Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 17 - Terlalu Banyak Pertanyaan


__ADS_3

Arzi benar-benar membantuku dengan cepat. Esok harinya, melalui telpon, ia memberitahuku soal rumah sakit di Balikpapan yang siap memeriksaku dengan peralatan yang cukup.


"Gimana? Kamu maunya kapan ke sana?" tanya Arzi setengah mendesak.


"Aku info ke Hans dulu ya Pak. Nanti kalo udah oke, minggu ini juga kita berangkat," jawabku lugas.


"Bagus juga seperti itu. Saya setuju aja."


"Kebetulan ada Hans ini... aku ngomong sama dia dulu ya, Pak."


"Oke... Eh tapi tunggu dulu In!"


"Kenapa, Pak?" tanyaku bingung.


"Whatever your boss said, just think about yourself first. Kerjaan gak bakal pernah selesai kalo kamu turuti."


"I will, Pak. I will."


Tanganku meletakkan gagang telepon sambil tersenyum. Lelaki ini manis sekali. Dia seperti sahabat dan kakak sekaligus padaku.


"What's wrong, Inka? Who calls?" Pertanyaan itu membuat aku menoleh. Hans tampak memperhatikanku. Aku tersenyum padanya. Ini kesempatanku bicara.


"My friend, Pak."


"Anything happens?" tanya Hans sambil berdiri dari kursi di depan meja gambarnya. Menatapku sepenuhnya. Sesibuk apapun boss-ku ini bekerja, ketika kami bicara, ia akan berhenti menggambar.


"I need your permission, Pak. I have to do some medical check-up in Balikpapan. Soon. Only one or two days. So... " (Aku perlu izinmu, Pak. Aku harus melakukan MCU di Balikpapan. Secepatnya. Hanya 1-2 hari. Jadi... )


"Yes, of course. You can go if you like. Just make a plane booking, days off requests and I'll approve all." (Tentu aja. Pergilah kalo kamu mau. Buat saja booking pesawat, permintaan hari libur dan saya akan menyetujui semuanya)


Tanganku melambai di depan wajahku, menolaknya. "No, Pak. I'll use a car." (Enggak, Pak. Aku akan pakai mobil)


"You drive? No, no, no! I don't want you driving for more than 1 hour." (Kamu nyetir? Enggak, enggak. Aku gak mau kamu nyetir lebih dari sejam)


Tentu saja tidak. Aku masih jauh dari kata ahli mengemudi. "No, Sir. I'll use a bus... " (Enggak, aku pake bis.)

__ADS_1


"No, Inka. I will give you permission if you use a plane. Not a car or a bus," kata Hans tegas. (Enggak boleh, Inka. Saya akan kasih kamu izin kalo kamu pake pesawat. Bukan mobil atau bis)


Aku terdiam. Hans memang sangat protektif. Kalau sudah begini, aku hanya bisa mengalah. Mungkin nanti aku dan Arzi bisa bertemu di Balikpapan saja. Karena itu aku pun mengangguk setuju.


Sebelum itu, aku menghubungi Arzi dulu. Mengonfirmasi perubahan rencana.


"Ya udah, booking aja! Entar saya juga order kok."


"Boleh emang?" tanyaku tak yakin. Hanya beberapa orang yang memiliki fasilitas pemakaian pesawat. Aku terbilang istimewa karena Hans memperlakukanku bagai putrinya sendiri. Kalau tidak, tak mungkin sekretaris biasa sepertiku bisa naik turun pesawat Casa seperti sekarang.


"Iya, kamu order tanggal berapa. Pagi atau siang?" tanya Arzi. Aku memberitahu tanggal berangkat dan kembali. Setelah itu, telepon kami berakhir. Aku tersenyum senang akhirnya rencana kami bisa sejalan.


"Is he your boyfriend now, Little Lady?" tanya Hans yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang.


Aku berbalik cepat. Melihat tanda tanya di tatapan Hans. Ia tahu, aku tak sedang menelpon Andra. Ia juga tahu Andra sedang tak ada di Sangatta.


"He is my friend, Pak. Someone I knew when we started the Mosque maintenance. Remember? The tall guy with clear eyes. Always smile and very kind." Aku ingat Hans sudah pernah ke Mesjid dan pernah mengatakan kalau ia sudah bertemu Arzi. (Dia temanku, Pak. Seseorang yang aku kenal waktu kita mulai maintenance mesjid, ingat? Pria jangkung dengan mata jernih. Selalu tersenyum dan sangat ramah)


"O yess, Mr. Arzi!! Yes, course I know. But... Your boyfriend... "


"Andra is my boyfriend. Still. And Mr. Arzi is only a friend. Different titles." [Andra adalah pacarku. Masih. Dan Pak Arzi hanyalah seorang teman. Beda posisi.]


