Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Keiko Pingsan


__ADS_3

Kailani sedikit tergagap. Kemunculan Kailandra dengan sapaan yang sangat mewakili apa yang sekilas ada dipikirannya, cukup membuat perempuan tersebut terkejut. Padahal, Kasih mengatakan jika Kailandra sudah berangkat begitu acara untuk baby twins usai. Entah bagaimana caranya, sekarang pria itu malah tiba-tiba muncul di dekatnya.


"Aku tau kamu akan datang, Kai. Aku tau mamaku diam-diam berkomunikasi denganmu. Sebegitu bencinya kah kamu sama Aku? Sampai untuk bertemu dengan anak kita saja kamu harus menunggu aku pergi? Kesepakatan apa yang kamu buat bersama mama?" cecar Kailandra.


"Aku tidak pernah mengijinkan hatiku untuk membenci siapa pun. Kebencian tidak akan membuat hidupku tenang. Permisi," pamit Kailani berusaha berjalan secepat yang dia bisa untuk menghindari kejaran Kailandra.


"Kai," Kailandra berusaha mengejar langkah Kailani dan menahan pergelangan tangan perempuan tersebut begitu posisi keduanya sudah kembali sejajar.


Kailani berusaha menarik tangannya dengan paksa. Namun, genggaman tangan Kailandra itu begitu erat. Pria tersebut sengaja sekali membuat Kailani kesal. Melihat bibir manyun Kailani dengan pipi yang merona merah, membuat Kailandra semakin merasa sedang bernostalgia. Dulu, seperti itulah saat mereka sedang berselisih paham.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan nomor teleponmu, Kai?" tanya Kailandra dengan tatapan yang begitu teduh.


"Tidak ada yang perlu abang lakukan. Berhentilah membahas yang tidak perlu. Kita jalani masa depan kita masing-masing. Tolong lepaskan tanganku, Bang. Jangan bawa-bawa aku dalam kenangan abang. Aku sudah cukup bahagia sekarang."


Bersamaan dengan itu, Kinanti terlihat datang membawa beberapa bingkisan untuk baby twins. Mau tidak mau, Kailandra melepas genggaman tangannya pada Kailani. Bukan karena peduli pada Kinanti, melainkan tidak ingin Kailani dicecar dengan mulut pedas mamanya.


"Kita akan bicara lagi nanti. Aku butuh beberapa berkasmu untuk mengurus legalitas kelahiran Naka dan Naya," bisik Kailandra tepat sejengkal di samping daun telinga Kailani.

__ADS_1


Kinanti tersenyum ramah ke arah Kailandra. "Kai, ini Aku bawa beberapa helai baju untuk baby twins. Bukannya kamu ada urusan ke luar kota?" tanyanya dengan santai tanpa memedulikan apa yang baru saja dilakukan Kailandra terhadap Kailani.


Kailandra tidak menjawab. Pria tersebut memilih segera masuk ke dalam rumahnya dan naik ke lantai dua. Ternyata jadwal meeting yang mendadak dibatalkan, malah memberikan berkah tersendiri bagi Kailandra. Meski sikap Kailani sangat dingin dan ketus, setidaknya dia bisa mendapatkan kesempatan untuk berdekatan sejenak. Kata maaf mungkin masih jauh untuk digapai, dan sepertinya Kailandra mulai berpikir untuk menggunakan cara lain untuk kembali bisa berhubungan baik dengan Kailani.


"Kamu sudah datang rupanya, langsung masuk ke kamar itu saja. Cucu-cucuku di dalam sana." Kasih yang belum tahu jika Kailandra tidak jadi ke luar kota, menyambut Kailani dengan menunjuk sebuah kamar yang berada di depan ruang keluarga.


Setelah memastikan Kailani sudah masuk ke ruangan yang dia tunjuk, Kasih langsung memberikan pelukan hangat pada Kinanti dan membawa perempuan yang ingin dijodohkannya itu ke kamarnya di lantai satu. Dari sana, barulah Kasih tau jika Kailandra tidak jadi berangkat ke luar kota.


"Perempuan tadi itu yang mama ceritakan ke kamu. Dekati dia. Perhatikan semua tentang dia. Cari tau kira-kira apa yang membuat Kailandra begitu susah melupakan dia. Namanya Kailani. Jaga saingan atau musuh lebih dekat, maka kamu akan tau cara untuk menang lebih banyak." Kasih mengatakannya dengan sedikit berbisik.


