
Tiba-tiba seseorang membantuku memapah tubuh Arzi. Andra. Aku ingin menolak.
"Saya akan bertanggung jawab, In. Saya yang akan bantu. Biar saya yang nyetir. Terserah kamu habis ini mau apain saya," katanya sambil mengambil kunci mobil yang terjatuh dari tanganku.
Begitu selesai bicara, Andra membantuku mendudukkan Arzi di kursi penumpang mobilku. Aku juga duduk di belakang, membiarkan kepala Arzi tidur di pangkuanku, sementara Andra berlari cepat menuju belakang kemudi.
Tangisku makin kencang melihat darah yang terus mengalir melalui celah tanganku yang menutup luka Arzi. Baru beberapa jam yang lalu tangan ini menyuapi dan mengelus pipiku, sekarang tangan yang sama terkulai penuh darah di pangkuanku.
Aku terus menatap wajah suamiku yang makin pucat. Bibirnya mulai membiru. Melihat keadaannya, airmataku terus berjatuhan.
Dalam hati, aku hanya bisa berdoa. Meminta pada Allah untuk menyelamatkannya, apapun harga yang harus kubayar. Hanya itu saja.
Aku bisa merasakan tatapan Andra yang sesekali melihat ke arah kami. Tapi aku sudah tak lagi mempedulikannya.
Mobil yang dikemudikan Andra melaju cepat menuju klinik. Saat sampai, Andra mencegahku turun, dan ia segera memanggil dua orang petugas medis. Keduanya membantuku memindahkan tubuh Arzi ke atas brankar. Baru setelah itu aku ikut turun. Sebagian pakaianku sudah dipenuhi noda darah.
Aku semakin tak mempedulikan Andra. Ia kutinggalkan begitu saja dan mengikuti para perawat yang membawa suamiku. Sampai di ruang IGD, aku berdiri melihat pakaian Arzi yang digunting oleh perawat, lalu kapas-kapas yang dijejalkan pada lukanya.
Begitu banyak petugas yang menanganinya, hingga aku tak lagi bisa melihat tubuhnya dengan jelas. Lalu tirai biru muda ditarik menutupi pandanganku. Membuatku benar-benar tak bisa melihatnya saat tengah ditangani para petugas kesehatan.
Sebuah jaket disampirkan seseorang ke pundakku. Aku menoleh dan Andra berdiri di sampingku. Dengan tatapan marah, aku mengambil jaket itu dan membuangnya ke lantai. Andra menatapku sedih sebelum pergi entah ke mana.
Tak lama, ia kembali lagi. Kembali menyampirkan jaket lain padaku. Kali ini ia berkata, "Ini jaket milik suamimu, In. Pakaianmu basah dan penuh darah. Pakailah dulu!"
Aku diam, tak mau meresponnya. Sementara Andra tetap berdiri di dekatku.
"Maafkan saya, In," bisiknya dengan kepala tertunduk.
Aku mendongak. Menatap marah.
"Puas Kak? Puas sudah menghancurkan semua yang aku punya? Kakak benar-benar jahat! Sama seperti orangtuamu," kataku pelan tapi menusuk.
Andra tampak terluka mendengar kata-kataku. Sebelum aku kembali berkata, ia sudah bersimpuh di depanku tanpa peduli tatapan orang-orang yang ada di sekitar kami.
"Maafkan aku, Inka. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan lakukan apapun untuk nyelamatin suamimu. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya. Aku janji, Inka. Tolong maafkan aku!"
Tingkah Andra membuat aku menatapnya tak percaya.
Ke mana pria pendiam tapi baik yang dulu pernah kucintai? Ke mana sosok pria pemimpin yang selalu berpikir panjang dan dikagumi tak hanya olehku tapi juga teman-temannya?
Yang kulihat, hanya seseorang yang menghancurkan seluruh hidupku. Menghancurkan seluruh harapan dan kebahagiaanku.
__ADS_1
Keluargaku, suamiku... hanya karena cintanya.
Mengingat kondisi terakhir Arzi membuat airmataku jatuh lagi. Sungguh aku ingin segera melihatnya lagi. Aku masih berharap semua yang terjadi ini hanya mimpi buruk. Belum apa-apa, aku sudah merindukan candaan dan tawanya yang khas.
Kakiku terasa lemas, dan di hadapanku Andra, aku berjongkok. Menangis sejadi-jadinya, memanggil nama Arzi berulangkali.
Di depanku, Andra masih bersimpuh sambil menatapku tak berdaya.
Begitupun para perawat dan petugas yang berada di dalam ruangan IGD itu. Mereka tak tahu bagaimana menghentikan tangisku.
Lalu salah satu perawat yang mengenaliku sebagai adik Dirga, mendekatiku.
“Mbak Inka, istirahat dulu di sana yuk!” bujuk perempuan manis itu. Ia membantuku berdiri. Kami berjalan keluar dari IGD, menuju deretan kursi tunggu.
Aku tak tahu kalau Andra mengikuti kami.
Dari ujung lorong klinik, terdengar derap langkah banyak orang. Saat aku menoleh, Dirga mendekatiku bersama beberapa orang pria dengan langkah terburu-buru. Beberapa diantara mereka berseragam polisi. Andra juga menoleh. Menunggu.
