
Suasana perjalanan kembali ke Jakarta tak seramai saat kami datang. Dirga lebih banyak mengobrol dengan Arzi, sementara aku memilih lebih banyak tidur.
Memilih... karena aku tak benar-benar sedang tidur. Aku hanya merasa canggung untuk bicara dengan Dirga saat ini.
“Masih ingin belanja oleh-oleh, In?” tanya Arzi sambil menoleh ke kursi belakang.
Setiap kali melewati kota-kota sepanjang perjalanan, ia selalu menawariku dan aku selalu menolaknya.
Tapi kali ini aku sengaja tak menjawab, berpura-pura tidur.
“Dia kelelahan kali, Mas.” Suara Dirga terdengar menyahut. Saat ini, gilirannya yang mengemudi.
“Mungkin. Kemarin malam, dia dan adik saya mengobrol sampai larut malam. Tadi setelah Subuh, dia ke pasar dengan Ibu. Padahal sudah saya bilang gak usah, biarkan Ibu dan adik saja yang pergi.”
Suara tawa kecil Dirga terdengar. “Gak papa, Mas. Inka pasti seneng. Dia mana pernah ngelakuin itu semua.”
“Oh ya? Bukannya Inka punya adik perempuan dan Mama?” selidik Arzi.
“Inka itu tinggal dengan orangtuanya yang sekarang ini hanya beberapa tahun sepanjang hidupnya. Jadi ia gak terlalu dekat dengan adik dan mamanya. Ia harus pindah-pindah tempat tinggal dari satu keluarga ke keluarga lain.”
“Kenapa?” Lagi-lagi Arzi bertanya.
Aku ingin sekali bangun saat itu dan meminta Dirga diam. Tapi ketika aku akan bicara, Dirga sudah berkata, “Nanti biar Inka saja yang jelasin ya, Mas. Itu bukan hak saya.”
Bibirku tersenyum mendengar. Dia benar-benar kakak dan teman yang mengenal diriku dengan baik.
“Maaf, Mas Arzi. Saya hanya takut Inka marah. Terakhir dia marah sama saya, hampir setahun saya dicuekin,” lanjut Dirga lagi. Nada suaranya terdengar lucu, tapi ironis.
Lengkung bibirku segera berubah. Cemberut.
Kalimat Arzi yang terdengar berikutnya. “Jangankan Mas Dirga yang udah bertahun-tahun. Saya yang baru tiga bulan bersama Inka aja takut.”
Dan tawa dua pria di kursi depan membuat aku ingin menyemburkan kekesalanku seketika.
Tapi aku senang, Dirga dan Arzi tak membahas masa laluku lagi. Setidaknya, aku lebih suka rahasia hidupku, kenakalanku saat masih kecil dan remaja, atau semua kesedihan dan kesenanganku, didengar Arzi saat aku bersamanya.
Arzi terlalu sempurna untuk mendapatkan istri yang penuh masa lalu yang pahit. Aku takut, kalau bukan aku yang cerita dan menjelaskan, rasa cintanya padaku akan berkurang. Basic keluarganya yang religius sedikit menggetarkan hatiku.
Karena kali ini mobil tak berhenti terlalu sering, kami tiba lebih cepat dari prediksi. Sebelum Magrib kami sudah tiba di rumah Arzi lagi di Jakarta.
Rumah Arzi di Jakarta juga ditempati oleh Amran, Via dan seorang sepupunya. Nantinya, jika masa liburan kuliah usai, baru mereka kembali. Jadi saat kami tiba, rumah dalam keadaan kosong.
Seorang penjaga sekaligus orang yang bisa membantu membersihkan rumah saja yang mengurusnya.
Sebelumnya, saat kami datang, aku tak terlalu memperhatikan isi rumah yang sebenarnya masih dalam tahap renovasi. Tidak sempat. Saat itu jadwal kami sudah dipenuhi dengan janji di rumah sakit.
