Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 72 - Terluka


__ADS_3

Tanpa peduli pada tatapan Andra, aku buru-buru membuang muka dan berjalan cepat mendekati Arzi yang masih menunggu kembalian.


Arzi tampak bingung melihatku yang langsung menempel padanya, mengaitkan tanganku pada lengannya.


"Ada apa sih, Yang?" tanyanya bingung.


"Sudah, buruan! Bentar lagi Magrib!" kataku tak peduli sambil tetap memeluk lengannya.


Walaupun bingung, Arzi hanya diam mengikutiku. Dengan langkah terburu-buru, kami bergerak menuju mobil. Aku lebih mirip menyeretnya dibandingkan menggandeng tangannya.


Saat mobilku meluncur keluar, barulah aku menghembuskan napas lega.


"Andra lagi ya?" tebak Arzi tiba-tiba. Ia menghembuskan napas memandangiku.


Aku menoleh cepat. Kuatir ia cemburu."Beneran Inka gak tau kalo dia ada tadi, Mas."


"Gak papa, Yang. Saya justru kuatir sama kamu. Cobalah bicara sama dia dulu," kata Arzi perlahan dengan senyum tawar.


Aku menggeleng-geleng. "Udah Inka coba. Tapi dia... ya gitulah. Inka gak tau lagi harus ngomong gimana."


"Bagaimana kalo saya yang bicara?" tawar Arzi lembut.


Tanpa pikir panjang aku mengangguk.


Arzi tersenyum tipis. "Kalau begitu, hentikan mobil ini di depan!"


"Untuk apa?" tanyaku tak mengerti.


Petang telah beranjak menuju malam. Magrib sudah tiba. Suasana jalan juga mulai sepi.


"Andra sudah ngikuti kita dari restoran, Sayang."


Informasi itu membuatku terpana dan langsung melirik kaca spion. Benar saja! Di belakang mobil kami ada mobil Andra mengikuti.


Aku tak bisa menyembunyikan rasa kuatirku. Tapi menuruti keinginan Arzi, aku menghentikan mobil di tepi jalan. Sesuai dugaan Arzi, mobil Andra juga berhenti di belakang kami.


Setelah menepuk-nepuk tanganku, suamiku keluar dan bergerak mendekati mobil Andra. Dari dalam mobilku, aku bisa melihat Andra juga keluar dari dalam mobil.


Tapi...


Berbeda dengan Arzi yang memasang wajah ramah dan bersahabat, Andra justru sebaliknya. Wajah tampannya sangat kelam dan... karena senja, aku tak bisa melihat terlalu jelas apa yang ia bawa sampai lampu jalan menyorotinya keluar dari bayangan.


Aku menjerit tertahan melihat benda berkilat di tangan kanannya yang kemudian ia sembunyikan di belakang punggung. Itu sebilah pisau!


Arzi tak bisa melihatnya, karena saat mendengarku menjerit, ia menoleh padaku.


Tergesa, aku keluar untuk memperingatkan suamiku.


Terlambat!


Posisi Andra sudah terlalu dekat dengan Arzi dan jeritanku mengiringi saat pisau itu benar-benar menghujam ke arah Arzi.


Refleks, Arzi mengangkat tangannya dan dengan penuh kengerian, aku menyaksikan pisau itu menancap di lengan kanan suamiku.

__ADS_1


Aku menjerit sekerasnya, sebelum berlari lebih cepat. Saat itu, Andra sudah menarik pisaunya, bersiap menyerang Arzi lagi.


Untungnya, aku berhasil berada di antara mereka. Kupeluk suamiku dari depan, ingin melindunginya dari serangan Andra lagi tanpa peduli keselamatanku sendiri.


Tapi berat tubuhku membuat Arzi oleng dan ia jatuh terduduk. Darah segar mengalir deras dari lengan Arzi, yang tampak shock mendapat serangan tiba-tiba.


"Berhenti!! Berhenti, Kak!!!" teriakku keras sambil berbalik melihat pada Andra lagi, masih dengan memeluk Arzi.


Aku menutupi seluruh tubuh Arzi dari pandangan Andra. Kalau ia ingin membunuh seseorang, lebih baik pisau itu menancap ke tubuhku. Tidak pada Arzi. Tidak pada lelaki baik ini.


