Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 65 - Kecelakaan Kerja


__ADS_3

“Last one! Last one!” teriak Tammy saat ia memutar kemudi menuju area site terakhir yang harus kami datangi hari ini.Aku tertawa kecil. Menoleh pada dua pria muda di belakang kami. “Kalian capek gak?”


Mereka menjawab kompak. “Gaklah, Kak Inka. Kak Inka aja masih seger.”


Tawaku masih terdengar. “Saya kan cuma merintah kalian dari tadi, yang kerja kalian berdua dengan Mbak Tammy. Maaf ya kalau bikin kerjaan kalian jadi lebih berat.”


Keduanya kembali menggeleng bersamaan. Begitu juga Tammy.


“Ini sudah tugas kami, Kak. Malah kami salut sama Kak Inka, mau turun tangan sendiri ngurus beginian. Malah tadi saya ditegur Pak Madi karena bikin Kakak harus sampe manjat scaffolding,” ujar salah satu pria muda itu.


Aku hanya tertawa kecil. “Ah, dulu waktu Hans masih di sini, saya malah pernah ikut main concrete dan manjat tiang. Gak seberapa tadi itu. Kebetulan sejak dulu saya suka olahraga, temannya Hans bahkan pernah ngajak saya naik paramotor.”


“Wow! Benarkah, Mbak? Aku mau nyoba juga.”


“Kalo begitu, nanti aku telpon dia ya, biar sekalian ngajak kamu.”


Obrolan kami mengalir sampai rencanaku mempertemukan Tammy dengan Hazeem, salah seorang tenaga asing yang bekerja di Sangatta. Seorang penggemar paramotor.


Tammy makin bersemangat saat kubilang Hazeem keturunan Australia Pakistan yang masih lajang.


Obrolan kami terus berlanjut. Sesekali dua labor ikut mengobrol dan bercanda dengan kami.


Tak terasa mobil kami sampai di lokasi. Saat itu, langit mulai mendung dan sudah lewat pukul 4 sore. Aku baru ingat kalau belum sholat Ashar.


“Kalian siapin aja dulu kamera ya, saya sholat di site-post dulu ya,” kataku sambil bergerak menuju ke sebuah kontainer kecil yang berfungsi sebagai kantor sementara di lokasi.


Ketiganya mengangguk setuju, sementara aku pergi.


Usai sholat, ketika melipat mukena, aku ingat belum menelpon Audia. Segera aku mengambil pesawat telepon dan menghubungi Audia.


Suara riang Audia terdengar.


“Assalamualaikum Dia? Ini Inka.”


“Waalaikum salam. Mbak, lagi di mana sekarang?” tanya Audia cepat.


“Kami udah di Kabo, bentar lagi balik office. Sore ini saya minta kamu lembur dulu, keberatan gak? Atau udah ada urusan?”


“Enggak sih, Mbak. Aku tungguin sampe Mbak balik deh. Oh iya Mbak... tadi Pak dokter sama suami Mbak ke sini.”


“Ke office? Loh bukannya Mas Dirga aja?”


“Iya, waktu aku nge-HT itu emang baru Pak dokter aja yang datang. Terus gak lama suami Mbak datang juga.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Ya aku bilang aja seperti yang Mbak bilang tadi. Nah terus mereka nanya, site-nya Mbak di mana aja.”


“Hmmm.”


“Memangnya ada apa sih, Mbak? Tadi suami Mbak seperti orang panik gitu. Tapi waktu aku mau panggil Mbak di radio, sama beliau gak boleh.”


Tentu saja, Arzi pasti takut aku memarahinya di depan semua orang.


“Lalu kamu ngasih tau saya di mana?” tanyaku.


“Iya, Mbak. Tapi karena aku gak tau tepatnya posisi Mbak, jadi aku kasih liat aja daftar yang ada di whiteboard itu. Mereka langsung pergi setelah itu.”


Aku tertawa miris. Mereka pasti kembali ke kantor masing-masing. Daftar itu tidak sedikit. Ada 19 lokasi dan letaknya ada yang jauh, juga ada yang dekat.


Tidak semua proyek aku datangi hari ini. Hanya beberapa yang cukup besar. Untuk proyek yang lain, aku hanya meminta para supervisor lapangan untuk mengurusnya.


Setelah mengakhiri telepon, aku menghubungi beberapa supervisor dan berkoordinasi soal pekerjaan melalui radio. Baru setelah itu, aku keluar.


Langit makin gelap. Selain sudah sore, tampaknya sebentar lagi akan hujan. Aku kuatir hasil foto dan rekaman video kurang maksimal. Jadi aku berniat menghentikan Tammy.


Para pekerja dan supervisor lapangan untuk site ini juga sudah bersiap untuk pulang di dekat workshop yang beratap terpal. Mereka menunjuk ke daratan di seberang sungai, tempat Tammy dan dua pekerja muda itu tengah merekam video dan mengambil gambar.


Kukernyitkan dahi melihat mereka masih bekerja di situasi mendung seperti ini. Seharusnya ada yang memberitahu mereka kalau sungai ini selalu meluap setiap kali hujan turun.


“Tam, lanjut besok saja! Mau banjir! Cepat sedikit!” teriakku begitu sampai ke seberang.


