
"Di sini tidak ada brankar untuk berbaring, Pak. Lebih baik, saya periksa kedua Ibu ini di ruangan masing-masing," jawab perawat.
"Memastikan kondisi dia tidak perlu berbaring, Sus. Dengan berdiri seperti ini saja, perawat bisa memeriksanya," sahut Kailani. Perempuan tersebut tidak peduli lagi apa yang akan terjadi ke depan. Melihat sikap Karina sejauh ini--- melepaskan dua orang bayi tidak berdosa pada perempuan yang rela menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya sendiri, tentu bukanlah keputusan yang tepat.
Kailandra melirik Kailani sekilas, jelas perempuan tersebut sedang menahan kesakitan. Cara berdirinya tidak tegak, badannya tampak membungkuk dengan kedua tangan memegangi perutnya dengan kondisi sedikit bergetar.
"Bawa Ibu ini ke ruangannya, Sus," perintah Kailandra sembari melirik ke arah Kailani.
"Tidak! Periksa dulu Karina," paksa Kailani.
Perawat sebenarnya sangat bingung. Sama sekali tidak paham dengan kondisi yang saat ini dia hadapi. Sedangkan Karina, tentu saja masih belum bisa berkutik. Tangan kiri Kailandra mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Kailani pelan-pelan berjalan mendekati bangku yang berada tidak terlalu jauh dirinya. Memaksakan berdiri lebih lama lagi, Kailani yakin---akan membuatnya tidak sadarkan diri dengan lebih cepat.
Merasakan tangan Karina begitu dingin dan bergetar, Kailandra semakin yakin memang ada sesuatu yang tidak beres pada istrinya itu. Apapun itu, pastinya bukan rasa sakit yang dirasakan Karina. Raut wajah perempuan tersebut, lebih menyiratkan kekhawatiran dan ketakutan ketimbang kesakitan.
"Periksa kondisi perutnya sekarang, Sus!" putus Kailandra akhirnya.
Meski sedikit ragu, akhirnya perawat menganggukkan kepalanya. Perlahan, salah satu tangannya menyingkap ke atas atasan yang dipakai Karina.
"Ini tidak benar, Sus. Jika ingin memeriksa, lakukan dengan cara yang benar." Karina memundurkan badannya. Perempuan tersebut benar-benar sedang memeras otaknya untuk menemukan jalan keluar agar dirinya terlepas dari kondisi saat ini.
"Lakukan lebih cepat, Sus," ucap Kailandra. Tidak ingin membuang waktu lebih lama karena ekor matanya terus melirik Kailani yang jelas-jelas lebih membutuhkan pertolongan.
Saat atasan Karina tersingkap, gelagat perempuan tersebut makin mencurigakan bagi Kailandra. Perempuan itu tampak berusaha terlepas dari cengkramannya.
__ADS_1
"Tidak ada rembesan sedikit pun," ucap perawat sembari mengusap plaster kering yang menempel di perut bagian bawah Karina.
"Saya baik-baik saja, Sus. Dia yang lebih butuh pertolongan," Karina mengatakan hal tersebut sembari menatap Kailani begitu tajam. Jika kebohongannya harus terbuka secepat ini, dia tidak akan membiarkan dirinya hancur sendirian.
Kailandra melepaskan cengkeraman tangannya pada Karina. Dia ikut melihat ke arah perut istrinya tersebut. Entah dorongan darimana, dia berjongkok menghadap perut tersebut dan mengusap bagian yang tertutup plaster anti air itu.
"Tolong dia dulu, Sus. Saya akan membawa istri saya kembali ke ruang rawat." Kailandra kembali berdiri dan menggandeng pergelangan tangan Karina dengan kuat.
Perawat bergegas mengambil kursi roda dan mendekatkan benda tersebut pada Kailani, setelah perempuan tersebut berpindah ke sana. Perawat segera membawa Kailani ke ruangan perempuan itu kembali untuk melakukan pemeriksaan dengan cepat.
Karina menarik napas lega. Untung saja dia tetap meminta Dokter Khalid memasang plaster anti air. Selain agar sandiwaranya lebih sempurna, juga untuk berjaga-jaga jika mertua atau suaminya ingin melihat bekas sayatan sesarnya.
Di sisi lain, perawat dengan telaten membersihkan rembesan darah yang keluar dari bekas sayatan jahitan Kailani. Gerakan spontan yang berlebihan pasca operasi memang bisa mengakibatkan hal tersebut.
