
Dua hari berlalu, akhirnya Kanaka diperbolehkan keluar dari rumah sakit juga. Entah apa siasat dan rencana yang dibuat oleh Kailandra dan Kasih kali ini. Tidak disangka, tidak diduga, kedua orang tersebut malah meminta agar Kailani mau mengasuh baby twins secara langsung untuk sementara waktu.
"Mereka terlahir prematur, meningkatkan daya tahan tubuh mereka adalah hal yang paling utama saat ini. Tidak baik bagi anak-anak jika sering mengalami demam dan sebagainya. Sebaiknya, baby twins berada di bawah langsung pengawasanmu. ASI yang sesekali diberikan secara langsung, tentu berbeda dengan botol," pinta Kasih dengan suara yang sedikit landai dari pada biasanya.
Kailani tentu tidak langsung menjawab. Bukannya menolak, namun permintaan itu terdengar mencurigakan di telinga dan pikirannya. Setelah sebelumnya begitu banyak syarat jika harus menemui baby twins, kini malah dengan mudahnya Kailandra dan Kasih memberikan pengasuhan si kembar kepada Kailani.
"Kenapa? Kamu tidak bisa? Jangan khawatir, babysitter tetap akan membantumu," ucap Kailandra. Mengira Kailani sedang membayangkan bagaimana repotnya mengasuh dua bayi sekaligus sendirian.
"Bukan. Rumahku tidak seberapa besar. Hanya ada tiga kamar. Satu kamarku, satu kamar milik Keiko dan satu kamar lagi lebih kecil sudah ditempati Kasri." Kailani menjawab tanpa menatap Kasih atau pun Kailandra.
"Anak-anak masih menggunakan box, Kai. Jika kamu tidak keberatan, Keiko dan Kamu bisa satu kamar, bukan?" desak Kailandra.
"Nah, begitu kan bisa. Biar babysitter tidur di kamar Keiko. Atau kalau kamu mau, untuk sementara tinggal di rumah saja. Ajak Keiko sekalian," timpal Kasih. Sangat bersemangat.
"Saya siapkan dulu semuanya. Setelah beres, baru saya akan ambil Kanaya dan Kanaka," jawab Kailani akhirnya.
Kailandra tersenyum puas. Dengan begini, langkahnya untuk mengetahui kebenaran akan Keiko semakin dekat. Mengandalkan Kailani jelas tidak mungkin. Pembicaraan tentang Keiko, bahkan sekarang dihindari oleh Kailani.
Di sisi lain, Kalvin yang sedang berkunjung di rumah tahanan sementara yang di tempati Karina, tampak begitu menyesali keadaan saudari tirinya tersebut. Setelah dinyatakan positif menggunakan zat psikotropika sekaligus ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan melempar sepatu salah sasaran yang dilakukan Karina, secara psikologis, keadaan perempuan tersebut jelas dinyatakan tidak baik-baik saja.
"Kar, please jangan bersikap seperti ini. Jangan hancurkan dirimu hanya demi seorang pria yang tidak pernah menghargaimu." Kalvin mencoba mengajak Karina yang terus menatap kosong ke depan untuk berbicara.
__ADS_1
"Aku akan mengupayakan yang terbaik. Semoga kamu bisa direhabilitasi tanpa harus menjalani hukuman pidana. Kar ... perlakukan dirimu lebih baik," tambah Kalvin.
Karina tidak memberikan reaksi apa pun. Perempuan tersebut benar-benar hanyut dalam lamunannya sendiri. Semua hal tentang Kailandra memenuhi isi pikiran Karina. Hingga sepuluh menit berlalu, keduanya bertahan saling terdiam. Kalvin sendiri sudah kehabisan cara untuk membuat Karina bersikap seperti biasa.
"Lebih baik aku melihatmu marah-marah daripada harus melihatmu seperti ini, Kar." Kalvin mengusap rambut kusut Karina dengan lembut. Seburuk-buruknya sifat Karina, dia tidak pernah tega meninggalkan saudaranya itu sendirian.
Sampai waktu berkunjung habis. Karina tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sungguh sebuah perubahan yang teramat drastis. Perasaan cinta yang berlebihan pada seseorang, dan tidak bisa dikendalikan dengan baik, pada akhirnya mampu menghancurkan diri sendiri dengan sangat mudah. Begitulah yang terjadi pada Karina.
