
Di luar dugaan Kailani, Kailandra ternyata benar-benar memejamkan matanya. Entah itu hanya pura-pura atau memang tidur sungguhan. Yang pasti, Kailandra tidak menunjukkan reaksi apa pun lagi meski Kailani memeluk dirinya seperti guling. Hingga menjelang waktu subuh, Kailandra masih tertidur pulas. Tidak seperti biasanya, di mana pria tersebut selalu meminta bonus tambahan sebelum melakukan mandi wajib.
Kailani mulai mengalami dilema. Pasalnya, dia sudah terlanjur memberikan ijin pada Kalvin untuk menjemput seusai sholat subuh nanti. Namun, melihat sikap Kailandra saat ini, jelas memberikan kebimbangan yang luar biasa di benaknya.
"Yanda ... sudah mau subuh." Kailani dengan hati-hati menyentuh pundak Kailandra. Tidak mendapatkan jawaban, perempuan tersebut pun mendekatkan bibirnya pada daun telinga sang suami. "Yanda, sholat, yuk!" bisiknya.
Kailandra hanya sedikit mengeliat. Tetapi mata pria tersebut masih terpejam dengan sempurna. Sungguh diluar kebiasaan. Sebelum-sebelumnya, jangankan sampai Kailani menyentuh dan berbisik seperti sekarang, Kailani beranjak turun duluan dari ranjang pun Kailandra sudah terbangun.
Kailani pun memutuskan untuk mandi dan bersiap terlebih dahulu. Seusai itu, sembari menunggu waktu sholat subuh tiba, dia mengirimkan pesan pada Kalvin. Meski sangat mencintai pekerjaannya, meninggalkan rumah dalam kondisi berselisih paham dengan sang suami---tentu tidak bisa dia lakukan.
"Yanda ... sudah adzan loh. Ayo kita sholat! Aku tidak jadi ke Bandung." Kailani kembali mendekati Kailandra. Duduk di sisi ranjang yang kosong di samping pria itu persis, lalu memberikan sedikit guncangan di bagian pinggul suaminya itu.
Kailandra yang sebenarnya sudah terbangun sebelum Kailani turun dari tempat tidur, memilih tetap bertahan diam. Meski dalam hati dia tengah tersenyum penuh kemenangan, tetapi Kailandra masih ingin menjaga gengsinya di depan sang istri. Jangan sampai Kailani beranggapan dia bersikap acuh dari semalam hanya karena tidak setuju dengan rencana kepergian Kailani bersama Kalvin ke Bandung. Lebih dari itu, Kailandra masih belum puas dengan jawaban Kailani tentang obat yang disembunyikan dan diminum secara diam-diam oleh perempuan yang telah melahirkan tiga orang anak untuknya tersebut.
Kailani yang merasa usahanya untuk membangunkan Kailandra belum membuahkan hasil, memilih keluar kamar untuk mencari bala bantuan. Dia yakin, Keiko pasti bisa membuat Kailandra terbangun dengan sangat mudah dan cepat. Bukannya tidak tahu suaminya itu sebenarnya sudah terjaga, tetapi Kailani memilih untuk mengikuti saja permainan sang suami. Cukup menjadi pelajaran bagi dirinya, ketika sudah dilanda cemburu---tetap saja sifat kekanak-kanakkan Kailandra yang dominan muncul.
Dugaan Kailani begitu tepat. Baru saja Keiko naik ke atas ranjang dan mengeluarkan satu kata, Kailandra langsung membuka bola matanya dan mengambil posisi duduk. Bahkan dia sempat melemparkan senyuman yang begitu manis pada Keiko. Namun, begitu melihat Kailani masuk kembali ke kamar, Kailandra pura-pura memasang wajah mengantuk dan juga malas.
"Kei, bilang ayah cepet-cepet mandi. Di masjid sudah adzan. Nanti kita telat sholat subuhnya. Yanda kalau mandi suka lama," ucap Kailani pada Keiko. Padahal Kailandra pasti juga bisa mendengar dengan jelas ucapannya itu.
