
Sesuai rencana, kami mulai menyiapkan diri. Arzi sudah mengirimkan permohonan ke kantor pusat dan aku sudah memberitahu Pak Jeremy secara resmi. Sambil menunggu kepastian keputusan kantor Arzi, aku akan tetap bekerja.
Pengganti Manajer Cabang pun sudah ditunjuk. Bukan Pak Madi seperti yang kuinginkan. Tapi seseorang yang berasal dari luar kota.
Namanya Brian Hutapea, seorang pria berusia 28 tahun, keturunan suku Batak Jawa yang ramai tapi ramah. Aku suka gaya bicaranya yang berlogat khas itu.
Ada sedikit salah paham ketika kami pertama kali bertemu. Tapi itu justru meninggalkan kesan mendalam pada kami berdua.
Aku sedang duduk bersama Audia usai makan siang. Kami sedang mengobrol sambil bercanda. Tammy sedang bertugas di tambang untuk memeriksa project site.
Saat itulah pria bernama Brian itu masuk ke lobby. Otomatis Audia berdiri menyambutnya dan bertanya keperluannya.
"Saya Brian Hutapea. Saya ingin ketemu Ibu Inka Nurhayati. Bisa sekarang?" tanyanya dengan nada tegas, sedikit kasar dan nyaring.
Audia tak menjawab karena aku yang kebetulan ikut mendengarnya, sudah berdiri di sebelahnya dan mengangguk pada pria itu.
"Mari, Pak! Ikut saya!" kataku mempersilakan pria itu untuk masuk ke ruang kerjaku.
Sampai di sana, aku menyuruhnya duduk dan meminta Audia untuk membuatkan secangkir teh untuknya. Setelah itu, aku duduk di kursi. Saat itu tak sengaja aku melihat alis mata Brian terangkat sedikit ketika menatapku.
"Surat tugas dari Balikpapan bisa saya lihat, Pak?" tanyaku sopan.
Kali ini kening Brian berkerut. "Maaf, tapi saya mau ketemu dengan Bu Inka dulu. Kata Pak Jeremy, saya harus nemui Bu Inka langsung."
Aku tersenyum dan menjawab, "Saya Inka Nurhayati, Pak."
Aku sering melihat ekspresi kaget orang saat tahu siapa aku, tapi rahang yang terbuka dari wajah yang tercengang di depanku baru kali ini.
"Aa... Anda?" tanyanya tak percaya.
Santai aku meraih frame foto yang terletak di dekat monitor dan memperlihatkannya pada Brian. Itu fotoku bersama Hans dan Pak Guruh. "Ini saya, ini Hans dan Pak Guruh. Manajer Cabang yang dulu."
Ia melihat foto itu sebentar sebelum kembali menatapku, lalu ia bergumam. "Anda muda sekali."
Aku tertawa melihat ekspresinya yang terlihat lucu. Agar tak tegang, aku melontarkan canda. "Jangan percaya sama penampilan, Pak. Aslinya saya 35 tahun kok," lanjutku kalem.
"Hah?" Wajahnya makin tampak bingung sebelum akhirnya ia ikut tertawa terbahak-bahak setelah menyadari kalau aku sedang bercanda.
Untungnya, ternyata Brian cukup berpengalaman. Dengan cepat ia mempelajari banyak hal dariku hanya dalam beberapa hari.
Sementara setelah menunggu, akhirnya aku mendapat kepastian bahwa akhir Februari, suamiku akan resmi dimutasikan kembali ke Jakarta. Itu artinya dalam satu setengah bulan kami akan segera pindah.
Mengingat singkatnya waktu persiapan, aku memutuskan untuk semakin mengurangi jam kerja. Dari satu hari menjadi setengah hari saja. Apalagi Brian juga sudah mulai melakukan pekerjaannya sendiri. Tak terlalu sulit baginya karena Audia dan Tammy juga sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.
Beberapa hari ini aku memilih untuk bekerja setengah hari. Sisanya aku pulang dan mulai membereskan isi rumah. Siapa sangka, hanya kurang dari setengah tahun menikah, jumlah barang yang kami miliki sudah cukup banyak.
Rencananya, barang-barang kami tak semua dibawa. Sebagian disumbangkan atau diberikan ke teman-teman dan keluarga, sebagian lagi ditinggal di rumah orangtuaku di Balikpapan dan hanya sebagian yang kami bawa ke Jakarta.
