Bye, Love!

Bye, Love!
Episode 27 - Sisi Lain


__ADS_3

Meski kami sampai di Balikpapan masih pagi, Arzi tak langsung mengantarku ke rumah.


Baru naik pesawat saja, Arzi sudah dikerubungi beberapa pria. Mereka tampak begitu serius, membicarakan sesuatu. Aku hanya berdiri menunggu sampai Arzi mendekatiku dan mengajakku untuk masuk pesawat. Dua dari para pria itu ikut kami ke Balikpapan.


Aku tak banyak bicara dalam pesawat karena Arzi tertidur. Ia terlihat lelah. Mungkin semalaSaat itulah aku puas memandangi wajahnya. Pria ini berumur 32 tahun, jauh di atas usiaku sendiri. Ia seumur Paman Sidik, adik Mama, tapi wajahnya tampak jauh lebih muda. Entah bagaimana masa lalunya, rasanya tak mungkin selama itu ia tak pernah mencintai gadis manapun.


Kalaupun iya, itu tak lagi penting. Ia memperlakukanku selalu bagai ratu. Dari awal hingga saat ini. Dari belum saling mengenal, hingga aku akhirnya menerima lamarannya. Tapi aku sadar, masih ada Andra di hatiku. Ganjalan yang harus segera kubereskan.


Setibanya di Sepinggan, Arzi memegang lenganku yang terbungkus jaket. Bukan tanganku. Sesekali jika langkahku melambat ia mendorong lembut punggungku. Di luar bagian Kedatangan, sudah ada penjemput lain yang mengajak kami semua bergerak ke daerah Balikpapan Baru dengan dua mobil berbeda.


Aku ingin bertanya, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Arzi tampak sibuk bercakap-cakap dengan para pria itu bergantian, dan aku tak enak mengganggunya. Tapi perlahan-lahan aku menyadari sesuatu.


Arzi mungkin hanya karyawan biasa yang kukenal di Sangatta. Pendidikan di Pesantren di daerah Cirebon, yang pernah dijalaninya lebih dari 5 tahun ternyata membuatnya sering mengisi ceramah atau kultum di beberapa acara keagamaan. Pantas saja ia menjadi salah satu pengurus di Mesjid. Dari obrolan juga, aku baru tahu kalau Arzi sering memberikan nasihat untuk mereka yang sedang menghadapi aneka masalah kehidupan.


Ia sungguh berbeda saat bersamaku. Sangat berbeda. Maka melihat sisinya yang satu ini membuatku sesekali mencuri pandang padanya. Sayangnya, Arzi tampak tak peduli soal itu. Ia tenang-tenang saja seperti aku sudah mengenalnya sejak dulu.


"Maaf ya, kita terpaksa ke sini dulu," bisik Arzi saat turun dari dalam mobil.


"Bapak kok gak cerita sih kalo kerjaan sampingannya ustad?" tanyaku juga berbisik.


Arzi tertawa kecil. "Ustad bukan pekerjaan, In. Itu kewajiban." Lalu ia kembali bicara dengan para pria yang bersama kami.


Saat turun, dua perempuan menyambutku. Mereka sedikit terpana melihat penampilanku. Untungnya, Arzi memilihkan setelan baru yang harusnya kupakai bekerja. Kalau tidak. Makin anehlah aku di mata mereka.


Kedua perempuan ini mengajakku ke ruangan yang berbeda dari Arzi. Aku manut saja. Tak mengerti. Duduk di salah satu sofa tunggal, sambil meminum teh yang mereka sajikan. Beberapa menit kemudian salah satu pria yang bersamanya masuk, tampak menjelaskan sesuatu. Perempuan berjilbab putih itu pun duduk di dekatku.


"Maaf, Mbak tadi saya gak tahu kalo Mbak ini calonnya Mas Arzi, Mbak tinggal di Balikpapan?" tanyanya lembut.


Aku mengangguk. "Iya, makanya saya mau pulang. Boleh? Pak Arzi masih lama?"


"Maafkan kami sudah mengganggu kepentingan Mbak dan Mas. Tapi ada adik kami yang sedang bermasalah, jadi kami perlu bantuan Mas Arzi sebentar. Dua hari lalu, adik kami bahkan mencoba bunuh diri. Maafin ya Mbak."


"Boleh tau adiknya Mbak kenapa?" selidikku. Setidaknya aku harus memahami apa yang dilakukan calon suamiku.


