
Begitu Keiko masuk ke dalam kamar yang akan ditempatinya selama di puncak, Kailani langsung menahan langkah Kailandra yang rupanya ingin menghindar dari cecaran pertanyaan Ibu dari anak-anaknya itu.
"Abang mau mengajari Keiko apa? Abang mau nyuruh Keiko apa? Jangan ajak Keiko melakukan hal yang aneh-aneh. Dan bahas hal-hal yang belum saatnya dibahas bersama Keiko. Dia masih anak-anak." Kailani melemparkan tatapan menyelidik pada Kailandra.
"Tidak ada, Kai," kilah Kailandra.
"Jangan bohong, Bang. Aku paham betul bagaimana Abang," tegas Kailani.
"Benarkah? Kamu masih memahami Aku dengan baik?" Kailandra memajukan langkahnya dengan pelan mendekati Kailani sambil menaik turunkan kedua alisnya dengan nakal.
"Maksud aku bukan itu, Bang. Maksudku, abang tetep licik seperti dulu." Kailani menahan langkah Kailandra dengan memposisikan kedua tangannya lurus ke depan.
"Dan sama-sama tidak kita sadari, kelicikanku menghasilkan Keiko ya, Kai." Kailandra masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyuman menggoda.
"Berhenti bersikap aneh seperti ini, Bang. Tolong jangan dibahas terus masalah itu. Saya di sini hanya mau mengingatkan agar Abang bisa lebih bijak saat berbicara dengan Keiko. Meski masih anak-anak, seusia dia sedang sangat kritis-kritisnya dalam bertanya," tegas Kailani. Lalu berbalik badan dan masuk ke kamar di mana Keiko berada.
Kailandra menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sungguh sulit membangun suasana hangat kembali bersama Kailani. Tetapi dia tidak akan menyerah. "Malam ini, semua orang akan mengetahui kamu adalah ratuku, Kai. Kita lihat nanti," batinnya.
Di dalam kamar, Keiko yang baru saja mengganti bajunya dengan baju santai, hendak keluar dari kamar lagi. Namun Kailani menahan langkah putri sulungnya tersebut.
"Kai jujur sama bunda, Om Kailandra ngomong apa tadi?" tanya Kailani. Masih penasaran.
"Oppa, bunda ... Oppa." Keiko mengingatkan Kailani akan panggilan kesayangannya pada Kailandra.
"Iya-iya, Oppa. Tadi Oppa ngomong apa sama Kei?" ralat Kailani.
__ADS_1
Keiko menatap bundanya lekat-lekat. Memastikan tidak akan ada ancaman kemarahan pada sorot mata perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Setelah merasa sang bunda baik-baik saja, dia pun memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.
"Nanti malam, maunya Oppa, bunda ikut juga ke undangan. Katanya kalau sama Keiko saja aneh. Kan biasanya ada mama papa sama anaknya," tutur Keiko, jujur tanpa beban.
"Itu Om Kailandra yang ngomong?" Kailani memastikan kebenaran akan apa yang diucapkan Keiko.
"Oppa, Bunda," Keiko masih sempat-sempatnya mempermasalahkan nama panggilan Kailandra.
"Iya, Kei. Oppa maksud bunda." Kailani menahan kegemasannya.
"Apa bunda marah? Kenapa harus marah? Oppa salah, ya bund?"
"Enggak salah, sudah sana mainan sama dedek kembar dulu." Kailani mengajak Keiko keluar kamar.
Setelah melihat Keiko sudah asik dengan baby twins dan juga Kekeyi serta katami. Kailani bergegas menuju ke kamar Kailandra yang terletak di lantai dua. Perempuan tersebut sudah tidak sabar ingin mendebat habis pria yang sudah berani-beraninya mengajak Keiko bersekutu.
Hampir tiga menit tidak ada gerakan dari kamar, Kailani nekat menekan gagang pintu di depannya itu. Tidak disangka, sosok yang ingin ditemuinya pun melakukan hal yang sama dari dalam. Tanpa berpikir panjang, begitu daun pintu sudah terbuka separuhnya, Kailani langsung beringsut masuk.
"Auwwww!" teriak Kailani reflek sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Santai saja, Kai. Salah sendiri gak sabaran amat. Tunggu aku ganti sebentar." Kailandra hendak menutup pintu kamarnya. Pria tersebut sama sekali tidak memusingkan tubuhmya yang sedang bertelanjang dada dengan balutan handuk putih menutup bagian pinggulnya ke bawah.
