
Sejak awal, pernikahan Papa dan Ibu kandungku tidak disetujui kedua orangtua mereka. Perbedaan agama, suku dan selisih usia yang jauh menjadi alasan kedua keluarga. Tapi Papa dan ibu kandungku tetap nekad menikah. Ibuku juga berpindah agama.
Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan rumah tangga kedua orangtua kandungku, karena Papa tak pernah cerita. Yang kutahu, Papa hampir 24 tahun saat menikah, sementara Ibu baru 16 tahun. Itu sebabnya pernikahan mereka tidak tercatat di KUA.
Papa hanya pernah satu kali mengatakan padaku. “Ibumu adalah cinta yang tidak akan bisa digantikan siapapun.”
Ketika akhirnya Ibu meninggal dunia dan aku lahir, hubungan Papa dengan orangtua Ibu yang kupanggil Opa dan Oma itu semakin memburuk. Mereka saling menyalahkan sebagai penyebab kematian Ibu.
Papa menyalahkan keluarga Ibu yang selalu menjaga jarak dengan Ibu setelah pernikahan. Sementara keluarga Ibu menyalahkan Papa yang kurang perhatian pada anak mereka.
Perebutan hak asuh atas diriku dimulai sejak aku lahir, karena status pernikahan Papa dan ibu tidak ada di mata hukum.
Karena keluarga besar Ibu adalah keluarga feodal yang masih kental adat istiadat dan tradisinya, mereka memutuskan untuk ‘membagi’ waktuku demi keadilan melalui sidang adat sukunya. Jika Papa ingin mengasuhku sepenuhnya, Papa wajib menikahi adik Ibu yang kemudian kupanggil Mama. Istilahnya turun ranjang.
Papa menyanggupinya tanpa pikir panjang. Keinginannya untuk mengasuhku tanpa keributan yang menjadi alasannya.
Tapi tak sampai setengah tahun, seperti Ibu, Mama juga memutuskan berpindah agama, mengikuti Papa, menjadi muslimah. Mama juga diangkat anak oleh perempuan yang kupanggil Nenek, sepupu Opa, yang telah menjadi muslimah sejak ia masih remaja.
Ini memancing keributan lain. Kedua orangtua Ibu menyalahkan Papa sekali lagi. Sekali lagi perebutan diriku terjadi lagi. Saat itu, Mama juga sudah dianggap mati oleh orangtuanya.
Ini pula yang nantinya menyebabkan Mama mengalami baby blues syndrome pasca melahirkan dan akhirnya beberapa kali ia menggunakan kekerasan padaku, untuk melampiaskan perasaan tertekan itu.
Akhirnya, sekali lagi di hadapan tetua adat, Papa dan kedua orangtua Ibu kembali membuat kesepakatan baru, bergantian mengasuhku setiap satu tahun.
Itu sebabnya aku punya dua agama yang tidak jelas sejak kecil. Saat tinggal bersama Papa, aku dibesarkan sebagai muslim. Saat tinggal bersama Oma Opa, aku dibesarkan sesuai agama mereka. Bahkan karena pengaruh Opa, agama dalam semua dokumen hidupku mengikuti agamanya.
Untungnya, meski namaku sempat berganti, akhirnya Opa setuju memakai Nurhayati di belakang nama pilihan mereka. Nama pemberian Papa dan Ibu kandungku.
Namun, Opa meninggal hanya tiga tahun setelah kematian Ibu karena kecelakaan kapal cepat ketika berkunjung ke daerah pedalaman bersama rombongannya saat bertugas. Oma menyusul tak sampai setahun, setelah mengalami stroke dua kali.
Sayangnya, dua kakak laki-laki Ibu lain yang telah berkeluarga, tetap tak mau menyerahkan hak asuh begitu saja. Mereka tetap meminta aku berada dalam pengasuhan mereka menggantikan orangtuanya, menjalani kesepakatan yang sudah ada.
Begitulah... aku terombang-ambing selama lima tahun pertama hidupku. Antara dua keluarga, antara dua agama, antara dua kebiasaan yang bertolak belakang.
Aku tak bisa ikut sholat atau mengaji saat tinggal bersama paman-pamanku dan keluarganya yang juga taat pada agama yang dianut mereka. Begitu pun sebaliknya.
Nenek yang kemudian menyadari bahwa pendidikan agamaku tidak beres. Anak balita yang umumnya sudah mulai mengenal agama, justru beribadah dengan dua cara yang digabungkan. Walaupun seperti main-main karena aku masih terlalu kecil, Nenek merasa miris saat melihatku sholat menggunakan cara beribadah agama Oma dan Opa.
Akhirnya Nenek meminta Papa berhenti memaksaku belajar agama Islam. Mengalah daripada membuatku bingung.
“Berdoalah, Nak! Doamu akan bisa mendatangkan hidayah untuk putrimu saat nanti ia dewasa. Saat ia bisa memilih.” Itu nasihat Nenek pada Papa, saat menceritakannya padaku.
