Bukan Surrogate Mother

Bukan Surrogate Mother
Bonus Chapter after last 2


__ADS_3

Kailandra hanya bisa pasrah ketika istri dan anak-anaknya berpamitan berangkat ke Malang. Kailani benar-benar tidak mengijinkan dirinya untuk memundurkan jadwal rapat direksi. Padahal segala rayuan sudah dikeluarkan, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menggoyahkan pendirian Kailani.


"Baik-baik di rumah sendirian, ya. Sampai ketemu hari jumat." Kailani berbisik mesra setelah mencium punggung tangan suaminya.


"Kenapa bisa ? Field trip cuman sampai rabu, Bun'ay. Kamis ini kita sudah melewatkan sunnah begitu saja. Jangan sampai kamis depan satu sunnah tidak kita jalankan lagi," kesal Kailandra mencari-cari alasan.


"Kan sudah pernah dibilang. Pernikahan kita tidak ada rencana berakhir, kan? Kebersamaan kita masih lama dan panjang. Ribuan kamis masih akan kita lewati. Jangan terlalu drama. Jakarta-Malang hanya menghabiskan waktu tidak sampai dua jam. Kayak mau ditinggal jihad saja. Tapi kau jangan nakalllll, aku pasti kembali." Diujung kalimatnya, Kailani mengatakannya persis dengan nada sebuah lagu.


"Kei, kalau kangen ayah bilang, ya, nanti ayah pasti nyusul." Merasa sudah tidak mungkin lagi menggoyahkan pendirian Kailani didetik-detik terakhir, Keiko beralih pada Keiko.


"Insya Allah, Yah, biasanya kalau sudah sama teman-teman, agak terlupakan rasa-rasa yang lain."


Kailandra mencebikkan bibirnya begitu mendengar jawaban Keiko barusan. Tumben sekali putri sulungnya itu tidak sepemikiran dengannya. Padahal, tawaran gadget terbaru sudah dia berikan---Keiko tetap teguh pendirian tidak bisa membantunya membujuk Kailani.


Mobil yang ditumpangi Kailani dan anak-anak juga babysitter perlahan menjauh dari halaman rumah mereka. Meninggalkan Kailandra yang hanya bisa memandangi pergerakan mobil tersebut dengan tatapan memelas bercampur kesal.


Kailandra lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dia pun hendak berangkat ke kantor. Memulai kegiatan meeting pertama yang akan dilakukan berturut-turut hingga kamis mendatang.


"Tidak, aku tidak boleh gelisah sendirian. Enak saja. Kailani juga tidak boleh tenang-tenang saja. Ini pertama kali kami berjauhan setelah menikah. Tidak akan aku jadikan kebiasaan. Pokoknya, Kailani akan menyesal. Dia tidak akan mau lagi jauh-jauh dari aku." Kailandra berseringai licik. Beberapa rencana tersusun di pikirannya secara tiba-tiba.


Tidak membuang waktu. Dia pun mengambil telepon genggamnya dengan tangan kiri. Sementara tangan satunya masih fokus mengendalikan kemudi. Setelah itu, dia memencet angka satu di mana jika anda tersebut ditekan, nomor Kailanilah yang secara otomatis dihubungi. Earphone pun segera dipasang.

__ADS_1


"Sudah sampai mana? Kanaka dan Kanaya bagaimana? Mereka nggak rewel, kan? Ini pengalaman penerbangan mereka pertama kali. Jangan lupa pasang headphone ke mereka, Bun'ay." cecar Kailandra begitu mengetahui panggilannya sudah diterima oleh si pemilik nomor yang dituju.


Embusan napas Kailani terdengar jelas melalui earphone Kailandra. Sudah bisa dibayangkan wajah kesal istrinya itu saat ini.


"Yanda, ini masih ada sepuluh menit keluar dari rumah. Sampai bandara juga belum. Please, deh. Kanaya dan Kanaka pergi sama aku. Mereka jelas tidak akan kenapa-napa. Oke? Sudah, Yanda sedang mengemudi jangan sambil teleponan." Kailani langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Kailandra tersenyum puas. Lalu dia memasang pengingat waktu di ponselnya setiap sepuluh menit sekali. Tidak hanya itu, dia pun mengirim pesan berupa tulisan pada Kailani. Menitipkan pesan-pesan yang kurang lebih sama dengan apa yang diucapkan melalui sambungan telepon tadi.


