
Hari Minggu pagi yang cerah menyambutku saat keluar dari kamar. Sangat segar. Seperti terlahir kembali. Setelah semalam jalan-jalan, aku siap kembali ke Sangatta sore ini. Hari ini rencananya aku ingin mengunjungi rumah beberapa teman sekolahku saat di SMA yang tinggal di Tanjung Laut. Tapi itu hanya rencana, kalau Arzi menawarkan rencana yang lebih bagus, mungkin aku akan mengikutinya.
"Pulang jam berapa nanti?" tanya Arzi saat kami duduk bersama di meja sarapan Hotel tempatku menginap. Rombongan teman-teman Arzi sudah lebih dulu berangkat.
"Late check-out. Mungkin sorean. Acara Bapak gimana? Kok belum pergi?" Aku memasukkan sesendok Nasi Goreng Ayam dalam mulutku.
Arzi menatapku sekilas sebelum menunduk memandangi Bubur Ayamnya. "Acaranya jam 9 nanti. Saya masih punya waktu. Saya di sana sampai malam."
"Kalau rombongan juga pulang nanti malam?" tanyaku.
Arzi menggeleng. "Enggak, mereka sebagian pulang siang ini setelah pengajian. Saras juga sore ini pulang."
"Aku kan sendirian, Pak. Kali aja ada yang pengen sekalian ikut aku, boleh aja." Sekali lagi aku menawarkan tumpangan.
Kembali Arzi menggeleng. "Gak usah, In. Sudah ada kendaraan sendirian. Mereka gak datang gratis ke sini. Mereka bayar masing-masing. Saya malah kuatir nanti malah merepotkanmu. Dan... " Arzi meletakkan sesuatu dalam plastik di atas meja kami. "... Semalam saya lupa. Ini untukmu," lanjutnya.
Aku melihat isi plastik itu. Tiga buah kerudung yang semalam dibelinya. Ternyata untuk aku. Aku tak menolaknya. Tak baik menolak rezeki.
"Makasih ya, Pak. Kirain buat cewek yang lagi deket sama Bapak," ujarku setengah bercanda. Kami sudah selesai sarapan.
Arzi berdiri dan tersenyum kecil. "Kamu kan cewek yang lagi deket sama saya."
Hmm... serangan lagi. Tapi aku santai membalas, "Iya deh iya. Daripada panjang ceritanya."
Kami berpisah di Lobby karena pria yang tadi malam menunggu Arzi sudah menjemputnya lagi. Aku masuk ke kamarku dan berniat menelpon temanku. Tapi baru saja kukunci kamar, ketukan di pintu terdengar. Mungkin Arzi kembali.
"Nah loh, apa lagi nih yang belum dikasih untukku, Bapak?" godaku sambil membuka pintu.
Tapi bukan Arzi yang berdiri di depan pintu. Dia... Andra. Kekasihku yang berdiri bingung mendengar pertanyaanku.
"Kak Andra?" tanyaku tak percaya.
"Bapak siapa?" Andra malah balik bertanya.
Aku terdiam. Lalu dengan spontan aku berdusta, "Itu... Petugas Room Service tadi. Eh, Kak Andra kok tau aku di sini?" Tanpa kuminta, ia masuk ke kamarku.
"Semalam saya tanya ke Ibu kostmu, katanya kamu lagi ke Bontang. Saya mau nyusul sudah terlalu malam, jadi baru pagi ini saya ke sini." Andra duduk di kursi dekat TV. Ia melirik tas ranselku yang berantakan, dan plastik-plastik belanjaan semalam yang kuletakkan begitu saja. Bajuku juga berserakan di dekat lantai lemari.
“Tau dari mana kalau aku menginap di sini, Kak?” tanyaku heran. Aku bahkan tak memberitahu Hans soal itu.
Andra menatapku aneh. “Di sini aku hanya perlu menelpon, Inka.”
Mendengar itu aku tertawa. Selintas, aku pernah dengar dari Thamrin dan Yudi, kalau keluarga Andra bukan keluarga biasa. Tentu saja aku tidak heran. Papaku juga seperti itu.
__ADS_1
Aku ke toilet, menyikat gigi. Saat keluar, kamarku sudah lebih teratur. Bajuku yang berantakan sudah terlipat rapi di atas tempat tidur, plastik-plastik yang berserakan juga sudah menyatu dan lebih sedikit. Andra penyuka kebersihan, mungkin matanya sakit melihat kamar hotel yang berantakan. Untung dia tak pernah masuk ke kamarku. Mungkin kalau masuk, ia takkan bisa membedakannya dengan kapal pecah.
"Sudah saya beresin tuh. Check-out sekarang aja yuk!" ajak Andra yang kini duduk di tepi tempat tidur. Aku bengong. Maksudnya apa?
Membaca pertanyaan dalam tatapanku, Andra menggenggam tanganku. "It's time to see my parents, so we can adjust our plan with them. I don't want to wait more. At least our both parents should know our relation."
