
"Tidak ada yang bernama Kailandra," jawab Kalvin.
"Bu Karina belum sepenuhnya sadar. Tapi nama itu terus disebut-sebut," lanjut perawat tadi.
"Biarkan saja, Sus. Tidak ada nama itu," tegas Kalvin. "Jadi, apa Karina sudah boleh ditemui?" tambahnya.
Perawat tersebut menggelengkan kepala. Mengingat status Karina yang merupakan seorang tahanan, jelas tidak semua orang diperkenankan untuk menjenguk secara langsung perempuan tersebut. Tadi saja, dia mencari sosok yang bernama Kailandra atas perintah dari petugas kepolisian yang menunggu Karina di dalam ruangan.
"Karina-Karina ... mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu hancurkan dirimu sendiri seperti apa pun, Kailandra tidak akan pernah menganggapmu ada. Kailani jelas menjadi prioritasnya sekarang," gumam Kalvin sambil meraup wajahnya sendiri dengan kasar.
Malam itu sepertinya menjadi malam yang cukup panjang bagi semua orang. Masing-masing larut dalam pemikiran akan kondisi yang sedang dihadapi. Kailani bahkan tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun karena memikirkan status Keiko dan baby twins ke depan.
Berbeda dengan Kailani, Kailandra mungkin jadi satu-satunya orang yang tidak bisa tidur karena justru tidak sabar menanti hari esok. Merelakan baby twins tinggal di rumah Kailani, diharapkannya menjadi langkah awal untuk memperbaiki dan menyatukan kembali hubungan mereka yang dulu porak poranda.
Di sisi lain, Kalvin terus memikirkan langkah untuk menyelamatkan Karina dari keterpurukan. Mencintai orang lain seharusnya memang dimaknai secara lebih sederhana. Tidak perlu berlebihan apalagi sampai mengenyampingkan logika dan fakta. Meski cinta adalah salah satu nama dari sebuah rasa, semestinya keimanan seseorang tidak membuat perasaan tersebut menghancurkan diri sendiri.
"Sepertinya aku harus membawa Karina menjauh untuk beberapa waktu. Suasana baru mungkin akan membantunya keluar dari situasi ini," gumam Kalvin sambil mengirim pesan pada pengacara yang mengurus kasus Karina.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, tepatnya di kediaman Kenzo, Keira sesekali tampak mengusap pinggul belakangnya karena merasakan nyeri diikuti mulas yang timbul tenggelam. Perempuan tersebut berjalan mondar-mandir di depan ranjang sambil mengatur napas.
"Kita ke rumah sakit saja," ucap Kenzo yang duduk di tepian ranjang. Dia sebenarnya tidak tega melihat beberapa kali Keira meringis menahan rasa sakit.
Ini bukan pertama kali bagi Kenzo menghadapi situasi yang sama bersama Keira. Bedanya, dulu saat melahirkan Kenzi, Keira lebih panik dan lebih banyak menangis. Sekarang, Keira terlihat bisa mengendalikan diri serta rasa sakitnya sendiri.
"Belum apa-apa, nanti terlalu lama di sana. Lebih baik kita berangkat kalau rasa sakitnya sudah mulai sering muncul," jawab Keira dengan napas yang sedikit tersengal.
__ADS_1
"Terserah kamu saja," Kenzo berdiri hendak keluar dari kamar.
"Ken, boleh minta tolong temani aku jalan-jalan ke taman belakang saja? Kalau dibuat berjalan, pembukaan secara alami akan lebih cepat terjadi," pinta Keira.
Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Tetapi pria itu langsung mengapit pinggul Keira dan menuntun istrinya tersebut untuk berjalan pelan-pelan.
"Kenapa kamu tidak sesar saja, Kei? Kamu tidak perlu menyiksa dirimu selama ini." Kenzo bertanya sambil membantu mengusap punggung Keira.
Keira memaksakan senyuman di bibirnya. "Tidak, Ken. Aku ini perempuan yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Aku sudah sangat beruntung bisa menjadi istrimu. Hidup berkecukupan dan kamu tidak semena-mena juga padaku. Biarkan aku sedikit berjuang untuk melahirkan anak-anakmu, karena hanya inilah yang bisa aku lakukan. Aku tidak sesempurna Kailani di matamu, aku tidak seluar biasa dia yang bisa berjuang sendirian. Jujur, aku juga berharap suatu saat kamu juga bisa menatapku dengan sorot kekaguman dan cinta yang dalam."