Kailani membuka dan membaca pesan Kailandra sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalah Keiko kalau sudah begini. Ngeselin banget," umpatnya dalam hati.


****


"Bun'ay, Naya-Naka nggak rewel, kan? Aku kok nggak tenang. Dari tadi kayak kepikiran mereka terus." Kailandra lagi-lagi langsung memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum Kailani memberikan sapaan.


"Astaghfirullah, Kailandra Maholtra." Kailani sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya itulah yang bisa keluar dari mulutnya.


"Kalau Naka sama Naya rewel, kabari aku bun'ay." Kali ini Kailandra yang memutuskan sambungan teelpon sembari melemparkan senyuman penuh kemenangan.


Sementara itu, Kailani yang mulai jengah langsung mengambil langkah blokir nomor. Tentu saja hanya untuk sementara. Dia yakin, setelah ini, ponsel Keiko yang akan berdering. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dia pun mematikan sekalian ponsel Keiko.


"Aman," gumam Kailani.

__ADS_1


Diluar dugaan Kailani, beberapa menit kemudian, telepon genggam Kekeyilah yang dihubungi. Tidak seperti saat menghubunginya yang hanya menggunakan panggilan suara. Kali ini, suaminya itu melakukan panggilan video. Jelas terdengar di telinganya, Kailandra ingin Kekeyi mengarahkan gambar pada Naya, Nakal dan juga Keiko saja.


"Modus lama. Dikira aku bakalan kesel apa," dengan Kailani sembari memalingkan wajahnya ke sisi luar jendela kaca mobil.


Kailandra yang sebenarnya kesal karena Kailani sudah berani mrmblokir nomornya, mencoba menahan diri. Kali ini, strateginya harus berhasil. Jangan sampai semboyan dari seseorang yang mengatakan perempuan bisa buat laki-laku bodoh menjadi benar adanya.


Sesampainya di kantor, Kailandra langsung meminta asisten pribadi dan juga sekretarisnya menemuinya ke ruangan. Dia hanya ingin memastikan jadwal meeting kali ini tidak boleh mundur. Bahkan Kailandra meminta jatah meeting yang seharusnya empat hari, dipangkas menjadi tiga hari dengan jadwal yang dipadatkan.


"Saya percaya kalian bisa mengaturnya. Koordinasi dengan sekretaris direktur-direktur yang lain. Tidak masalah pulang pagi. Yang penting kamis subuh saya sudah harus ada di Malang," tekan Kailandra.


Sang sekretaris dan asisten pribadi itu hanya bisa saling menukar pandang. Bagaimana bisa mereka mengatur kembali jadwal yang sudah dibuat matang-matang bersama pihak lain, mendadak harus diubah seenak kehendak Kailandra. Sungguh sebuah tugas yang sulit. Diabaikan tidak mungkin, dikerjakan juga sangatlah berat.


"Jangan bengong di ruangan ku, sana kalau bengong kalian di luar saja. Dan satu hal lagi, jangan temui saya sebelum kalian berhasil mengubah schedule sesuai dengan yang saya minta."


Kedua orang bawahan langsung Kailandra itu seketika meninggalkan ruangan atasannya tersebut. Tentu dengan pikiran dan beban yang berat. Keduanya langsung menghubungi sekretaris direktur-direktur lain untuk mengadakan meeting dadakan. Bagaimanapun, Kailandra adalah direktur utama yang mengendalikan penuh perusahaan, mau sekeberatan apa pun direktur-direktur yang lain, tentu tetap akan mengikuti saja apa yang diminta Kailandra.


****


Beberapa jam berlalu, Kailani dan rombongan juga sudah berada di hotel tempat mereka akan menginap selama di Malang. Karena sampai lebih dulu, mereka tentu masih menunggu kehadiran rombongan teman-teman Keiko beserta guru yang masih beberapa jam lagi akan sampai. Karena hal itulah field trip baru akan dimulai besok. Hari ini, acara masih bebas bersama keluarga masing-masing.


"Bu, ini bapak, katanya ...." Kekeyi memberikan ponselnya pada Kailani. Dia tampak ragu-ragu ingin meneruskan ucapan Kailandra ataukah tidak.

__ADS_1


__ADS_2