
Baru saja Kailandra melepas pengait brra yang dikenakan Kailani, pintu kamar terdengar diketuk dengan begitu kerasnya. Diikuti suara melengking Keiko memanggil dirinya dan juga Kailani secara bergantian.
"Ditunda dulu." Kailani buru-buru menurunkan tangan Kailandra yang menyusup ke dalam bajunya. Perempuan tersebut lalu merapikan kembali baju yang dikenakannya.
Sebelum kesabaran Keiko habis, Kailandra segera membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Kei? Kenapa tidak sabaran begitu? Mana boleh ketuk pintu dan teriak-teriak seperti itu? Siapa yang mengajari Kei?" cerocos Kailandra. Dia belum membuka pintu sepenuhnya, karena melihat baju Kailani masih belum rapi benar.
Keiko tidak menjawab satu pun pertanyaan sang ayah. Gadis cilik itu langsung menyodorkan secarik kertas yang semalam dijanjikan Kailandra akan diisi pagi ini setelah membicarakannya terlebih dahulu bersama Kailani.
"Ah, iya, Ayah lupa." Kailandra menerima dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri pria itu menepuk keningnya sendiri.
"Ada apa ini? Kei kenapa ketuk pintunya kok gak sabaran gitu?" Kali ini, Kailani yang muncul dan langsung mencecar Keiko. Perempuan tersebut membuka pintu lebih lebar dan meminta Keiko untuk masuk.
"Kei pernah lihat ayah ketuk pintu kayak tadi. Kata ayah biar cepet-cepet dibukain. Ini sudah setengah enam, bunda. Sebentar lagi harus sarapan. Tapi ayah belum ngisi formulir field trip Kei," jelas Keiko, santai tanpa keragu-raguan.
"Field trip?" Kailani bertanya seraya mengambil kertas yang ada di tangan Kailandra dengan gerakan cepat. Dia langsung membaca isi dari kertas tersebut dengan seksama.
"Kenapa tidak ngomong tadi malam sih?" sungut Kailani. Perempuan itu berjalan mendekati nakas. Dia lalu mengambil bolpoin yang ada di laci nakas dan langsung memakainya untuk mengisi data yang dibutuhkan oleh Keiko.
Kailandra dan Keiko saling bertukar pandang. Kedua bola mata mereka seperti sedang melakukan pembicaraan tanpa kata. Saling tunjuk untuk mengambil kertas field trip yang rupanya sudah selesai diisi.
Kailani menggeleng-gelengkan kepala melihat polah bapak dan anak itu. Beda umur begitu jauh, tidak membuat Kailandra sering mengalah. Apalagi untuk hal-hal konyol, jelas suaminya itu lebih dominan ingin memenangkan setiap perdebatan. Keiko pun tidak jauh berbeda. Bisa dikatakan, mereka adalah definisi like father like daughter yang sesungguhnya.
"Sudah bunda isi." Kailani mengulurkan kertas tersebut pada Keiko.
__ADS_1
Gadis cilik itu langsung menerimanya dengan semangat. Terlebih lagi ketika dia mengetahui siapa yang akan mengantar dirinya.
"Yeay, Kei sama bunda. Yeye sama bunda." Keiko menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan sambil mengangkat kertasnya tinggi-tinggi.
"Kok bunda?" Kailandra menyahut kertas tadi dan membaca sendiri isinya karena cukup kaget dengan keputusan yang diambil Kailani.
"Terus mau sama siapa? Kalau nggak salah, Yanda ada rapat direksi di hari keberangkatan Keiko. Jadi ya sama aku saja. Lagipula, baby twins juga bisa dibawa. Nanti aku hubungi miss Klaire. Minta schedule keberangkatan, mulai acara sekolahnya kapan dan mereka menginap di hotel apa. Jadi kita tinggal ngikutin saja. Selama field trip, baby twins bisa nunggu di hotel sama babysitter. Tidak mungkin acara Field trip lebih dari lima jam," tutur Kailani, begitu panjang lebar.
"Luar biasa! Bunda terbaik." Keiko meminta kembali kertas di tangan Kailandra. Setelah mendapatkannya, Keiko pun melenggang santai meninggalkan kamar.
"Eh, sampai kelupaan. Terimakasih Bun'ay." Sudah sampai di ambang pintu, Keiko membalikkan badannya dan baru mengatakan hal tersebut. Tidak lupa diakhiri dengan memberikan ciuman bibir jarak jauh yang bunyinya sungguh menggelikan.
