Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Kembali ke rumah sakit


__ADS_3

Di saat bersamaan, seorang ibu berpenampilan sangat elegan dengan mengenakan pakaian khas ibu-ibu Bhayangkari melintas di belakang Kailandra. Sehingga sepatu high heels yang sejatinya bisa tepat mengenai tengkuk leher Kailandra, malah mengenai pipi kiri perempuan tersebut dengan sempurna. Kaget dan juga merasakan sakit yang lumayan, membuat salah satu tangan perempuan tersebut seketika menoleh sambil memegangi pipi dan satu tangan yang lain mengambil high heels yang terjatuh tepat di samping kaki kirinya.


Tatapan perempuan tersebut mengarah tajam pada Karina yang tampak langsung gugup. Jelas Karina tidak bisa lari atau berkelit lagi, satu kaki tanpa menggunakan alas kaki menegaskan bahwa memang dialah empunya benda yang membuat pipi perempuan itu memiliki jejak merah heels.


"Ibu langsung ke dalam saja, biar saya yang mengurus semuanya. Maaf saya lalai, Bu. Sampai saya tidak melihat ada yang menyerang Ibu." Seorang ajudan perempuan bergegas menghampiri perempuan tadi. Sementara satu ajudan yang lain langsung menghampiri Karina dengan wajah garangnya.


"Pastikan identitasnya. Urus sampai tuntas. Saya tidak mau berakhir hanya dengan maaf dan salah paham," tegas perempuan tadi sambil memberikan high heels yang sudah berhasil membuat pipinya benar-benar merasakan nyeri pada ajudannya.


"Siap, Bu," jawab sang ajudan dengan sigap.


Kailandra hanya menoleh sekilas melihat keributan di belakangnya. Garis senyuman sinis terbentuk di salah satu ujung bibirnya. Belum sampai dia berbuat apa-apa, semesta sudah berpihak padanya dengan menunjukkan kebodohan yang dilakukan oleh Karina sendiri.


"Saya tidak sengaja. Lepaskan! Salah sendiri ibu tadi lewat tidak bilang-bilang. Bukan dia yang mau Saya lempar. Lepaskan! Saya bisa jalan sendiri." Karina terus berteriak membela diri begitu ajudan tadi menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat kuat. Masalah yang tidak sepele jelas sudah menunggu perempuan itu. Bagaimana tidak? Perempuan yang tidak sengaja dia lempar adalah istri seorang polisi dengan pangkat jenderal tiga.


Sementara itu, Kailani dan Kalvin masih tetap pada pokok pembahasan mereka. Kerjasama yang ditawarkan pria itu sebenarnya memang cukup menggiurkan bagi Kailani. Selain karena dia juga senang anak-anak, dia juga bisa sekalian membawa Keiko.


"Tempatnya cukup dekat dengan pusat perkantoran, Kai. Kamu tinggal atur bagaimana caranya. Jangan turun langsung, kamu cukup mengawasi suster dan pengajar pilihan kita. Yang penting ada kamu di sana, pasti orang tua merasa save menitipkan anak-anak mereka."

__ADS_1


Ya, Kalvin berencana mendirikan jasa penitipan anak sekaligus baby schooling. Usaha ini, sebenarnya bukan usaha Kalvin satu-satunya. Diam-diam, pria tersebut juga sudah mempunyai tiga coffe shop yang sangat ramai dan menjadi tongkrongan favorit para sosialita. Itulah mengapa, meski dia tidak memiliki perusahaan besar seperti Kailandra atau pun Kenzo, tetapi hidupnya bisa dikatakan sangat berkecukupan.


"Tempatnya sudah siap. Kalau kamu mau, kamu bisa meninjau langsung ke sana. Aku sudah meminta temanku yang design interior untuk membuat tempat itu senyaman mungkin. Please, mau ya? Kamu cukup bantu ide. Aku yakin kamu bisa jadi sangat mampu menjadi CEO di sana. Ini dunia anak-anak, Kai. Dunia yang sangat dekat dengan kamu," rayu Kalvin. Berharap Kailani segera mengiyakan ajakannya.