Tampak keraguan terlintas di mata perempuan di depanku ini, sebelum akhirnya ia bercerita dengan sedih, "Adik saya baru diceraikan istrinya, Mbak. Terus dia gak boleh ketemu putra-putrinya. Kebetulan adik kami ini dekat dengan Mas Arzi, jadi kami minta Mas Arzi untuk bicara dengannya. Itu saja."


"Boleh saya ikut lihat?" Aku hanya ingin melihat Arzi sebenarnya. Bagaimana ia bisa membantu orang lain selain diriku?


Perempuan itu mengangguk. Aku mengikutinya menuju ke halaman belakang rumah. Rumah ini benar-benar luas. Aku yakin kalau tidak ditemani, aku pasti tersesat berkeliling di rumah ini.


Dari balik dinding kaca yang membatasi halaman belakang dengan rumah itu, aku bisa melihat Arzi duduk bersama seorang pria muda yang tampak termangu. Makin mendekat, aku bisa melihat mata pria muda itu tampak kosong.


Arzi tak sedang berbicara, ia mengaji lagi... atau berdoa? Entahlah, aku tak bisa membedakannya.


Ia mengaji seperti semalam saat aku tertidur di dekatnya. Suara menenangkan itu lagi. Lalu tak lama Arzi berhenti.


"Mus, kalau kau tak bisa kembali seperti dulu, bagaimana mau berjuang untuk anak-anakmu? Mengajilah, dekatkan diri kembali sama Allah, insya Allah semua ada jalan untuk semua masalah. Allah ngasih ujian buat kita untuk diselesaikan. Ingat ibumu, Mus! Kasian kakak-kakakmu kalo kamu begini terus."


Aku berdiri diam tak jauh dari Arzi dan pria bernama Mus itu duduk di bangku kayu panjang. Arzi tak menyadari kehadiranku. Bukan hanya aku yang berdiri di situ, keluarga Mus juga sedang melihat mereka dari balik dinding kaca itu.


"Bagaimana mantan istrimu mau percaya lagi kalau kau terus begini? Kita ini dilahirkan sebagai pemimpin, jadi kamu harus bisa memimpin dirimu sendiri dulu."


"Mas, saya hanya kangen anak-anak saya. Sudah berbulan-bulan saya gak ketemu." Suara Mus terdengar serak dan berat.


"Soal itu, saya sudah tanya sama kakakmu, mereka sudah ketemu Dhea. Dhea mau mempertemukan kalian, tapi... kamu harus sehat dulu, harus kembali jadi pemimpin yang baik. Imam yang baik, setidaknya untuk anak-anakmu."

__ADS_1


"Kalau mereka menolak saya gimana, Mas?"


"Usaha dong. Kita, orang Islam gak kenal nyerah. Kalau menyerah sama aja dengan mati."


Aku tersipu. Itu nasihat yang tepat untukku sendiri.


"Hati saya ini loh Mas, masih berat aja ke Dhea. Saya gak nyangka Dhea tega nyerein saya."


Arzi menepuk-nepuk bahu Mus. "Makanya balik lagi jadi Mustafa yang dululah. Yang ganteng, yang rajin kerja, yang rajin sholat. Kamu kurus kering begini, jangankan Dhea, nenek-nenek aja gak mau liat kamu kali."


Senyumku juga terbit, begitu juga Mustafa. Arzi tetap Arzi. Sisi humorisnya yang kukenal.


"Ngaji lagi dong, Mus. Jangan ditinggalkan. Kalo gak ngaji, gimana mau tenang? Daripada mikir yang enggak-enggak, mending ngaji."


"Iya, Mas. Insya Allah, saya mulai lagi."


Saat itulah Arzi menoleh, dan ia tersenyum lebar ketika melihatku. Lalu kembali menyenggol bahu Mustafa.


"Eh, Mus! Saya mau kenalin calon istri saya nih... Dek sini!" panggilnya. Arzi tak lagi memanggil namaku. Aku mengangguk dan mendekat.


Mustafa tampak terkejut melihatku. Ia memandangiku dari ujung kaki hingga kepala sebelum menoleh pada Arzi. "Calon Mas muda banget," ucapnya spontan.


Arzi terbahak. Mengangguk setuju. "Iya, baru 19 tahun. Hadiah dari Allah luar biasa kan? Ini kekuatan doa loh, Mus."


Mustafa tak tersenyum lebar, hanya aku melihat ada sekilas senyum tipis. Ia tampak lebih baik dari sebelumnya. "Selamat ya Mas... Mbak."