(Ini waktunya bertemu orangtua saya, jadi kita bisa menyesuaikan rencana kita dengan mereka. Saya gak mau nunggu lebih lama lagi. Setidaknya kedua orangtua kita harus tahu hubungan kita.)
Benar juga. Orangtua Andra tinggal di Bontang. Aku sudah tahu dari dulu, jauh sebelum kami pacaran. Tentu saja aku mau. Semakin cepat, semakin baik. Dengan begitu, posisiku di hati Andra akan semakin kokoh. Janji kami juga semakin teguh. Kuanggukkan kepala penuh keyakinan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Andra, aku sedikit kaget ternyata rumahnya terletak di Bontang Kuala. Tak jauh dari tempatku kemarin makan siang. Tentu saja ini di luar dugaanku.
"Kirain tinggal di perumahan, Kak," kataku saat aku turun dari mobilku. Andra datang ke hotel naik motor, jadi aku menyetir sendiri sambil mengikuti Andra. Kami berjalan menyusuri jalan yang terbuat dari papan kayu hitam, yang berdiri di atas laut. Andra menggandeng tanganku.
Andra mengangguk. "Iya, kalo hari kerja biasa. Kami weekend ngumpul di sini. Yang ini dulu rumah almarhum Lato' (1) saya yang kebetulan diwariskan ke Bapak. Semalam saya telepon, minta semua kakak-kakak dan orangtua saya ke sini."
Aku terperangah. "Kakak udah cerita soal aku?"
Kembali Andra mengangguk. "Sudah lama sekali. Waktu baru kenal kamu. Saya minta doa Ibu supaya saya berhasil deketin kamu. Alhamdulillah bener kan? Begitu saya cerita kalo doa ibu sudah terjawab, mereka mendesak saya terus."
"Naah, itu tuh... Gitu Kak Andra mau nyuruh aku nunggu 3 tahun? Hehehe. Aku harus peluk dan cium Ibu nih," sindirku mengingatkan pertengkaran kami beberapa waktu lalu. Andra tersenyum simpul.
"Sudahlah, iya saya yang salah. Hayo, itu rumah Ibu Bapak saya!" Telunjuk Andra lurus menunjuk ke sebuah rumah bercat hijau muda. Aku mengikuti arah telunjuknya. Sekelompok anak-anak yang berada di depan rumah itu ternyata menyadari kedatangan kami. Saat melihat Andra, mereka berlarian menuju dirinya.
"Pamaaaan! Paman Andra!" teriak mereka berebutan memeluk dan menyalimi Andra. Aku memandangi anak-anak itu. Yang paling besar, usianya mungkin sekitar 10-11 tahun, sementara yang paling kecil berlari paling belakang, seorang anak perempuan berumur sekitar 2-3 tahun. Meski menyambut salam dari semua anak-anak itu, tapi fokus Andra mendatangi si gadis kecil itu. Ia menggendong dan menciuminya.
Aku tersenyum dan memegang tangan anak itu. "Halo, Amira!"
Satu persatu Andra memperkenalkan para keponakannya. Hampir semua nama mereka berawal 'A'. Dan ternyata dari ketujuh keponakannya, empat diantaranya adalah putra-putri dari kakak sulung Andra. Dua pasang anak kembar sekaligus. Wah! Pantas kalau Andra sangat menginginkan anak. Ia berasal dari keluarga besar.
Kami berjalan beramai-ramai sampai di depan rumah. Anggota keluarga yang lebih dewasa pun keluar satu persatu menyambutku dan Andra, memberi salam, berkenalan dan tentu saja melemparkan candaan. Aku tak terlalu asing dengan logat bahasa mereka yang khas, karena Papa juga berasal dari suku yang sama.
Setelah semua berkumpul, dan aku duduk di kamar tamu bersama beberapa kakak perempuan Andra, Andra masuk. Ia keluar lagi bersama seorang wanita setengah baya. Pasti itu ibunya. Wanita itu tersenyum sangat ramah padaku dan langsung memelukku dengan hangat.
"Alhamdulillah ya Allah, datang juga kau, Nak. Ya Allah cantiknya... " Tangan sang Ibu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, ia memandangiku begitu lekat. Matanya berkaca-kaca. Aku juga memandangi wajah tuanya.
Tapi aku tidak bisa tersenyum...
Aku mengenal perempuan tua ini. Sangat kenal. Beberapa tahun silam kami pernah bertemu. Saat aku masih SMA, saat aku tinggal di Bontang, saat aku masih tinggal bersama Mama dan Papa. Wanita di hadapanku ini tidak tersenyum saat itu.
"Mana menantuku? Mana menantu cantikku?" Suara lain terdengar dari dalam rumah, dan seorang pria tua berkopiah khas bergaris kuning emas keluar dari pintu yang sama. Tanpa perlu memperkenalkan diri, aku tahu ia Bapaknya Andra.