Kailani mencebikkan bibirnya sembari menatap kesal ke arah Kailandra. "Itu jelas ajaranmu," sungutnya.
"Terus saja begitu. Yang jelek-jelek aku tersangkanya. Memangnya situ sebaik itu?" gumam Kailandra. Niatnya dengan suara pelan agar Kailani tidak mendengar. Nyatanya, Kailani bisa mendengar dengan jelas kata-kata barusan.
"Iya-iya.Ini masih pagi, Bun. Kita sudah gagal mengeluarkan desaah bersama, jangan ditambah lagi keresahan ini karena hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya. Tapi ngomong-ngomong, serius bunda berangkat ke malang sama anak-anak. Nggak nawarin ngajak aku gitu?" Kailandra menampilkan ekspresi wajah memelas.
"Rapat direksi, Yanda. Apa Yanda mau bolos rapat? Ingat siapa pemilik sahamnya."
Kailandra menggaruk kulit kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dulu Kailani tidak se dominan ini, tetapi mengapa setelah pernikahan rasanya hilang sudah taring Kailandra. Bukankah seharusnya dia bisa mengatur semua sesuka hati? Tetapi kenapa sekarang malah sering kali iya-iya saja saat berhadapan dengan Kailani?
"Bun, aku juga pengen ikut ke Malang. Di sana dingin loh, bund? Yakin cuman sama anak-anak saja. Rapat direksinya aku majuin, ya? Please! Bun'ay tega apa biarin aku sendirian di sini. Bun, sesama yatim piatu harusnya saling mengisi dan melengkapi. Hanya Bun'ay yang aku miliki."
__ADS_1
Kailani seketika menutup mulutnya dengan gesture layaknya orang yang ingin muntah. Ucapan, suara dan raut wajah Kailandra sungguh tidak sesuai dengan profil kepribadian pria itu sebelumnya.
"Mual, Nda. Coba Yanda ngaca sambil ngomong kayak tadi. Sumpah, nggak cocok sama sekali. Yanda nggak ada imut-imutnya. Malah jadi amit-amit. Yanda punya wibawa dikit napa. CEO kok melas gini." Kailani memencet hidung Kailandra dengan gemas.
"Bun," goda Kailandra sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Apa? Banbun-banbun. Sarapan dulu. Antar Kei sekolah sekalian berangkat kerja seperti biasa." Kailani mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda. Bersiap turun ke lantai satu untuk sarapan bersama dan menyiapkan bekal Keiko.
"Bun'ay nggak asik. Semalam godain, sekarang malah dianggurin." Kailandra berdecak kesal sambil mengikuti langkah Kailani.
"Masih ada lain waktu. Kalau lain waktu nggak ada, masih ada lain kali. Kalau lain kali nggak ada, masih ada kapan-kapan. Kalau kapan-kapan nggak ada, mungkin sudah saatnya Anda undur diri dan mengucapkan sekian terimakasih." Kailani mengatakannya sembari terus berjalan.
"Bun'ay!" Terlalu gemas, Kailandra langsung menggendong Kailani ala bridal style menuruni anak tangga. Dia sama sekali tidak peduli dengan cubitan bertubi-tubi dari Kailani yang menghujam lengannya.
Begitu sampai di lantai satu. Keduanya langsung disambut dengan bisik-bisik antara Kekeyi dan Katami. Jiwa jomblo mereka semakin tersesat melihat kemesraan over dosis dari Kailandra dan Kailani.
"aya ndong, yah ... ndong." Kanaya malah menangis menyaksikan hal itu. Dia memang kerap kali cemburu ketika melihat Kailandra berlaku mesra pada Kailani.
"Naka ndong, buna... Ndong buna." Kanaka pun tidak mau kalah dengan Kanaya.
Kailandra segera menurunkan Kailani. Karena tangan mungil Kanaya sudah bergelayut di kaki kanannya. Sedangkan Kanaka juga menarik-narik bajunya agar segera menurunkan bundanya.
"Yakin masih mau nambah anak lagi?" Kailani berbisik manja sebelum kakinya menginjak tanah.
__ADS_1
Sementara Keiko dengan santai berkata, "Soo sweet nya. pagi-pagi lihat Oppa Kim gendong Mpok Soimah."
"Keiiiiiiii!" teriak Kailani dan malah disambut tawa pecah Kailandra.