
Esoknya, Thamrin dan Yudi datang lagi. Kali ini mereka benar-benar membawa Andra bersama.
Aku sedang bersama Mama dan adik perempuanku di dapur, mem-packing beberapa sisa barang dapur yang dua bulan ini kupakai. Sementara Dirga, Papa, Rafiq dan Arzi menyebar di ruang tamu dan ruang keluarga. Mereka juga sibuk memasukkan dan memilah barang.
Barang kami sebenarnya tidak banyak, karena rumah ini juga disewa secara mendadak oleh Mas Bayu untuk memudahkan proses perawatan Arzi. Tapi selama kami tinggal di rumah ini, Papa dan Mama sering membawa aneka barang untuk memenuhi kebutuhan. Begitu juga Mas Bayu dan Mbak Nurul. Mereka tak ingin aku atau Arzi kekurangan apapun.
Kemarin saat teman-teman kami datang, sebagian juga membawa perlengkapan rumah tangga sebagai kado perpisahan. Namun, karena aku dan Arzi sama-sama bertipe praktis dan tak mau repot membawa ke Jakarta, sebagian besar barang yang ada akan dibawa oleh Dirga atau orangtuaku. Barang-barang kami yang lain sudah lama dikirim dan tiba di Jakarta.
Karena itu hari ini mereka semua membantuku dan Arzi.
Tiket kami sudah di-issued. Besok aku dan Arzi akan berangkat ke Jakarta. Orangtua dan keluargaku akan datang beberapa hari setelah kami tiba di sana. Sedangkan Dirga sendiri belum bisa memastikan. Masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan. Tapi yang jelas, Dirga akan pindah ke Jakarta juga. Sesuatu yang tak bisa kucegah. Bahkan Arzi yang terus mendesak agar Dirga segera datang sebelum aku melahirkan.
Ketika mereka bertiga keluar dari mobil, aku yang paling pertama melihatnya dari jendela dapur. Tapi sebelum aku bereaksi, Dirga sudah berada di sampingku. Ia melirik Mama yang segera mengerti maksud Dirga. Mama mengajakku masuk ke ruang makan. Setelah melihatku hanya diam, Dirga kembali lagi ke ruang tamu.
Arzi menyambut ketiganya dengan ramah. Aku bisa mendengar suaranya yang tenang menyambut.
Tapi aku diam saja bukan karena menahan kesal atau marah. Aku terdiam karena melihat perubahan besar yang terjadi pada Andra.
Rambutnya awut-awutan tak karuan. Dagunya dipenuhi bulu-bulu janggut dan kumis yang dibiarkan tidak dicukur. Wajahnya pucat dan kusam dengan pipi yang tirus. Pakaian yang dikenakannya juga sedikit kusut, melapisi tubuhnya yang terlihat lebih kurus. Namun yang paling jelas kulihat, lingkar hitam di bagian bawah kedua matanya. Sungguh berbeda dengan Andra yang terakhir kali kulihat.
Beberapa menit berlalu, dan setiap menitnya aku semakin gelisah. Mama berulang kali menenangkanku. Tapi tetap saja aku melirik ke ruang tamu berkali-kali. Bahkan ketika minuman disajikan oleh adikku, aku masih menunggu dengan gelisah.
Tak lama, Papa dan Rafiq masuk. Wajah mereka tampak santai.
"Gimana, Pa?" tanya Mama menyelidik.
Papa duduk di kursi dan tersenyum padaku. "Biasa aja. Dia minta maaf dan Arzi maafin. Sudah selesai."
"Mmm... " gumam Mama sambil melirikku, tapi aku diam saja.
Lebih dari satu jam kemudian, ketiga tamu itu pun pamit. Aku segera keluar menemui Arzi. Suamiku malah tertawa melihat ekspresiku.
"Kenapa? Kok panik gitu?" godanya sambil melirik Dirga.
Dirga juga tertawa. "Ya iyalah, Mas. Didatengi mantan. Ha ha ha... "
"Apaan sih!? Inka serius nih."
Mataku mendelik galak pada keduanya. Tapi dua pria itu malah tertawa berbarengan.
"Inka, ikut Mas sebentar yuk!" ajak Dirga sambil berdiri.
Arzi mengangguk. "Sekalian nitip beliin Sop Buntut di pelabuhan ya, Mas!" pinta Arzi santai.
Aku menatap keduanya tak berdaya. Maksudku tadi ingin bertanya mengenai pertemuan mereka dengan Andra. Tapi kenapa Dirga malah mengajakku jalan?