__ADS_1
"Kei, tolong bilang sama bunda, ayah mandinya kali ini tidak lama-lama." Sebelum melangkahkan kaki ke kamar mandi, Kailandra menyempatkan ekor matanya melirik ke arah Kailani yang tengah menatapnya dengan kesal. "Dasar perempuan. Dia yang salah, dia yang mulai, dia pula yang pastinya akan marah. Lihat saja nanti," umpat Kailandra dalam hati.
"Hufttt ... ayah-bunda membuat Kei pusing," seloroh bocah cilik itu sembari turun kembali dari ranjang. Lalu dengan bibir manyun Keiko segera meninggalkan kamar.
Kailani segera menyusul Keiko yang pastinya menuju musholla dimana seluruh penghuni rumah biasa melakukan sholat secara berjamaah. Selain Kailandra, semua sudah berada di tempat tersebut kecuali Kanaka dan Kanaya yang memang belum waktunya untuk dibiasakan bangun sepagi itu. Kailani mempunyai patokan tersendiri---kapan waktu yang tepat untuk mulai mengajak baby twins belajar memahami ibadah atau pun ilmu agama.
Begitu Kailandra datang. Sholat subuh pun segera dilaksanakan. Tidak sampai tiga puluh menit, kewajiban pagi sebelum matahari terbit itu pun usai. Ada yang langsung memulai rutinitas pekerjaannya, ada yang kembali ke kamar terlebih dahulu, dan ada pula yang langsung meminta dibuatkan makanan karena sudah lapar sebelum waktu sarapan tiba. Siapa lagi kalau bukan Keiko orangnya.
Menduga Kailani sedang membuatkan makanan untuk Keiko, Kailandra bergegas kembali ke kamarnya. Pria tersebut langsung mengambil obat yang tersembunyi di laci CD sang istri. Dengan menggunakan benda pipih bertekhnologi tinggi miliknya, Kailandra segera mencari tahu tentang obat tersebut dari aplikasi perambah. Tidak sampai hitungan detik lima jari, muncullah berbagai pilihan artikel berisi informasi tentang obat yang dicarinya.
Lebih dari empat artikel Kailandra baca untuk meyakinkan diri bahwa informasi yang dicarinya tidaklah salah. Namun, meski dengan penjelasan berbeda, tetaplah inti yang dijelaskan untuk kegunaan, dosis dan cara minum obat tersebut sama. Kailandra menarik napas begitu berat. Rahangnya terasa semakin kaku. Bola matanya memerah dan berkaca-kaca---menahan marah, kecewa dan juga sedih.
"Apa maksudmu membohongiku, Kai? Kalau kamu tidak ingin punya anak lagi dariku kamu bisa bicara baik-baik. Kenapa harus bohong? Apa aku pernah memaksamu untuk punya anak? Tidak, kan? Aku memang ingin kamu kembali hamil. Tapi aku juga tidak pernah mengejarmu terus-terusan untuk memiliki lagi dengan segera. Kenapa, Kai?" Kailandra melemparkan kemasan obat beserta isinya ke arah pintu.
Kailani yang masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi, hanya bisa terdiam. Tangannya sedikit gemetaran. Sudah tidak mungkin lagi dia menutupi apa yang menjadi alasannya mengkonsumsi obat pencegahan kehamilan pada sang suami. Tetapi berkata jujur pun dia takut malah akan membuat Kailandra berpikir yang tidak-tidak padanya.
"Aku sedang bicara padamu, Kai!" Nada bicara Kailandra sedikit meninggi. Jika panggilan sudah beralih ke nama, itu berarti kemarahan Kailandra sedang memuncak. Sepanjang pernikahan, baru kali ini Kailani mendapati suaminya semarah itu padanya.