"Dia merebut kamu dari saya, Inka! DIA!" teriak Andra penuh amarah.


Aku melepaskan pelukanku. Menatap Andra sambi menggeleng-geleng.


"Bukan, bukan Mas Arzi. Bukan dia!! Tapi orangtuamu, Kak. ORANGTUAMU!!"


Gerakan Andra yang melangkah maju mendekati kami terhenti. Ia menatapku tak percaya. "Apa maksudmu? Kenapa orangtua saya?"


Aku berdiri dengan baju yang kini berlumuran darah. Dadaku naik turun karena emosi.


"Mereka... karena mereka, keluargaku hancur. Bapakmu membuat Papaku dipenjara dan hampir dipecat. Ibumu menjebak Papaku sampai orangtuaku hampir bercerai. Apa lagi yang Kak mau tau? APAAA?" teriakku sekeras mungkin.


Andra menatapku tak percaya. "Gak mungkin, In. Tidak mungkin. Orangtua saya tidak sejahat itu. Kamu hanya mencari alasan saja!"


Tangan Andra yang memegang pisau gemetar hebat. Ia melangkah mundur. Pisaunya terjatuh.


Aku berdiri cepat. Dengan berani mendekatinya. Kutatap mata Andra emosi. "Aku di sana, Kak. Aku yang jadi saksi. Kakak kenal Om Markus kan? Ingat kasus warisan hotel miliknya yang dimenangkan orangtuamu? INGAT GAK!" jeritku sekuat tenaga.


“Tapi... apa hubungannya, Inka?” tanya Andra bingung.


Airmataku mengalir perlahan. "Om Markus adalah sepupu Papaku, Kak. Hotel itu harusnya jadi milik anak istrinya. Tapi tau apa yang orangtuamu lakukan? Bapakmu bilang Om Markus sudah melarikan uangnya dan hotel itu adalah jaminannya.”


“Itu... itu... aku.. mereka... “


Aku terisak. “Supaya papaku tak bisa membantu Tante Martha. papaku dijebak!”


"Bagaimana... " Andra tampak bingung.


"Bapakmu melaporkan papaku, Kak! Dia bilang dia dipukuli dan dipaksa oleh papaku saat mereka bernegosiasi soal hotel. Karena bapakmu, papaku hampir kehilangan pekerjaannya. Karena bapakmu, aku pindah sekolah diejek satu sekolahan sebagai anak polisi pemeras! APA KAU DENGAR??"


Tubuh Andra membeku. Ia diam.


Airmataku mengalir deras. Dadaku naik turun sarat emosi. "Mamaku dipaksa untuk berlutut di depan ibu dan bapakmu untuk memohon agar mereka mau menarik laporan itu. Di depan mataku, Kak! Di depan mataku!!” Aku menunduk dan dua tetes airmata mengalir turun. ”Ya Allah, orangtuamu seperti itu, Kak! Sekarang... apa kakak pikifrorangtuaku bisa menerima mereka sebagai besan?"


Aku mengerjapkan mata, berusaha menghapus airmata yang terus mengalir. Mengenang peristiwa menyakitkan itu sungguh tak mungkin tetap tenang, "Ibumu bilang keluarga kami pantas diperlakukan begitu. Dan mereka tetap meneruskan laporannya."


"Inka... " Suara Arzi yang berdiri di belakangku memanggil.


"Biar, Mas! Biar dia dengar semuanya!" teriakku emosi.


Aku sudah lelah menyembunyikan rahasia itu. Aku kembali menoleh padanya.


"Orangtuamu itu benar-benar menghancurkan keluargaku, Kak. Mereka bilang kalo Om Markus itu pencuri. Mencuri uang mereka. Mempermalukan dirinya berbulan-bulan di media, di depan keluarga dan sahabatnya. Omku gak bisa membela diri, istrinya tak tahu apa-apa. Selama itu, orangtuaku juga sibuk membuktikan tuduhan palsu itu. Selama itu... aku... “

__ADS_1


Aku tak bisa melanjutkannya. Aku tak sanggup mengungkapkan betapa hancurnya hatiku saat itu. Karena di saat yang sama, aku harus menghadapi kedua pamanku sendirian, membuatku justru kehilangan mereka.