“Assalamualaikum A Arzi,” sapa penjaga rumah yang dipanggil Mang Erros.
Arzi menoleh pada pria setengah baya yang telah menunggu di depan rumah.
“Waalaikum salam,” jawab Arzi sambil turun. Ia melihat ke belakang mobil kami. “Ada siapa, Mang?”
“Eta aya tamuna Aa ti Jawa. Mas Bahar sareung sakulawargi...*”
[Itu ada tamunya Aa dari Jawa*. Mas Bahar dengan keluarganya]
Arzi menatap Mang Erros. “Pake bahasa aja, Mang. Istri saya gak ngerti.”
Aku yang baru keluar dari mobil tersenyum minta maaf pada Mang Erros. Ia juga sedikit terkesiap.
“Oh, pun... maaf, Kak Inka. Maaf... “ ralat pria setengah baya itu lagi, sebelum berlari ke belakang mobil, menurunkan koper-koper kami.
“Iya, Mang Erros. Gak papa.” Aku menyenggol bahu Arzi. “Ih Mas ini galak banget sih. Inka gak papa dipanggil nama sekalipun. Itu kan orang tua.”
__ADS_1
Arzi memegang tanganku, menghentikan langkahku. “Inka, kamu itu istri saya. Orang yang menghormati saya, harus menghormatimu juga. Kamu perhiasan saya yang harus dihargai sama baik seperti mereka menghargai saya. Lagipula, itu bukan galak. Tapi tegas. Harus dibiasakan dari awal agar tidak ada salah paham.”
Tentu saja aku mengangguk. Sangat mengerti.
Selama bersama Arzi, aku tahu dia orang yang humoris. Tapi di saat-saat tertentu, Arzi bisa sangat tegas walaupun kata-katanya tak pernah kasar.
“Oke, sekarang kamu ke kamar lewat sini. Perbaikilah penampilanmu dan nanti ke depan ya kalo udah siap. Ada istrinya Mas Bahar. Saya mau kenalin kamu ke istri teman saya,” kata Arzi sambil mengelus rambutku yang kini tertutup pasmina, menunjuk pintu samping dekat garasi.
Aku mengangguk. Menggunakan pintu kecil di garasi, langsung menuju tangga tanpa melewati ruang tamu.
Dari anak tangga, aku melihat Arzi meminta Mang Erros untuk mengantar Dirga ke kamar tamu setelah menyapa tamu-tamunya.
Tepat saat itu Dirga masuk, mendongak dan tatapan kami bertemu. Dirga tertawa kecil sebelum berbicara lagi dengan Arzi, sedangkan aku memilih naik menuju kamar terbesar di rumah ini.
Rumah Arzi itu unik. Sangat berbeda dengan semua rumah standar yang pernah kutinggali selama ini.
Rumahnya terdiri dari 2,5 lantai dan masih dalam proses pembangunan. Aku tak terlalu tahu rencana Arzi tapi mulai melihat keunikannya.
Lantai atas sepenuhnya telah kueksplore saat pertama datang terdiri dari dua sisi. Sisi pertama hanya ada satu kamar. Kamar yang kini kutempati bersama Arzi, dengan ruang kerja dan satu lemari built-in yang luasnya hampir sama dengan kamar tidurku di tempat kost. Bahkan ada area pantry yang dilengkapi dengan wastafel. Seperti kamar suite di hotel resort.
Sementara sisi yang lain terdiri dari empat kamar dengan ukuran sama. Semua kamar termasuk kamar kami, dilengkapi kamar mandi masing-masing.
Tapi dua dari kamar itu belum selesai dikerjakan. Masih berupa dinding kosong yang belum dicat. Lorong berlantai marmer di depan kamar sudah selesai, namun hanya ada karpet biasa tanpa furniture.
Pembagian lantai bawah sedikit membingungkanku. Hampir semua ruangan belum selesai dikerjakan, bahkan ruangan besar yang terletak di bagian belakang belum diplester. Terakhir aku memeriksa, ada tumpukan berbagai alat dan bahan konstruksi di dalamnya.