__ADS_1
"Ayo!" Dirga menarik tanganku.
Karena belakangan ini Arzi sedikit sulit makan, mendengar ia memesan makanan, aku jadi tak tega menolak pergi. Tanpa membantah lagi, aku mengikuti Dirga sambil memperbaiki pasminaku. Sejak beberapa bulan terakhir, aku mulai mengenakan pasmina sebagai kerudung longgar menutupi kepala.
Wajah rileks Dirga berubah serius ketika mobil yang ia kendarai itu masuk ke jalan raya.
"Andra juga ingin bicara denganmu, Inka," ucapnya tiba-tiba.
"Eh?" Aku menoleh bingung. Tak mengerti maksud ucapannya.
Dirga melirikku sebentar. "Tadi... setelah bicara dengan Arzi, Andra juga minta izin untuk bicara denganmu. Karena di rumah sedang ada keluargamu, makanya aku diminta Arzi untuk nemenin kamu ketemu dengannya di luar."
Belum lagi aku menjawab, mobil sudah berbelok ke sebuah restoran. Aku bisa melihat mobil yang tadi membawa Andra bersama teman-temannya terparkir di depannya.
"Inka, besok kamu dan Arzi akan ke Jakarta. Entah kapan kalian baru akan kembali. Andra sudah seperti itu, kamu bisa lihat sendiri. Saya sendiri gak tega, In. Walaupun bagaimana kamu juga punya kesalahan. Jadi... please, My Sister! Do the right thing! Talk to him and finish everything clearly! Ok?"
[Tolong, adikku! Lakukan hal yang benar! Bicara dengannya dan selesaikan semuanya dengan jelas! Oke?]
Kutatap wajah Dirga yang belum pernah tampak setulus itu. Baru kali ini aku menyadari bahwa pria muda yang dulu selalu melihatku dengan tatapan jenaka dan tawa terpendam, ternyata telah lama berubah menjadi pria dewasa yang penuh pemikiran luar biasa. Aku tahu, tak mudah baginya menahan emosi menghadapi Andra. Tapi ia melakukan perannya dengan baik. Sebagai kakak yang bijak untukku.
Tanpa kusadari, tak hanya aku yang berubah di sisi Arzi. Tapi juga Dirga.
Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu kami berdua sama-sama keluar dari mobil.
Suasana restoran itu jauh lebih sepi daripada dugaanku. Dengan mudah, aku menemukan tiga sosok yang kucari di ruangan yang cukup besar itu.
"Bisa aku bicara sama kamu, In?" tanya Andra. Ia memakai bahasa formal setelah sekian lama kami tak bersua.
Aku diam membisu. Tak tahu harus menjawab apa. Aku masih marah atas perbuatannya pada Arzi. Tapi di sisi lain, hatiku tersentuh melihat keadaan dirinya yang jauh dari kesan terawat.
Tanpa senyum, aku menjawab singkat. "I've been here anyway, Kak." [Lagian aku udah di sini, Kak]
Andra mengangguk-angguk cepat. Buru-buru ia memintaku untuk duduk.
"Aku minta maaf ya, In. Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya. Juga untuk masalah keluarga kita," kata Andra membuka percakapan kami. "Aku benar-benar gak tau kalo keluargamu diperlakukan seperti itu oleh keluargaku."
Aku masih diam. Hanya memandangi wajahnya.
Jengah pada tatapanku, Andra menunduk. "Kalau nanti Mas Arzi... di sana... ada sesuatu terjadi karena... lukanya, kamu bisa meminta apapun pada aku... maksudku... "
"Baik," jawabku memotong kalimatnya yang penuh keragu-raguan itu. "Aku akan urus semua itu dengan Mas Arzi nanti. Jangan kuatir! Kakak gak bakal semudah itu lepas tanggung jawab walaupun Mas Arzi sudah maafin."
Kepala Andra menunduk makin dalam. Ia terdiam mendengar nada suaraku yang kasar. Kedua tangannya saling menggenggam dan bahasa tubuhnya jelas terlihat lebih gelisah dari sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan setelah semua ini, Kak? Ikut pindah bersama kami lagi? Menyusulku ke Jakarta? Mengganggu kami lagi?" tanyaku sedikit sinis. Ingin melihat reaksinya mengetahui kekesalanku padanya.