Musibah keluarga almarhumah ibuku ternyata terus berlanjut. Kakak pertama Ibu, Paman Lahai Arai jatuh bangkrut setelah beberapa kios miliknya di pasar terbakar habis. Peristiwa itu membuat dia dan keluarganya harus pindah ke Surabaya.
Pamanku yang lain, Wan Nara memilih ke Jepang di tahun yang sama, bekerja di sana setelah bercerai dengan istri yang baru ia nikahi beberapa bulan. Alasan perbedaan agama juga yang menjadi alasannya.
Aku sepenuhnya diasuh oleh Papa untuk sementara waktu.
Tapi karena Papa tak pernah berhenti merasa kuatir akan timbul masalah lagi saat paman-pamanku kembali dan memaksa mengasuhku, aku terpaksa hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Dari Paman Hakim hingga akhirnya kembali ke Nenek.
Papa kuatir, karena kedua pamanku tidak memiliki putri dan ia masih belum memegang hak asuhku.
__ADS_1
Paman Lahai memiliki empat putra, sementara Paman Wan yang akhirnya menikahi seorang wanita Jepang, memiliki dua putra. Secara hukum, hak asuhku dipegang oleh Paman Lahai.
Kedua Pamanku tidak dekat dengan Mama karena perbedaan usia yang jauh. Mereka malah selalu bertentangan sejak kecil karena Mama adalah anak bungsu yang selalu dimanja.
Begitu perpecahan terjadi, Mama jadi seperti orang lain bagi kedua kakaknya dan malah cenderung dekat dengan sepupu-sepupunya, putra-putri Nenek.
Sampai ketika aku tinggal di kost. Paman Wan menemuiku secara mendadak.
“Paman tak mau memaksamu, Inka. Paman tahu kau ingin jadi orang Islam. Tapi semua agama itu baik, Nak. Kami hanya ingin menjadikanmu bagian dari keluarga kita. Tak bisakah?”
Aku menunduk. Terdiam. Tak berani mengatakan isi hatiku.
“Paman ingin membawamu ke Tokyo, di sana Tante Nozomi akan mengurusmu. Ia benar-benar menyukaimu, Nak.”
Mendengar itu aku memberanikan diri.
“Paman, Inka ingin tinggal di sini. Sama Papa,” pintaku pelan namun tegas.
Hanya itu saja. Satu kalimat saja. Sekilas aku melihat kesedihan di sorot mata Pamanku yang berkulit pucat sepertiku.
Tapi Paman Wan tampak mengerti keinginanku. Ia sama sekali tak mengatakan bantahan apapun.
Ketika kami berpisah hari itu, Paman Wan memelukku cukup lama. Mengelus rambutku dengan suara serak seperti sedang menahan tangis.
“Ibumu adalah adik kesayangan Paman. Dia sangat cantik sepertimu, Inka. Kami berdua hanya ingin Ibumu bahagia saat kami membantunya agar bisa menikah dengan orang itu. Tapi kalau Paman tahu, Ibumu pergi secepat itu, Paman tidak akan pernah membantunya.”
Aku termangu. Tak berani bergerak. Paman Wan memang selalu menyebut Papa dengan ‘orang itu’. Seperti kedua orangtuanya, Paman Wan juga tak suka pada Papa.
“Tapi kamu adalah hadiah terbaik yang ditinggalkan Ibumu, Inka. Paman sangat sangat menyayangimu. Jadi jangan lupakan Paman!”
Tapi Paman Wan tak pernah meninggalkan nomor telepon atau alamat rumahnya di Jepang. Dia juga tak pernah menghubungiku lagi sejak itu. Bahkan setelah aku bekerja.
Sementara Paman Lahai, sempat beberapa kali menemuiku. Kadang kami makan berdua saja, kadang ia mengajak sepupu-sepupuku bersama.
Aku tak bisa menolaknya, karena aku takut Paman Lahai memaksaku ikut dengannya. Papa tak bisa berbuat apa-apa, selain memintaku berulangkali untuk tidak menerima apapun tawaran Paman Lahai.
Hari itu pamanku yang berbadan tambun dan berhidung bangir itu bertanya, “Kapan kau akan tinggal lagi dengan Paman?”
“Aku... “
Kondisi keuangan Paman Lahai memang membaik. Setelah pindah ke Surabaya dan membangun usaha di bidang lain, usahanya jauh lebih besar dan lebih menguntungkan.
“Sudah ada Paman siapkan kamar khusus buatmu di rumah. Tanyalah kau pada Jovan itu kalau tak percaya pada Paman ni. Di Surabaya, banyak juga kampus bisa kau pilih.”
Saat itu, aku sudah tinggal bersama Papa lagi. Sekamar dengan adik perempuanku dan bersekolah di tingkat akhir sebuah SMA swasta khusus perempuan.
Tapi aku membulatkan tekad untuk mengatakan isi hatiku. “Aku gak mau, Man. Enakan tinggal sama Papa aja. Gak mau jauh.”
“Begitukah?”