Pria itu tergopoh-gopoh mendekatiku, tersenyum lebar dan aku mengulurkan tangan menyalaminya. Sama seperti istrinya, ia tampak begitu terharu. Mengangguk-angguk pada Andra, seakan menyetujui apapun yang pernah dikatakan putranya.
__ADS_1
Tapi aku tidak lagi bisa tersenyum...
Kini aku makin yakin aku tak salah lihat. Kedua pasangan tua ini pernah kutemui dulu. Itu benar-benar mereka. Memang lebih tua sekarang, tapi aku yakin aku tak salah lihat. Allah memberiku kecerdasan di atas rata-rata. IQ 126 saat aku masih remaja dan itu bertambah saat aku test psikologi sebelum bekerja. Sangat mudah bagiku mengingat seseorang, termasuk kata-katanya yang pernah terasa menyakitkan. Orang-orang yang mungkin sampai aku mati, aku takkan bisa lupa.
Tubuhku seperti boneka, yang dituntun untuk tetap diam, tersenyum dan mendengarkan. Aku berusaha berpikir, tapi pikiranku kosong melompong di tengah keriuhan keluarga besar Andra. Lama sekali baru aku mendengar Andra berbisik padaku.
"Kita pulang subuh aja. Malam ini kamu menginep di sini. Ada kakak-kakak saya. Insya Allah aman."
Aku tak menjawab. Hanya memandangi Andra. Berusaha tersenyum, namun wajahku terasa kaku.
Aku berusaha bertahan. Setidaknya aku bisa makan siang bersama keluarga Andra, duduk bersama di ruang keluarga sambil bercengkerama, sampai malam menjelang meski seluruh tubuhku kaku bagai mayat hidup. Usai sholat Magrib, Andra menawarkanku untuk mandi dan berganti pakaian. Ia tahu aku suka mandi di malam hari dibanding sore hari. Aku mengangguk setuju.
"Ranselmu masih di mobil kan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Saya ambilkan ya, kuncimu mana?" lanjut Andra.
Kali ini aku menggeleng, "Gak usah, Kak. Aku ambil sendiri aja. Ada yang mau kuambil juga sih." Saat itulah salah satu kakaknya memanggil Andra, iapung keluar.
Ketika meninggalkan rumah Andra, aku sengaja tak menoleh lagi. Ponakannya yang ingin mengantarku, kutolak halus. Aku hanya ingin segera meninggalkan rumahnya. Cukup sudah. Ini sudah lebih dari cukup. Dadaku benar-benar sesak.
Sampai di mobil, aku langsung masuk dan tancap gas selaju-lajunya. Namun, di pertigaan aku malah menangis. Sungguh, ini menyakitkan. Setelah sekian banyak rencana dan harapan yang ingin kubina bersama Andra, ternyata keluarganya...
Arzi.
Arzi pasti tahu apa yang harus kulakukan. Ia sahabatku. Ia juga pria dewasa yang pasti punya pemikiran yang lebih matang. Ia akan tahu aku harus apa sekarang.
Kuputar kemudi, kembali ke arah hotel tempat Arzi menginap. Jam di dasbor menunjukkan hampir pukul 8 malam. Ia pasti sudah ada di hotelnya. Kukebut mobil secepat yang aku bisa dan entah berapa kali aku hampir menabrak sesuatu. Entah itu sesama mobil, orang yang hendak menyeberang bahkan hampir menyenggol mobil lain saat parkir di depan hotel.
"Kamar Arzi Arief berapa?" tanyakan cepat begitu tiba di Front Desk. Petugasnya tampak bingung.
"Maaf, Bu. Sudah janji sebelumnya?" tanyanya ramah.
Aku menggeleng. "Tolong hubungi beliau saja! Urgent! Saya temannya dari Sangatta."
Alis petugas itu naik sedikit. Lalu ia tersenyum ramah lagi. "Ooh, dari rombongan ya. Langsung naik aja, Bu. Kamar 305."
Petugas itu belum selesai bicara, aku sudah bergerak naik menuju tangga. Kakiku seakan melayang saat menyusuri anak tangga satu persatu menuju kamar Arzi. Tak peduli suara berisik yang terdengar saat derap langkahku bergaung di hotel yang terlihat lengang itu. Aku harus segera menemuinya.
Kamar 305.
Kuketuk kamar itu tanpa menyiapkan hatiku lagi. Airmataku sudah berjatuhan sejak tadi. Aku benar-benar tak tahu lagi cara menahannya.
"Yaaa?" Pintu terbuka dan Arzi berdiri di depanku. "Inka?" sebutnya dengan heran.
Tangisku kontan meledak. Seluruh beban yang sedari tadi menyesaki dadaku, tumpah ruah di hadapannya. Kakiku terasa lemas. Mungkin karena tadi berlari saat naik tangga, mungkin juga karena beban di hatiku ini terlalu berat. Aku terduduk di hadapan Arzi, menangis pilu.
__ADS_1
Footnotes:
(1 ) Kakek, bahasa Bugis