Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Kailani terdiam


__ADS_3

"Sorry, aku harus ke rumah sakit. Karina over dosis," pamit Kalvin begitu buru-buru. Pria tersebut berlalu meninggalkan rumah Kailani tanpa menunggu reaksi dari yang lain.


Kailani menatap punggung Kalvin yang semakin menjauhinya. Terbesit rasa kagum pada sosok tersebut. Meski hanya saudara tiri, tanggung jawab Kalvin sebagai saudara laki-laki yang dimiliki Karina, patut diacungi jempol. Seterpuruk apa pun kondisi Karina, setidaknya ada Kalvin yang tidak pernah meninggalkan begitu saja.


"Aku saja yang menemani Keiko, kalian lanjutkan pembicaraan ini tanpa aku," putus Kenzo. Dalam hati dia berharap agar Kailandra menunda pembicaraan yang sebenarnya cukup membuatnya khawatir.


Diluar dugaan Kenzo, Kailandra dan Kailani mengangguk setuju. Bukan tanpa alasan, Kailani memang sudah sangat penasaran dengan kelanjutan dari ucapan Kailandra tadi.


Selepas Kenzo meninggalkan Kailandra dan Kailani berdua saja, keduanya sekilas tampak bertukar pandang. Kemudian tanpa membuang waktu Kailandra mengambil dompet yang ada di saku belakangnya. Dia membuka benda tersebut dan mengeluarkan selembar foto berukuran kecil dari sana. Sebuah foto yang kemarin sengaja dia cetak.


"Lihat ini!" Kailandra memberikan foto tersebut pada Kailani.


Dengan gerakan pelan dan sedikit ragu, Kailani menerima benda itu. Lalu dia memfokuskan pandangan matanya pada dua sosok yang berada di dalam foto tersebut. Dalam satu bingkai yang sama, tetapi cukup jelas bahwa waktu pengambilan foto tersebut berbeda.


Kailani semakin memfokuskan indera penglihatannya. Seakan sedang mencari-cari perbedaan antara sosok yang satu dengan sosok yang lain. Perempuan tersebut perlahan menggelengkan kepalanya. Mati-matian berusaha menepis kesimpulan yang mendadak terlintas pada benaknya. Namun, bukannya pikiran itu menepi---malah semakin kuat menghantui.


"Perempuan macam apa aku ini? Siapa ayah anakku saja tidak jelas seperti ini? Ya Allah inikah hukuman untukku karena berani melakukan laranganmu? Inikah jalan yang harus aku lalui untuk mengetahui kebenaran ini? Begitu kotornya diriku ya Allah," lirih Kailani dalam hati. Matanya terpejam dengan tangan yang sudah terkulai lemas tidak sanggup lagi menggenggam foto tadi.

__ADS_1


Kailandra beranjak berdiri, menghampiri Kailani dan berjongkok untuk mengambil foto yang terjatuh di samping kaki Kailani. Pria tersebut bertahan dengan posisinya tersebut, menatap teduh ke arah Kailani yang masih memejamkan matanya.


"Kai, jangan menyalahkan dirimu. Sudah terlalu jauh kalau kita kembali ke belakang hanya sekedar untuk merutuki kebodohan. Kita sama-sama pernah bersikap kekanak-kanakan dan terlalu mengedepankan emosi saat berhadapan dengan hal yang tidak kita sukai. Apa yang kita dapat selain kebencian dan penyesalan? Tidak ada, bukan?"


Kailani tetap bergeming. Kepalanya semakin menunduk. Dia bingung harus berbicara atau pun bersikap bagaimana untuk saat ini. Kebenaran ini terlalu menyakitkan bagi seorang Kailani. Merasa rendah diri dan begitu murahan, masih mendominasi pikirannya.


"Sikap Kenzo dulu tidak salah. Aku yang bodoh karena menganggap Keiko adalah anaknya. Padahal jelas-jelas Aku juga sudah tidur bersama Bang Kai. Aku yang salah." Kailani kembali berucap pada dirinya sendiri dalam hati.


Kailandra memberanikan diri menyentuh dagu Kailani. Mengangkat sedikit bagian wajah perempuan tersebut hingga posisi wajah Kailani kembali tegak. "Buka matamu, Kai. Tatap kenyataan. Jangan menoleh ke belakang. Kita bertiga sama-sama korban perasaan dan keadaan. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita memberikan yang terbaik pada anak-anak."


