
Di halaman rumah bercat hijau muda, Arzi menghentikan mobil dan parkir. Bergegas ia keluar menuju beberapa orang yang telah menunggu kami. Seorang wanita berumur akhir 50an mendekatinya dengan wajah sumringah.
“Assalamualaikum, Embi!” sapa Arzi, sembari mencium dan memeluk ibunya dengan sayang.
“Waalaikum salam. Alhamdulillah. Gimana? Mana istrimu?” tanya Ibu hangat, sambil memandang ke arah mobil.
Saat itu, Dirga juga sudah turun dan tengah membukakan pintu untukku.
Aku sudah duduk tegak, dan berusaha memperbaiki penampilan yang sedikit berantakan karena tertidur. Saat pintu terbuka, aku menampilkan senyum terbaikku.
Arzi kembali ke mobil, tepat ketika aku ingin keluar. Tadinya Dirga akan menjulurkan tangan untukku, tapi Arzi sudah bergerak lebih cepat.
Tak hanya itu, Arzi malah setengah menggendongku. Kakiku memang sedikit kram. Terlalu lama menggantung saat tidur tadi.
Ibu memandangiku, tampak jelas ia sedikit terkejut. Bukan hanya dia, tapi juga semua orang yang berdiri di teras dan halaman rumah. Beberapa gadis muda, beberapa anak kecil dan dua orang pria kurang lebih usia Arzi.
Melihat semua orang yang menatapku, aku jadi takut dan tak sadar tubuhku gemetar dan sedikit limbung.
Arzi juga merasakan itu. “Kenapa, In? Ada yang sakit?”
Aku mendongak dan menggeleng. Tak tahu harus menjawab apa, karena sejujurnya aku hanya kuatir tidak diterima sebagai menantu di keluarganya.
Semua perempuan yang sedang berdiri itu memakai jilbab yang rapat. Berbeda dengan diriku yang rambutnya ke mana-mana, bahkan masih berantakan karena baru bangun.
Tapi Arzi salah sangka. Ia mengira aku menyembunyikan rasa sakitku. Dirga juga. Saat ia mendengar nada kuatir di suara Arzi, pria itu langsung mendekati kami.
Sebelum aku sempat menjawab, tiba-tiba kedua kakiku sudah melayang. Arzi menggendongku.
“Maaf, Mbi, Inka masih sakit. Mungkin dia kecapean,” kata Arzi sambil membawaku masuk ke rumahnya. Tak peduli pada tatapan semua orang.
Namun mendengar kata-kata Arzi, semua orang bergerak cepat termasuk ibu mertuaku. Tanpa banyak bicara, mereka membantu membukakan pintu-pintu hingga ke kamar. Bahkan seorang gadis muda seumurku, membersihkan tempat tidur dengan terburu-buru, sebelum Arzi membaringkanku.
“Hayang cai anet teu, A?” tanya gadis itu dalam bahasa Sunda.
Arzi menoleh padanya. “Iya, dan Via... gunakan bahasa. Istri Aa gak ngerti.”
Gadis itu mengangguk malu-malu. “Iya, maaf, A. Via kebiasaan.”
Arzi tak menjawab dan kembali menatapku. “Kenapa gak bilang kalau sakit?”
“Ituu... “
“Tunggu saya panggil Mas Dirga. Biar dia periksa kamu dulu.”
Sebelum aku sempat bicara, Arzi sudah keluar dari kamar dan tak sampai semenit, Dirga masuk membawa perlengkapannya. Aku hanya bisa pasrah, membiarkannya memeriksaku.
Tepat saat itu, gadis muda yang tadi memanggil Aa pada Arzi masuk membawa air putih hangat dan meletakkan di meja samping tempat tidur.
Saat itu Dirga melirik gadis itu dan mengangguk padanya. Gadis muda itu hanya tersenyum, menarik jilbabnya lebih rapat sebelum berlalu.
Di kamar, tak hanya ada Dirga dan Arzi. Tapi juga ada dua perempuan muda bersama ibu mertuaku yang berdiri. Kini ditambah gadis muda yang membawa gelas itu. Mereka semua memandangiku dengan kuatir.
