
Aku tak lagi heran ketika mobil-mobil bergerak menuju rumahku.
Kabar tentang Arzi yang ingin mengunjungi calon keluarga besannya ternyata mengalir hanya dari satu telepon ke telepon yang lain dalam hitungan jam.
Saat kami tengah bersantap siang, dua mobil masuk ke halaman rumah. Saat kami sholat dhuhur berjamaah, ada satu lagi muncul. Bahkan ketika kami sudah bersiap di depan pintu dan mulai mengatur para penumpang, ada lagi tiga mobil lain datang.
Aku sampai berbisik, "Bapak yakin ini hanya lamaran biasa?"
Arzi mengangkat bahu. Tersenyum santai seperti biasa. "Ya habis gimana, mereka ini teman-teman saya semua."
"Bapak keder ya ketemu Papaku, sampe bawa regu begini banyak?" ejekku tersenyum-senyum.
"Emang kenapa dengan Papamu?" tanya Arzi bingung.
Mataku membulat. "Bapak gak tahu siapa Papaku?" Ganti aku yang bertanya. Bolak balik kami selalu seperti ini, saling bertanya.
Benar saja, Arzi menggeleng. Sorot matanya jelas heran. Tapi karena keburu dipanggil, ia kembali sibuk mengatur rombongan.
Aku tersenyum di belakangnya. Mungkin ia benar-benar tak tahu, kalau Papaku seorang anggota polisi. Salah satu perwira menengah polisi di Kepolisian Daerah Balikpapan. Tak hanya itu, Papa terkenal sebagai seorang polisi berwatak keras dan terkenal berani, bahkan terhadap atasannya. Seseorang yang menerapkan disiplin luar biasa padaku dan kedua adikku sejak kecil.
Untukku, Papa lebih bersikap istimewa. Istimewa dalam arti tak ada satupun pemuda yang berani mendekatiku, bahkan sekedar datang ke rumah, kecuali seluruh keluarganya sudah dikenal Papa. Jangankan pacaran, membawa teman laki-laki ke rumah saja aku tak pernah berani.
Jadi aku benar-benar ingin melihat wajah Arzi saat nanti bertemu Papa. Aku bersyukur ada orang-orang yang menemaninya. Jika tidak... aku kuatir ia akan bersikap sama seperti teman-teman laki-lakiku dulu. Katanya berani, tapi paling-paling hanya sampai pintu pagar sebelum pamit lagi. Kalaupun sampai masuk, biasanya tak berani muncul lagi.
Nyatanya, di depan rumahku, aku tak melihat mobil Papa. Halaman parkir rumah dinas yang luas kosong melompong. Mama yang menyambut kami, dan ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat sejumlah mobil masuk ke halaman kami hampir bersamaan.
"Loh In, Mama kira hanya temanmu aja yang datang. Segini banyak, gak ada makanan di rumah," bisik Mama saat aku naik tangga tanpa basa basi. Kedua adikku yang tampaknya baru pulang sekolah, ikut berdiri bingung di teras rumah masih dengan pakaian seragam mereka. Adik laki-lakiku masih SMP, sementara adik perempuanku sudah hampir lulus SMA.
Aku buru-buru memanggil adik laki-lakiku, memintanya membeli minuman dingin. Sambil bicara dengan Mama, kami berjalan masuk. "Udah, Ma. Apa adanya aja. Papa udah datang?"
Mama menggeleng, "On the way. Tadi Paman Hakimmu juga on the way ke sini. Mereka kaget dengar ada cowok mau datang."
Aku mengangguk. Syukurlah. Itu yang penting. Aku keluar lagi setelah melihat persiapan sederhana Mama. Walaupun hanya sajian teh hangat dan kue-kue kering biasa. Ini sudah lebih dari cukup. Aku tak ingin Mama repot. Mama gampang marah kalau lelah.
Kami keluar lagi, menyambut satu persatu rombongan yang ada. Ruang tamu rumah dinas Papa sebenarnya cukup luas, tapi karena banyaknya orang yang datang, aku mengajak para perempuan masuk ke ruang makan yang ada tepat di sebelah ruang tamu. Sementara usai membeli beberapa botol minuman dingin, adik laki-lakiku menemani para tamu pria.