__ADS_1
Kepalanya terangkat, Andra menggeleng cepat. "Engga, In. Engga kalo kamu gak mau. Aku gak akan melakukan apapun yang kamu gak inginkan. Sekarang aku hanya akan lakukan apa yang kamu mau aku lakukan. Bahkan kalo kamu mau... "
Kalimatnya terpotong. Tangan Andra meraih ransel yang tadi ia letakkan di bawah kakinya, mengeluarkan sesuatu dari dalam. Sesuatu yang terbungkus dengan kain, lalu meletakkannya di atas meja yang ada di antara kami.
Saat yang sama, aku bisa mendengar gerakan panik dari suara kursi bergeser di tempat Yudi dan Thamrin duduk bersama Dirga.
Aku menatap Andra tak mengerti sebelum memandangi benda di atas meja itu.
"Ini barang bukti pisau yang kupakai di tempat kejadian hari itu. Mas Dirga dan Mas Arzi baru saja memberikan ke aku. Mereka menyembunyikannya dari polisi. Entah bagaimana..." kata Andra dengan bibir bergetar. "Mereka melindungiku agar masalah ini tidak berlanjut. Tapi... tapi kalo kamu mau... bawa saja ini ke polisi! Atau kalau kamu mau, kamu boleh gunakan itu untuk membalasku," lanjut Andra lagi.
Kupalingkan wajahku ke arah lain. Ke arah Dirga yang justru tersenyum padaku.
Aku berusaha menahan agar airmataku tak jatuh. Sebesar inikah rasa cinta Arzi padaku? Sampai ia berusaha keras melenyapkan barang bukti yang mengubah hidupnya. Tapi sebodoh inikah Andra hingga ia mau membiarkanku melakukan apapun untuk membalas perbuatannya? Apa dia lupa kalau aku ini orang yang nekad?
Dua pria bodoh ini... Mereka membuatku tak tahu harus berkata apa.
Untuk beberapa saat, aku berusaha menenangkan diriku lagi. Kesunyian merayap di antara aku dan Andra.
"Singkirkan itu! Aku gak mau liat lagi!" gumamku berusaha menahan tangis sambil menatap ke arah lain.
Kudengar suara resleting ransel yang ditarik dan sekali lagi, kata maaf terdengar beberapa kali.
Kemarahanku sudah tak lagi seperti tadi. Aku mulai mengerti kata-kata Arzi saat mengatakan kalau Andra juga terluka. Keadaannya, kalimat yang diucapkannya barusan dan semua yang kulihat di depanku saat ini, benar-benar sangat berbeda dari Andra yang kukenal dulu.
"Sebenarnya... ada masalah atau tidak di antara kita, aku dan Kakak takkan pernah bisa bersama. Cepat atau lambat," ucapku lirih setelah beberapa menit berlalu.
Kali ini Andra membisu.
"Sejak kita pertama bertemu sampai sekarang, aku gak pernah benar-benar jujur sama Kakak. Aku gak bisa terus terang apa yang kupikirkan, apa yang kuinginkan bahkan gak bisa jujur tentang masalah yang sedang aku hadapi. Tapi dengan Mas Arzi... bahkan sejak aku belum kenal siapa dia, aku selalu bisa mengatakan apapun yang ada dalam pikiranku."
Bersandar pada kursinya, Andra berujar pelan, "Apa karena sejak awal sebenarnya kamu gak cinta sama aku, In?"
Aku menghela napas. Mengenang kembali malam-malamku yang galau hingga jatuh sakit dulu. "Entahlah, aku bingung, Kak. Yang jelas, perasaanku pada Kakak saat itu lebih dari rasa sebagai teman. Hanya saja, ternyata itu tidak cukup untuk membuat kita bersama. Aku bahkan tak merasa perlu memperjuangkan cinta itu pada orangtuaku."
Suasana sunyi restoran seakan menggambarkan dengan sempurna perasaan kami di masa lalu. Andra mengangguk-angguk, mulai mengerti apa yang kumaksud.
"Pulanglah, Kak! Hiduplah dengan baik. Aku berharap Kakak ketemu dengan jodoh yang lebih baik. Aku berharap Kakak bisa belajar dari semua ini. Kakak sudah tau sebaik apa Mas Arzi itu, bohong kalo aku gak marah sama Kakak, tapi karena dia yang maunya seperti ini... aku harap Kakak gak nyia-nyiain."
"Maafkan aku ya, Inka! Maafkan aku!"
Kembali lelaki di depanku tertunduk malu. Matanya memerah, menahan penyesalan mendalam.
Aku tahu dan aku juga menyesal.
__ADS_1