Baru setelah Dirga selesai memeriksa, aku melihat senyuman di wajah Dirga sebelum ia berbalik dan bicara pada Arzi.
“Inka hanya kelelahan biasa kok, Mas. Gak ada apa-apa. Nanti makan makanan kecil aja dulu, setelah itu istirahat. Insya Allah dia akan lebih baik.”
Arzi menghela napas panjang. Ia tersenyum. “Habis tadi saya lihat dia pucat banget. Saya pikir penyakitnya kambuh lagi.”
“Inka kan kulitnya emang pucat, Mas. Rileks. Selama dietnya terjaga, Inka akan baik-baik saja,” kata Dirga lagi. Lalu ia menoleh padaku. “Inget ya, jangan bandel selama di sini! Gak ada mas, jangan ngerepotin suamimu. Ngerti?”
Aku hanya tertawa kecil dan mengangguk.
__ADS_1
Ibu mertuaku yang justru terlihat lebih kuatir dibanding Arzi mendekati Dirga. “Ibu boleh tau yang gak boleh dimakan Inka ndak, Nak? Ibu takut salah kasih nanti. Tolong ya!”
“Oh itu, Inka hanya gak bisa makan... “ Dirga dan ibu mertuaku berjalan keluar kamar, sambil memberitahu apa saja yang boleh dan tidak boleh kumakan. Tiga gadis yang di dekat ibu, juga ikut keluar.
Kini tinggal aku dan Arzi. Arzi duduk di sisi tempat tidur, memberiku gelas berisi air putih hangat tadi. Usai minum sampai tandas, Arzi mengambilnya dan meletakkannya kembali ke meja. Tangan Arzi membelai pipiku.
“Aku tuh tadi panik, Mas. Bukannya ngerasain sakit.”
“Panik?” Kening Arzi berkerut.
Aku menunjuk keluar dengan mulutku. “Keluargamu kayaknya terkejut pas liat aku. Aku takut mereka gak suka aku, Mas.”
Ada senyuman muncul di wajah Arzi. Ia meraih dan menggenggam tanganku.
“Inka, sekarang mereka juga keluargamu. Ibu saya dan adik-adik saya adalah keluargamu. Mereka terkejut itu benar. Tapi saya tidak memberitahu mereka kalau istri saya itu cantik dan masih sangat muda. Hanya Bapak dan adik saya yang di Jakarta yang tahu usiamu. Wajar mereka terkejut.”
Aku masih belum bisa percaya, Arzi melihatnya.
“Mereka tidak mungkin tidak suka padamu, Inka. Di keluarga saya, menikah adalah ibadah. Apalagi buat saya yang sudah mereka harapkan menikah sejak lima tahun lalu. Apapun pilihan saya, mereka pasti terima dengan senang hati. Bahkan Ibu pernah bilang, kalau saya suka pada janda sekalipun, mereka akan menyetujuinya.”
Aku mulai bisa tersenyum.
“Waktu saya pulang terakhir, Ibu saya baru saja dirawat di rumah sakit dan selama ia sakit yang ditanya hanya kapan saya membawa calon istri. Begitu saya bilang akan menikah, tak sampai dua hari Ibu sudah bisa ikut pengajian lagi. Lihat saja! Dia bahkan begitu semangat nungguin dan menyambut kita.” Lalu melirik ke pintu. “Mungkin sekarang sudah sibuk mencatat apa saja yang boleh dan tidak boleh kamu makan dari Mas Dirga.”
Kali ini aku terkekeh.
“Jangan kuatir, Inka! Tolong jangan pikirkan apapun sendiri sekarang! Jika bisa dibagi, berbagilah pada saya. Kita suami istri sekarang. Dua badan satu pikiran. Kalau tidak saling berbagi, kita gak akan bisa saling memahami. Mengerti?”
Dengan tanganku yang lain, aku mengelus tangan Arzi. “Ajari Inka ya, Mas. Inka ini ilmunya dangkal. Gak tau agama sampe menikah. Gak punya orangtua yang dampingi. Jadi banyak kurangnya. Tolong beritahu ibu soal itu biar Inka bisa belajar.”