"Maafkan aku. Seperti yang pernah Yanda katakan. Aku masih berhak atas badanku sendiri, bukan? Untuk saat ini, aku memang tidak ingin hamil. Aku ingin fokus pada anak-anak dan kita. Jujur, aku merasa kita juga butuh waktu berdua lebih banyak untuk memulihkan perasaan cinta kita sepenuhnya. Maaf, Yanda. Aku trauma pada kehamilan. Karena disetiap kehamilan, hal besar datang membawa kerumitan. Aku takut, saat Aku hamil nanti, Yanda malah meninggalkanku entah dengan alasan atau jalan apa pun sebagai pemicunya."
__ADS_1
Kailandra meraup wajahnya dengan kasar. Bulir bening tidak terasa menetes di pipinya. Tadinya dia ingin marah, rasa kecewanya juga luar biasa. Namun, melihat kesedihan yang begitu dalam pada sorot mata Kailani, dia malah merasa bersalah. Seharusnya dia tidak perlu mempermasalahkan hal ini, toh sudah ada tiga anak yang mereka miliki. Dan lagi, segala rasa yang membekas pada Kailani, jelas sebagian besar ada campur tangannya. Hinaan Dan caciannya dulu tentu belum sepenuhnya sembuh. Kailani boleh sudah bercinta luar biasa dengannya, tetapi masalah anak, jelas hal yang jauh berbeda.
"Maafkan aku, Bun'ay. Maaf kalau aku selalu gegabah dan pemarah." Kailandra merengkuh tubuh Kailani ke dalam pelukannya. "Maaf Aku lupa diri. Maaf Aku juga sudah terlalu tinggi menaruh harapanku pada hati yang seharusnya masih perlu aku sembuhkan."
"Aku yang minta maaf, Yanda. Aku hanyalah seorang yang munafik---menikmati dan begitu senang bercinta, tapi nyatanya ada luka yang masih tersisa. Serendah inilah aku, mengumbar napsu dan memendam sakit hati pada orang yang sama." Kailani mengatakannya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tidak, Bun'ay! Jangan katakan itu. Aku ngerti, kok. Waktu kita masih panjang. Aku punya waktu seumur hidup untuk mengusahakan yang terbaik agar sakit hati Bun'ay sepenuhnya menghilang." Kailandra mengecup kening Kailani di penghujung kalimatnya.
Kailani tersenyum tipis. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan apa dan yang sebenarnya. Tetapi melihat kemarahan Kailandra, dia merasa akan semakin berdosa jika menutupi semua lebih lama.
"Bun, boleh Aku tanya sesuatu?" tanya Kailandra dengan hati-hati dan dijawab anggukan kepala pelan oleh Kailani.
"Jadi selama ini, jika Bun'ay bercinta dengan aku, Bun'ay hanya pura-pura menikmatinya? Apa itu hanya karena kewajiban?" Kailandra semakin berhati-hati saat menanyakannya.
"Awalnya memang karena kewajiban. Tapi bohong kalau aku tidak benar-benar menikmatinya. Aku ini masih perempuan normal. Butuh sentuhan dan juga dipuaskan. Ingat, Yanda Aku perempuan biasa. Dimana perempuan bisa memendam cinta, benci, amarah dan juga kecewa di hati yang sama. Kami makhluk yang mudah sekali memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan. Saat bercinta aku lupa, tidak jarang sesudahnya aku malah ingat bagaimana dulu kamu pernah memperlakukanku."
Penuturan Kailani yang lembut tetapi menyuratkan makna yang begitu jelas, membuat Kailandra menarik senyuman hangat di kedua ujung bibirnya. "Aku akan membuatmu lupa dengan kata-kata kasarku. Setiap saat, hanya kata-kata dan juga sikap manis yang akan aku berikan. Kamu akan menjadi ratu di sini, Bund."
Kailani memencet hidung Kailandra dengan gemas. "Gombal ... Kata-kata bikin mual, Nda. Aku bukan abege yang bisa terklepek-klepek sama rayuan seperti itu. Sudah nggak mempan."
__ADS_1
"Kalau begitu, tidak usah rayuan. Langsung begini saja." Kailandra langsung menyesap bibir Kailani dengan tidak sabar. Tawaran sang istri yang semalam disia-siakan, harus dibayar tuntas pagi ini.