
Beberapa hari kemudian, kami sedang sarapan ketika Arzi tiba-tiba berhenti dan menatapku lama.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sambil menyendok nasi goreng di piringku.
“Bagaimana pekerjaanmu, In? Saya liat sudah dua hari ini kamu gak kerja.”
Aku tersenyum, menggeleng. “Enggak, mulai minggu lalu, Inka putuskan hanya akan ke kantor kalau teman-teman dan Pak Madi butuh advise atau kalo ada masalah aja. Pak Jeremy juga oke dengan itu. Inka tinggal nunggu Branch Manager yang baru aja.”
Arzi menghela napas. Tapi tak kulihat ada kebahagiaan di matanya. Ia malah terlihat sedikit sedih.
“Kamu yakin gak pengen ngerjain apa-apa di rumah? Gimana kalo minggu ini kita ke Bontang? Atau ke Balikpapan aja, nyari buku-buku? VCD baru? Atau... “
Aku tertawa kecil. “Ya ampun, Mas. Buku dan majalah yang kemarin Mas titipin beli sama teman Mas aja belom kebaca semua. Inka hanya pengen nikmati istirahat di rumah aja.”
“Nanti kamu bosan.”
“Ya Inka coba gimana caranya ngatasin bosanlah. Sama kek dulu, Inka juga gak biasa kerja keras. Lama-lama kan bisa juga.”
Arzi tersenyum tipis, mengangguk setuju dengan pernyataanku. Lalu ia kembali sibuk dengan sarapannya. Tapi hanya sebentar. Sekali lagi ia menatapku sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.
“Yang, menurutmu bagaimana kalau saya minta mutasi ke Jakarta lagi?" tanya Arzi tiba-tiba.
Aku yang tak menyangka keluarnya pertanyaan itu menatap Arzi bingung.
"Kenapa?" tanyaku balik. Semuanya baik-baik saja selama ini. Kenapa kami harus pindah?
Arzi menghela napas. "Masih ingat waktu saya cerita soal sejarah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah?"
Beberapa hari terakhir ini setiap Magrib, Arzi menceritakanku tentang hal itu. Tentu saja aku ingat dan aku mengangguk.
"Itu ngingetin saya kalau kita mungkin harus mengambil langkah yang sama dengan Nabi.”
Aku terdiam. Aku tahu, cepat atau lambat, Arzi pasti kembali ke kota asalnya. Hanya tak menyangka secepat ini.
“Di Jakarta, semuanya yang kita butuhkan ada. Rumah sakit yang lebih besar, perawatan yang lebih baik. Di sana, selain bekerja, kamu bisa melakukan hal lain juga, Inka. Belajar, atau... bagaimana kalau kamu kuliah? Bukankah itu yang kau inginkan, Sayang?”
Kuliah? Setelah aku menikah?
__ADS_1
Pertanyaan itu seketika memenuhi kepalaku.
Tentu saja aku tak pernah berhenti bermimpi untuk merasakan bangku kuliah. Tapi dengan keadaan sekarang, sebagai istri Arzi dan juga seseorang yang sudah pernah bekerja, buat apa lagi aku kuliah?
Aku hanya tersenyum. Tak terlalu menanggapi tawaran itu. Aku tahu, Arzi hanya berusaha memberikan alasan padaku.
“Ingat kesehatanmu kan, Yang? Kalau kita bertahan terus di sini, dengan kondisi udara tambang yang setiap hari memaparmu, semua usaha kita akan sia-sia. Saya ingin mengajakmu pindah untuk ke tempat yang lebih baik. Dirga yang bilang pada saya, kalau semua penyakitmu itu adalah tanda-tanda kalau tubuhmu mulai tidak bisa menerima keadaan di sini."
Hampir semua pekerja tambang sudah mengerti benar resiko ini. Polusi akibat pertambangan bukan sesuatu yang asing bagi kami. Partikel batubara yang berbahaya bisa masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan banyak penyakit kronis.
Beberapa pekerja yang bersentuhan langsung dengan pengujian batubara, peledakan tambang dan sebagainya malah mendapat perlakuan lebih istimewa dari perusahaan masing-masing.
Aku ingat dulu Andra dan rekan-rekan kerjanya harus mengkonsumsi susu khusus untuk mengurangi resiko kontaminasi dengan partikel berbahaya ini karena mereka bekerja di laboratorium. Salah satu akibat yang kuketahui dari seorang teman Andra adalah rahim yang tidak sehat dan semakin sulit punya anak. Saat itu, aku sendiri tak tahu kalau aku juga punya resiko yang sama.
"Saya juga ingin Inka bisa kuliah lagi, bisa belajar macam-macam hal, bisa manfaatin otaknya buat hal-hal yang lebih besar. Kalo di sini... " Arzi menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Sekali lagi mengulang kata-kata ‘kuliah’.
"Tapi apa gak ganggu kerjaan Mas? Jamaah Mas di sini gimana?" tanyaku kuatir.