“Kenapa gak bilang sendiri? Ibu saya sekarang adalah ibumu, Inka.”
“Boleh emang?” tanyaku tak yakin.
“Seorang ibu akan menerima kekurangan dan kelebihan anaknya, Inka. Jika kamu mengakui ketidakmampuan sejak awal, ibu saya akan selalu bersedia mengajarimu. Setidaknya sebagai putranya, saya tahu banget Ibu saya gak akan pelit ilmu padamu. Bagaimanapun dia seorang pengajar juga.”
“Ibu mengajar?”
Arzi mengangguk. “Iya, karena sekarang ia punya waktu senggang. Ibu mengajar anak-anak mengaji di pesantren yang tadi saya tunjukkan. Dulu saya belajar mengaji awalnya dari ibu saya. Guru pertama saya.”
“Wah, kalo gitu Inka bisa belajar dong!”
Kembali Arzi mengangguk. “Tapi sebelum itu, fokus dengan kesehatanmu dulu deh. Saya kuatir tiap liat kamu nih, Yang. Seperti layangan putus. Sebentar limbung, sebentar jatuh.”
Tok Tok!
“Zi... “
“Ya Embi,” sahut Arzi sambil berdiri.
Pintu terbuka dan ibu mertuaku masuk lagi. Ia menatapku lembut. “Gimana, Neng? Ada yang dirasa? Masih sakit?” tanyanya sambil mendekatiku.
Aku tersipu malu. “Maafin Inka, Bu. Inka gak maksud ngerepotin. Maaf banget.”
Arzi mengangkat kursi dari depan meja rias dan meletakkan di sisi tempat tidur. Tapi ibu mertuaku memilih duduk di sisi tempat tidur agar lebih dekat. Ia memegang tanganku seperti Arzi tadi.
“Ulah! Gak usah dipikirin, Inka. Yang penting kamu sehat. Yang penting bisa seger lagi, Embi mah udah seneng.”
Sungguh, aku ingin sekali memeluk wanita bersuara lembut ini. Aku yang terbiasa dengan orang-orang di adat asalku yang rata-rata bersuara keras meski perempuan, terkesima karenanya.
“Iya Bu, Inka akan usahain jadi sehat lagi. Nanti kalo Inka sudah sehat, ajari Inka cara jadi ibu rumah tangga yang baik. Kalo Inka salah... “
__ADS_1
Ibu mertuaku menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia keburu menyelaku. “Enggak, enggak usah. Kamu ini kurus begini. Aya adik-adiknya A Arzi yang bisa bantu Embi, geus cukup eta bae. Embi ndak tega lihat kamu kerja. Menantu Embi mah harus sehat dulu. Ndak perlu jadi ibu rumah tangga yang baik. Itu gampang. Selama kamu sehat, selama bisa dampingi anak Embi buat sholat bareng, ibadah bareng, Embi mah udah syukur alhamdulillah.”
“Ibu... “ Aku tak bisa berkata apa-apa. Tapi mataku mulai panas.
Dalam bayanganku, semua mertua itu jahat. Mama tak pernah menyukai orangtua Papaku. Sementara Kakekku terang-terangan menunjukkan tak menyukai Mama dan semua istri Papa. Ia hanya menyukaiku dan Rafiq karena rupa kami menuruni Papa. Tapi ia jarang mendekati Malika, karena wajahnya paling mirip dengan Mama.
Almarhumah Nenek dari Papaku, orang yang pendiam. Ia jarang berinteraksi dengan cucu-cucunya. Tipikal wanita pedesaan yang dibesarkan di lingkungan feodal yang masih kental. Hanya melayani kebutuhan suami, anak dan cucunya.
Demikian juga dengan para acil dan ayaku. Cerita tentang mertua selalu mengenai cerita pahit yang ditelan sendiri oleh mereka dan hanya dibagikan dengan adik atau keponakan mereka diam-diam.
Jadi saat merasakan kehangatan kasih sayang ibu mertuaku, aku jelas kaget.