Kailani perlahan membuka kedua bola matanya. Tatapan teduh Kailandra seketika tertangkap jelas olehnya. Lidah Kailani benar-benar terasa kelu. Sulit baginya sekarang untuk berucap. Bahkan walau sekadar satu kata saja. Entah bagaimana dia harus berhadapan langsung pada Kenzo dan juga Keiko.


"Aku ingin bicara dengan Kenzo," lirih Kailani.


Kailandra menatap tegas pada Kailani. Merasa tidak paham dengan pemikiran perempuan yang tanpa dia duga sudah memberikannya tiga anak tersebut. Kenapa malah Kenzo yang ingin diajak Kailani bicara? Bukankah Kailandra sebenarnya juga menjadi pihak yang dirugikan? Tidak hanya ditinggalkan tanpa kata, tetapi Kailani juga membuat dirinya seakan menjadi pengecut dan pria yang tidak bertanggung jawab karena membiarkan Kailani berjuang sendiri saat hamil sampai melahirkan Keiko.


"Kai, kamu tidak perlu meminta maaf padanya. Seperti yang sudah aku katakan. Kita berada pada situasi ini bukan atas kesengajaan," tekan Kailandra.

__ADS_1


"Aku tau. Sudahlah, aku pengen sendiri dulu." Kailani beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan Kailandra yang memilih untuk tidak menghalangi keputusan perempuan tersebut.


Sampai Keiko tertidur, Kailani tidak kunjung keluar dari kamarnya. Kenzo dan Kailandra yang kini sudah duduk berdua di ruang tamu masih menanti dengan sabar. Satu jam berlalu, tidak ada tanda-tanda Kailani membuka pintu kamarnya.


"Kamu tadi bagaimana bicaranya? Kenapa Kailani jadi mengurung diri di kamar begitu?" selidik Kenzo.


"Aku tidak banyak bicara, Ken. Aku hanya menunjukkan sebuah foto. Kailani jelas langsung bisa menangkap maksudku."


"Hati Kailani pasti hancur. Sebagai seorang ibu dan perempuan, jelas dia merasa gagal. Padahal Kailani sosok yang sangat hebat. Siapa manusia yang tidak pernah berbuat salah? Hanya saja jalan dosa masing-masing dari kita berbeda," gumam Kenzo.


"Seperti kamu yang ingin memulai jalan dosa dengan memperistri dua perempuan," sindir Kailandra.


"Perasaanku dan Kailani berbeda, Kai. Kami menikah karena paksaanku. Dan Aku melepaskannya karena kebodohanku, Keira dan Kailani dua orang yang sangat berbeda. Kailani adalah perempuan impianku, dan Keira sama sekali tidak membuatku tertantang."


Kailandra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis. "Jangan rendahkan Kailani dengan Coba-Coba menjadikannya perempuan kedua. Andai kata dia tidak menerimaku lagi, lebih baik aku melihatnya bersanding dengan orang lain ketimbang denganmu. Fokus saja pada keluargamu, Ken. Bersyukurlah kehidupanmu sudah lengkap, setidaknya perempuan yang menjadi istrimu adalah perempuan baik-baik yang tulus menerima kamu apa adanya."


Kenzo tidak berniat menimpali ucapan Kailandra. Pria itu berdiri lalu menghubungi seseorang melalui telepon selularnya. Tidak lama kemudian, Kenzo memutuskan untuk pulang. Hal yang sama dilakukan oleh Kailandra. Memberikan waktu untuk Kailani merenungkan keadaan memang pilihan yang terbaik.

__ADS_1


Di sisi lain, Kalvin masih terlihat berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan UGD yang dijaga ketat oleh petugas kepolisian. Sudah hampir satu jam berlalu, belum ada kabar baik yang didengarnya akan kondisi Karina. Patah hati yang tidak terkendali, benar-benar membuat Karina depresi dan kehilangan kendali diri.


"Apa ada keluarga yang bernama Kailandra?" Suara tanya dari salah satu petugas medis membuat Kalvin menyudahi langkah kakinya yang dari tadi terus bergerak.


__ADS_2