Tammy yang baru menyadari kehadiranku, menoleh. Ia segera mengangguk dan mengacungkan jempol padaku. Dengan cepat, ia memerintahkan dua pekerja muda untuk membereskan peralatan mereka.


Sementara aku memutar tubuh, memeriksa sekeliling, terutama aliran sungai.


Air sungai mengalir lebih deras dari biasanya. Hampir setiap tahun, daerah ini memang mengalami banjir. Karena itulah rencana pembangunan water intake ini dibuat, agar bisa mengendalikan banjir.


Sebenarnya ini salah satu proyek besar yang sebenarnya dimenangkan perusahaan saat Hans dan Pak Guruh masih bekerja. Aku tersenyum mengenang saat-saat kami merayakan kemenangan tender itu. Siapa yang akan mengira, beberapa bulan kemudian hanya aku yang berdiri di lokasi ini?


Aku akan berjalan kembali ketika mataku melihat seorang gadis tengah berdiri di ujung jembatan. Aku terkesiap.


Ini lokasi proyek tertutup. Tidak sembarang orang bisa masuk. Gadis itu bahkan tak mengenakan rompi pelindung dan helm proyek. Ia tampak asyik memperhatikan aliran air yang makin lama makin deras. Kakinya perlahan melangkah makin ke tengah jembatan.


Bagaimana seseorang yang bukan pekerja sepertinya bisa masuk di lingkungan terbatas seperti ini? Jika ia mengalami kecelakaan, seluruh proyek ini bisa dihentikan.


“Hei!” teriakku.

__ADS_1


Teriakanku tidak hanya membuat gadis itu terkejut. Ia menoleh padaku dan tersenyum. Langkahnya justru dipercepat makin mendekatiku.


“Jangan bergerak! Jangan bergerak!” teriakku lagi sambil mengangkat tangan. Melangkah secepat mungkin.


Jembatan ini fungsinya hanya untuk mempermudah para pekerja menyeberang. Tapi biasanya diatur agar yang menggunakan tidak lebih dari dua orang. Itupun mereka harus menggunakan safety rope yang dikaitkan ke handrail jembatan.


Bahkan jembatan ini seharusnya tidak boleh digunakan saat aliran air sungai sedang deras seperti sekarang. Karena itulah aku meminta Tammy dan kedua pekerja yang bersamanya untuk menyudahi pekerjaan.


Saat ini, walau aku memakai safety rope aku bisa merasakan jembatan ini mulai bergoyang-goyang karena air sungai di bawah kami semakin deras.


Gadis itu hanya memegang handrail jembatan. Buru-buru, aku mendekatinya.


“Jangan bergerak! Saya akan ikat tali ini ke badan kamu, nanti kamu langsung ke sana ya. Kembali! Jembatan ini tidak kuat, sebentar lagi banjir. Berbahaya!”


Mendengar itu, wajah gadis itu memucat. Segera tangannya yang lain ikut memegang handrail dan dengan patuh ia menungguku selesai memindahkan tali pengaman ke pinggangnya. Tak ada safety rope lain, karena biasanya dipasang manual di pinggang pengguna masing-masing.


“Sudah... Sekarang kamu jalan pelan-pelan ya. Kamu aman sekarang,” kataku lembut sambil menenangkannya.


Kubiarkan gadis itu berjalan lebih dulu, agar goyangan jembatan tidak terlalu kuat. Aku menoleh ke belakang, Tammy dan dua pekerja juga sudah berada di ujung jembatan. Salah satu pekerja sudah mulai berjalan, juga membawa satu safety rope cadangan untukku. Sepertinya itu milik Tammy.


Saat aku tengah memperhatikan gadis itu kembali, tiba-tiba mataku tak sengaja melihat mobil yang baru memasuki area site.


Mobil yang didominasi warna oranye. Mobil dinas perusahaan Arzi.


Apa Arzi menyusulku? Ternyata ia berhasil menemukanku.


Aku tersenyum.


Semarah apapun aku, Arzi tak pernah membiarkanku marah lama-lama. Lihat saja! Dia bahkan menyusulku ke lokasi proyek.


Kakiku melangkah, ingin segera menyusul. Tapi aku lupa. Tak ada lagi tali pengaman di pinggangku.


Rintik hujan mulai membasahi papan jembatan. Kakiku yang terburu-buru ingin kembali, tak sengaja menginjak bagian basah yang licin.


Dengan cepat aku mengencangkan pegangan pada handrail. Tanganku terseret di sepanjang handrail dari besi kecil itu. Panas mendadak terasa di telapak tanganku. Refleks aku melepaskan pegangan sementara kakiku yang lain justru menginjak udara.


“INKAA!”


Aku mendengar seseorang berteriak saat merasakan tubuhku melayang jatuh. Aku bisa melihat suamiku berlari keluar dari mobil bersama seseorang di belakangnya. Tapi itu sebelum air keruh kecoklatan menutupi seluruh pandanganku.


Hidungku, mulutku penuh air hingga dadaku terasa terbakar. Kaki dan tanganku seperti ditarik sesuatu dalam air. Aku meronta agar bisa mendapat udara, tapi semakin aku mencoba, semakin kuat tarikan di bawah air.


Lalu kegelapan menutupi pandanganku sepenuhnya bersama hilangnya kesadaran.

__ADS_1


******


AN: 2 saja minggu ini, bab berikutnya masih diedit istilah teknisnya. Thanks.


__ADS_2