"Aku tunggu di luar saja." Kailani berusaha keluar tanpa membuka matanya, membuat perempuan itu tidak melihat kalau pintu sudah kembali ditutup oleh Kailandra. Perempuan itu tidak bisa menahan umpatannya. Dan Kailandra pun hanya terkekeh kecil.
"Sabar, Kai. Aku pakai celana sebentar. Jangan berbalik ke belakang, atau kamu malah akan melihat sesuatu yang mengingatkanmu pada tragedi sofa di tengah kegelapan."
__ADS_1
Kailani menghentakkan kakinya karena kesal. Persis sekali dengan gaya Keiko ketika sedang kesal karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Kailani merutuki sikap gegabahnya kali ini. Emosi yang tidak terkendali membawanya terjebak berada di dalam kamar berdua saja bersama Kailandra.
"Sudah belum? Lelet banget. Aku ke sini mau meluruskan sesuatu," dengus Kailani.
"Jangan, Kai. Kita halalkan dulu hubungan kita. Baru kamu boleh meluruskan ini." Kailandra yang sudah mengenakan celana santai selutut dan kaos oblong membalikkan tubuh Kailani hingga membuat keduanya saling berhadapan.
"Buka matamu, Kai. Ayah dari anak-anakmu yang tampan sudah di depan mata," bisik Kailandra tepat di samping telinga Kailani.
"Berhenti melakukan hal-hal konyol, Bang. Sama sekali tidak lucu. Apalagi menyuruh Kei mengajak aku ke pesta." Kailani mendengus kesal sambil menurunkan telapak tangannya perlahan dari matanya yang sudah terbuka.
"Memang tidak lucu, Kai. Aku tidak punya cara lain untuk membuatmu tau, betapa Aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan kita. Bukan hanya demi anak-anak, tapi karena perasaanku pada kamu tetap sama. Di balik kebencian yang aku paksakan, sesungguhnya perasaanku masih sama. Aku tidak pernah bisa mencintai orang lain sebesar aku mencintai kamu," ucap Kailandra. Terdengar sungguh-sungguh dan juga tulus.
"Tapi tidak dengan melibatkan anak-anak, Bang. Sudahlah, aku malas berdebat terus. Aku sudah ikut kesini bersama anak-anak itu saja sudah cukup. Jangan berharap lebih. Aku tidak akan ikut bersama kalian menghadiri undangan, kecuali Kanaya dan Kanaka yang meminta."
Kailandra menepuk-nepuk daun telinga kanannya sendiri, seakan ingin meyakinkan apa yang didengarnya barusan memang benar atau hanya halusinasinya saja. Bayi baru berusia satu bulan lebih, bagaimana mungkin bisa bicara seperti yang diminta Kailani.
"Kenapa? Ada yang salah?" ketus Kailani. Sebenarnya dia juga menyesali kenapa yang keluar dari mulutnya adalah penolakan yang konyol.
"Enggak aneh, Kai. Coba nanti aku ajak Kanaka dan Kanaya bicara dulu. Kalau sekarang mereka bisa ngomong, sekalian saja aku minta mereka buat bisikin kamu supaya mau menikah denganku." Kailandra mulai mengikuti kekonyolan Kailani.
"Tidur dulu, Bang, baru mimpi," ketus Kailani seraya membuka pintu dan meninggalkan kamar Kailandra.
Pada akhirnya, Kailandra memang harus mengakui keteguhan sikap Kailani. Sampai tiba waktunya dia menghadiri undangan, hanya Keikolah yang benar-benar menemaninya. Sia-sia sudah gaun senada yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ternyata benar kata Keiko. Membujuk atau merayu Kailani memang sangatlah sulit.
Di tengah acara, Kailandra dikejutkan dengan panggilan masuk pada telepon selularnya dari nomor yang tidak dikenal. Sekali sampai tiga kali dia masih mengabaikan. Tetapi ketika panggilan tersebut sudah lebih dari lima kali dengan nomor yang sama, maka Kailandra pun memutuskan untuk menerima panggilan tersebut. Belum sampai Kailandra mengucap salam, si penelepon sudah langsung menyampaikan sederetan kalimat tanpa jeda.
__ADS_1
"Apa? Di rumah sakit mana?" raut wajah Kailandra seketika berubah panik.