Barang yang kami putuskan untuk dibawa akan dikirimkan lebih dulu. Setelah itu, kami akan melakukan perjalanan honeymoon kedua ke Pulau Derawan selama tujuh hari dulu sebelum berangkat ke Jakarta.
Sebelum benar-benar meninggalkan tanah Borneo, aku ingin mengenalkan beberapa tempat indah pada Arzi. Karena itulah aku memilih Pulau Derawan. Tak banyak orang yang tahu kalau ada pulau yang indah di ujung utara Kalimantan itu.
__ADS_1
Sebagai seorang putri dari pulau yang didominasi hutan belantara ini, aku ingin meninggalkan kesan mendalam di hati Arzi. Agar ia mencintai tanah kelahiranku, aku ingin mengenalkannya lebih dalam.
Aku bahkan sudah berencana untuk memberitahu tentang tanah Kalimantan yang akan selalu kurindukan, tentang sungai Mahakam yang penuh kenangan masa kecil, tentang hutan belantara dan bukit yang menjadi tempat bermainku pada semua orang yang akan kutemui nanti di tempat yang baru.
Itu sebabnya aku meminta orangtuaku di Balikpapan untuk mulai mencarikan aneka souvenir khas Kalimantan untuk kubawa ke Jakarta.
Aku berencana membuat rumahku sebagai ‘galeri’ seni khusus. Kelembit, perisai khas Kalimantan untuk kupajang di ruang tamu nanti dan perlengkapan makan dari manik-manik yang bisa kusajikan saat menyambut para tamu. Tak lupa aku memesan pakaian adat dan tas buatan khusus bercorak manik khas untuk kubawa menghadiri aneka acara.
Menjadi duta budaya tanah kelahiran adalah kewajiban yang ingin kujaga walaupun tak lagi berada di pulau kelahiranku.
Tapi, selama persiapan, semakin lama aku semakin sering merasa bosan.
Kebiasaan bekerja keras, dari pagi hingga sore bahkan hingga malam hari, ternyata membuatku tak betah berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Aku sudah mencoba jalan-jalan, menikmati suasana Sangatta yang selama ini tak pernah sempat kulakukan. Tapi hanya dalam beberapa hari, aku sudah mulai bosan lagi.
Untungnya Arzi mengerti diriku.
“Datanglah ke kantor! Jemput saya aja!” kata Arzi saat aku mengeluh bosan.
Setelah itu, setiap sore, aku akan ke kantor suamiku untuk menjemputnya. Arzi sudah tak lagi diizinkan membawa kendaraan dinas ke rumah mengingat masa tugasnya yang akan segera berakhir sementara area tambang tak bisa dimasuki oleh kendaraan tanpa stiker.
Sore itu juga sama seperti biasa. Aku menunggui suamiku di tempat parkir. Para satpam sudah kenal baik padaku. Dulu sebagai karyawan ABS, tapi setelah menikah, mereka tahu aku istrinya Arzi. Walaupun bisa saja aku masuk ke kantornya, aku lebih suka menunggu Arzi di parkiran.
Hari itu, Arzi lebih lama dari biasanya. Jadi kuputuskan untuk keluar dari dalam mobil dan berdiri memperhatikan orang-orang yang keluar dari kantor atau workshop. Mungkin saja salah satunya adalah suamiku.
Tapi saat aku melihat sekumpulan karyawan keluar dari workshop, tak sengaja tatapan kami bertemu. Seketika aku menyunggingkan senyum dan mengangguk kecil. Mereka juga. Tapi senyum mereka tampak sedikit masam.
"Mas Arzi!" sapaku sambil menyongsong suamiku yang akhirnya keluar.
Arzi tersenyum lebar padaku.
"Assalamualaikum, Cinta!" bisikku sambil menyeruak masuk dalam rangkulan Arzi.
"Waalaikumsalam, Sayang!" jawab Arzi seraya merangkulku erat-erat. Sambil berangkulan, kami berjalan menuju mobil.
"Makan di mana? Di luar atau di rumah?" tanyaku begitu mobil mengarah menuju jalan raya.
Arzi menatapku. "Luar aja, sekalian singgah di Sangatta Baru deh. Saya mau beli tali rafia juga. Entar malam mau beberes buku."
Koleksi buku Arzi termasuk barang-barang yang akan kami bawa ke Jakarta. Koleksi cukup banyak. Jauh lebih banyak dari koleksiku sendiri.
"Siap, Komandan!" jawabku. Arzi tertawa melihat tingkahku.