Setelah berbasa-basi sejenak, kami semua kembali ke ruang tamu. Kali ini semua orang berkumpul, dan setelah berkenalan satu persatu, obrolan mulai membahas mengenai pernikahan.


Arzi rupanya ingin bertanya mengenai prosedur pernikahan. Ia ingin segera menikah, dan jika disetujui orangtuaku, itu akan dilaksanakan secepatnya. Namun, dari informasi salah satu sahabatnya yang punya pengalaman mengurus pernikahan, itu jelas tidak mungkin. Paling cepat, kami baru bisa menikah sekitar dua bulan kemudian.


"Itu karena selisih usia Mas sama calonnya kan jauh banget. Lebih dari 10 tahun kan? Itu biasanya dicek dulu memang pernikahan yang diinginkan kedua pihak atau paksaan. Belum lagi harus urus surat-surat Mas di Jakarta. Nah ini yang ribetnya di sini."


Tiba-tiba Arzi duduk di sebelahku. "Kita makan siang dulu, nanti setelah itu ke rumah orangtuamu. Gimana?" Aku menjawab dengan anggukan.


"Pak, kenapa sih mau buru-buru nikah?" tanyaku sambil meraih remote, menurunkan volume suara.


"Kamu tuh nguji saya udah kelewat batas, Dek. Dosa saya udah banyak banget. Kalo ada yang tahu kita kemarin.... di kamar berdua... sholat barengpula...  belum lagi saya nyentuh kamu entah berapa kali... haduh... " Arzi menggeleng-geleng sambil tersenyum malu.


"Iiih, kita kan gak ngapa-ngapain!" bisikku dengan nada rendah. Lalu masih melanjutkan. "Cuma begitu aja udah gak boleh emang?"


Arzi tertawa. Mengiyakan dengan anggukan. "Iya, itu sudah dosa. Makanya harus cepat. Kalau gak, saya bisa nyusul Mustafa nanti," guraunya dengan berbisik padaku lagi.


Aku melirik dengan mata polos. "Loh bukannya udah ya, Pak? Kayaknya dari tadi aku ditemani orang stress deh."


Sedetik kami saling bertatapan sebelum tawa kami sama-sama pecah, membuat dua perempuan yang sedang berdiri menyiapkan makanan di meja makan dan tiga pria yang duduk di ruang tamu memandang kami. Seakan mengerti, mereka ikut tersipu melihat keakraban kami berdua.


Sebenarnya aku sedikit kuatir kalau kedua orangtua akan terkejut dengan kedatangan mereka, jadi sebelum makan siang, aku minta izin pada Arzi untuk menelpon Papaku yang pasti sedang bekerja di kantornya saat ini. Aku tak tahu apa Arzi tahu siapa orangtuaku, yang jelas aku harus menyiapkan hati kedua orangtuaku dulu.


"Halo?" Suara Mama terdengar saat aku menghubungi telpon rumah.


"Ma, ini Inka. Papa ada, Mah?" tanyaku perlahan.


"Loh, ini nomor Balikpapan. Kamu di mana, In?" Balik Mama yang bertanya bingung. Ia pasti melihat di Caller-ID pesawat telepon.


"Itu dia, Ma. Inka mau ngomong sama Papa."

__ADS_1


"Papamu kerja, In. Ada apa? Gak ada masalah kan?"


"Gak ada, Ma. Ini Inka mau bawa teman ketemu Mama sama Papa."


"Kapan? Sekarang?" Mama terdengar bingung. Atau mungkin juga tak percaya.


"Iya, Ma," jawabku meyakinkan


"Teman apa? Penting?"


"Teman laki-laki, Ma."


Mama terdiam, aku bisa membayangkan ekspresi terkejut di wajahnya. Ini pertama kalinya aku menyinggung soal teman laki-laki. Aku memang tak pernah mengundang teman laki-laki ke rumah saat masih sekolah dulu. Sesuai dengan perjanjianku dengan orangtua, saat aku memperkenalkan seorang teman laki-laki pada mereka, itu artinya ia adalah pria pilihanku.


"Kalau begitu, datanglah. Nanti Mama yang telpon Papa," kata Mama akhirnya. Aku menghela nafas.


"Ya udah, Ma. Inka cuma mau info itu aja."


"Inka, kamu yakin sama temanmu yang ini?" tanya Mama lagi. Tanpa kuberitahu, Mama tahu maksud kedatangan ‘teman’ yang akan kupertemukan dengan keluarga.