"Sudah jauh berkurang, Sus. Terimakasih," jawab Kailani.
Setelah perawat meninggalkan ruangannya, Kailani perlahan bergerak memiringkan badannya ke sisi kiri. Luka operasinya saja benar-benar belum kering, ditambah lagi luka di hatinya yang rasanya memang tidak akan pernah kering. Sesal dan kecewa pada diri sendiri kini berkecamuk di dalam relung jiwanya. Hutang budi sebesar apapun, tidak seharusnya dia melangkah sejauh ini.
"Ya Allah, ampuni kebodohan dan kekhilafanku ini. Beri kesanggupan dan kekuatan untukku mencari jalan, agar suatu hari nanti, Anak-anak bisa selalu berada didekatku. Tolong jaga mereka disaat mata dan tanganku tidak bisa menjangkau mereka." Kailani memejamkan matanya. Saat sendiri seperti inilah dia merasa sangat rapuh.
Di ruangan yang tidak jauh dari ruangan Kailani berada. Sepasang suami istri masih bertahan saling terdiam. Beberapa kali Karina berusaha untuk mencairkan suasana dengan melontarkan pertanyaan. Namun tidak satu pun dijawab oleh Kailandra.
"Kai, kamu percaya aku, kan? Kailani pasti hanya ingin membuat kita salah paham." Karina mencoba berusaha untuk kembali mempengaruhi pikiran Kailandra.
Pria tersebut hanya menjawab dengan senyuman tipis. Lalu dengan santai Kailandra mendudukkan diri di sisi kosong brankar sang istri. Apa yang ada dipikiran Kailandra saat ini, sungguh tidak bisa ditebak. Raut wajahnya tidak menyiratkan apapun selain tatapan tajam yang membuat siapa pun yang ditatapnya merasa terintimidasi.
__ADS_1
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka perlahan, disusul kemudian dengan kemunculan seorang perawat. Dengan langkah santai namun pasti, sosok perempuan berhijab tersebut semakin mendekati brankar Karina.
"Permisi, Bu. Waktunya kontrol jahitan operasi sesar Ibu dan mengganti plasternya dengan plaster anti air. Sudah lebih dari dua kali dua puluh empat jam. Kalau jahitan Ibu bagus, Ibu bisa mandi seperti biasa." Perawat mengatakannya dengan ramah.
Karina tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Tangannya reflek langsung meraba ponsel yang ada di bawah bantalnya. Bagaimana bisa ada perawat datang dengan tujuan memeriksa jahitan yang tidak pernah ada diperutnya dalam situasi yang tidak tepat seperti ini. Hanya satu yang terlintas dipikirannya saat ini, apalagi kalau bukan keinginannya untuk menghubungi seseorang yang bisa membebaskan dirinya dari pemeriksaan tidak terduga ini.
Kailandra langsung beranjak dari duduknya. Pria tersebut memposisikan diri disamping perawat. "Silahkan, Sus," ucapnya.
"Permisi, Bu." Perawat mengulurkan tangannya untuk menyingkap atasan Karina. Namun istri Kailandra itu berusaha untuk menahannya.
"Tolong tangannya, Bu. Ini tidak akan sakit," ucap perawat sembari menepis tangan Karina agar menjauh dari tangannya.
Suasana mendadak hening. Kailandra yang penasaran, tidak bergeming di tempatnya. Dia ingin melihat sebesar apa luka yang ada di tubuh Karina untuk melahirkan anak kembar mereka.
"Kai... aku takut. Tatap aku, biar aku tenang," pinta Karina, sekadar ingin mengalihkan perhatian Kailandra.
Pria tersebut hanya melihat istrinya sekilas, lalu kembali memperhatikan gerakan tangan perawat yang sedang mengoles plester yang menempel di perut Karina dengan cairan khusus.
"Permisi, ya bu. Saya buka." Perawat perlahan membuka perban pelan-pelan. Belum sampai seluruh bagian terbuka, tangan perempuan tersebut berhenti bergerak. Keningnya mengernyit dengan sempurna. Hingga kedua ujung alisnya menyatu.
"Ada apa, Sus? Apa ada yang tidak beres?" selidik Kailandra.
"Maaf, ini sama sekali tidak ada bekas operasi sesar." Perawat akhirnya mengatakan keanehan yang baru saja ditemuinya.
"Maksudnya bagaimana, Sus?" Kailandra tidak kalah bingung. Sementara Karina sudah sangat ketakutan.
__ADS_1