
"Rumah ini memang bukan rumahku. Tapi ada anakku yang berada di sini. Jangan sampai anakku bertanya-tanya kenapa kalian sering datang kemari," sahut Kenzo dengan cepat.
"Dan jangan terus menerus menyembunyikan tujuanmu yang sebenarnya dengan menggunakan Keiko sebagai tameng," timpal Kalvin tidak mau kalah.
Kailani yang mendengar keributan di dalam rumahnya langsung keluar kamar. Perempuan tersebut menggandeng tangan Keiko yang tampak segar karena baru saja selesai mandi keramas.
"Aku dan Keiko mau keluar sebentar mencari sesuatu," pamit Kailani.
"Mau Aku antar?" Kalvin dan Kenzo mengatakannya hampir secara bersamaan.
"Tidak! Kami ingin jalan kaki," tolak Kailani.
Baik Kenzo maupun Kalvin tidak memaksa lagi. Sementara Kailandra langsung keluar dari kamar yang sedang ditatanya. Pria tersebut berniat mengambil sesuatu di dalam mobil. Sementara Kailani dan Keiko memang berjalan kaki meninggalkan halaman rumah. Keduanya ingin belanja di supermarket yang ada di seberang perumahan.
"Sampai kapan kamu menyembunyikan kenyataan tentang Keiko, Ken? Bukankah dulu kamu tidak mengharapkan Keiko?" tanya Kalvin begitu dia dan Kenzo sudah duduk berdua di ruang keluarga Kailani.
"Kenyataan apa? Apa maksudmu?" Kenzo terlihat bingung.
"Jangan pura-pura tidak tau dan tidak merasa, Ken. Keiko bukan anak kandungmu. Kenapa kamu malah seakan ingin menguasainya?"
Kenzo menatap Kalvin penuh selidik. "Itu tidak benar. Keiko anakku."
__ADS_1
Kalvin tersenyum sinis. Terlepas dari apa pun yang menjadi pertimbangan Kenzo menyembunyikan hal tersebut, baginya apa yang dilakukan pria itu sangat tidak adil untuk Kailani. Masalah seperti ini, akan lebih baik segera dibicarakan. Kenyataan sepahit apapun, akan lebih baik bagi semua orang. Terutama bagi Keiko.
"Cepat atau lambat, semua pasti akan terbongkar, Ken. Lebih baik kamu jujur sekarang, daripada Kailani tau dari orang lain, dan dia pasti akan kecewa sama kamu. Kamu yang mengakui dan mencintai sepenuh hati, bisa jadi harus mengakui kekalahan karena naluri dari seseorang yang memiliki keterikatan hubungan darah."
Kenzo menggeleng kuat. "Tidak! Keiko tetap anakku sampai kapan pun," tegasnya.
"Sekarang aku jadi mempertanyakan ketulusan kasih sayangmu pada Keiko. Melihatmu seegois ini, aku merasa ini bukanlah perasaan kasih sayang seorang ayah pada putrinya. Tapi lebih pada karena kamu ingin mengikat Kailani dengan menggunakan Keiko," sindir Kalvin.
"Cukup, Vin! Kita sudahi omong kosong ini sampai di sini. Jangan sampai ada orang lain yang mendengar dan menyimpulkan apa yang menjadi tuduhanmu itu benar adanya. Secara hukum negara atau apa pun, Keiko tetap anakku."
"Tidak, Ken. Karena Aku terlanjur tau kebenarannya, Aku jadi ikut andil untuk meluruskan masalah ini. Katakan yang sebenarnya. Aku yakin Kailani lebih akan menghargaimu. Dan Keiko juga pasti tidak akan pernah berubah sikapnya terhadapmu," saran Kalvin.
Tanpa disadari keduanya, Kailandra yang sudah lumayan lama mendengar pembicaraan mereka tidak kuasa lagi menahan diri. Semakin bulat tekad pria tersebut untuk melakukan tes DNA terhadap Keiko.
Suara Kailandra sontak membuat Kenzo beranjak berdiri dengan raut wajah memerah. Antara marah dan kesal bercampur aduk menjadi satu. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kalvin. Tentu saja dia ingin melampiaskan amarahnya. Karena Kalvin---pembicaraan ini ada dan terdengar oleh Kailandra.