"Aku pikirkan dulu, ya, Vin. Aku jawab secepatnya. Aku memang butuh pekerjaan yang lebih fleksibel. Tapi ada hal lain yang harus aku pertimbangkan," ucap Kailani akhirnya.


"Jangan lama-lama. Ini peluang bagus, Kai," timpal Kalvin.


Bersamaan, ponsel keduanya sama-sama bergetar. Kailani menerima panggilan telepon itu dengan segera. Perempuan itu beranjak berdiri dan sedikit menjauh dari Kalvin yang juga sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Dibawa ke rumah sakit terdekat saja. Saya akan segera ke sana." Dengan suara bernada cemas, Kailani menyampaikan hal tersebut pada orang yang menghubunginya. Orang itu tidak lain tidak bukan adalah Kasih.


Dengan gerakan yang dipaksa cepat, Kailani mengambil tas dan memberitahukan Kasri bahwa dirinya akan ke rumah sakit. Perempuan tersebut meminta agar sepulang sekolah nanti baik Keiko atau pun Kenzi tidak diberikan waktu bermain yang terlalu lama.


"Kamu mau kemana, Kai?" tanya Kalvin. Meski dia sendiri sebenarnya sedang terburu-buru, dia tetap tidak bisa mengabaikan Kailani begitu saja.


"Kanaka tiba-tiba demam tinggi dan muntah-muntah," jawab Kailani sembari mencari aplikasi taksi online di ponselnya.

__ADS_1


"Ya sudah bareng Aku saja. Aku mau ke kantor polisi. Entah Karina membuat ulah apa sampai dia harus ditahan." Kalvin memijat pelipisnya sendiri. Tidak bosan-bosan saudari tirinya itu membuat masalah dan membuat Kalvin repot.


Tidak ingin membuang waktu dengan berdebat basa-basi menolak tawaran Kalvin, Kailani pun menerima tawaran dari pria tersebut. Untung saja jarak rumah sakit dan kantor polisi yang akan dituju kedua orang itu tidak terlalu jauh dan searah.


Kalvin hanya mengantar Kailani sampai depan lobby UGD. Di waktu yang sama, Kailandra yang tadinya ingin berjalan ke arah lain, memilih untuk menghampiri Kailani terlebih dahulu.


"Ikuti aku. Kanaka sudah ada di ruang rawat anak-anak." Kailandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku samping celananya. Menahan diri agar tangan tersebut tidak lancang menggenggam tangan Kailani. Keduanya lalu berjalan menyusuri jalan menuju bangunan kedua dari rumah sakit tersebut.


"Bagaimana keadaan Kanaka, Ma? Kenapa tiba-tiba badannya panas? Bukankah tadi baik-baik saja?" cecar Kailandra begitu melihat Kanaka tertidur pulas di dalam box dengan punggung tangan kanan sudah terpasang jarum infus.


Sekujur tubuh Kailani kembali lemas. Rasanya baru kemarin melihat Kanaka terbebas dari berbagai alat medis. Kini, dia harus melihat kembali alat itu menempel pada salah satu baby twins-nya.


"Ini pasti ASI yang diberikan Kailani tidak seteril. Makanya ada bakteri yang membuat pencernaan Naka bermasalah. Muntah dan infeksi sampai demam seperti ini. Harusnya kalau kasih ASI yang bener. Pastikan dulu alat pompa dan botolnya bersih," ketus Kasih.


Kinanti yang ada di sana tampak tersenyum senang mendengar Kasih mengeluarkan tuduhan tanpa dasar pada Kailani. Sementara babysitter Kanaka yang bernama Kekeyi langsung mendekati Kailandra dan Kailani yang berdiri berdekatan kompak mengusap bagian kaki Kanaka.


"Maaf, tidak begitu kejadiannya, Bu. Ta---," Kekeyi tidak melanjutkan ucapannya, karena Kinanti buru-buru mengirimkan kode ancaman yang mengintimidasi melalui tatapan matanya.

__ADS_1


Kailani yang menyadari hal tersebut, dengan tenang berkata, "Katakan kejadian yang sebenarnya, Sus. Jangan takut."


__ADS_2