Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Tragedi High Heels


__ADS_3

Kalvin keluar dari mobil dengan santai sembari membawa satu keranjang kecil berisi buah-buahan di tangan kanannya. Pria tersebut seakan tidak peduli dengan tatapan tidak suka yang dilemparkan oleh Kailandra. Sementara Kenzo masih fokus menatap Kailandra yang baru saja melontarkan kata-kata yang membuatnya mengurungkan niat untuk mengambil cooler bag.


Belum apa-apa, perasaan Kailani sudah tidak enak. Tidak nyaman lebih tepatnya. Perempuan itu menarik napas dalam lalu mengembuskannya dengan berat. Sama sekali tidak pernah dia membayangkan sebelumnya. Bertemu dengan Karina ternyata mengubah ketenangan hidupnya 180 derajat.


"Kai, ini buah untuk Keiko. Dia kan suka ngemil. Dengan kondisi kesehatan yang masih tanda tanya, tidak ada salahnya kita mengganti cemilannya dengan cemilan sehat." Kalvin yang sudah berada Dua langkah di depan Kailani mengulurkan keranjang buahnya.


"Terimakasih, Vin." Kailani menerima keranjang buah tersebut. "Maaf saya tinggal ke dalam sebentar," tambahnya sambil berbalik badan. Lalu langsung melangkahkan kaki ke dalam rumah. Mengambil sesuatu yang kemungkinan bisa membuat Kailandra segera meninggalkan rumahnya.


"Jika kalian ingin mendekati Kailani, lakukan secara benar. Jangan gunakan Keiko sebagai alat. Sudah sangat jelas kebaikan kalian pada Keiko memang jauh dari kata tulus. Apa yang kalian lakukan pasti karena ingin mendapatkan Kailani," cibir Kenzo sembari mendudukkan bokongnya pada kursi rotan di sana.


"Siapa kamu bisa menilai ketulusan orang, Ken?" timpal Kailandra.


"Tentu Aku bisa menilai. Andai Keiko anak orang lain, apa kalian akan tetap peduli pada dia? Sudahlah! Jangan munafik saat berhadapan denganku. Aku tidak rela anakku kalian dekati hanya untuk mendekati ibunya. Mulai sekarang, jangan harap bisa memperalat Keiko demi tujuan kalian."


Kalvin tersenyum tipis saat mendengar ucapan Kenzo. Mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang Keiko, membuat Kalvin sedikit berani menarik kesimpulan sendiri. Kemarin dia masih berpikir Kenzo akan marah atau semacamnya. Namun, mendapati sikap pria itu saat ini, Kalvin seketika paham---Kenzo pastinya masih mempunyai perasaan terpendam pada Kailani.


"Dan jangan pula sok menjadi pria terbaik di depanku, Ken. Tidak selamanya kamu bisa membungkam perasaan istrimu dengan kekayaan yang kamu punya. Dia masih perempuan. Taruhlah istrimu mau dimadu, lalu apa kamu pikir Kailani mau menjadi istri keduamu? Bukan hanya kami yang punya tujuan di sini. Hati-hati dengan ucapanmu sendiri."

__ADS_1


Kalvin ikut mendudukkan bokongnya di seberang bangku di mana Kenzo duduk. Dia masih bisa menahan diri untuk tidak ikut melibatkan diri dengan perdebatan antara Kailandra dan Kenzo. Tujuannya datang kali ini ingin mengajak Kailani berbicara dari hati ke hati. Tentang sebuah kerjasama yang mungkin bisa membuat hubungannya dan Kailani akan semakin dekat.


"Itu sama sekali bukan urusanmu, Kai. Asal kamu tau, tidak semua perempuan menuntut laki-laki menjadikan dirinya satu-satunya ratu di rumah. Beberapa perempuan rela berbagi suami dengan perempuan lain asalkan kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Tidak jarang mereka malah terang-terangan mau dijadikan simpanan demi bertahan hidup di kelas atas. Apa istriku akan sakit hati? Tanyakan saja pada dia." Kenzo menjawab santai tanpa beban.


Kailandra ingin menjawab, tapi niat itu diurungkan begitu dia melihat dari jauh, Kailani berjalan mendekati pintu rumah yang terbuka lebar dengan membawa cooler bag berisi ASI yang memang ingin diambilnya.


