidak tergantikan.
Sementara itu, Kalvin berjalan agak menjauhi Kailandra begitu Kailani menerima panggilan teleponnya. Tidak lama, pembicaraan keduanya pun usai. Lagi-lagi, tanpa memedulikan Kailandra, Kalvin semakin masuk ke area dalam rumah mendekati pintu kamar Keiko.
"Kei ...." Kalvin mengetuk daun pintu di depannya.
"Kita jemput bunda, yuk! Sekalian makan siang di luar," ajak Kalvin.
"Memang bunda di mana?" tanya Keiko.
"Bunda lagi jenguk temennya di rumah sakit."
"Oh, ayo om. Keiko sudah lapar."
Kalvin mengacak lembut rambut Keiko. Lalu dia menggandeng tangan gadis cilik itu. Beruntungnya Kalvin, hari ini dia diijinkan mengantar jemput Keiko. Kesempatan untuk mengenal Kailani lebih jauh---sedikit terbuka untuknya.
__ADS_1
"Om kok masih di sini?" Keiko menghentikan langkahnya. Menyapa Kailandra yang menyandarkan punggungnya di tembok sisi kanan pintu.
"Om mau ketemu sama bundanya Keiko," jawab Kailandra.
"Bunda lagi di rumah sakit. Kalau Om mau ketemu bunda, nanti saja. Ini Kei masih mau jemput bunda sama Om Kalvin." jelas Keiko begitu polosnya.
Kailandra menelan ludahnya dengan susah payah. Dua jam lebih perjalanan dilaluinya. Dan tidak ada hasil yang dia dapatkan. Rumah sakit? Ya, kini dia hanya berharap, Kailani sedang berada di rumah sakit untuk menemui baby twins.
Kalvin menutup rapat pintu rumah Kailani tanpa menguncinya dari luar. Lalu pria tersebut segera mengajak Keiko untuk berangkat menjemput Kailani.
Tidak ingin membuang waktu, Kailandra bergegas kembali ke rumah sakit. Selain untuk memastikan keberadaan Kailani, dia juga segera ingin melihat keadaan Kasih secara langsung. Dari informasi yang didapatnya beberapa waktu yang lalu, perempuan itu masih saja tidak mau berbicara dan memberikan respon apa pun pada orang disekitarnya.
Sesampainya di rumah sakit, Lagi-lagi Kailandra dibuat berpikir keras. Langkah kakinya masih gamang ingin menuju kemana. Akhirnya, setelah sejenak berpikir, Kailandra memutuskan untuk memastikan kondisi baby boy terlebih dahulu. Belum sampai tiba di sana, dia melihat Kailani didorong kursi roda oleh perawat.
"Kai, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Kailandra dengan cemas sembari menghentikan laju kursi roda dengan menahan roda kiri kursi tersebut menggunakan kaki kanannya.
"Tolong jalan terus, Sus," pinta Kailani pada si perawat. Mengabaikan Kailandra yang masih menunggu jawabannya.
"Kai, apa kamu sudah melihat anak kita? Lebih baik kamu melakukan pemulihan di rumah sakit saja. Kamu bisa lebih dekat dengan baby twins. Aku yang akan menanggung semua biayanya," ucap Kailandra.
Kailani tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab ucapan Kailandra. Perempuan tersebut hanya menepuk punggung tangan perawat sebagai isyarat agar terus mendorongnya. Tatapannya dingin ke arah depan. Tidak berniat sedetik saja melihat ke arah Kailandra.
Kailandra bukannya tidak ingin berusaha lebih. Untuk saat ini, begitu banyak hal yang sudah menanti untuk diselesaikannya. Pria itu memilih segera ke ruangan baby twins. Setelah memastikan baby boy sudah baik-baik saja, Kailandra segera menuju ruangan di mana Kasih berada.
Saat Kailandra memasuki ruangan tersebut, Kasih langsung menoleh ke arah pintu. Selang kecil masih terpasang di hidung perempuan itu. Tatapannya satu cenderung kosong seperti orang yang sedang melamun.
__ADS_1
"Mama ingin ketemu Kailani. Bawa dia kemari, Kai," lirih Kasih.