
Beberapa hari kemudian.
Aku pulang cukup larut malam ini. Sekitar pukul 11 malam. Memeriksa semua kontrak kerja, kontrak proyek dan menghitung ulang budget tahunan. Sungguh... aku benar-benar lelah lahir dan batin.
"I need days off, Hans," kataku pada Hans, usai ia memberiku serangkaian tugas.
Hans terdiam. Situasi saat ini memang tak memungkinkan untukku cuti. Apalagi aku baru saja minta izin berobat selama dua hari.
"I fought with my boyfriend this week, and I had worked overtime for the last three days in a row. I just need one day off for tomorrow," kataku mencoba bernegosiasi. Hans tahu moodku mudah berubah dan itu sangat berpengaruh pada pekerjaanku.
(Aku bertengkar dengan pacarku minggu ini, dan aku sudah kerja lembur selama tiga hari terakhir berturut-turut. Aku hanya perlu satu hari libur untuk besok.)
"To spend with your boyfriend?" selidik Hans. Terpancar tatapan dingin saat ia mengucapkannya. Walaupun dia orang asing, Hans sangat konservatif dalam urusan hubungan beda jenis.
(Dengan kekasihmu?)
"No. I spend for myself. I want to eat Nasi goreng, Ikan Bakar, shopping, and watching the movie as much as I like," bantahku.
(Enggak, untuk diriku sendiri. Aku mau makan Nasi goreng, Ikan Bakar, belanja dan nonton film sebanyak yang kumau)
"Just in Sangatta, or you need to go to Balikpapan?" tanya Hans lagi.
"Bontang. Only Bontang. I need a car and... "
Belum selesai aku bicara, Hans sudah memotong. "Ok, I'll give you two days off and a car. Tomorrow is Saturday. You can go anyway. But please, make sure you come back on Sunday. Today, you prepare all the documents, and on the first day of next week, you have to do everything that I just give you. Understood, Lil Lady?"
(Ok, Saya kasih dua hari libur dan mobil. Besok Sabtu. Tentu saja kamu boleh pergi. Tapi tolong, pastikan kamu kembali hari Minggu. Hari ini, kamu siapin semua dokumen, dan di hari pertama minggu depan, kamu harus melakukan semua yang baru saja saya kasih. Mengerti, Nona kecil?"
Senyumku mengembang lebar. Tentu saja!
Itu sebabnya aku memaksa diriku ke titik akhir, menyelesaikan semua persiapan sesuai permintaan Hans. Ketika boss memikirkan keinginanku, aku juga harus memenuhi harapannya. Itu yang diajarkan Paman Hakim padaku soal dunia pekerjaan. Itu juga yang kulihat dari Nenekku dulu.
__ADS_1
Rumah kost sudah sangat sepi. Jalanan apalagi. Untung aku diizinkan Hans bawa mobil sendiri. Jadi aku tak perlu repot membangunkan supir perusahaan yang tinggal di mess karyawan atau mencari kendaraan umum. Tidak mungkin juga kedua hal itu kulakukan. Makanya aku berani lembur sampai malam begini.
Baru saja aku mengunci mobil, dari teras yang temaram, seseorang berdiri dari kursinya. Andra.
Jantungku berdetak cepat. Beberapa hari lalu sejak perdebatan kami, aku memang sedikit menghindarinya. Berhubung pekerjaanku menumpuk, dan aku lembur beberapa hari belakangan ini, semua jadi tak terlalu terasa.
Aku kangen, tapi aku juga takut. Aku merasa ditolak sejak ia memutuskan untuk menunda pernikahan. Kalau Papaku tahu, aku menunda pernikahan karena keinginan Andra, mungkin ia takkan pernah disetujui Papa lagi.
"Baru pulang?" tanya Andra saat aku menaiki tangga. Aku hanya mengangguk.
"Apa kabar, Kak?" tanyaku bersikap seolah-olah tak ada masalah diantara kami. Andra ingin memelukku, tapi aku mundur menghindar. "Aku belum mandi, Kak. Bau." Actually, aku hanya enggan.
Andra tersenyum tipis, menyembunyikan kecewa. Tapi ia tak memaksa. Hanya mengangguk mengerti.
"Lembur terus, In? Nanti kamu sakit," ujarnya sambil duduk di kursi teras.
Aku juga duduk di kursi lain, untuk membuka sepatuku. "Lagi banyak kerjaan, Kak. Mau gak mau."
"Bukannya kamu udah punya asisten?" tanya Andra lagi.
"Kak, maaf... Aku benar-benar capek sekarang. Pengen tidur. Kakak ada perlu apa?" Aku menatap Andra. Berusaha menahan agar mulutku tidak menguap lebar.
Andra berdiri. "Oh, gak kok, In. Saya memang harus kembali ke kantor juga. Shift malam. Tadi izin telat aja. Cuma beneran kangen banget sama kamu."