"Semua karena kamu, Vin. Apa yang ingin kamu kejar sebenarnya. Kamu ingin mendekati Kailani dengan cara mengungkap semua? Jangan mimpi!" tegas Kenzo.
"Jika kamu tidak menginginkan tes DNA, maka jujurlah, Ken. Kamu bukan ayah biologis Keiko, bukan? Aku hanya butuh jawaban tidakmu," tekan Kailandra.
Kalvin memilih untuk diam. Dia tidak ingin ikut menanggapi perdebatan antara Kailandra dan juga Kenzo. Sadar diri, dia hanyalah orang luar untuk masalah sensitif yang sedang dibicarakan. Tujuan awalnya hanya ingin mengajak Kenzo untuk berani mengatakan kebenaran pada Kailani. Jika sekarang Kailandra pun mendengar, mungkin akan lebih baik untuk ke depannya bagi semua pihak yang terlibat. Bagi Kalvin, Kailani sangat berhak bahagia.
__ADS_1
"Mari kita buat sebuah kesepakatan sederhana," ucap Kenzo pada akhirnya.
Kailandra memberikan tatapan tajam pada Kenzo. "Seorang anak kamu buat kesepakatan? Manusia macam apa kamu, Ken?"
"Aku menyayangi Keiko lebih dari apa pun. Kehadiran Keiko menyadarkan Aku betapa seharusnya Aku tidak melepaskan Kailani begitu saja."
"Demi alasan apa pun juga, kamu tidak boleh menghilangkan asal usul Keiko yang sebenarnya, Ken. Kailani mungkin menutup mata karena keadaan memaksa dia untuk menerima segalanya tanpa sempat bisa protes," tukas Kailandra.
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku. Sudah begitu lama Aku ingin memperbaiki keadaan dan hubungan dengannya," ucap Kenzo. Kali ini dengan nada yang agak landai.
"Maka berikanlah kejujuran, Ken. Aku dan kamu, sama-sama mempunyai dosa masa lalu untuk Kailani. Apa yang kita harapkan sekarang? Jangan bilang kamu ingin bersama dia. Jangan serakah, Ken. Istrimu saja sudah mau melahirkan. Biarkan Kailani memulai hidup baru denganku. Ada anak-anak yang mengikat hubungan kami. Dan satu hal yang harus kamu tahu, kami berpisah sama sekali bukan karena keinginanku. Jika sampai benar Keiko adalah anakku, dalam hal ini yang bersalah adalah Kailani. Tidak seharusnya dia membuang ayah dari bayi yang dikandungnya." Kailandra begitu cepat menanggapi ucapan Kenzo.
"Cukup! Aku ingin bicara empat mata denganmu, Kai. Tidak di sini." Sudah merasa terdesak, Kenzo akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap.
"Tidak sekarang, Ken. Baby twins kami akan tinggal di sini mulai malam ini. Aku harus membuat semua nyaman berada di sini. Terlebih lagi Keiko. Aku tidak mau Keiko merasa terabaikan karena kehadiran adik-adiknya."
Kalvin masih bertahan dengan diamnya. Kali ini memang karena dia sudah tidak tahu harus berkata apa. Menengahi sudah tidak perlu lagi. Karena rupanya kedua pria tersebut sudah membuka jalan untuk mendapatkan kesepakatan.
"Biar Aku bantu beresin kamar tadi, Kai. Kalau kalian mau bicara, bicara saja. Aku tidak akan mencuri dengar. Tapi sebaiknya kalian bicara di depan supaya kalau Kailani dan Keiko datang, kalian bisa tau," Kalvin pada akhirnya mengeluarkan suaranya.
Kailandra menganggukkan kepala tanda setuju pada tawaran Kalvin. Setelah memastikan pria itu sudah masuk ke kamar kecil yang akan menjadi tempat baru Keiko, Kailandra dan Kenzo berpindah ke bangku anyaman rotan di beranda depan. Dari sana mereka bisa berbicara dengan leluasa.
__ADS_1
"Aku harap, apa pun yang akan aku katakan nanti tidak akan mengubah banyak hal. Terutama yang berhubungan dengan hubungan antara aku, Keiko dan Kailani," harap Kenzo.
"Langsung saja, Ken. Jangan banyak basa basi."