Di tempat dan waktu yang berbeda, Kailani yang sudah datang di rumah Kenzo dengan niatan ingin menjemput Keiko, malah dikejutkan dengan sikap Keira yang mendadak seperti canggung, menjaga jarak dan terkesan jelas sedang menghindarinya. Padahal biasanya perempuan itu sangat hangat dan ramah setiap kali dia datang.
"Nunggu Kenzo sebentar ya, Kai. Pesannya tadi begitu. Keiko tidak boleh kamu ajak pulang langsung tanpa sepengetahuannya," ucap Keira tanpa melihat kearah Kailani.
"Biar aku telepon Kenzo. Ini masih siang, kalau aku harus menunggu sampai dia pulang kerja, akan lama sekali." Kailani langsung mengambil telepon genggam di dalam tasnya dan segera menghubungi Kenzo.
"Bunda, Kei mau pulang sama Bunda." Keiko langsung berhambur ke dalam pelukan Kailani yang masih berusaha menghubungi Kenzo.
"Iya, sayang, sebentar bunda kasih tahu papa dulu," sambut Kailani dengan sabar sembari sedikit merenggangkan pelukan sang putri.
Setelah sekian kali mencoba tetap tidak ada jawaban dari Kenzo, akhirnya Kailani pun menyerah. "Aku dan Keiko langsung pamit saja. Nanti biar aku yang bicara padanya," putusnya.
"Jangan, Kai! Nanti aku yang disalahkan," cegah Keira.
__ADS_1
"Tidak akan, Kei. Kenapa kamu takut sekali? Bukankah biasanya juga seperti ini? Kenapa sekarang harus nunggu Kenzo dulu?" tanya Kailani dengan nada heran.
"Kai, tolong jangan persulit posisiku. Aku tidak mau setiap hari berdebat dengan Kenzo untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu," pinta Keira. Raut wajahnya diselimuti dengan kekhawatiran.
Kailani membisikkan sesuatu pada Keiko. Membuat gadis cilik periang tersebut berjalan mendekati arah dapur sambil memanggil nama Kasri. Setelah memastikan dirinya dan Keira kembali berdua saja, Kailani bergegas mendekati perempuan yang sudah hampir waktunya melahirkan itu.
"Kei, ada apa? Ini tidak seperti biasanya? Maaf, bukannya aku ingin ikut campur, tapi jangan simpan masalahmu sendirian. Kamu boleh cerita sama aku. Siapa tau aku bisa membantu." Kailani meraih menyentuh lengan Keira dengan lembut.
"Tidak ada, Kai. Semua baik-baik saja," jawab Keira dengan buru-buru.
"Kamu yakin?"
Keira mengangguk lemah tanpa berani membalas tatapan Kailani kepadanya. Sebaik apa pun hubungan keduanya selama ini, ternyata tetap saja menjadi sangat sulit menerima---ketika mengetahui niat Kenzo yang ingin menikahi Kailani kembali.
Karena Keira bersikukuh semua baik-baik saja, Kailani pun tidak mempertanyakan lebih jauh lagi. Dia pun memaksa tetap membawa Keiko pulang tanpa menunggu kedatangan Kenzo. Kali ini, Kailani memutuskan untuk tidak mengajak Kasri. Di sepanjang perjalanan, Kailani lebih banyak mendengar cerita Keiko. Dia masih mencari celah untuk menceritakan pada putri pertamanya itu akan kehadiran baby twins di rumah mereka. Namun, sampai di rumah waktu dan kesempatan tersebut tidak didapatkan oleh Kailani.
"Om Kalvin," teriak Keiko begitu turun dari taksi online yang ditumpanginya bersama Kailani.
Kalvin langsung mengembangkan senyuman lebar. "Tadi aku ke rumah sakit, tetapi ternyata kamu sudah pulang. Makanya aku sengaja menunggu di sini."
"Siapa yang di rumah sakit?" selidik Keiko.
__ADS_1
"Nanti Keiko akan tahu. Sekarang, Keiko istirahat atau mainan di kamar Bunda dulu. Karena nanti akan ada tamu istimewa unt---,"
"Oppa!" pekik Keiko seketika menghentikan ucapan Kailani.