"Beres. Mama lihat Kailandra dulu. Kamu sana dekati Kailani." Kasih mendorong punggung Kinanti dengan lembut.


Seperti yang disarankan oleh Kasih, Kinanti mendekati Kailani yang sedang memberikan ASI secara langsung pada Kanaka. Karena lupa tidak membawa approan, membuat separuh bagian dada Kailani yang putih mulus itu terekspos sempurna.


"Aku Kinanti. Calon istrinya Kailandra. Itu pun kalau dia mau. Sampai sekarang saja, dia tidak pernah mengajakku berbicara. Jangankan mengajak, aku sapa saja dia tidak merespon dengan baik. Aku sudah mendengar sedikit cerita tentang kalian. Kamu hebat, Kai. Pantas Kailandra tidak bisa berpaling dari kamu." Kinanti langsung mengakrabkan diri pada Kailani.


Tentu saja Kailani tidak memberikan tanggapan apa pun. Bukan tipenya bisa langsung berbicara terbuka dan panjang lebar dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kailani memilih hanya memberikan senyuman tipis pada Kinanti.

__ADS_1


"Maaf jika aku lancang. Aku bukan perempuan yang gelap mata dan mampu menghalalkan cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Meski aku tidak bisa bohong, siapa yang tidak berharap bisa menjadi Nyonya Kailandra. Kai ...." Kinanti mendudukkan bokongnya di bangku kosong tepat di samping Kailani. "Kenapa kalian tidak kembali saja. Bukankah ada Naya dan Naka yang sekarang mengikat kalian?" tanyanya.


Lagi-lagi Kailani hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Lalu perempuan yang sudah mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Kinanti itu menyudahi pemberian ASI-nya. Perlahan-lahan, dia menidurkan Kanaka di dalam box-nya. Membisikkan sebuah doa, lalu beralih mengecup perlahan baby Kanaya yang sudah lebih dulu tertidur pulas di satu box yang lainnya.


"Saya permisi pulang dulu, Kinan." Mengabaikan segala pembicaraan yang dimulai oleh Kinanti. Kailani langsung berlalu keluar dari kamar tersebut.


Di sisi lain, Kasih sedang kebingungan mencari keberadaan Kailandra. Kamar putra semata wayangnya tersebut tampak kosong. Sepertinya, Kailandra memang sudah keluar lagi. Merasa Kailani sudah aman bersama Kinanti, Kasih pun memilih melakukan aktivitas lain dengan sejenak bersantai menghubungi teman-temannya melalui sambungan video call.


Sementara itu, Kailani berjalan keluar dari halaman rumah Kailandra. Langkah kakinya tidak terayun dengan cepat. Mengingat luka operasinya juga memang belum pulih benar. Perempuan itu terus berjalan keluar gerbang pintu utama sambil berusaha memesan taksi online yang belum juga ada yang menerima ordernya.


Sampai dia berjalan di ujung jalan perumahan Kailandra, belum juga satu pun ordernya yang diterima. Kailani menarik napas panjang, mencoba untuk bersikap tenang. Disaat bersamaan, ponselnya berdering. Nama Kalvin terlihat jelas pada layar benda pipih bertekhnologi tinggi tersebut. Dia pun menerima panggilan itu dengan tenang.


Suara klakson yang tiba-tiba terdengar dengan jarak begitu dekat. Membuat Kailani yang sedang menerima informasi dari Kalvin menjadi sedikit terganggu. Perempuan tersebut sampai mengumpat kesal karena si pengendara di dalam mobil itu terus membunyikan klaksonnya. Karena sudah tidak sabar, Kailani menghampiri mobil tersebut. Mengetuk kaca mobil sedikit keras sembari berteriak, "bisa diam dulu, tidak?"


Kalvin yang sedang panik, tentu saja bertambah panik mendengar teriakan nyaring Kailani dari speaker ponselnya. Setelah suara klakson tersebut mereda. Kailani pun kembali fokus pada telepon Kalvin. Kecemasan seketika menghampiri wajah perempuan tersebut. Kepalanya melongok ke kanan dan ke kiri, berharap ada kendaraan yang bisa mengantarnya dengan cepat ke rumah sakit di mana Kalvin membawa Keiko yang tiba-tiba pingsan.


"Naiklah ... di sini tidak akan ada kendaraan umum yang lewat." Suara yang sangat familiar seketika membuat Kailani menoleh ke arah kaca mobil yang sudah diturunkan sepenuhnya. Jelaslah sudah siapa yang mengganggunya dengan suara klakson tadi.

__ADS_1


__ADS_2