Wajah Paman Lahai jelas kecewa. Bahkan dua sepupuku yang ikut mendengar juga tak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka. Tapi tak lama mereka tersenyum.
__ADS_1
Melihat respon mereka yang sepertinya menghormati keputusanku, aku menambahkan keinginan lain.
“Paman, aku mau ganti agamaku ya. Habis semesteran ini aku ganti. Aku juga ingin namaku ada di Kartu Keluarga Papa.”
Paman Lahai menatapku lekat-lekat lima detik sebelum ia menunduk. Aku menatap kedua sepupuku yang terlihat kecewa, untuk meminta bantuan. Tapi mereka juga hanya menatapku tanpa kata.
“Inka, apa itukah alasan kau tak mau tinggal sama pamanmu ini lagi?” tanya Paman Lahai lagi.
Aku terdiam. Sudah pasti.
Ada senyum pahit dan kecewa terlihat di wajah Paman Arai saat ia mengangkat wajahnya. “Paman-pamanmu bukan Oma dan Opa, Inka. Kami menghormati perbedaan. Kau mau jadi Islam, Budha, Kristen atau pilih agama lain sekalipun, Paman akan respek itu. Kau bisa tetap beribadah sesuai yang kau mau.”
Aku mengingat beberapa tahun sebelumnya saat aku masih kecil. Sesuatu yang kulupakan.
Selama mengasuhku, Paman-pamanku memang tak pernah mengajakku ke tempat ibadah mereka. Sangat berbeda dengan Oma dan Opa yang setengah memaksa. Paman-pamanku membebaskanku dari kewajiban beribadah ala keluarga mereka.
Tapi saat yang sama Papa juga tak lagi mengajariku tentang Islam. Jadi kukira mereka telah bersepakat.
Setelah kuingat-ingat. Paman-pamanku juga tak pernah memaksaku, setelah aku remaja. Mereka membiarkan aku memilih sendiri mau tinggal di mana.
Akulah yang takut dan terlalu kuatir, hingga memilih bersembunyi, berpindah-pindah tempat tinggal.
Tiba-tiba wajah serius Paman Lahai berubah santai lagi. “Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Lupakan! Kamu boleh memilih apapun, Inka. Paman akan selalu menerimanya. Paman akan bicara dengan Papamu nanti.”
Saat berpisah di bandara, Paman Lahai hanya mengelus rambutku tanpa berkata apa-apa. Matanya sedih sekali. Jovan dan Jovin, kedua sepupu laki-lakiku juga. Mereka memelukku cukup lama. Bahkan Jovin meneteskan sedikit airmata.
Itu terakhir kali aku bertemu dengannya dan juga sepupu-sepupuku. Hanya setiap Lebaran, ia tak pernah lupa menelpon dan mengucapkan selamat. Hanya dia, karena keempat sepupuku tak lagi bicara padaku.
Sayangnya, Paman Lahai juga selalu menolak memberiku alamat dan nomor teleponnya di Surabaya. Ia juga menelpon tak lebih dari satu menit. Lama kelamaan, Paman Lahai berhenti menelpon.
Aku tak pernah bilang aku tak menyayangi mereka. Aku hanya dihadapkan pada kebingungan.
Memilih agama, seperti buah simalakama. Dimakan salah, tidak dimakan juga salah. Dipilih yang ini, salah. Dipilih yang itu, salah.
Aku hanya membuat satu keputusan untuk memilih agama yang paling kuinginkan, tapi itu membuatku kehilangan segalanya.
Itu sebabnya aku berhenti mengambil keputusan sendiri. Aku takut kehilangan lagi. Aku benar-benar sangat takut berakhir sendirian.
Aku menyadari aku benci kesepian. Tapi itu karena aku memang selalu sendirian.
Aku punya Papa, Mama dan adik-adik. Tapi sejak awal aku sadar kalau aku tak pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga Papa yang sekarang.
Dulu kukira Mama adalah ibu kandungku, dan karena ia masuk Islam, Opa Oma membencinya. Setelah tahu kenyataannya, aku makin sadar, aku memang akan selalu sendirian.
Aku punya paman-paman yang baik, tapi hatiku selalu dipenuhi ketakutan. Aku takut kalau terlalu dekat dengan mereka, Papa akan berhenti mencintaiku.
Nenek, Paman Sidik, Paman Hakim bahkan bukan keluargaku secara langsung. Sangat berbeda dengan perasaanku pada Paman Lahai atau Paman Wan.
Tapi akhirnya, hanya karena beberapa kalimat, kedua orang yang seharusnya menjadi orang-orang terdekatku menghilang dari hidupku. Menjadi orang lain.
Kalau saat ini aku bertemu sepupu-sepupuku, mungkin aku takkan lagi mengenal mereka.
__ADS_1
Sungguh aku sangat takut. Kehilangan kedua pamanku saja sudah cukup menyakitkan. Bagaimana kalau aku juga kehilangan Arzi karena salah mengambil keputusan?
*****