Arzi memandangiku sepanjang jalan. "Istrinya Arzi cantik banget kalo lagi nyetir," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh sekilas. "Suaminya Inka ganteng banget kalo sering-sering muji Inka."
Lagi-lagi kami tertawa bersamaan.
Semakin lama bersama Arzi, aku semakin tahu artinya perasaan bahagia meski hanya sesuatu yang remeh. Aneh, tapi itulah kenyataannya.
__ADS_1
Perjalanan kami tak lama karena jarak Tango Delta ke Sangatta Baru memang tak terlalu jauh. Setelah parkir, dan kembali saling berangkulan, kami memilih salah satu restoran langganan Arzi.
Suasana restoran itu cukup ramai dan aku tak terlalu memperhatikan siapa saja.
Ada yang kukenal, tapi aku hanya melambaikan tangan pada orang itu sebelum mencuci tangan dan mencari tempat yang nyaman untuk makan.
Sementara Arzi langsung menuju konter pemesanan. Walaupun tak bertanya, Arzi sudah hafal makanan favoritku.
Baru setelah duduk, aku menyadari ada satu meja berisi teman-teman lamaku. Tapi kuputuskan untuk tak menyapa mereka jika mereka tak melakukannya lebih dulu.
Mereka itu rata-rata rekan kerja Andra di kantornya. Makanya aku sengaja berpura-pura tidak melihat mereka.
Beberapa menit kemudian Arzi duduk di sebelahku. Di belakangnya pelayan mengikuti dengan sajian pesanan kami. Arzi mengatur semuanya di meja untuk dirinya dan aku. Sementara aku hanya memperhatikan sambil tersenyum-senyum.
"Udah cuci tangan?" tanya Arzi. Aku mengangguk.
Arzi memindahkan piring berisi nasi goreng ke hadapanku bersama segelas air putih hangat.
"Mau makan sendiri apa disuapi?" tanya Arzi santai. Matanya bersinar jenaka.
Pikiran jahilku muncul. "Suapi!" jawabku manja.
Aku benar-benar ingin tahu, apakah Arzi mau memperlihatkan kemesraan di depan orang banyak begini?
Tanpa ragu, Arzi mengambil sendok dan mengambil sesendok nasi. "Aaaa," katanya sambil menyodorkan sendok ke mulutku.
Dengan patuh aku membuka mulut dan nasi meluncur masuk. Aku tersipu saat melihat tamu di seberang meja kami tersenyum-senyum melihat tingkah kami berdua.
Arzi tak malu, justru aku yang merasakannya.
Buru-buru aku mengambil sendok dari Arzi. "Udah ah, makan sendiri aja. Mas makan gih! Diliatin orang. Malu!"
Senyuman lebar tersungging di bibir Arzi saat ia mulai makan makanannya sendiri. Namun, tetap saja sesekali Arzi bersikap mesra padaku.
Jika ia melihat ada sisa nasi tertinggal, tangannya segera membersihkan bibirku. Ia juga menyodorkan gelas untuk kuminum. Bahkan memindahkan telur goreng miliknya ke piringku. Ia memang tak terlalu suka makan telur. Tidak sepertiku.
Sedangkan aku memilih memindahkan aneka sayuran yang tercampur dalam nasi goreng milikku ke piringnya yang berisi mie goreng.
Itu memang kebiasaannya sejak kami menikah. Kadang aku merasa seperti anak kecil yang dimanjakan. Dulu oleh Papa, sekarang oleh Arzi.
Tapi sekarang ini lebih menyenangkan. Kami memang berbeda dalam banyak hal, tapi perbedaan itu justru makin membuat hubungan kami lebih hangat.
Aku sangat berharap nanti di Jakarta, hubungan kami juga akan selalu sehangat ini. Sebuah hubungan pernikahan yang memang ingin selalu kujalani. Menikmati hal-hal sederhana, melakukan sesuatu yang remeh dan menjalani kehidupan biasa. Tapi selalu bersama-sama.
Setelah makanan kami sama-sama tandas, Arzi berdiri lebih dulu untuk membayar makanan. Aku mengambil tasku dan ransel Arzi dan menunggu Arzi selesai. Kami harus segera pulang, sebentar lagi waktu Magrib tiba dan aku tak ingin kami kemagriban di jalan.
Tepat saat aku berbalik untuk melihat suamiku, seseorang berdiri tak jauh dariku, menatapku dengan tatapan terluka.
Andra...
__ADS_1