Pindah adalah sebuah keputusan yang besar. Apalagi andai benar, kami tak hanya sekadar berpindah tempat tinggal. Tapi juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan suasana yang jauh berbeda. Belum lagi tanggung jawab kami di Sangatta tidak kecil, terutama Arzi. Ada banyak orang yang bergantung pada bantuan nasihat dan bimbingannya.
Aku tak yakin soal itu. Kutundukkan wajahku dalam-dalam.
"Atau karena Mas Arzi malu ya sama Inka? Inka kan dulu cewek yang bebas, gak pake jilbab juga, suka pake baju pendek... "
Arzi berdiri, pindah ke sebelahku, ia meraih tanganku. "Astaghfirullah, Inka. Saya gak pernah merasa malu punya kamu. Apalagi saya tahu betul itu cuma karena kamu gak ngerti. Hanya pikiran orang aja yang negatif, kan saya yang tahu siapa kamu sebenarnya. Itu juga gak penting lagi buat saya."
"Sebenarnya Inka juga pengen pake jilbab, Mas. Tapi baju Inka belum banyak yang panjang."
"Jangan memaksakan sesuatu kalo gak siap, Sayang. Saya gak mau kamu maksain sesuatu. Saya kuatir kamu malah stress menghadapi tekanan langsung atau gak langsung dari orang-orang sekitar. Mulailah perlahan-lahan. Saya tau banget proses perubahan itu bisa menyakitkan."
"Aku gak ngerti maksud Mas."
"Banyak yang mengira begitu pake jilbab semua akan selesai. Tapi ternyata setelah mereka melakukannya, justru malah ragu-ragu dan tak jarang malah kapok. Ada yang merasa dihakimi, ada yang diejek dan dianggap memainkan agama. Dulu saya pernah ketemu sama ibu-ibu yang merasa jelek justru kalau pake jilbab dan takut membuat suaminya lari. Karena mereka memakai jilbab bukan karena Allah, ujung-ujungnya ya buka lagi. Saya sangat tidak ingin Inka melakukan hal seperti ini."
"Tapi apa Mas gak malu? Nanti kalo jamaah Mas menilai Mas bukan ustad yang baik karena istrinya aja gak pake jilbab, gimana?" Kusentuh hidung suamiku sedikit.
Arzi tersenyum. "Menjadi ustad itu tujuannya bukan untuk itu saja, In. Itu adalah kewajiban dakwah saya. Lagipula, bukannya setiap kali kita ngaji atau ke mesjid, kamu udah pake kerudung? Dan sejak kita bersama, kamu udah gak pernah pake baju pendek atau baju aneh-aneh lagi."
__ADS_1
"Iya sih, tapi kan gak sepanjang dan serapat jilbabnya teman-teman Mas di mesjid," kilahku.
"Kan kamu sedang berproses, Sayang. Bukan sekadar ikut-ikutan. Sedikit-sedikit nanti dipanjangkan jilbabnya. Pelan-pelan dirapatkan lagi jilbabnya. Kalo mau jujur ya, mereka juga masih banyak yang pake jilbab panjang tapi tetap aja gak syar'i. Tapi apa perlu diprotes? Gak kan? Semua orang berproses, proses yang harus diikuti dengan belajar segala hal tentang Islam juga. Bukan berproses gimana caranya supaya makin ahli pake jilbab model dan warna yang justru menarik perhatian. Makanya kalopun mau diingetkan, yang diingetkan itu ibadah wajibnya supaya proses belajar agamanya gak putus."
Aku hanya mengangguk-angguk. Berusaha memahami.
"Itu juga alasan saya ngajak kamu pindah, Yang. Di Jakarta, kamu bisa bebas memakai jilbab tanpa ada yang menghakimi atau mengejek. Di sana, kita bisa membuka lembaran baru tanpa kuatir."
Aku menatap Arzi. "Kalau Mas pikir itu baik untuk kita berdua, ya udah Inka mau aja."
"Bagaimana nanti kalo orangtuamu atau keluargamu bertanya? Apa saya harus menyiapkan alasan atau... "
"Gak perlu!" sergahku. "Biar Inka yang ngadepin. Lagipula mereka pasti langsung setuju aja kok."
"Kok bisa?" Arzi menatapku heran.
"Karena dari Inka kecil, Inka udah ngomong ke semua orang kalo udah gede, Inka pengen tinggal di sebelahnya Monas."
"Benarkah?" Alis Arzi terangkat. Senyumnya merekah lagi. "Itu akan terjadi. Sebenarnya dari loteng rumah kita nanti, Monas terlihat jelas. Sayang saya lupa nunjukin itu, Sayang. Nanti kalau kita ke sana ya."
"Benarkah? Wuaaah! Senangnya!" Kupeluk suamiku dengan bahagia. Satu cita-cita kecil yang kulontarkan secara iseng dulu akan segera tercapai.
Tapi jauh dalam pikiranku sendiri, ini mungkin satu-satunya cara untuk benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan masa laluku. Aku benar-benar ingin memulai hidup yang baru, sebagai Inka yang baru.
Author Notes:
Dua part dulu...
Bulan ini, Bye, Love. akan tamat (total terbit sekitar 10-12 eps sebelum editing).
Jadi jangan kuatir soal update.
Iin Ajid
__ADS_1