Aku tertawa. Memahami maksud Hans. "I learnt from the pro, Pak!" (Aku belajar dari ahlinya, Pak)


Cobalah memiliki seorang Papa yang memiliki istri lebih dari satu, dan berada di antara orang-orang seperti Hans dan Guruh yang terkenal flamboyan pada perempuan, semua orang akan mengerti apa maksudku. Aku tersenyum puas melihat ekspresi Hans setelah aku selesai mengatakannya.


Ia tertawa terbahak-bahak dan mengangguk-angguk.


"Mr. Arzi knew some doctors, Pak. That's why I asked for his help. He quite understood what should I prepare for MCU. Just that," kataku menjelaskan kemudian. (Mr. Arzi kenal beberapa dokter, Pak. Itu sebabnya aku minta bantuannya. Ia cukup ngerti apa yang harus kusiapkan untuk MCU)


Sepertinya Hans memahami maksudku. "Ooh, ok, ok. I know. I know." Ia berpaling tapi sedetik kemudian kembali menoleh menatapku. "As I know, you have a doctor friend, right? Mr... Akh, I forgot his name. Why don't you ask his help?" (Setahu saya, kamu punya teman seorang dokter bukan? Ah, saya lupa namanya. Kenapa gak minta tolong sama dia?)


Aku menggeleng sembari menghela napas prihatin. "You know I hate everything that connected to my past. He was the one. I don't even want to see him." (Anda tahu aku benci semua yang berhubungan dengan masa laluku, Dia salah satunya. Aku bahkan tak ingin melihatnya)


Kembali Hans mengangguk-angguk. Setelah itu, barulah ia benar-benar kembali ke meja kerjanya sendiri. Punya boss seperti orangtua ternyata ada efek negatifnya juga. Aku bahkan tak bisa menyembunyikan isi hatiku di hadapannya. Itu sebabnya aku lebih suka jujur padanya. Kalau tidak bisa seharian Hans menginterogasiku.

__ADS_1


Setelah selesai mengurus rencanaku, aku berpikir untuk menelpon Arzi lagi. Tapi kupikir lebih baik nanti malam saja aku langsung ke tempat tinggalnya. Lagipula aku penasaran ingin melihat tempat tinggalnya. Arzi sudah melakukan banyak hal untukku. Jadi...


"Inka, kamu ke Balikpapan bareng Mas Arzi ya?"


Aku mendongak. Melihat Ratih yang berdiri di depanku. Aku tak bisa memahami raut wajahnya saat ini karena ia tampak biasa-biasa saja. Tapi aku bisa merasakan nada cemburu terdengar dalam suaranya.


Aku mengangguk. "Dia kebetulan kenal beberapa dokter di Balikpapan, Mbak. Saat kami ngobrol, ya akhirnya dia nawarin bantu aku ketemu dokter buat MCU. Ya udah aku terima aja. Males repot."


Wajah Ratih tak berubah sedratis dugaanku. Ia hanya terlihat ... agak sedih.


"Habis gimana, Mbak? Kalo pacar aku ada ya aku mungkin nyarinya sama dia. Tapi pacarku juga lagi sibuk," kilahku.


Selesai aku mengatakannya, barulah ada senyum terlihat di wajah Mbak Ratih. Syukurlah. Setidaknya ia menerima alasanku.


"Jadi kamu udah jadian sama Andra, In?" tanya Ratih setengah tak percaya. Aku hanya menjawab dengan anggukan.


Ratih duduk di kursi depanku. Mulai bertanya-tanya tentang Andra. Kapan kami jadian? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Bagaimana peristiwanya?


Aku menjawab sesuai yang kuingat. Meski perlahan sebuah perasaan tak enak menyusup masuk di hatiku. Entah mengapa aku merasa Ratih sedang berusaha mengingatkan kalau aku seperti dirinya. Sudah memiliki kekasih dan mungkin akan segera menikah. Arzi, siapapun dia, walaupun pernah dekat dengannya, juga tak bisa bersamaku.


Malam itu, aku memilih tetap tinggal di tempat kost. Tidak jadi mendatangi Arzi. Sudahlah. Terlalu banyak pertanyaan hari ini tentang dirinya dan hubungannya dengan aku.


Sungguh aku tak mengerti mengapa semua orang begitu repot memikirkan hubungan kami. Aku dan Arzi hanya berteman. Salahkah berteman dengan pria yang jauh lebih tua dan kebetulan lawan jenis? Hanya karena ia pernah dekat dengan sahabatku, lalu tak boleh aku bersamanya?


Bahkan meski aku punya pacar, Arzi juga, kami sama-sama masih berstatus sendiri. Tak ada aturan hukum yang melarang kami untuk sekedar jalan, mengobrol dan makan bersama.


Aku lelah... Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak pertanyaan.


MCU = Medical Check Up (Pemeriksaan Kesehatan)


*****


Author Notes:


Beberapa bahasa Inggris sederhana (simple and short words) tidak akan diterjemahkan. Hanya yang full sentence.

__ADS_1


(^_^)/


Iin Ajid


__ADS_2