Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 60 - Selamat Tinggal, Sahabat!


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke kantor. Berencana untuk mengundurkan diri secara resmi. Tapi... Situasi di kantor tak seperti yang kubayangkan.


Dua gadis muda yang tak kukenal kini mengisi tempat dudukku dan tempat Ratih duduk. Tapi mereka segera mengenaliku, meski aku tidak. Mereka menyambutku dengan canggung, sambil memintaku menunggu para supervisor dan manajer pengganti Pak Guruh datang.


Aku bahkan baru tahu kalau Pak Guruh juga sudah mengundurkan diri. Hanya dua minggu setelah Hans resmi resign. Ternyata, semua orang berpikir sama. Tim yang berbeda, akan menghasilkan suasana yang berbeda.


Sambil menunggu manajer pengganti, aku mulai memahami situasi. Kedua gadis yang baru bekerja beberapa minggu ini tampak kelabakan saat bekerja.


Mereka belum terbiasa dengan ritme kerja sepertiku dan Ratih dulu. Setidaknya, selamban-lambannya Ratih bekerja, ia masih bisa mengikuti pola kerjaku yang cepat. Sedangkan kedua gadis ini tidak.


"Sebentar... Bapak ini dari mana?... Yang kemarin nelepon?... Oh, maaf Pak, bisa ulangi namanya?" kata gadis berambut pendek yang duduk di kursi Ratih.


Padahal dulu Ratih selalu kuingatkan berulang kali untuk menghafal suara setiap penelepon, kalau perlu mengenal mereka dengan baik. Setiap klien akan merasa dihargai jika ia hanya perlu mengenalkan diri satu kali apalagi jika kita bisa mengingat detil pribadinya dengan baik.


Ratih selalu bisa melakukan hal ini dengan baik dan luwes. Suaranya yang lembut dan ramah selalu berhasil menaklukkan hati para klien yang mungkin bersiap akan melayangkan banyak keluhan.


Lalu gadis yang berambut sebahu tampak kebingungan berdiri di depan lemari-lemari file, maka iseng aku bertanya, "Nyari apa?"


Ia menoleh padaku dengan senyum malu-malu. "Nyari file tender tahun 97 soal water intake, Mbak."


"Lemari 3 nomor 2 dari bawah baris ke-20. Yang mapnya warna biru," jawabku otomatis.


Gadis itu tampak terkesima mendengar penjelasanku, sebelum akhirnya mengangguk mengerti dan mulai mencari. Jawabanku ternyata tepat. Ia membawanya ke meja kerjanya.


"Kok bisa hafal, Mbak? Ini kan banyak banget."


Aku tertawa. "Hans yang ngajari. Saya nyusun file berdasarkan tahun untuk lemari, bulan urutan dalam lemarinya, warna map untuk jenis proyeknya. Merah untuk proyek darat, biru untuk semua jenis pipa atau saluran air, kuning untuk maintenance, hijau untuk outdoor lansekap, abu-abu untuk listrik dan putih untuk proyek lain-lain. Oh ya... hitam untuk tender yang kalah."


"Oh? Wah saya baru tahu, Mbak," seru gadis itu dengan mata membulat. Kepalanya kembali menoleh pada jajaran lemari itu lagi.


Aku menatapnya heran. "Semua informasi itu ada dalam buku agenda di dalam laci itu," kataku sambil menunjuk laci pertama di meja kerja bekas milikku yang sekarang jadi milik gadis itu.


Tapi ia malah tersenyum malu. "Saya dilarang buka-buka laci di meja ini, Mbak. Kata Pak Jeremy, tugas saya hanya sementara sampe Mbak kerja lagi. Kunci cadangannya disimpan oleh Pak Jeremy sendiri."


Pak Jeremy adalah manajer administrasi kantor pusat. Aku tersenyum karenanya. Ternyata benar, mereka masih mengharapkanku.