"Ini, Bang. Tolong sampaikan ke suster untuk melihat baik-baik waktu penyimpanannya." Kailani memberikan tas yang dibawanya pada Kailandra.


"Terimakasih. Sampaikan salamku pada Keiko, ya. Tolong diterima mainannya. Aku yakin, kamu orang yang sangat menghargai pemberian orang lain. Apalagi ini bukan untuk kamu. Jangan lihat mainan ini dari aku, tapi bayangkan wajah bahagia Keiko saat membuka dan memainkan lego ini." Sebelum menerima tas dari Kailani. Dia meletakkan dulu paper bag yang masing-masing berisi lego dan buah-buahan di atas meja.


Kailani tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pernyataan Kailandra. Setelah pria tersebut menerima tas pemberiannya, Kailani memilih untuk kembali masuk ke dalam dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat tanpa mengambil bingkisan dari Kailandra. Mendadak kepalanya benar-benar pusing.


Sampai tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda Kailani akan segera menemuinya. Padahal Kalvin sudah meminta tolong Kasri untuk menyampaikan pesan kalau dirinya masih setia menunggu di luar. Baru setelah dia selesai menumpang ke toilet, Kailani terlihat keluar dari kamarnya.


"Aku kira kamu sudah pulang, Vin," ucap Kailani begitu berpapasan dengan Kalvin saat dia menuju dapur yang melewati toilet tamu.


"Belum, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."

__ADS_1


"Kamu tunggu sebentar. Aku mau ambil minum dulu." Kailani menunjuk sofa di ruang tamunya. Kemudian dia melanjutkan langkahnya untuk mengambil air putih.


Tidak lama, Kalvin dan Kailani pun sudah saling duduk berhadapan. Sebelum memulai pembicaraan, Kalvin menata hatinya terlebih dahulu. Untuk memilah-milah mana yang lebih penting dibahas terlebih dahulu dengan Kailani.


"Kai, kita kan sama-sama pengangguran, nih. Gimana kalau kita buka usaha bareng saja. Begini ...." Kalvin mulai menjelaskan ide kerjasama yang ingin ditawarkannya pada Kailani.


Sementara Kailani dan Kalvin sibuk membahas bisnis bersama, di sisi lain Kailandra yang tadi setelah mengantarkan ASI untuk baby twins langsung mendatangi kantor polisi---memenuhi surat panggilan yang ditujukan padanya karena kasus KDRT, bertemu dengan Karina.


"Aku ingin menawarkan perdamaian, Kai, bagaimana? Cukup mudah jika kamu ingin Aku mencabut laporanku," sambut Karina tanpa basa basi begitu sosok yang sudah ditunggu-tunggunya keluar dari mobil dengan mengenakan kacamata hitam.


"Damai? Untuk apa? Aku lebih senang menghadapi masalah ini sampai akhir. Kita lihat seberapa jauh hukum bisa memberikan keadilan bagimu. Keadilan bagi perempuan yang berdiri seakan menjadi korban, tapi dialah penjahat sesungguhnya. Aku ikuti permainanmu, Karina. Jangan harap aku gentar. Tidak selamanya yang tampak disia-siakan dan teraniaya itu benar." Kailandra melenggang santai menuju bangunan utama yang menjadi tempat dirinya untuk diperiksa kesaksiannya sebagai terlapor.


"Jangan sombong Kailandra. Uang tidak selamanya bisa membeli keadilan seperti yang kamu harapkan. Apa pun alasannya, menampar seorang perempuan tetaplah salah. Kita lihat saja nanti," tantang Karina dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Dalam hati, nyali perempuan tersebut mulai sedikit menciut.


"Aku tidak perlu sombong. Buat apa? Tanpa aku perlu menunjukkan siapa aku, sudah rahasia umum jika aku ini terlalu tampan dan mapan."


Jelas ucapan Kailandra itu semakin membuat Karina kesal. Masih belum sepenuhnya terlepas dari pengaruh sesuatu yang diminumnya semalam. Perempuan itu melepas salah satu high heels yang dikenakannya dan melemparkan benda itu dengan dorongan yang begitu kuat ke arah Kailandra.

__ADS_1


Dan ....


__ADS_2