Aku menoleh sedikit, melihat ke arah Arzi yang kembali mengobrol dengan teman-temannya. Aku tersenyum. "Ya Ma, Inka yakin banget."


"Baguslah... hati-hati di jalan ya In!"


"Iya, Ma."


Tanganku sudah bersiap meletakkan gagang telpon ketika mendengar Mama kembali memanggilku, "In, Inka. Tunggu!"


"Kenapa, Ma?"


"Tadi ada temanmu nelpon. Dari Sangatta. Itu namanya Ratih. Nanyain kamu."


"Terus Mama bilang apa?" tanyaku heran.


"Ya kan Mama gak tau kalo kamu ke Balikpapan. Jadi Mama bilang, mungkin masih di Bontang. Mama kan taunya kamu lagi liburan di sana." Aku memang sempat memberitahu orangtuaku saat akan ke Bontang kemarin.


Aku mengangguk puas mendengar jawaban Mama. Saat ini, cukup keluarga dan Hans saja yang tahu. Aku bahkan belum menjelaskan apapun pada Andra. Bukan... aku malah tak tahu cara menjelaskannya pada Andra nanti. Yang jelas saat ini aku membutuhkan Arzi dan mengenal dirinya makin membuatku yakin untuk memilihnya.


Usai bicara dengan Mama, aku bergerak membantu para perempuan di dapur untuk menyediakan makan siang. Untunglah mereka tak menolakku.


"Nanti kita boleh ikut ke rumah Mbak kan?" tanya perempuan yang dipanggil Mbak Nurul oleh yang lain. Aku mengangguk spontan.


"Iya, Mbak. Kami benar-benar bersyukur Mas Arzi akhirnya bertemu jodoh. Gak nyangka juga kalo calon istrinya bakal secantik dan semuda ini. Benar-benar gak nyangka," kata perempuan yang lebih muda. Usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Kalau yang satu ini dipanggil Tia oleh yang lain.


"Saya juga enggak kok, Mbak. Baru semalam saya meminta Mas Arzi menikahi saya, eh dia terus bawa saya ke sini," ceritaku berterus terang.


Nurul dan Tia tampak terkejut. "Semalam? Baru tadi malam? Dan Mbak yang melamar? Masya Allah, benar-benar Mas Arzi ya. Gak kenal istilah nunggu." Mereka tertawa. Aku juga. Mereka benar, Arzi memang pria yang berbeda dari kebanyakan pria.


"Jodoh kalau dilama-lamain malah jadi dosa, Tia. Makanya kamu tuh jangan dipersulit kalo ada yang melamar," Seseorang menimpali obrolan kami. Arzi sudah berdiri di dekat meja makan, bersama yang lain. Semua mengangguk setuju.


"Ah, sudahlah, kena lagi deh saya." Tia berdiri, kembali ke dapur dan keluar membawa mangkuk besar berisi sup. "Ayo, sudah siap semuanya!"


Sepanjang makan malam, satu persatu cerita tentang Arzi mengalir dari bibir anggota keluarga ini. Mereka bukan keluarganya, bukan pula kerabat jauhnya. Hanya orang-orang yang kebetulan bertemu di Mesjid, dalam sebuah pengajian dan kagum pada sosok Arzi. Mereka berulangkali mendapat masalah, dan Arzi hadir membimbing mereka.


Keluarga ini tergolong berada, anggota keluarganya rata-rata bekerja di perusahaan-perusahaan nasional ternama di Kaltim, tapi mereka mengakui kalau saat masih kecil kekurangan ilmu agama. Itu sebabnya sedikit ada masalah, hati mereka goyah. Awalnya hanya suami Nurul yang memerlukan saran Arzi ketika mereka bertemu dalam pesawat, lalu menular pada keluarga istrinya, adiknya, kakaknya, kakak sepupunya dan terus begitu hingga hampir seluruh anggota keluarga ini mengenal Arzi. Kini, mereka menganggap Arzi seperti saudara.

__ADS_1


Menurut Nurul serta Tia, tak hanya mereka, ada banyak keluarga lain yang menganggap Arzi sebagai anggota keluarganya.


Aku hanya bisa terdiam, kagum memandang calon suamiku. Aku tahu aku tak mencintainya. Tapi aku yakin, bersamanya, aku akan punya sesuatu yang kubutuhkan. Keluarga. Keluarga yang sebenarnya. Keluarga dengan pondasi dasar yang sangat kuat.


__ADS_2