Lalu aku bangkit dari kursiku sambil merogoh kunci laci lain yang masih tersimpan dalam tasku dan memberikannya pada gadis itu. "Ambillah! Pelajari itu! Semua yang saya kerjakan ada di situ, termasuk bagaimana saya melakukannya. Kalo ada yang kamu mau tanya, tanya aja sekarang! Nanti saya jelasin."

__ADS_1


Bukannya bertanya, setelah selesai membuka agenda itu sebentar, mata gadis itu malah berkaca-kaca dan dengan setengah memohon ia berkata, "Bisa bantu saya jelasin satu-satu gak, Mbak?"


Dan begitulah, hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali bekerja. Bedanya, pekerjaanku hanya membantu, gadis bernama Tammy itu yang melakukan tugas utama. Sampai ia menguasai semuanya, baru aku benar-benar berhenti bekerja.


Pak Jeremy yang kini meng-handle sebagian tugas administrasi Sangatta dari kantor pusat pun setuju dengan persyaratan dariku ini. Aku sungguh ingin bekerja hanya 8 jam setiap harinya. Demi kesehatanku, dan tentu demi keluarga baruku.


Setelah menyelesaikan satu urusan, aku memutuskan untuk menghubungi Ratih. Sesuatu di antara kami harus diselesaikan.


Aku dan Arzi memutuskan untuk mengundangnya dalam berbuka puasa bersama anak yatim piatu di sebuah panti asuhan. Kami juga mengundang suaminya.


Saat Ratih datang, aku menyambutnya seperti tak ada masalah. Sama seperti dulu. Memeluknya dan bertanya kabarnya dengan ramah.


Ratih nampak ragu dan malu saat menjawab, tapi setidaknya ia merespon dengan baik. Tubuhnya jauh lebih kurus dan wajahnya terlihat tirus. Senyum lembutnya juga seperti dicabut begitu saja. Hanya ada senyum getir yang muncul.


Aku bisa melihat Arzi selalu menghindari Ratih dan suaminya. Suamiku lebih memilih berbicara dengan pengurus panti atau berinteraksi dengan anak-anak panti asuhan. Mungkin ia tahu, bagaimanapun perasaan tidak enak itu tetap ada.


Dirga yang belakangan ini menghindariku, tiba-tiba muncul dan ia jelas-jelas memperlihatkan permusuhan dengan Ratih. Baru setelah kucubit lengannya, wajah tegang Dirga sedikit melunak.


Tapi tetap saja, Dirga memeriksa semua yang kuminum dan kumakan sepanjang acara. Tak hanya karena kondisiku masih banya berpantang makanan, namun karena ia juga kuatir aku diracuni lagi. Padahal Ratih dan suaminya selalu duduk di depan kami, tak bergerak sama sekali dari posisi mereka sampai acara selesai.


"Mbak, gimana? Senang gak bisa sama anak-anak tadi?" tanyaku santai.


Ratih mengangguk. Tersenyum tipis. "Ya, In. Udah lama gak ngeliat anak-anak."


"Jadi berbagilah untuk mereka selalu, Mbak. Mereka lebih membutuhkan... ini," kataku perlahan.


Tanganku mengambil selembar kertas print-out bukti transfer Bank dari kantung gamisku dan menyerahkannya pada Mbak Ratih. "Anggap saja Mbak sudah melakukannya untuk kita berdua. Maafkan aku ya Mbak, aku ambil sedikit dari sini untuk mereka tadi."


Ratih menatap kertas yang berisi informasi jumlah sisa uang yang pernah ia kirim ke rekening Arzi. Aku memang mengembalikan semuanya kembali ke nomor rekening Ratih yang kudapat dari HRD perusahaan.


Tak semuanya karena sebagian kecil kupakai untuk mendanai makanan anak-anak panti asuhan. Tak sampai satu persennya, tapi setidaknyaRatih mengerti kalau aku dan Arzi tak menginginkan apapun darinya.