"Inka, kamu gak papa? Mas Arzi kenapa? Dia ditusuk siapa? Kamu tahu orangnya?" tanya Dirga bertubi-tubi begitu mendekatiku. Ia memeriksa tubuhku lekat-lekat dan aku bisa merasakan suaranya yang sedikit bergetar karena emosi.
Aku menatap Andra. Mataku berkilat marah lagi. "Dia! Dia yang nusuk Mas Arzi."
Dua polisi pun segera mendekati Andra. Pria itu juga mengiyakan kesaksianku. Kedua polisi segera menarik Andra menjauh dariku dan mulai bertanya padanya, lalu usai menjelaskan kejadian secara singkat, Andra menyerahkan sebuah kunci pada polisi. Kunci mobil milikku.
Aku tak mau mendengarnya dan tak mau melihat Andra lagi. Mataku fokus menunggu pintu ruang IGD terbuka. Baru setelah seorang polisi pamit padaku, aku kembali melihat ke arah mereka.
Tanpa berkata aku hanya mengangguk. Ketika Andra digiring keluar oleh tiga orang polisi, aku hanya memandangi dengan tatapan kosong.
Dirga duduk di sebelahku, "Tenang ya, In. Insya Allah Mas Arzi baik-baik saja. Kamu jangan kuatir!"
Tapi bibirku terasa kelu. Aku menggeleng-geleng dan hanya bisa menangis, sampai Dirga merangkul menenangkanku. Entah apa yang ia katakan, karena aku merasa lama-lama seluruh ruangan seperti berputar sebelum akhirnya menjadi gelap gulita.
***
Mataku masih kabur menangkap sinar lampu yang menyilaukan, ketika kesadaranku kembali maka satu-satunya yang kuingat pertama adalah Arzi. Aku melonjak bangun.
Tapi kepalaku berputar lagi. Pusing.
"Pelan-pelan, Nak! Pelan-pelan!" Suara Mama terdengar di sebelahku.
Perlahan aku memeriksa sekelilingku. Mama tampak mengenakan kaus biasa dan celana panjang hitam, dengan jaket yang sepertinya bukan miliknya. Mama tampak kusut, wajahnya tanpa makeup, sedikit pucat dan matanya membengkak.
__ADS_1
Mama pasti habis menangis. Datang ke sinipun dengan terburu-buru, hingga ia tak sempat berganti pakaian. Pakaian yang ia kenakan saat ini, biasa ia kenakan saat berada di rumah dalam keadaan santai.
Aku bisa membayangkan kepanikan kedua orangtuaku saat menerima kabarku dan Arzi.
Aku berusaha turun dari tempat tidur. Tapi tangan Mama mencegah. "Jangan turun dulu! Biarkan infusmu habis dulu, In. Papa dan Dirga akan urus semuanya."
"Mas Arzi gimana, Ma?" tanyaku ingin tahu.
Kulirik tanganku yang ternyata dialiri infus. Pikiranku terlalu penuh, hingga tak menyadarinya.
Mama menghela nafas. "Arzi baik-baik saja, In. Ia sudah dioperasi. Tapi kita masih harus membawanya ke rumah sakit lebih besar di Balikpapan atau Jakarta untuk perbaikan syaraf tangannya."
"Kalau begitu, sekarang aja Ma. Lebih cepat lebih baik," kataku sambil berusaha bangkit lagi. Tapi Mama mencegah lagi.
"Tidak bisa, Inka. Kondisi suamimu tidak memungkinkan untuk ditemui sekarang. Ia harus istirahat dulu. Kondisi vitalnya harus benar-benar fit sampai operasinya yang kedua. Ia terlalu banyak kehilangan darah dan... " Mama menatapku, agak ragu untuk menyampaikan.
"Ada apa, Ma? Ada apa lagi?" tanyaku cepat.
Sudah banyak yang terjadi. Satu berita buruk lagi tidak akan menjatuhkan diriku. Aku harus kuat untuk Arzi. Untuk kami berdua.
"Kamu, Nak. Kondisimu juga buruk. Dalam kondisi begini, harusnya kamu gak boleh capek dan shock. Kasihan janinmu. Kamu harus sehat kalau ingin sehat..."
"Tunggu, Ma! Janin? Janin... maksud Mama?" Aku menatap Mama tak percaya.
Gantian Mama yang tampak kaget. "Loh kamu gak tahu kalo kamu lagi hamil?" tanya Mama.
Aku menggeleng-geleng, menatap Mama dengan mata berkaca-kaca lalu pindah ke perutku sendiri. Masih tak percaya pada berita yang baru saja kudengar.
Dengan mata berkaca-kaca, Mama memelukku, membiarkanku menangis perlahan dalam pelukannya. “Yang tegar, Nak. Mama tahu, kamu pasti bingung sekali. Tegarlah!”
Aku hanya diam, hanya bisa menangis. Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa sekarang. Perasaanku campur aduk, antara sedih dan bahagia.
Tapi jauh dalam hatiku, aku berbisik memanggil nama Arzi.
Mas, kembalilah sehat. Untukku, untuk calon bayi kita.
Penantian kita telah berakhir.
****
__ADS_1