Lantai bawah ini terdiri dari garasi, tiga kamar pembantu, dapur bersih dan kotor, ruang makan, area cuci dan gudang. Di tengah-tengah ada dua ruang tamu yang dipisahkan dengan penyekat terbuat dari bambu yang bisa dilipat.
Sementara di sisi sebelah, ada ruang keluarga dan ruangan kosong yang juga belum kuketahui fungsinya.
Dua kamar tamu berada di sisi lain ruang keluarga, terpisah oleh taman kecil. Bagian yang satu ini sudah selesai, termasuk taman kecil di depannya. Hanya saja, kolam air dengan landscape dinding ukiran berbentuk bebatuan dan pancuran belum terisi air.
Penyusunan ruangan itu sedikit berbeda dari rumah-rumah yang selama ini pernah kutempati. Terutama pengaturan ruang tamu yang berbeda.
“Hah?”
Lalu Arzi menjelaskan panjang lebar aturan bertamu dalam Islam. Meski belum terlalu paham, aku menangkap intinya. Perempuan dan laki-laki yang bukan mahrom tak seharusnya berada di ruangan yang sama terlalu lama.
Saat hari pertama kami tiba, dan beberapa teman Arzi sekitar rumahnya datang untuk berkenalan, aku merasa nyaman dengan pengaturan itu. Aku bebas bergerak dan berjalan di area perempuan, tanpa kuatir aurat terlihat.
Bahkan Arzi membatasi Mang Erros memasuki area perempuan, istilah yang kupilih untuk area dapur, ruang makan dan ruang cuci. Selama kami di rumah ini, Arzi memesan katering khusus.
Usai mandi dan berdandan, aku turun dan menemui tamu-tamu Arzi. Istri Baharuddin, teman Arzi kuajak ke ruang tamu sebelah, dan kami mengobrol topik-topik ringan.
Ternyata Fatim dan Bahar, juga baru beberapa bulan lalu menikah. Mereka bermaksud mengajak Arzi untuk berbisnis. Aku tak ingin terlalu tahu soal itu, jadi hanya mengangguk atau mengiyakan. Sekadar berbasa-basi.
Mereka hanya bertamu sebentar. Mungkin tahu kami baru saja melakukan perjalanan jauh dan kulit pucatku memang sedikit menakutkan untuk dilihat lama-lama. Tak terhitung juga beberapa kali aku menguap.
Kami makan malam usai sholat Magrib. Hanya berdua saja. Malam itu Dirga memilih menemui teman-teman dokternya yang tinggal di Jakarta, dianter Mang Erros.
“Kalau ada yang kamu mau tambahkan atau kurangi di rumah ini, ngomong aja ya Yang. Saya akan mengubah desain kalau kamu mau,” kata Arzi saat kami baru saja selesai makan berdua di ruang makan.
“Loh, Mas kan sudah punya rencana, lanjutin aja!”
Arzi terkekeh. “Tapi ini rumah masa depan kita, Inka. Pada akhirnya kamu yang lebih banyak di rumah nantinya. Rumah yang nyaman lebih penting daripada rumah yang sempurna konstruksinya. Masih dalam tahap bangun juga, jadi bisa sekalian.”
Aku menggeleng. “Bagus kok udah. Apapun itu, lakukan saja sesuai rencanamu, Mas! Aku udah biasa tinggal dalam kondisi apapun kok. Tapi kalo Mas nanya apa yang kumau... Aku hanya minta satu.”
“Apa itu?”
“Jangan isi rumah masa depan kita dengan banyak furniture atau perlengkapan elektronik. Aku lebih suka rumah yang luas... ”
Arzi tak mengatakan apapun, walaupun aku bisa melihat sekilas ada sorot mata sedih di matanya saat aku mengucapkan kata-kata itu. Tapi ia mengangguk.
__ADS_1
“Ada lagi?”