"Segala hal yang kita lakukan itu gak akan pernah terlupakan, Mbak. Hal baik, hal buruk. Semua pasti meninggalkan bekas di hati seseorang. Hari ini kita memberi sedikit rezeki pada anak-anak itu, mungkin akan segera terlupakan oleh kita, tapi untuk anak-anak itu... di antara mereka pasti ada yang akan selalu mengingatnya. Lebih baik kalau kita sering melakukan hal baik seperti ini, maka kenangan baik tentang kita akan makin banyak," ucapku perlahan, sambil mengumpulkan bekas-bekas tisu yang masih bertebaran di dekat kami duduk.


Ratih masih diam.


"Aku dan Mas Arzi sudah memaafkan Mbak. Aku juga minta maaf kalo aku gak ngomong apapun soal hubungan kami. Tapi... semuanya berlangsung cepat. Aku sendiri kaget dengan semuanya. Mbak pasti tau kan gimana Mas Arzi?"

__ADS_1


Aku melirik Ratih yang tertunduk, sebelum mendengar suaranya yang pelan. "Maafkan saya, In."


"Mas Arzi udah cerita kalo dia dan Mbak sebenarnya hanya tiga kali ketemu. Semuanya pun selalu ada teman dan keluarga Mbak. Makanya Mas gak nyangka kalo Mbak suka beneran sama dia. Jadi Mas Arzi juga nitip aku nyampein permintaan maafnya. Maaf karena ia menyakiti hati Mbak secara gak sengaja."


Kepala Ratih makin dalam tertunduk. Aku bisa melihat bahunya yang mulai berguncang. "Saya yang benar-benar minta maaf, In. Saya... "


Aku menghembuskan napas sebelum merangkul dan menepuk pundak Ratih. "Kita sama-sama saling memaafkan dan mendoakan ya, Mbak. Semoga Mbak dan Mas Joko berbahagia, dan punya anak-anak terbaik. Doakan aku dan Mas Arzi juga ya Mbak!"


Ratih hanya mengangguk. Tapi tangisan pelannya mulai terdengar memilukan. Arzi benar, hatiku juga bergetar mendengarnya. Ini pertama kalinya aku mendengar.


Perasaan bersalahnya pasti takkan pernah benar-benar hilang sampai kapanpun, hanya saja semuanya sudah terjadi.


Sesuatu yang telah dilakukan seseorang entah itu baik atau buruk, pasti meninggalkan bekas yang takkan mudah hilang begitu saja. Aku mungkin memaafkan Ratih, tapi kenangan buruk tentangnya takkan pernah terlupakan.


Malam ini mungkin malam terakhir aku merangkulnya seperti ini, mungkin juga malam terakhir kami bertemu. Walaupun memaafkannya, aku memutuskan untuk mengakhiri semua hubungan di antara kami. Akan lebih baik seperti itu, dan mungkin ini akan lebih baik bagi kami semua.


Aku kini mengerti, aku harus mengucapkan selamat tinggal pada persahabatan yang pernah kuanggap hadiah terbaik setelah tinggal di Sangatta.


Malam itu, dalam mobil yang disupiri Arzi, kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak ada satupun yang bersuara, sampai kami berbelok dalam gang menuju rumah kontrakan.


Karena sebentar lagi tiba, aku membuka jendela mobil dan mulai memperhatikan rumah para tetangga satu gang kami. Aku ingin menyapa mereka jika terlihat.


Rumah pertama dengan teras cantik menarik perhatianku sejak kami pindah. Tapi aku belum pernah mengenali pemiliknya. Berbeda dengan penghuni rumah lain di sepanjang gang masuk ini. Hampir semuanya sudah kukenali.


Menurut para tetangga yang lain, pemiliknya masih baru jadi mereka juga tidak mengenalinya. Maka ketika kebetulan aku melihat seseorang berdiri di teras cantik penuh tanaman merambat itu, aku spontan memperhatikan dengan seksama.


Seseorang itu... aku mengenalinya dengan baik.


Sama seperti dia, yang juga menatap ke arahku.


Karena ia tersenyum padaku.


*****


 


 

__ADS_1


__ADS_2