Aku tersenyum. "Aku juga kangen Kak Andra." Tak sadar aku berdiri meletakkan sepatuku di jajaran rak sepatu. Saat aku berbalik, Andra memelukku. Aku tak bisa menghindar lagi. Kedua tangannya sudah menahan punggungku.
"Jangan marah sama saya lagi, Inka. Saya minta maaf," bisiknya di ujung kepalaku.
Aku mengangguk. "Aku juga, Kak. Aku minta maaf kalo terlalu keras dan gak ngertiin Kakak."
Andra melepaskan pelukannya, menatap mataku. Begitu lembut. "Saya benar-benar sayang kamu, In. Saya cinta kamu. Saya lakukan semua ini untuk kamu. Saya gak pengen ngecewain kamu dan bikin orangtuamu menolak saya."
__ADS_1
Mataku berkaca-kaca mendengar kalimat itu. Andra yang kukenal tak pernah berkata semanis ini pada siapapun. Aku mengenal teman-teman perempuannya, jadi aku tahu ia terkenal sangat kaku. Ketika ia mengucapkannya, aku bisa merasakan ketulusannya. Aku yang egois, tak memikirkan baik-baik dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan hatinya. Harusnya aku mengerti, harusnya aku tak perlu takut. Bukankah dokter bilang penyakitku masih bisa dikendalikan kalau aku mau rutin memeriksakan diri?
Dengan rasa bersalah, kali ini aku yang memeluk Andra. Lebih erat. "Aku yang salah sama Kakak. Maafin aku ya Kak. Aku janji apapun yang Kakak mau, kalo memang kita harus nunggu, aku mau, Kak. Aku mau."
Usai mengatakan itu, Andra mendorong tubuhku sedikit, menyentuh daguku dan mengangkatnya dengan ujung jarinya. Perlahan ia menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh bibirku. Hanya sekilas. Beberapa detik. Sebelum ia kembali mengangkat wajahnya.
Kami masih berpelukan, saat ia mengeluarkan sesuatu dari jaketnya dan memasangnya ke leherku. Kalung. Belum sempat aku melihatnya, ia sudah mengeluarkan sesuatu yang lain. Kali ini sebuah gelang. Mulutku ternganga. Terakhir, ia memberi isyarat agar aku mengangkat tangan dan sebuah cincin pun terselip di jemari manisku.
Lampu teras menyinari semua perhiasan itu. Berkilauan. Emas putih. Platina.
"Saya akan memberikan segalanya buat kamu, In. Ini hanya sedikit dari hasil tabungan saya. Hasil kerja saya sendiri. Saya ingin kamu yang memilikinya. Ini ikatan kita untuk saat ini. Supaya kamu tahu, saya gak pernah main-main. Saya gak akan pernah mengingkari janji saya."
"Kak, tapi ini... "
Perhiasan adalah lambang ikatan dalam budaya suku Papaku, yang kebetulan sama dengan asal keluarga Andra. Itu artinya keseriusan dari pihak laki-laki dan tidak bisa dianggap main-main. Apalagi jika ada tiga benda sekaligus diberikan seperti ini. Papa pernah bilang, ini bisa dianggap sebagai pembuka janji sebelum pernikahan. Aku ingat, semua paman dan acilku juga selalu memberi atau menerima perhiasan sebelum mereka menikah, dan kalau di dunia modern, hal itu disebut dengan pertunangan.
Andra menunjuk ke arah meja kecil. Ke arah sebuah pouch warna hitam yang ditumpuk bersama map berwarna sama. "Di situ. Di atas meja itu. Isinya itu semua buku tabungan, atm dan semua sertifikat yang saya punya. Semua yang saya punya ada di situ, In. Saya ingin kamu yang pegang. Kamu boleh cek semuanya. Pakai kalau kamu perlu. Pinnya ulangtahunmu. Saya hanya ambil satu atm dan satu kartu kredit."
"Kak... " Aku menatapnya bingung.
"Kalau kau ingin kita tetap menikah, dan kamu gak masalah hanya punya segitu dengan saya, saya akan melakukan apapun yang kamu mau. Tapi saya minta waktu. Hanya setahun dari sekarang, kita menikah. Hanya satu tahun."
"Ya aku mau, Kak. Aku bersedia. Tapi gak perlu sampai harus begini. Ini aja sudah kebanyakan. Kenapa gak cincin aja?" tanyaku sambil memperlihatkan jariku.
Andra menggeleng, menangkup kedua pipiku. "Karena saya takut kehilangan kamu, Inka. Saya gak bisa tidur mikirin kamu. Saya ikhlas memberikan semuanya asal kamu gak ninggalin saya."
Tanpa suara, sekali lagi kepalaku bersandar di dada Andra, memeluknya seerat mungkin. Bersyukur memiliki hatinya, dan berjanji dalam hatiku sendiri... Aku takkan pernah meninggalkannya.
Tidak akan pernah.
*****
__ADS_1