Mama lagi-lagi kaget saat melihat para perempuan yang datang bersamaku ini ternyata membawa aneka buah tangan. Dari mulai buah-buahan, kue basah, roti bahkan biskuit kemasan. Berulang kali ia bertanya padaku 'ini kunjungan atau lamaran resmi sih?'
Sementara adikku, setelah kupaksa sedikit, akhirnya mewakili keluarga memohon maaf karena Papa dan Paman Hakim masih dalam perjalanan. Aku tersenyum geli dari balik gorden pembatas ruang tamu dan ruang makan melihat murid SMP yang masih berseragam sekolah lengkap itu terpaksa duduk bersama para tetua. Mau tak mau ia menjalankan perannya sebagai satu-satunya lelaki di rumah.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, yang pertama datang justru Paman Hakim. Aku benar-benar tak menyangka ia datang dari Samarinda untukku. Pamanku juga terkejut melihat rombongan besar yang datang.
Paman semakin kaget saat melihat tamu-tamu kami itu. Ini pasti berbeda dari bayangannya. Ia sampai tak mengenaliku saat mencium tangannya. Jilbab merah muda yang kukenakan ternyata membuat dia pangling.
Papa muncul paling belakangan saat suasana di ruang tamu sudah mulai relax karena Paman Hakim memang jago menghidupkan suasana dengan guyonan.
Sama seperti Paman, Papa juga tampak terkejut. Dia berdiri cukup lama di halaman, memandangi mobil-mobil yang parkir hingga memaksa supir Papa parkir di jalan. Asisten sekaligus supir Papa juga tak berani masuk melalui pintu depan melihat orang banyak itu.
"Mbak Inka, ini yakin cuma kunjungan buat kenal aja?" bisik Haris setengah menggoda, supir sekaligus asisten Papa itu, sambil menyerahkan tas kerja dan jas Papa. Aku tertawa saja. Aku tak tahu, aku juga tak yakin.
Papa masuk ke ruang tamu dengan pakaian dinasnya. Papa tak pernah melepas sepatu di depan pintu, tapi langsung masuk. Biasanya Mama yang akan membukakan sepatu karena Papa kesulitan melepaskan tali-tali sepatunya sendiri. Maklum perut Papa sudah melewati batas.
Tapi kebiasaannya ini membuat suasana di ruang tamu saat ini berubah tegang. Jelas mereka kaget melihat seorang polisi berseragam lengkap masuk, karena di ruang tamu tak ada satupun foto keluarga yang menggambarkan kalau Papa seorang polisi.
Papa yang kebingungan, ditambah tatapan orang-orang yang juga kebingungan membuat suasana makin canggung.
"Kapteeen!" sapaku dari dalam sambil menyongsong untuk memeluk Papa. Itu panggilan kesayanganku untuk Papa. Dari aku kecil.
Papa mencium dahiku, tanpa memperdulikan orang-orang yang berdiri di sekitar kami. "Halo, Princess!" balas Papa dengan senyuman lebar.
"Mr, Capt, ini Mas Arzi, yang semalam Inka terima lamarannya," ujarku to the point sambil menunjuk Arzi.
Aku selalu bicara seperti itu dengan Papa, tidak bertele-tele. Namun sebenarnya aku juga sedang berusaha keras mencairkan suasana canggung yang sangat terasa ini.
Itu sebabnya, aku sengaja mengubah panggilanku pada Arzi, agar kesan perbedaan usia kami yang jauh tak terlalu terlihat oleh Papa. Kini giliran Papa menatap Arzi. Menilainya secara keseluruhan.
"Dan mereka ini, teman-teman Mas Arzi," lanjutku. Satu persatu para tamu menyalami Papa. Kali ini suami Nurul yang lebih dulu mengenalkan diri, agar rasa canggung cair di antara kami semua. Aku beruntung Paman Hakim hadir, karena ia mulai membuka perkenalan dengan canda.
Aku kembali masuk, bergabung dengan para wanita di dalam. Bersama Mama dan adikku, aku ingin mendengar percakapan di luar. Tapi tidak. Itu tak terjadi karena para tamu wanita juga mengajakku bicara.
"Nanti kamu menginap dulu kan, In?" tanya Mama. Aku mengangguk. Tentu saja. Aku ingin tahu respon Papa.