Aku memandang sekeliling ruangan. Lalu menggeleng. “Gak ada, semua sudah bagus.”
Suasana sedikit hening. Hanya suara sendok dan garpu beradu yang terdengar sesekali.
Aku memang menyadari satu hal. Rumah ini terlalu luas. Desainnya juga sedikit terlalu rumit. Tapi aku tak ingin mengkritik Arzi.
“Inka.... “
“Hmmm... “
“Kamu sekarang punya hak untuk melakukan dan meminta pada saya. Saya ingin kamu berani memintanya. Jangan takut dan jangan kuatir apapun. Selama permintaanmu masuk akal, insya Alloh saya akan berusaha ngabulin.”
Aku menatap Arzi. Berusaha mencerna kalimatnya barusan.
Arzi tersenyum padaku. “Inka, kamu sekarang jenderal di rumah saya. Pengambil keputusan kedua. Kamu berhak mengatur dan mengarahkan semua urusan dalam rumah ini. Meski Islam mengajarkan suami sebagai imam rumah tangga, tapi saya... saya ingin kamu juga turut andil untuk ngaruhin saya,” katanya meyakinkan.
“Inka belum terlalu ngerti, Mas.”
“Saya ingin kamu tahu, Inka. Saya bukan boss kamu di kantor. Saya juga bukan orangtuamu. Kita adalah partner dalam rumah tangga. Jadi... rumah kita, hidup kita, manajemen rumah tangga kita... harus punya pengaruhmu juga.”
“Tapi Inka takut salah, Mas.”
Arzi menatapku dalam-dalam. Aku segera menunduk. Berpura-pura membereskan meja makan. Merasa lelaki di depanku ini terlalu pandai membaca pikiranku.
“Saya tahu kamu gadis yang pintar, Inka. Hans bahkan bilang kalau kamu punya skill mendesain yang bagus. Pak Guruh bilang kamu juga punya jiwa seni yang luar biasa dan seleramu selalu berkualitas. Bahkan seperti yang saya tahu, semua orang selalu menganggapmu gadis yang punya kepribadian yang menyenangkan dan humoris. Di saat yang sama, semua rekan kerja menghormatimu, perempuan yang bisa memimpin para lelaki tanpa merasa terintimidasi. Kamu enggak, mereka juga. Itu sesuatu yang membuat saya kagum, Sayang. Gak semua orang mampu membangun relasi baik dengan beragam usia di usia semuda dirimu.”
Aku tersenyum. Tak tahu harus menjawab apa. Tetap tak ingin menatap Arzi.
“Tapi apa kamu tahu kelemahanmu, Sayang?”
Kuberanikan diri mengangkat kepala. Arzi tahu aku ingin tahu.
“Kamu selalu takut mengambil keputusan,” lanjut Arzi dengan senyuman tipis tersungging di wajahnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Dia benar. Tapi tanganku tetap bergerak menumpuk piring. Tak terlalu peduli lagi. Aku juga tahu soal itu.
“Apa itu karena... semua orang dalam hidupmu selalu mengatur dan mengambil keputusan untukmu?”
Tanganku berhenti bergerak. Aku menatap suamiku lagi. Senyumku, yang tadinya masih bisa kutampilkan berubah jadi garis lurus.
****
Author Notes:
*Dari Jawa : sebutan ini umum dalam budaya Sunda untuk pendatang dari Pulau Jawa selain yang dari Jawa Barat, walaupun letak seluruh propinsi itu sama-sama dari Pulau Jawa.
Saya tidak terlalu menguasai bahasa Sunda karena bukan dari suku tersebut, hanya standar pergaulan biasa saja. Semua penggunaan bahasa Sunda di cerita ini dibantu suami (Sunda Majalengka yang halus ya) Tapi beliau sendiri sudah kelamaan di Jakarta jadi mungkin penguasaannya juga kurang kental.
Jika ada kesalahan, mohon dibantu sarannya.
Terima kasih.
Iin Ajid
__ADS_1