“Ulah... mmm... jangan nangis, Anak cantik. Itu bikin cepet tua,” kata Ibu mertuaku sambil mengusap airmataku.
“Ibu, Inka sangat berterima kasih dikasih ibu sebaik Ibu. Inka bener-bener terima kasih dan sekali lagi, kalau Inka nanti punya salah, tolong Ibu bantu Inka ya Bu. Apapun itu,” pintaku sambil menarik tangan ibu mertuaku, menciumnya.
Ibu mertuaku mengangguk sambil tersenyum. Tangannya yang lain juga mengelus kepalaku. “Sama-sama, Neng. Embi tahu kamu gak pernah merasakan kasih sayang ibu kandungmu. Embi juga, Neng. Dari kecil, Embi mah hanya kenal ibu tiri. Baru setelah Embi jadi ibu, dan ngerti bedanya. Kamu juga belum tahu itu, jadi mulai sekarang, anggaplah ibu ini seperti ibu kandungmu. Pengganti ibumu di surga.”
Aku menunduk, dan dua bulir airmata jatuh di tanganku. Meski tanpa suara kuanggukkan kepala. Sedikit banyak aku paham perbedaan ibu tiri dan ibu kandung, tapi selama ini kusimpan di lubuk hatiku yang terdalam.
Jadi kini aku mulai mengerti mengapa ibu mertuaku tak tampak keberatan dengan semua kekuranganku. Ia memahamiku lebih dari yang kubayangkan.
Kehangatan tiba-tiba mengelilingi tubuhku. Ibu mertuaku memelukku.
“Terima kasih sudah menerima Aa ya, Inka. Tolong terimalah anak Embi dengan segala kekurangannya. Kalau Aa menyakiti hati Inka, kasih tau aja ke Ibu, ngaduin aja semuanya, nanti Ibu yang akan ngajarin Aa-mu. Jangan takut! Sampai Ibu mati, insya Allah Ibu akan selalu berada di pihakmu.”
Mataku dipenuhi airmata, suaraku masih bergetar saat menjawab. “Baik, Bu! Nanti kalau Mas Arzi jahat sama Inka, tolong tepokin pantatnya untuk Inka ya Bu.”
Mendengar itu, ibu mertuaku melepaskan pelukan dan tertawa. Ia mengangguk-angguk setuju.
“Sekarang istirahatlah, gak usah pusing sama yang lain. Nanti semua diberesin Aa dan adik-adikmu. Ibu gak bisa berenti kuatir kalau kamu gak sehat, Neng.”
“Iya, Embi. Saya temani Inka sampai dia tidur dulu. Mas Dirga gimana, Embi?”
Ibu mengangguk. “Udah tadi ditemani mang Ayub dan Babamu. Lagi nge-teh eta di harep. Nungguin tas diturun-turunkan. Temani istrimu aja! Biar adikmu yang urus.”
Begitu Ibu keluar, aku menatap suamiku. Ia tersenyum padaku.
“Makasih, Mas. Makasih udah ngasih aku, ibu yang sebaik ibumu.”
Arzi menghela napas. Duduk di kursi yang tadi ia letakkan di sisi tempat tidur. “Lalu kenapa nangis?” tanyanya murung.
“Ini karena aku terharu, Mas.”
Arzi tak menjawab. Ia berdiri dan duduk di sebelahku. Aku bergeser sedikit. Sementara Arzi memperbaiki bantal, menyusun di belakang kami berdua. Lalu ia berbaring dan menjulurkan lengannya, sebelum memberi isyarat agar aku berbaring.
Tanpa diminta dua kali, aku menyurukkan tubuhku dalam pelukan Arzi.
Lalu perlahan terdengar alunan pelan dari bibir Arzi. Bukan lagu, tapi nyanyian zikir yang indah dan menenangkan.
Kupejamkan mata dan jauh di dalam hatiku, aku ikut mendendangkan zikir yang sama. Rasa syukur memenuhi seluruh jiwa ragaku, membawaku ke alam mimpi yang indah.
*****
__ADS_1