Kenzo jelas tidak menimpali ucapan Keira. Dia sama sekali tidak suka jika istrinya itu mengajaknya bicara tentang hal ini. Bagi Kenzo, Keira dan Kailani memang dua sosok yang berbeda. Sampai detik ini, perasaannya tidak bisa berdiri utuh untuk Keira. Entah mengapa? Dia sendiri tidak tahu apa alasannya. Bukan perkara fisik, tapi apa yang dirasakan Kenzo lebih pada masalah keterikatan hati. Sampai kini, mungkin Kailani sendiri tidak tahu alasan kenapa Kenzo tiba-tiba muncul dalam hidupnya dengan mau membantu masalah keluarga Kailandra dengan syarat yang membuat keduanya menjalani pernikahan. Hanya Kenzo dan orangtuanyalah yang tahu.
Keesokan paginya, Kailani sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi dan juga bekal untuk Keiko. Sementara sang putri yang sekarang menjadi kesayangan tiga pria dewasa itu sudah duduk manis menanti di meja makan.
"Kei, nanti sepulang sekolah, di sini ada dua dedek bayi," ucap Kailani dengan hati-hati. Sementara tangannya meletakkan sepiring nasi goreng sosis tepat di depan Keiko.
"Bukan. Dedek bayi ini anaknya Om Kailandra." Kailani berusaha menjawab dengan santai.
"Oppa Kim?" tanya Keiko semakin penasaran. Tangannya yang padat berisi mulai bergerak mengambil sendok untuk memulai sarapannya.
"Iya." Kailani menganggukkan kepala sembari tersenyum. Dalam hati perempuan tersebut berharap nantinya Keiko tidak mempertanyakan lebih detail tentang kehadiran baby twins di rumah.
Melihat Keiko lahap menghabiskan makannya. Kailani meninggalkan putri sulungnya itu sendirian. Dia berjalan membuka pintu rumah untuk memastikan Kimin sudah datang untuk mengantar Keiko ke sekolah.
"Bunda," sapa bocah laki-laki berparas tampan begitu daun pintu terbuka lebar.
__ADS_1
"Kenzi. Kok tumben sama Pak kimin?" Kailani lalu mengajak anak laki-laki itu masuk ke dalam rumahnya.
"Papa nganter mama ke rumah sakit. Dedek mau keluar," jawab Kenzi begitu polosnya.
"Oh... Ken sudah sarapan?" tanya Kailani.
"Sudah, Bunda."
Setelah Keiko selesai sarapan, kedua anak tersebut pun berangkat ke sekolah. Sebelum masuk ke dalam mobil, Keiko menoleh ke belakang, kiri-kanan. Pagi ini, terasa ada yang kurang bagi gadis itu. Biasanya, Kalvin selalu datang untuk memberinya semangat.
"Bunda, Om Kalvin kok tidak datang?" Keiko menatap Kailani penuh tanya.
"Om Kalvin sedang sibuk mengurus pekerjaannya, sayang." Kailani mengusap lembut rambut Keiko. Sebuah jawaban formalitas. Karena alasan yang sesungguhnya Kailani sendiri tidak tahu. Dia juga tidak berani menghubungi terlebih dahulu. Meski dia sendiri juga ingin menanyakan kabar tentang Karina, tetapi perempuan itu takut akan mengganggu privasi Kalvin.
Bertepatan dengan mulai bergeraknya roda mobil yang ditumpangi Keiko dan Kenzi, mobil Kailandra memasuki halaman rumah Kailani. Pria tersebut turun terlebih dahulu. Diikuti kemudian Kasih yang menggendong Kanaya serta Kekeyi yang menggendong Kanaka.
"Seharusnya kamu yang tinggal di rumah kami. Di sana lebih luas dan nyaman," ucap Kasih tanpa basa basi sembari berjalan menuju beranda rumah Kailani.
"Ma ...," ingat Kailandra.
"Kenapa? Memang kenyataannya begitu. Bukan berarti di sini tidak nyaman. Tetapi dengan tiga anak, rumah kita lebih leluasa," tekan Kasih.
Kailani yang sudah hafal dan terbiasa dengan sifat Kasih memilih untuk mengacuhkan saja ucapan perempuan tersebut. Dia mengajak semuanya masuk ke dalam rumah. Menunjukkan kamar baby twins berada.
"Babysitter Kanaya?" tanya Kailani yang sedari tadi sebenarnya sudah ingin mempertanyakan kenapa teman Kekeyi yang biasanya mengasuh Kanaya tidak ikut serta.
__ADS_1
"Mendadak dia pulang kampung. Sambil menunggu gantinya, saya yang akan membantu menjaga menangani Kanaya. Saya tidak keberatan tinggal di sini," sahut Kasih dengan cepat.
Jawaban tersebut jelas membuat Kailani menelan ludahnya sendiri sambil menatap penuh tanya ke arah Kailandra.