“Karena papaku, Tante Martha memilih mengalah. Dia gak banding saat kalah. Cuma dengan begitu, orangtuamu berhenti. Tapi... “ Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mengingat semua yang terjadi saat itu.


“Orangtuamu gak berhenti, Mas. Bahkan Tantemu ikut-ikutan. Hanya karena dia jatuh cinta pada papaku, dia mencoba merayu papa, dia ingin memiliki seorang pria beristri. Pernikahan orangtuaku hampir hancur karenanya.”


“Tapi Inka... Itu bukan salah... “


“Mama bukan ibu kandungku, Kak! Tapi aku sayang dia. Dia satu-satunya ibu yang kukenal di dunia ini. Menyakiti hatinya, itu sama juga menyakitiku. Bahkan kalau orangtuaku berpisah, aku pasti milih dia. Tapi waktu Mama pergi bersama adik-adikku, aku harus tinggal. Dia gak berani bawa aku. It's hurt me so much, Kak!"


Aku menangis tersedu-sedu. Mengingat semua peristiwa yang menghancurkan hatiku.


Andra mundur selangkah. Menggeleng-geleng tak percaya.


"Aku... Aku yang jadi korban. Bima jadi korban. Papa Mamaku... Tanteku... Kami semua jadi korban. Apa itu belum cukup? Jadi itu sebabnya kakak juga ingin mengambil suamiku?"


"Gak mungkin, Inka! Kamu pasti salah."


"Gak mungkin? Gak mungkin? Tantemu!!! Tanya dia! Tanya orangtuamu! Kenapa tantemu merayu papaku? Kenapa orangtuamu berbohong dan meminta papaku menemui dia di hotel, tapi juga menghubungi Mama untuk datang?" teriakku marah.


“Inka... “ Suara Arzi terdengar melemah di belakangku. Aku belum pernah mendengar suaranya selirih itu.


Aku berpaling, kembali bersimpuh melihat keadaan Arzi. Wajah Arzi sudah pucat saat tatapan kami bertemu. Darah terus mengalir keluar dari luka akibat pisau yang ditusukkan Arzi tadi, meski kini tangan kiri Arzi berusaha menekan luka itu.


“Mmm... Mas... Ini... “ gumamku bingung.


Aku tak tahan lagi melihat suamiku seperti itu. Sudah cukup! Andra, keluarganya sudah tak bisa lagi terus menyakiti keluargaku.


Mataku mencari-cari pisau yang terjatuh tadi. Dengan kalap kuambil pisau itu dan mulai mendekat ke Andra cepat. Aku harus membalasnya. Ia harus merasakan hal yang sama. Ia harus tahu sakitnya.


"INKA!" teriak Arzi sekuat tenaga.


Saat aku berbalik dengan tangan terangkat, Arzi sudah setengah berdiri, memegangi tangannya yang terluka. Tampak jelas ia memaksakan diri.


Sementara di depanku, Andra diam bagai patung. Hanya matanya menatap tak percaya melihat tanganku yang hendak menusuknya dengan pisau yang masih dipenuhi darah Arzi. Teriakan Arzi membuatku berhenti. Tapi tidak menurunkan emosiku.


"Inka.. sudahlah. Kita ke rumah sakit sekarang," gumam Arzi yang berjalan tertatih-tatih mendekatiku.


Arzi mengambil pisau di tanganku dan melemparkannya ke dalam parit di tepi jalan sepi itu. Lalu sambil bersandar padaku, Arzi mulai berjalan menuju mobil kami.


Saat melewati Andra, aku mendesis, "Aku benci padamu, Kak. Aku benci seluruh keluargamu!"


Tangan Arzi mengetuk-ketuk tanganku. Makin pelan. Tubuhnya juga makin berat dan susah berjalan. Aku berusaha terus memapahnya terus mobil. Tapi kesadaran Arzi benar-benar hilang saat kami hampir berhasil.


Ketika tangan Arzi yang bertumpu padaku kehilangan kekuatan, perlahan tubuhnya menggelosor turun dari pelukanku. Tubuhnya terkulai lemas tak berdaya. Wajahnya sangat pucat dan matanya terpejam rapat.


Saat itulah aku merasa ada sebagian jiwaku pergi.


“MAS ARZIIII,” jeritku sekuat tenaga, memecahkan keheningan malam.


 


 

__ADS_1


__ADS_2