Tak sampai sepuluh menit, adik laki-lakiku yang masih berseragam sekolah masuk. "Kak, dipanggil Papa."
Aku keluar mengikuti adikku dan duduk di antara Papa dan Paman Hakim.
"Prins, Papa diminta sama teman... mu ini, memberi izin kalian untuk menikah. Tapi Papa bilang, Papa ingin bicara dulu sama kamu dan seluruh keluarga. Temanmu ini setuju dan malam ini, kalau bisa kamu stay dulu di rumah."
Aku mengangguk, tak berani berkata apa-apa. Melirik Arzi saja aku tak berani.
__ADS_1
Papa menatap Arzi. "Apapun jawaban kami sekeluarga, kami mohon Nak Arzi dan keluarga menerima dengan besar hati ya. Karena sejujurnya... Princess ini masih belum 20 tahun, dia bahkan tidak biasa mengurus rumah tangga. Putri saya ini juga masih sangat kekanak-kanakkan. Jadi kami ingin memikirkan permintaan itu baik-baik."
Arzi mengangguk. "Siap, Pak. Saya mengerti. Saya paham sekali. Tapi saya mohon kalau bisa sebelum saya berangkat ke Jakarta, saya bisa mendapat jawabannya."
"Berangkatnya kapan?" tanya Papa. Suara Papa terdengar lebih ramah. Tidak biasanya ia seperti ini pada lawan jenis putri kesayangannya.
"Dua minggu kurang, Pak."
"Oh, tapi masih bekerja di Sangatta juga kan? Bukan mutasi kan?" tanya Papa.
"Enggak, Pak, hanya cuti saja," jawab Arzi lugas.
"Oooh. Tapi maaf, kalau misalnya kami terima. Rencana Nak Arzi gimana selanjutnya?"
"Menikah secepatnya, Pak. Kalau bisa begitu semua urusan administrasi selesai, kami segera menikah. Tadinya kalau malam ini diterima, saya ingin menikah dengan Inka dalam dua minggu ini. Supaya bisa langsung saya bawa ke keluarga saya di Jakarta."
Papa terdiam. Menatap pada Arzi, membaca ekspresi wajahnya seperti ia biasa memeriksa para terdakwa di tahanan. Papa menoleh padaku, tapi aku tak bisa mengerti arti tatapan itu.
"Kalau begitu, paling lambat besok pagi saya akan putuskan bersama Princess," kata Papa yakin. Tampak kelegaan di wajah semua orang yang ada di ruangan itu.
Satu jam kemudian, rombongan itu pulang. Arzi pamit paling terakhir dan untungnya keluargaku serta teman-temannya membiarkan aku bicara secara pribadi dengan Arzi sebentar.
"Kenapa gak bilang kalo Papamu itu polisi?" bisik Arzi menyeringai. Wajahnya yang tadi begitu serius namun tenang, terlihat lebih rileks.
Aku tertawa kecil. "Gimana? Gemetar gak?"
"Untung saya bawa Mas Bayu, kalo enggak habis deh saya tadi."
Aku tertawa lagi. Makin lebar. "Hihihi, aku liat tadi Bapak pucat banget. Rasain! Makanya bawa rombongan banyak bener sih."
Arzi tak menjawab, ia hanya ikut tertawa. "Entar puji-puji saya yah di depan Papa Mama. Bilang aja, saya ini baik, bujang asli, ganteng, rajin dan... "
Aku tak bisa menahan tawa lagi. "Aduh, Pak. Udah ah, sakit perutku ih nahan ketawa. Gak malu apa muji-muji diri sendiri gitu?"
"Kan demi masa depan kita, Dek." Sekali lagi kami tertawa bersama-sama.
Setelah sekali lagi berpamitan, kami pun berpisah. Mobil-mobil rombongan Arzi ternyata menarik perhatian para tetangga. Mereka berdiri mengamati dari kejauhan, bahkan akhirnya bertanya padaku. Aku hanya meminta doa mereka.
Papa dan Paman Hakim sudah menantiku di ruang tamu bersama Mama dan kedua adikku. Mereka sudah berganti pakaian. Aku baru hendak duduk ketika Papa mulai bicara.
__ADS_1
"Kamu kenal Andra, Inka?"
Pertanyaan Papa membuat senyumku langsung hilang, dan beban yang tercabut saat bersama Arzi kembali lagi.